
Dua belokan sebelum sampai di SMU Cattleya, sebuah bemo berhenti. Menurunkan seorang siswi dengan tas punggung hitam dan rambut yang tergerai mencapai bahunya.
Alisha sengaja menghentikan bemo yang ditumpanginya sedikit lebih jauh dari tempat biasanya. Berencana untuk berjalan sepanjang sisa perjalanan sekaligus menyiapkan diri menghadapi hari.
“Jangan tersulut emosi, Sha. Sabar, pokoknya hari ini harus sabar,” gumamnya pelan diantara langkah kakinya. “You can do it, Sha. Yes, you can.”
“Woi, Pelakor ! Masih berani lu setor muka !”
Uppss. Baru saja Alisha berniat untuk bersabar, teriakan ejekan itu langsung diterimanya begitu dirinya memasuki gerbang sekolah. Mengitung sampai tiga dalam hati, Alisha tetap meneruskan langkahnya seolah tidak mendengar.
“Woi, Budegh !!! Lo nggak punya telinga apa ? Hah ?!! Dasar, sok cantik lu !!!” teriakan menghina itu kembali terdengar.
Alisha melirik dari sudut matanya, suara cempreng itu berasal dari sekumpulan cewek yang berdiri di area parkir motor. Para cewek penggemar Althair yang istiqomah mengerubungi Althair.
Kali ini Alisha menghitung sampai lima dalam hati. Mendendangkan mantra sabar ciptaannya sendiri, “Sabar, Alisha. Cewek cantik nggak boleh marah – marah. Nanti cepat keriput loh. Jadi nenek – nenek padahal masih muda. La la la...”
Dan berkat mantra ajaibnya itu Alisha berhasil menyeberangi lapangan dan sekarang berjalan di koridor menuju kelasnya.
Keadaan disini juga tidak lebih baik. Para cewek yang mengobrol langsung berbisik – bisik sambil menatapnya sinis. Ya kali kalau bisik – bisiknya pelan. Lha ini... tanpa mendekatpun Alisha bisa mendengarnya.
“Eh. Itu kan cewek yang kemarin. Yang bikin heboh waktu upacara Senin kemarin ?”
“Dihh, cewek gatel yang merayu Althair kan ? Duile, padahal wajahnya nggak cantik - cantik amat. Masih mendingan aku, iya kan ?!”
Kening Alisha berkerut. Hah ?! Merayu ? Dirinya ?! Memang siapa yang merayu siapa ?
“Eh, lo tahu nggak. Kata adek kelas yang baris paling depan, katanya sih cewek itu yang nyosor duluan nyium Althair !”
“Idiiihhh.... nggak tahu malu banget ya.”
Alisha akhirnya memasang wajah cengo.
Hei, hei. Mereka itu buta atau bagaimana sih ?! Jelas – jelas Althair yang cium Alisha duluan. Trus kenapa bisa ada kabar seperti itu ?!! What the hell...
__ADS_1
Alisha berbalik menghadapi kedua cewek yang asyik me-Lambe Turah-kan dirinya. Tiba – tiba mulutnya terasa kering. Alisha kehilangan kata – kata. Memutuskan kembali melanjutkan langkahnya menuju kelasnya yang entah mengapa hari ini jaraknya terasa seperti ribuan kilometer.
“Masih ngantuk, Sha ? Lesu amat ?” sapa Martha sambil mengunyah cheese stick.
“Marthaa !” seru Alisha menghambur memeluk Martha. “Kangenn !!!”
“Eh, Sha. Maksudnya apa sih ?” sahut Martha agak panik. “Kepalamu habis terbentur pintu bemo terus amnesia mendadak sampai lupa kalau kemarinpun kita sudah ketemu ?”
Alisha melepas pelukannya, bibirnya cemberut menatap Martha dan berkata, “Marthaa. Beiby... kamu kebanyakan nonton sinetron deh.”
“Kamu sendiri, bikin orang bingung. Memang kenapa sih ?”
“Beiby, tahu kaann. Aku habis melewati medan tempur,” Alisha memutar kedua bola matanya. Mendesah.
“Iyess. I Know, Beiby. Sabar dulu yah,” sambut Martha mengelus kepala Alisha. “Nih, makan gih. Biar kuat menghadapi kenyataan,” tawar Martha, menyodorkan cheese sticknya.
