
Sepucuk pistol melayang.
Dengan sigap Althair menangkapnya dan segera mengarahkan pada sasaran. Suara tembakan terdengar teredam dinding tempatnya berlatih. Althair berguling, melompat dan bahkan jatuh tengkurap, memburu sasaran bergerak yang menjadi targetnya.
Suara tembakan terdengar berkali – kali, pistolnya memuntahkan peluru yang terus berjatuhan. Lima belas detik berlalu, kedua puluh sasaran itu sudah tumbang.
Althair menyeka peluh pada pelipisnya. Pendingin pada ruang latihan sepertinya kurang berfungsi karena Althair masih juga merasakan gerah.
“Kau tidak berusaha keras kali ini, Zack !” hardik Samhari Shaib, mentor menembaknya. “Kau pikir menjadi penembak itu hal yang remeh ?! Hah ?! Sampai berani kau berlatih dengan pikiran yang tidak fokus seperti ini ! Jangan membuang waktuku sia – sia. Aku tidak ingin mempunyai murid dengan otak kosong sepertimu !”
Althair meneguk ludah dan mengusap wajahnya. Menghela nafas menerima kemarahan gurunya.
“Latihan hari ini cukup ! Aku tidak ingin melanjutkan latihan selama kau kehilangan fokusmu, Zack. Jangan jadi penembak yang bodoh dengan pikiran kemana – mana. Kalau ini pertempuran sebenarnya, nyawamu pasti sudah melayang. Latih konsentrasimu. Latih fokusmu. Kulihat kecepatanmu sudah sangat baik tapi itu tidak akan ada artinya kalau kau kehilangan otakmu !!!” Samhari melangkah meninggalkan tempat latihan dengan muka masam setelah habis - habisan mengomel.
Althair sungguh terdiam kali ini. Sudah lama Samhari tidak semarah itu padanya, sejak hari pertama mereka latihan dulu.
“Kau kenapa hari ini, Zack ?” Rosyid yang baru datang kini duduk berjongkok di sebelah Althair. “Sepertinya ada yang kamu pikirkan ? Sampai Samhari mengamuk seperti itu ?!”
Althair menggeleng, enggan menjawab. Dia beranjak berdiri, mengusap keringat menggunakan ujung kaosnya sehingga sedikit menampakkan otot ABS-nya. Melangkah pergi meninggalkan Rosyid yang masih penasaran. Dalam hati merutuki kebodohannya sendiri.
Ya, sejak kejadian di minggu lalu dengan geng motor Radith, Althair selalu memikirkan satu hal. Dan sialnya, satu hal itu tidak kunjung hilang juga dari pikirannya.
Kenapa dia merasa marah setiap kali ada cowok lain yang membicarakan Alisha ?!!
Althair masih ingat bagaimana dia merasa seolah ada api yang mendadak berkobar dalam dadanya, sewaktu cowok – cowok teman sekelas Alisha begitu lekat memandangi Alisha saat pelajaran olah raga Senin lalu. Rasanya dia sudah gatal saja ingin menghajar semua cowok itu. Beruntung dia masih bisa menahan diri.
Lalu kemarin, sewaktu Tirta dan lainnya membicarakan Alisha, Althair merasa darahnya seolah terpacu ke kepalanya, membuat kepalanya panas seketika. Merasakan kemarahan yang muncul dengan cepat dalam dirinya. Kalau bukan karena Radith, Althair pasti sudah menghajar mereka tanpa ampun.
Rasanya Althair tidak terima kalau ada yang memandang Alisha terlalu lama. Althair tidak terima kalau ada yang membicarakan Alisha dengan cara yang salah.
Apalagi kalau ada cowok lain yang berani menyentuh Alisha sedikit saja.
Sungguh, Althair tidak akan ragu sedikitpun untuk mematahkan tangan siapapun yang berani menyentuh gadis itu.
__ADS_1
Tapi , bukankah ini adalah hal yang aneh ?! Ini aneh, sangat aneh !!!
“C’mon, Man... wake up ! She’s not your girl anyway !”
Berkali – kali Althair mengingatkan dirinya sendiri, berusaha agar pikirannya tetap waras.
Ya. Lagipula, mana mungkin kan Alisha jadi ceweknya ?!!
Toh setiap kali melihatnya, Althair selalu melihat pandangan tidak suka Alisha padanya.
Althair menghela nafas. Entah apakah Alisha membencinya atau tidak, yang pasti cewek itu tidak menyukainya.
Lihat saja, sudah berapa hari berlalu semenjak Althair memberikan nomor handphone-nya dan belum ada sekalipun cewek itu menghubunginya ?!! Padahal kalau gadis lain, pasti akan senang setengah mati demi mendapatkan nomor handphone Althair.
Yah... Di malam saat dia menyelamatkan Alisha, Althair memang sengaja menghubungi nomor handphone-nya sendiri menggunakan handphone Alisha. Dengan begitu dia bisa mendapatkan nomor handphone Alisha sekaligus memberikan nomor handphone-nya. Cara yang cukup cerdas sebenarnya namun sayang nihil hasilnya.
Karena Alisha tak kunjung juga menghubunginya.
“Don’t be stupid, Man,” gumam Althair. Merasa bodoh sendiri karena sudah mengira Alisha akan menghubunginya walau hanya untuk sekedar mengucapkan terima kasih.
Entah mengapa, terasa sedikit... kesal ?!
“Damn ! Hell you, Alisha ! Get away from my mind !”
Dengan hembusan nafas panjang, Althair membuka pintu ruang latihan dan melangkah keluar. Nampak begitu luar biasa gusarnya.
“Yo, Zack !” seru Rosyid.
Althair menoleh padanya dengan satu kaki sudah berada di luar ruang latihan. Tangannya menahan pintu agar tetap terbuka.
“Handphone-mu ketinggalan !” lanjut Rosyid.
“Tolong bawakan saja nanti,” jawab Althair dengan nada enggan. Rasanya dia malas berbicara dengan siapapun.
__ADS_1
“Masalahnya, ada telepon masuk. Dari tadi getar – getar mulu.”
Althair mengerutkan dahinya. Merasa heran.
Memangnya siapa yang meneleponnya ?! Karena hanya sedikit orang yang tahu nomor handphone-nya.
“Biar saja. Nanti juga bakal telepon lagi kalau memang penting,” katanya dengan nada enggan yang sama.
Althair sudah membalikkan badannya hendak keluar saat Rosyid kembali berseru menahannya.
“Eh, kamu yakin nggak mau terima telepon ini ? Dari cewek lho..."
Althair hanya berdecak sebal menanggapinya.
"Nama yang muncul sih Alisha.”
Deg !
Althair hanya tercenung sesaat. Tidak sampai lima detik dia sudah merebut handphone di tangan Rosyid dan menerima panggilan.
“Hal...”
“Tanggung jawab, Althair !!!” seru Alisha segera, bahkan tidak memberi Althair kesempatan untuk mengatakan “Halo.”
“Maksudnya apa ?!” tanya Althair kebingungan. “Alisha, bicara yang jelas.”
“Tanggung jawab, Althair !” ulang Alisha. “Kamu harus tanggung jawab ! Pokoknya kamu yang harus tanggung jawab !!!”
Sesaat Althair terdiam mendengarkan suara Alisha. Saat berikutnya, wajahnya dihiasi senyum miring khasnya.
Finally...
Its time to show !
__ADS_1
🦀🦀🦀