
Sebuah motor sport hitam membelah jalanan kota di sore hari. Pukul lima sore dan jalanan mulai dipenuhi kendaraan para pekerja dan murid sekolah yang hendak pulang.
Althair memainkan gas motornya, menyalip lincah diantara kendaraan yang padat merayap, sesekali terpaksa menaiki trotoar demi mencari jalan.
Traffic light menyala merah dan motor Althair berhenti tepat di belakang garis marka. Para penyeberang jalan melenggang dengan terburu, namun masih sempat juga melirik kagum pada motor sport Althair. Beberapa pengendara yang berhenti di kanan kirinya juga memandang terpesona ke arahnya.
Althair menegakkan tubuhnya dan bersedekap. Cuek. Beberapa siswi berseragam SMU menyeberang bergerombol. Mengikik dan berbisik, menunjuk–nunjuk ke arahnya.
‘Ah, benar juga,’ pikirnya. Hari ini Althair bolos sekolah.
Traffic light menyala hijau dan Althair kembali memacu motornya. Hari ini dia sedang bosan. Setelah semua ketegangan mengenai grup Jian Shi, waktu luang yang ada membuatnya jenuh. Lampu sein-nya menyala, motornya membelok ke arah salah satu taman kota. Dari kejauhan dilihatnya sekumpulan motor sport yang sudah diparkir.
Yah, tidak ada salahnya sesekali hang out dengan teman–teman gengnya. Toh Opung-nya sendiri yang mengatakannya. Althair menekan gas lebih dalam. Hari ini dia ingin sedikit bersenang–senang.
“Yo, Bro !” sapa Radith, mengenali siapa yang datang.
Althair melepas helmnya, balas menyapa dengan mengangguk dan tersenyum. Sesaat mereka berpelukan dan saling menepuk punggung lalu berjalan beriringan ke arah teman–teman yang lain.
“Bolos sekolah hari ini, Bro ?” tanya Radith.
Althair tersenyum sesaat dan menjawab, “Sedang nggak mood.”
“Gila, Lo. Bolos sekolah cuman gara – gara mood ?”
“Elo sendiri ?!” balas Althair bertanya.
“Sama deh. Lagi nggak mood juga,” jawab Radith disambung tawanya. “Eh tapi lo nggak mood bukan gara–gara masalah minggu lalu itu kan ?!”
Baik Althair maupun Radith berhenti, saling berhadapan.
“Sumpah. Gue benar–benar minta maaf buat kelakuan temen–temen gue kapan hari,” lanjut Radith.
Althair menatap langsung ke mata Radith, menilai. Lalu dengan senyum miring khasnya, Althair menjawab, “Nggak masalah, Bro.”
Ya, Radith merupakan ketua dari geng motor yang sempat dihajar Althair sewaktu menolong Alisha minggu lalu. Secara kebetulan, mereka bertemu lagi beberapa hari lalu. Dengan gentle Radith meminta maaf, walaupun sebenarnya sewaktu kejadian dia tidak terlibat sama sekali karena tidak datang di pertemuan geng di hari itu. Althair juga tidak keberatan menerima pertemanan yang ditawarkan Radith.
“Yo, Bro !” sapa temannya yang lain. Disusul sapaan dengan saling menepuk punggung dan tos.
“Sendirian aja, nih ? Sekali-kali ajak juga cewek Lo, biar kita bisa minta maaf sama dia juga,” sahut Tohir dengan cengiran malunya. “Sori ya, Bro. Gue nggak tahu kalo dia cewek lo.”
Sebelah alis Althair terangkat. Ceweknya ?! Yang mana ?!
“Eh, busyet. Sama cewek sendiri lupa ?” seru Tohir, geleng–geleng kepala. “Itu lho, cewek cakep yang kami goda malam–malam itu. Terus itu eh, ya... babak belur deh akhirnya,” lanjut Tohir garuk–garuk kepala. Beberapa cowok lain juga bergumam hal yang sama.
Tunggu. Tunggu sebentar. Jadi yang mereka maksud adalah Alisha ?! Alisha ?! Jadi ceweknya ?!
