Shotgun - Sub Zero : HER

Shotgun - Sub Zero : HER
Bab 7


__ADS_3

Sebuah sedan mewah berwarna hitam merapat di salah satu kawasan elit tengah kota, berhenti di depan sebuah kediaman yang begitu mewah.


  Pintu gerbang dengan besi solid setebal sepuluh centi bergerak otomatis, mengayun terbuka setelah sensornya mendeteksi kedatangan sedan mewah beserta pengendaranya. Meluncur mulus, sedan mewah itu sekarang diparkir di halaman rumah yang luasnya bahkan mampu menampung puluhan kendaraan. Pintu bagian pengemudi terbuka dan seorang pria keluar.


  "Selamat datang, Zack," sambut seorang perempuan berusia sekitar tiga puluh tahunan.


  Namanya Ajeng Kinanti. Dia adalah perempuan yang sama dengan perempuan yang dengan paksa diajak tidur oleh pria baya karena masalah hutang piutang. Mirisnya, ditengah kegiatan jasmaninya, pria baya itu terbunuh dengan lubang di kepalanya.


  Dan yang membunuhnya adalah pria yang disambutnya ini.


  Tidak hanya membereskan masalah hutang yang melilitnya, pria itu juga memalsukan kematiannya dan memberikan kehidupan baru baginya juga anak dan suaminya yang semula dijadikan tawanan.


  Ya, pria itulah dewa penyelamatnya. Dan sekarang Ajeng bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah yang merupakan markas besar.


  "Zack, beliau sudah menunggumu dari tadi," sambung Ajeng, membuat Zack berhenti dan mengerutkan dahi.


  "Aku tidak ada janji untuk bertemu dengannya," sahut Zack.


  "Tapi beliau berulang kali menanyakanmu. Zack, tidak ada salahnya menemui beliau."


  Ajeng memberanikan diri mengutarakan pendapatnya. Kepalanya langsung menunduk seusai bicara. Karena walaupun usia pria dihadapannya itu jauh lebih muda darinya, tapi aura arogansinya sangat dominan. Mampu memberikan tekanan pada orang lain walau hanya dengan pandangannya saja.


  Tanpa berkata lagi, Zack segera melangkah memasuki koridor rumah. Setiap orang yang berpapasan dengannya selalu menunduk hormat. Beberapa kali Zack mengangguk singkat membalasnya. Langkahnya terayun ringan menuju sepasang pintu ganda yang terbuat dari kayu jati tua penuh ukiran. Zack berhenti dua langkah di depan pintu, mengetuk pelan dan menunggu dipersilakan masuk.


  "Yo, Bro ! Bagaimana, urusanmu dengan grup Jian Zhi sudah beres kan ?!"


  Sepasang mata Zack melirik pada pria berusia dua puluh lima tahunan yang kini dengan riang merangkul bahunya. Cengiran lebar menghias wajah Rosyid, sama sekali tidak terpengaruh dengan tatapan dingin yang dilontarkan Zack padanya. Nampak deretan gigi putihnya yang kontras dengan warna kulitnya yang gelap terbakar matahari.


  "Apa pernah ada tugasku yang tidak beres ?! Hm ?!" tanya balik Zack dengan suara tenangnya. "Bahkan tidak sampai satu hari untuk membereskannya."


  "Ya. Ya. Ya. Baiklah. Aku akui kebolehanmu," sahut Rosyid dengan kedua tangan diangkat di depan dadanya, berlagak menyerah putus asa. "Bahkan dengan semua tugas itu, kamu masih ada waktu untuk sekolah. Yah, walaupun aku yakin tidak satupun yang mencantol di kepalamu."


  Sebelah alis Zack terangkat. " Apa aku salah kalau mengira baru saja kamu menganggapku sebagai murid bodoh ?"


