
Berita Terkini. Hot Issue.
Tempat kejadian perkara : Kantin, SMU Cattleya
Waktu kejadian perkara : jam istirahat
Kronologi kejadian : Maria Mercedes yang tersakiti oleh tingkah laku Mistica yang menumpahkan semangkuk mi instan rasa soto special.
Alisha mengerjap sekali. Dua kali. Okelah, bonus satu jadi tiga kali. Mencoba menghalau kuah mi instan yang menetes - netes dari kepalanya. Sementara suara tawa mengejek mulai terdengar.
Semua ini terjadi sewaktu Alisha pergi ke kantin sendirian karena Martha masih ada keperluan di ruang guru dan meminta dipesankan dulu siomay favoritnya.
Alisha sedang berjalan kembali ke bangkunya, menyadari kaki Stella yang terjulur berniat membuatnya terjatuh. Dengan santai melangkahinya dan berniat berjalan kembali.
Yang tidak diduganya, Stella yang marah dan menyahut mangkok mi instan yang dibawa murid kelas lain yang kebetulan sedang lewat dan langsung menumpahkannya di kepala Alisha. Syukurlah kuahnya tidak terlalu panas.
"Ha ha ha... syukurin, Lo. Makanya, jadi cewek jangan kegatelan !" seru Stella disambut tawa melengking teman - temannya, barisan para cewek sakit hati.
Para penghuni kantin mulai mendekat, ingin tahu penyebab keributan. Beberapa nampak prihatin, akhirnya Alisha kena dampaknya juga. Namun pada akhirnya semua memilih menonton, ingin mengetahui bagaimana hasil perseteruan dua gadis itu.
Kalau Stella, mereka memang bisa menebak bagaimana reaksinya. Semua sudah tahu betul bagaimana tabiat cewek ketua grup penggemar Althair itu. Tapi Alisha ?!
"Jangan kayak gitu dong, Stell !" tegur Dewanti, teman sekelas Alisha. Langsung menghampiri Alisha bersama beberapa teman cewek sekelas. "Jangan main kasar sama teman kami."
Sudut mata Alisha menangkap sosok Karin dan Fellin di salah satu sisi kantin. Merasakan sakit pada dadanya karena sementara teman - teman sekelasnya maju membelanya, tapi kedua sahabatnya hanya terdiam. Fellin memandang Alisha penuh arti, sedang Karin memilih memalingkan muka setelah sebelumnya sempat bereaksi kaget.
Alisha menarik nafas. Sebelum terjadi keributan, dia harus ambil tindakan. Oke, bahkan Maria Mercedespun bisa beraksi. Aw !
"Iihhh... risih. Apaan sih ?!" seru Alisha, menggoyangkan kepalanya dan mengibas - kibaskan tangannya dengan heboh. Membuat mi dan kuah yang melumuri dirinya kini bercipratan. Dan sebagian besar mengarah pada Stella dan kroninya yang sekarang sibuk menghindar.
"Aiisshhh.... nggak suka aku !!!" sambung Alisha, meraih segumpal besar mi diatas kepalanya dan tidak sengaja, ehem, melemparkannya ke muka Stella.
"Apa - apaan sih, lo ? Hahh ?!!" teriak Stella marah. Siapa yang nggak marah kali kalau mukanya ditimpuk mi instan. Ho ho ho...
"Ooomaigaattt... Stellaa," rajuk Alisha. "Ya ampun. Kamu nggak apa - apa ? Idiihhh... lihat, sampai kena mi seperti ini. Sini, aku bantu lap."
Alisha langsung mengusapkan tangannya yang penuh berlabur kuah berbumbu, berlagak membersihkan muka Stella.
"Ya ampun, Stella. Lihat, wajah cantikmu jadi kotor," oceh Alisha lagi. "Duuhhh, sayang banget. Cantik - cantik tapi kotor. Kotor banget lagi. Iya kan ?" tanya Alisha mendadak pada cewek - cewek geng Stella yang berdiri di dekat Stella. Dan para cewek itu hanya memandangnya cengo.
Nggak nyambung banget sih si Alisha ini ?!!
Stella yang semula emosinya meninggi, langsung cooling down mendengar ucapan Alisha.
"Eh ?? Lo bilang gue cantik tadi ?" tanyanya dengan kalem.
Etdah, si Stella ini. Tadi aja setelannya kenceng banget. Sekarang begitu dengar Alisha bilang dia cantik aja, langsung ngelendek gitu. Para penonton setia pada geleng - geleng kepala. Huu !!!