Althair menahan diri untuk tidak mendengus. Bagaimana mungkin cewek itu jadi pacarnya ?! Setiap kali mereka bertemu, kelakuannya seperti singa betina yang siap menerkam Althair.
“Eh, Bro. Jadi itu cewek bukan cewek lo ?!” tanya Tirta.
Althair menatapnya sesaat, ingat bahwa Tirta adalah orang yang pertama kali memulai menarik tangan Alisha bahkan sempat menyudutkannya.
“Kenapa memangnya ?!” tanya Althair dengan wajah yang tidak bisa ditebak.
“Kalau gitu, berarti gue bisa dong jadi pacarnya ?! Cewek cakep gitu apalagi body-nya, beuh ! Mirip model !” sahut Tirta sambil tertawa.
“Yoi, Bro. Gue juga mau dikenalin sama tuh cewek,” sahut yang lain.
“Sayang banget kalau cewek secakep itu belum ada yang punya. Apalagi kulitnya mulus begitu. Aduduh...seumur–umur baru sekali itu gue pegang kulit yang halus mulus,” sahut Endro, mengelus–elus tangannya sendiri.
__ADS_1
“Wah, gue malah sudah bayangin kalau tuh cewek ada di pelukan gue. Apalagi tubuhnya wangi banget,” Danang menarik nafas, seolah menghirup suatu aroma. “Gila, Bro. Tuh cewek cantik parah.”
“Jiaahhh...kalau gue malah sudah bayangin yang macem–macem sama tuh cewek,” sambar Tirta semangat. Otak mesumnya memang nomor satu.
‘BRUAAKKKK !!!!!’
Omongan mereka semua terhenti. Althair menendang tong sampah dengan sebelah kakinya. Membuat tong besi itu melayang sejauh lima meter sebelum akhirnya jatuh berdentang dengan keras.
“Woi, Bro ! Lo kenapa, hah ?!” sergah Tirta, tersinggung.
“Tir, sabar. Sabar dulu,” Radith langsung bergerak maju, memasang badan di antara dua cowok itu.
Sedari tadi dia sudah merasa tidak enak sewaktu teman–teman gengnya ribut membahas cewek yang sempat mereka goda minggu lalu. Apalagi karena Althair hanya diam tidak berkomentar. Belum sempat dia menghentikan ocehan mereka, Althair sudah menendang tong sampah.
“Lo kenapa sih, Bro ?! Marah ?! Kan lo sendiri yang bilang kalau tuh cewek bukan pacar lo !!!” seru Tirta panas. Sedang Radith tetap kukuh memasang badan di depannya.
Althair menatapnya. Membuat Radith mendadak merasakan hawa dingin pada tengkuknya dan Tirta meneguk ludah. Anggota geng yang lain tanpa sadar beringsut mundur selangkah dua langkah. Sementara Althair berjalan mendekati Tirta. Dengan sebelah tangan Althair meminggirkan Radith, akhirnya berhadapan dengan Tirta.
“Al...” Radith hendak bicara tapi urung, melihat Althair yang mengangkat sebelah tangannya, menyuruhnya diam.
“Dengar,” ucap Althair dengan tenang. “Mau dia cewekku atau bukan, jangan berani–berani menyentuhnya. Sedikit saja lo menyentuhnya,” Althair menghentikan sesaat ucapannya, maju selangkah lagi mendekat pada Tirta yang tampak semakin pucat. “Gue habisi lo !”
Althair berbalik, matanya tajam menyapu semua anggota geng yang ada. Dan dengan tekanan di tiap katanya, dengan suara rendah seolah menggeram, dia kembali berkata, “Dan ini berlaku untuk semua. Kalau ada dari kalian yang berani mengganggu cewek itu... Habis kalian !!!”
🦀🦀🦀
“Hatcchiii !!!”
“Kamu kenapa, Sha ? Flu ?” tanya Martha dengan kening berkerut.
“Nggak tahu deh, Tha. Tiba–tiba bersin,” jawab Alisha, buru–buru mengambil tisu dan mengusap hidungnya. “Iihhh, padahal tadi nggak kenapa–kenapa.”