  "Woo...hohoho, jangan menatapku seseram itu, Zack. Ayolah, santai sedikit. Kita ini kan bagai kedua tangan kanan dan kiri yang harus saling bekerja sama. Iya kan ?!"


Zack memberikan senyum miringnya sebagai balasan. Tidak berniat meladeni omongan Rosyid yang tidak akan ada ujungnya.

__ADS_1


  Rosyid Riyadin, pria berusia dua puluh delapan tahun tapi penampilannya nampak lebih muda dari usianya. Mungkin hal itu dipengaruhi sifat humorisnya. Entahlah. Tapi penampilan humoris Rosyid bisa menipu. Bagaimanapun, Rosyid memiliki kemampuan yang tidak bisa dianggap remeh.


  Baik Zack maupun Rosyid masing - masing menegakkan tubuh sewaktu pintu ganda perlahan terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah meja panjang yang juga terbuat dari kayu jati berkualitas premium. Beberapa orang duduk mengelilinginya, sebagian menoleh dan mengangguk singkat sewaktu Zack dan Rosyid memasuki ruangan.


  "Akhirnya," gumam seorang pria baya yang duduk di ujung meja. Semua kepala otomatis menoleh padanya. "Kukira aku akan mengering  menjadi mumi sebelum akhirnya kamu datang, Zack."


  "Maaf sudah membuatmu menunggu, Opung," sahut Zack, sedikit menundukkan badannya. "Tapi sama sekali tidak ada informasi kalau Opung meminta saya datang. Perintah terakhir yang saya dapat adalah untuk membereskan masalah Jian Zhi. Dan tugas itu sudah tuntas saya laksanakan dua hari lalu."


  "Ya, ya. Baiklah. Memang aku yang keliru mendadak memintamu datang," tukas Opung tidak sabar, mengibaskan tangan kanannya. "Jadi, apakah urusan dengan Jian Zhi berakhir baik ?"


  "Mereka menolak untuk menyelesaikan sengketa dengan damai, tentu saja. Jadi saya hanya mengambil tindakan membela diri."


  "Jadi, satu kasino mewah yang meledak di kawasan pecinan itu merupakan aksi pembelaan dirimu ?" Opung mendengus, entah karena merasa sebal atau senang.


  Zack menatapnya sesaat. Lalu tanpa ada perubahan pada raut wajahnya, berkata," Ya. Saya anggap demikian."


  Terdengar gumaman tidak setuju bernada resah dari beberapa orang yang ada. Sebagian lagi mengangguk senang, setuju dengan penyelesaian yang ada.


  "Tapi ini bisa menyebabkan serangan balasan."


  "Memangnya kenapa ? Kenapa kita takut pada pengecut macam mereka ?"


  "Ya. Posisi kita juga kuat. Cabang kita tersebar luas. Cukup turunkan perintah dan akan kita hancurkan mereka."


  Berbagai suara mulai berdengung menunjukkan pendapat masing - masing, ada yang setuju maupun tidak. Dengungan tersebut langsung berhenti sewaktu Opung mengangkat sebelah tangannya. Perhatian semua orang kembali fokus sewaktu dia berkata, "Apa kamu sudah memikirkan akibat dari tindakanmu, Zack ?! Aku hanya memintamu mengambil kembali milik kita yang dicuri dan sebagai hasilnya, kamu malah meledakkan satu bangunan kasino mewah yang menjadi pusat markas mereka."


  "Belum lagi nyawa ketua grup yang berakhir di tangannya. Sekali tembak, dor !" gumam Rosyid bersemangat. Baru menghilangkan cengiran lebarnya sewaktu Opung meliriknya kesal.


  "Saya sudah pastikan bahwa dalam waktu dekat tidak ada yang akan mengganggu sehubungan dengan permasalahan grup Jian Zhi," jawab Zack dengan tenang.


  "Maksudnya ?!"


  "Dalam ledakan itu, saya pastikan ketua grup, anak lelakinya yang menjabat sebagai wakil dan seluruh anak buahnya, berada dalam kasino yang meledak."


