Shotgun - Sub Zero : HER

Shotgun - Sub Zero : HER
Bab 25


__ADS_3

  “Pak Ferry ?! Pak ?! Bapak tidak apa – apa ?” tanya Pak Nanang, guru olah raga kelas XI. “Sedari tadi Bapak terlihat gelisah dan terus berkeringat ? Kenapa, Pak ?”


  “Huh ? Ah, tidak apa – apa kok, Pak. Silakan, lanjutkan kembali laporannya,” jawab Pak Ferry dengan sebuah senyum yang dipaksakan. Menyadari pandangan bertanya dari sebagian besar stafnya.


  Ya, bagaimana tidak aneh kalau tiba – tiba dia meminta agar seluruh guru dan staf untuk berkumpul dengan alasan rapat penting. Padahal yang mereka lakukan sekarang hanyalah penyampaian laporan rutin dan sekedar sharing mengenai kendala selama proses mengajar. Hanya itu selama sepuluh menit ini.


  Dengan gugup Pak Ferry melirik jam tangannya. Kurang dua puluh menit lagi dari waktu setengah jam yang diminta ‘orang itu’.


...


  Ya, setelah beberapa menit tadi yang bagai neraka, sewaktu dia menyampaikan soal kecelakaan yang terjadi di lapangan sekolah kemarin sore, ‘orang itu’ hanya terdiam. Tapi justru hal itu yang membuat Ferry ketakutan setengah mati.


  Bukankah suasana sebelum badai selalu lebih tenang ?!!


  “Tiga puluh menit,” suara dingin Zack alias ‘orang itu’ ( dalam versi Ferry ) terdengar.


  “A, apa ? Apa maksudnya ?” gugup Ferry, tidak paham.


  “Singkirkan semua guru dan staff selama tiga puluh menit. Ada yang harus kuurus.”


  “La, lalu apa yang akan kau lakukan selama itu ?” tanya Ferry dan langsung merasa menyesal karena Zack sekarang memberinya tatapan yang menusuk.


  “Apa aku harus menjawabnya ? Sedang dirimu sendiri tidak becus menanganinya sampai harus aku sendiri yang harus turun tangan mengurusnya. Hm ?” tanya Zack dengan nada kalem tapi terdengar bagai tebasan pisau pancung bagi Ferry.


  Ferry meneguk ludah, tidak dapat menepiskan rasa cemasnya. Dirinya mengkhawatirkan keselamatan para muridnya selama setengah jam itu. Karena ini adalah Zack. Dia bisa dengan mudah menghabisi lawannya dalam hitungan detik.

__ADS_1


  Seperti apa yang terjadi di KL tiga hari lalu.


  Ferry bergidik. Dia sudah mendengar progress yang dilakukan oleh Zack dan tim-nya di menara Petronas – KL. Bagaimana mereka akhirnya dapat merebut kembali cabang yang sempat diduduki oleh grup Jian Zhi yang membalas dendam atas serangan Zack tempo hari.


  Empat orang, termasuk Zack, maju dan berhasil menyelesaikan dalam satu kali serangan dalam satu malam. Walau itu akhirnya membuat menara Petronas menjadi penuh mayat dan lautan darah. Kabar mengenai serangan itu memang tidak akan sempat diliput media, karena tim pembersih bergerak cepat. Membereskan area lokasi pertempuran bahkan sebelum waktu Shubuh.


  Ferry terpaku. Foto yang dikirimkan Zack dari lokasi, sebagai salah satu bentuk laporan pada Opung, masih belum bisa menghilang dari benaknya. Karena di foto itu nampak Zack yang berlumur darah dari para lawannya. Nampak tenang dengan sorot mata yang dingin.


  Lalu apa yang bisa dilakukan para muridnya yang hanya orang biasa ?!


...


  Ferry mengusap keningnya yang berkeringat. Pusing memikirkan apa yang bisa dia lakukan. Karena tidak ada yang bisa menghentikan Zack kalau dia sudah mengambil keputusan.


  Kecuali Opung.


  Lalu pertanyaannya : beranikah dia, Ferryadi yang hanya seorang bawahan biasa, untuk melapor pada Opung ?


🦀🦀🦀


  Seluruh penghuni lapangan serentak terdiam dan menahan nafas. Tidak percaya dengan apa yang baru saja Slamet katakan tadi. Mendadak suasana terasa lebih mencekam.


  Eh, dia itu bercanda kan ?! Nggak mungkin serius kan ?


  “A, ampun, Althair. Gu, gue ngerti. Gue paham kenapa lo lakukan ini semua ke gue. Ampun !” terbata – bata Slamet berkata ditengah rasa sakitnya. “Gu, gue akui kalo kemaren sebenarnya gue memang sengaja. Gue memang sengaja tendang bola ke arah Alisha.”

__ADS_1


  “Brengsek lo, Slam !!” teriak Wildan, teman sekelas Alisha, dengan marah. Dibelakangnya nampak pasukan kelas XI-E yang kembali siap kalap.


  “Tha, sabar. Sabar, Martha,” seru Dewanti, berusaha menahan Martha yang sudah akan maju saja. Teman – teman ceweknya yang lain juga ikut membantu menahan Martha.


  "Lepasin, De ! Aku nggak terima Alisha diperlakukan begitu ! Lepas !!!" teriak Martha penuh emosi.


  Althair mengangkat sebelah tangannya. Dan ajaibnya, serentak seluruh makian, sumpah serapah dan dengung obrolan di lapangan berhenti.


  Dengan tenang, Althair berjalan menghampiri Slamet yang tertelungkup kesakitan. Berjongkok dan mengangkat wajah Slamet yang babak belur terkena tendangan bola, hingga sejajar dengannya.


  “Itu ulah lo sendiri atau ada yang lainnya ? Hm ?” tanya Althair.


  Slamet meneguk ludah berkali – kali. Paham betul kalau sebenarnya cowok di depannya ini sudah tahu semua dan tidak ada gunanya untuk berbohong. Kecuali kalau dia ingin kehilangan nyawa tentunya.


  “Gu, gue nggak sendirian. Gue memang salah tapi gue nggak sendirian,” jawab Slam pasrah.


  Althair mendengus meremehkan.


  “Sekarang lo bilang, dengan keras, siapa orang yang lo maksud,” kata Althair tanpa emosi. “Lo paham kan apa konsekuensinya kalo lo bohong ?”


  Slamet kembali meneguk ludah. Menarik nafas dengan gugup berkali - kali. Menyadari bahwa dirinya sudah tidak ada pilihan lain. Menatap penuh putus asa pada orang dengan wajah tanpa ekspresi di depannya.


  "Say it !!!" bentak Althair.


  Dan dengan suara bergetar, Slamet meneriakkan sebuah nama.

__ADS_1


🦀🦀🦀


__ADS_2