__ADS_1
"Hu-ump. Iya kan ? Tapi kok tadi temen - temenmu diam saja ya waktu kutanyai kamu cantik atau nggak ?!" Alisha memiringkan kepalanya, memasang tampang bingung. "Iihhh... jadinya kamu ini beneran cantik atau nggak sih, Stell ?!!"
Skak mat. Omongan Alisha berbuntut pada Stella yang melotot marah pada geng ceweknya sedang mereka nampak mengerut ketakutan dan bingung. Eh, memangnya Alisha tadi bertanya gitu ya ?!!
Sementara itu para penghuni kantin masih bengong kebingungan. Karena semula mengira akan ada adu teriak antara Alisha dan Stella. Tapi nyatanya ?!! Yang ada malah Stella yang marah - marah lebai pada gengnya sendiri. Eh, ternyata si Alisha boleh juga tuh.
Etapi, ngomong - ngomong kemana ya tuh cewek ?!!
Tanpa berdosa, Alisha diam - diam pergi meninggalkan area pertempuran. Mengirim pesan singkat pada Martha, dan bergegas menuju kamar mandi terdekat. Badannya jadi bau soto sekarang.
"Iihhh, sebel !!!" Alisha berjalan dengan cemberut.
🦀🦀🦀
Alisha menguap. Matanya terpejam dan kepalanya bersandar pada bantalan kursi mobil. Namun perlahan, kepalanya melorot.
Martha membiarkan kepala Alisha bersandar pada bahunya. Ditatapnya sayang sahabatnya itu. Bibirnya menipis, teringat bagaimana Alisha melewati hari kemarin.
...
Dahi Martha berkerut sewaktu membaca WA dari Alisha kemarin. Segera saja dia meminta ijin undur diri dari ruang guru. Bergegas menuju kamar mandi cewek di lantai dua.
"Thanks ya, Thaa. Udah beliin aku seragam baru. Besok uangnya aku ganti, kalau sekarang aku nggak bawa banyak uang," Alisha berkata dengan cengiran di wajah. Nampak ceria dan tenang - tenang saja, sementara Martha sudah memerah wajahnya menahan marah.
"Duh, Martha. Beiby... Jangan pasang wajah serem gitu ah ! Ntar kerut - kerutannya permanen gimana ? Iihh... jadi mirip nenek sihir lhoo," ujar Alisha lagi, berusaha menurunkan emosi Martha. Penampilannya sekarang sudah kembali rapi berkat seragam barunya.
"Sha..." kata Martha memulai.
Martha hanya bisa mendesah, menuruti saja kemauan Alisha. Kalau sahabatnya itu berkata baik - baik saja, maka dia tidak akan memperpanjang masalah. Toh harus lebih dari sekedar ulah mahkluk menye - menye ( atau M3, kalau Martha menyingkatnya ) untuk bisa menumbangkan seorang Alisha.
...
"Sha, sudah hampir sampai sekolah," Martha terpaksa menggoyangkan lengan Alisha. Membangunkannya.
"Mmm... iya, Thaa," sengau Alisha, mengangkat kepalanya sambil mengucek - ucek mata.
"Semalam nggak bisa tidur atau gimana sih, Sha ?" tanya Martha mengerutkan dahi. "Tumben banget sampai ngantuk parah gini."
"Hu-ump. Pulang sekolah kemarin aku langsung cuci seragam, Tha. Habis itu langsung ketiduran. Lha kok tengah malam ngelilir trus nggak bisa tidur lagi sampai jam tiga pagi," Alisha masih setengah terpejam, menjawab pertanyaan Martha.
"Capek banget ya ?" ujar Martha prihatin.
Alisha mengangguk. "Iya. Kan wajar, masih hari pertama. Hari ini nggak tahu deh sebesar apa gempurannya. He he he..." ujar Alisha diakhiri cengiran di wajah ngantuknya.
"Hari ini nggak bakal aku biarin kejadian kayak kemarin. Kamu gag sendirian, Sha."
"Santai aja deh, Thaa," timpal Alisha, memencet hidung sahabatnya.
__ADS_1
Civic silver Martha berhenti mulus di pelataran sekolah. Setelah mengucapkan terima kasih pada Pak Din, Alisha membuka pintu mobil dan keluar. Wajahnya lebih cerah setelah tidur sebentar tadi.
Martha merendengi langkah Alisha, mengobrol soal tugas Biologi, sewaktu suara cempreng itu kembali menyapa.