  Hening sesaat di ruangan itu.


  Lalu tetap dengan ketenangannya, Zack melanjutkan, "Saya juga sudah memastikan tidak adanya barang bukti mengenai keterlibatan kita. Secara teknis, kita sama sekali tidak ada sangkut pautnya. Karena sewaktu ledakan itu terjadi, saya bahkan sedang berada di perpustakaan sekolah. Belajar untuk ujian berikutnya. Silakan cek CCTV dan kesaksian pihak sekolah."

__ADS_1


  "Ha ha ha...!" tawa berderai Opung memecah kesunyian yang ada. Sebelah tangannya memukul - mukul pahanya sambil terbahak. "Good Job, Zack ! Tuntaskan pekerjaan dengan rapi dan bersih. Good Job !"


  Zack kembali sedikit menundukkan badannya menanggapi pujian yang sangat jarang dilontarkan Opung-nya.


  "Ya. Ya. Ya. Inilah tujuanku memanggilmu kemari, Zack. Agar kami bisa mendengar langsung laporanmu ini. Ha !" dengan sedikit tersengal Opung mengakhiri tawanya. "Lalu mengenai kemungkinan serangan balasan, jangan khawatir. Setelah yang dilakukan Zack, mereka pasti butuh waktu untuk menghimpun kekuatan. Sementara itu, kita gunakan kesempatan itu untuk memangkas habis mereka."


  Sebagian besar kepala mengangguk semangat, setuju.


  "Rosyid ! Tugas itu kuserahkan padamu. Pastikan selesai dengan tuntas."


  Rosyid menundukkan badannya, siap bersedia menerima tugas. Wajahnya seperti biasa kembali dihiasi cengiran lebar.


  "Sementara kamu, Zack. Istirahatlah. Kabar soal bagaimana usahamu menaklukkan grup Jian Zhi tidak luput dari telingaku. Ambillah libur. Minimal nikmati waktumu selayaknya pelajar lainnya."


  Zack hanya mendengus pelan mendengar perkataan Opung-nya.


  "Aku serius, Zack. Carilah pacar. Bersenang - senanglah. Biarkan kami yang lebih berumur ini juga beraksi. Ha ha ha !"


  Zack menundukkan sedikit badannya, berkata, "Kalau tidak ada yang dibahas lagi, saya permisi dulu."


  "Ya. Ya. Pergilah. Ingat, Zack. Carilah pacar ! Opung-mu ini sedikit khawatir melihatmu tidak pernah menggandeng cewek," balas Opung dengan senyuman geli. "Jangan bilang kalau kamu tidak laku. Ha !"


  Hampir semua orang ikut tertawa mendengar perkataan Opung. Beberapa sisanya hanya tersenyum geli dan mendengus menahan tawa.


  Tanpa membuang waktu, sekali lagi Zack menunduk hormat dan berbalik pergi. Tidak akan ada habisnya meladeni Opung-nya kalau sudah kumat seperti itu.


  Sebelum pintu ganda mengayun tertutup, Opung-nya berseru lantang, "Jangan lupa kalau nantinya kamu juga harus memberiku keturunan, Zack ! Keturunan dari keluarga Zackqueen yang hebat !!!"


  Pintu ganda yang berat itu menutup dengan debam pelan. Dan dengan langkah tegapnya Zack melangkah, disertai bungkukkan badan tiap orang yang dilaluinya.


  Ya, dialah Zack.


  Satu-satunya cucu dan keturunan dari Opung, yang merupakan kepala keluarga Zackqueen. Dikalangan keluarganya dia memang cukup dipanggil Zack sebagai code name-nya. Hanya sedikit orang yang tahu identitasnya yang sebenarnya.


  Dialah Althair Kyro Zackqueen.


🦀🦀🦀

__ADS_1


__ADS_2