Alisha menggeleng, tidak berselera. Setelah serangan pembukaan yang diterimanya tadi, Alisha yakin bakal ada serangan yang lebih dahsyat.
Guru Matematika memasuki kelas. Membuat murid – murid yang semula masih asyik ngobrol, langsung bubar. Termasuk Martha yang langsung melesat menuju bangkunya.
Hari ini masih panjang dan dia harus menyimpan energi. Sedikit heran karena tidak melihat atau mendengar motor Althair. Apa hari ini Althair tidak masuk ?! Menggeleng kecil Alisha menyingkirkan masalah bolosnya Althair.
Toh masalah yang akan dihadapinya sudah cukup merepotkan.
🦀🦀🦀
Di tempat lain. Ribuan kilometer dari sekolah Alisha.
Tepatnya di area Menara Kembar Petronas di Kuala Lumpur.
Ratusan wisatawan menikmati pemandangan dan asyik berfoto. Di antaranya nampak seorang cowok berperawakan tinggi, mengenakan baju kasual dan sebuah kacamata hitam.
“Yo, Zack. Lama menunggu ?!” sapa seorang gadis muda, menepuk pundaknya. Penampilannya sangat imut dengan rambut dikuncir dua dan pakaian beraliran trend fashion Harajuku, dengan rok pendek dan blus berpita.
__ADS_1
“Lima menit,” jawab Zack alias Althair dengan nada jengkel. “Kamu membuatku menunggu lima menit, Io.”
“Ups, sori. Tapi jangan salahkan aku. Tuh, G yang lama banget buat dandan. Sampai aku saja hampir berlumut menunggunya,” jawab Io dengan menggembungkan pipinya.
“Tutup mulut, Io. Wajar kalau seorang perempuan berdandan lebih kalau bertemu dengan cowoknya,” ujar seorang perempuan berusia sekitar tujuh belas tahunan. Melenggang anggun dan sengaja mendorong Io, tanpa sungkan mengalungkan kedua tangannya pada leher Zack. “Iya kan, Zack ?!”
Zack mendengus. Melepaskan tangan G. “Mungkin. Sayangnya aku bukan cowokmu jadi aku tidak peduli.”
Io terkikik geli sedang G memasang muka masam.
“Jadi, bisa kita lanjutkan atau kalian ingin bergelut dulu ?” tanya Zack, melihat G yang memelototi adiknya, Io.
“Fine. Kita lanjut, Zack. Katakan saja rencananya dan kami akan siap,” jawab G menyibakkan rambut hitam panjangnya. Sebagian kaum Adam nyaris melotot memperhatikannya yang memakai dress merah ketat membungkus tubuhnya.
“Pastikan saja kalian tidak terlambat seperti tadi. Kita bertaruh dengan hitungan detik, G. Terlambat lima menit seperti tadi bisa saja nyawa kita hilang.”
“Dont worry, Honey,” desah G, mengelus dagu Zack dengan satu jarinya yang terus bermain turun menelusuri leher Zack. “Aku akan dandan lebih awal agar tidak terlambat untuk kencan kita nanti malam.”
Sementara Io berlagak muntah di balik punggung G, Zack menyingkirkan jari G yang bermaksud menggodanya.
“B juga akan bergabung nanti malam. Jadi kita akan berempat saja,” ujar Zack. “Detail rencananya sudah kukirim pada handphone masing – masing. Pastikan semuanya siap.”
“Oke, Zack,” jawab Io ceria, sedang G memberinya ciuman jarak jauh dan mengerling seksi. Lagi – lagi ingin menggodanya.
Zack menghela nafas seusai dua bersaudara berlainan sifat itu pergi. Menatap jam pada handphonenya. Kalau semua ini sudah beres, besok pagi dia sudah tiba kembali di rumah. Kembali diliriknya handphonenya.
Tidak ada pesan atau WA atau telepon dari nomor yang ditunggunya.
Sampai sekarang, gadis itu belum juga menghubunginya kembali.
Mendongak, Zack memandang Menara Petronas yang menjulang. Tempat yang akan dikunjunginya bersama teman – temannya nanti malam. Menghela nafas sekali lagi, Altahir berusaha mengenyahkan pikiran lain dan mencoba fokus pada rencananya nanti.
Ya. Bagaimanapun dia harus fokus.
__ADS_1
Meski untuk itu dia harus berusaha keras meredakan perasaan asing yang timbul dalam dadanya.
🦀🦀🦀