"Eehh, lihat ! Lihat ! Si pelakor datang tuh. Idiiih kirain siapa, pake naek mobil lagi. Biasanya juga naek angkot bobrok," cuap Stella dengan suara yang sengaja di stel kenceng. "Apa nggak apa - apa tuh mobilnya bekas dinaiki si pelakor ? Kalau gue sih ogah semobil dengan si pelakor kelas teri, najis !"
Baik Alisha maupun Martha sama - sama menghentikan langkahnya. Hari ini Stella dan barisan para cewek sakit hati, kembali menempati pos mereka di area parkir sepeda motor. Tempat mereka dulu biasa nongkrong mengerubungi Althair.
"Tha, jangan. Nggak usah diladeni," cegah Alisha, memegang lengan Martha yang sudah berbalik.
"Nggak, Sha. Jangan harap aku diam saja. Lagipula ini bukan hanya soal kamu," tolak Martha.
Alisha hanya mengangkat bahu. Martha kalau sudah marah, susah dilarang.
"Pagi, Sha. Ngapain bengong disini, bukannya masuk kelas ?" sapa Arik, teman sekelas Alisha. Di sebelahnya ada Ria dan Sofie yang juga menyapa Alisha.
"Pagi. Itu, lagi nunggu Martha," balas Alisha dengan tersenyum.
"Eh, ngapain tuh si Martha sama Stella ?" tanya Arik. "Wah, jangan - jangan masalah yang kemarin waktu kamu disiram pake mi ?"
"Mungkin," jawab Alisha pendek sambil mengangkat bahu.
"Tapi kamu nggak apa - apa kan, Sha ?" tanya Ria. "Teman - teman sekelas kemarin juga ikut emosi waktu dengar kamu dikerjain Stella."
"Iya, Sha. Jangan takut, kamu nggak sendiri kok. Ada kami sekelas," sahut Sofie dengan berapi - api. "Atau kita samperin ke sana sekalian saja ? Kan Martha sendirian tuh."
"Jangan dong. Ntar malah panjang urusannya," cegah Alisha. "Ntar kita telat ke kelasnya lho."
Ketiga temannya menghela nafas, menurut. Tidak perlu menunggu lama mereka mendengar genderang perang ditabuh. Yep, Martha mulai ngamuk.
"Woi, Stella !!! Kamu ngomongin apa tadi, Hah ??!!!" bentak Martha tanpa punten permisi.
Beberapa murid yang lewat di dekatnya sempat berjengit kaget. Bahkan ada yang dengan lebai mengelus - elus dadanya dan menggeleng - geleng, macam berakting dalam sinetron.
Para penonton segera menggerombol, merasa senang ada selingan sebelum mulai sekolah.
"Ngapain kamu ikut - ikut, hah ??!!!" sahut Stella tidak kalah kerasnya. "Jangan sok ikut campur kamu !"
"Kalau yang kamu ganggu itu Alisha, berarti itu urusanku juga ! Dia temenku ! Jadi jaga mulutmu kalau bicara ! Jangan mentang - mentang ogeb trus kamu bisa seenak udel ngomong sembarangan !"
"Temen ?! Serius kamu temenan sama pengkhianat macem dia ? Cewek yang bahkan sudah ngerebut pacar temennya sendiri ?! Dasar tukang tikung tuh."
Martha sudah akan maju, tangannya sudah gatal saja ingin menampar Stella. Tapi sebuah sentuhan di bahunya dan suara yang didengarnya membuatnya mengurungkan niat.
"Thaa... Beiby, ke kelas yuk. Kurang lima menit lagi nih," ajak Alisha. Membuat beberapa penonton mendesah kecewa karena adegan saling teriak dua cewek itu akan berakhir. Idiihh, si Alisha ini. Biarin kenapa sih. Kan lumayan ada tontonan pagi - pagi.
"Yuk," ajak Alisha lagi, menggandeng tangan Martha. Berjalan ke arah Arik dan lainnya yang masih menunggu. Martha masih sempat mendelik marah pada Stella sebelum akhirnya manut pada ajakan Alisha.
__ADS_1
Stella menggeram marah. Tuh pelakor sekarang berani menyuruh anteknya buat ikut campur. Awas saja nanti ! Walau para penghuni kelas XI - E siap jadi tameng bagi tuan putri mereka, dia, Stella Mahesa Santoso tidak akan kalah !
🦀🦀🦀