Mereka berempat, Alisha, Martha, Fellin dan Karin sedang berada di salah satu resto fast food sepulang sekolah. Alisha yang mentraktir mereka. Hatinya sedang sumringah karena akhirnya masa hukumannya berakhir. Dengan gembira mereka asyik makan sambil berceloteh.
Eh, ya... kecuali satu orang.
“Kamu kenapa sih, Karin ?” tanya Alisha, heran melihat Karin yang lebih banyak diam. “Makanannya nggak enak ? Aku pesankan yang lain ya ?”
“Eh... jangan, Sha !” ujar Karin, menahan Alisha yang sudah berdiri. “Nggak apa–apa kok. Bukan soal makanannya.”
“So what, Karin ? Is there anything wrong ?”
Karin menggeleng. “No, Alisha. Everything is fine. I just miss him. Hari ini Althair nggak masuk.”
Baik Alisha, Martha dan Fellin menahan diri agar tidak saling melirik.
“Ya ampun, Karin,” desah Martha. “Demi tujuh lapis bumi dan langit, apa nggak bisa sebentar saja pikiranmu bebas Althair ?”
“Eh, Karin. Althair kenapa nggak masuk ? Sakit ?”
“Nggak tahu, Fellin. Aku tanya teman–teman sekelasnya, katanya sudah biasa bolos gitu.”
“Trus kenapa nggak kamu telepon dia saja ?” tanya Fellin lagi, dengan nada polosnya.
Sejenak raut wajah Karin terlihat muram, sebelum menjawab, ”Aku nggak tahu nomor handphone-nya, Fellin. Aku juga sama sekali belum pernah mengobrol lagi dengan Althair sejak hari itu. Bahkan kami juga belum pernah ketemuan berdua saja.”
Alisha, Martha dan Fellin serentak terdiam.
“Emm... Karin,” ujar Alisha pelan setelah mendapat anggukan kecil dari Martha. “Bukannya kalian pacaran ya ?! Bukannya akhir-akhir ini kamu nggak pernah lagi gabung di jam istirahat dengan kami karena kamu bareng Althair ?!”
__ADS_1
Karin terdiam. Matanya tampak berkaca-kaca. “Nggak, Sha. Memang waktu itu Althair bilang oke untuk pacaran denganku. Kamu juga dengar sendiri kan ?”
Alisha menghela nafas. Mengangguk.
“Tapi hubungan kami sejak itu sama sekali nggak ada perubahan. Dia sama cueknya, sama dinginnya. Bahkan aku merasa bagi Althair aku nggak ada artinya.”
Alisha terdiam. Dalam hati dia senang akhirnya Karin mulai sadar kalau Althair hanya mempermainkannya. Tapi di sisi lain, dia juga merasa sedih melihat Karin yang hampir menangis.
“Rin,” ujar Alisha, tangannya menggenggam tangan Karin. “You still have us, okey ? We still with you.”
Martha meremas bahu Karin dan Fellin mengangguk–angguk. Karin mengusap ujung matanya. Tersenyum kecil.
“Memangnya apa sih yang kamu suka dari Althair ?” tanya Fellin pada Karin. Sementara Alisha kembali asyik memakan kentang gorengnya, tidak tertarik dengan tema bahasan seputar Althair.
“Eh, ya... dia kan cakep, Fellin,” jawab Karin ragu. Melihat Martha dan Fellin yang masih menatapnya, jelas dengan tampang menunggu, Karin lanjut berkata, “Ehm ya, style cueknya keren trus motornya juga. Ehm...”
Suara Karin perlahan semakin mengecil dan menghilang sementara Martha dan Fellin menatapnya tidak percaya. Alisha masih asyik memakan kentang gorengnya dengan kedua tangan bertopang dagu. Menatap Karin yang semakin terlihat kikuk.
“OMG, Karin ! Just it ?! Rin, kamu serius nggak pernah jatuh atau tabrakan atau terbentur sesuatu begitu ? Soalnya, sumpah deh, Rin, looks like something wrong with your head !” seru Martha kesal.
Alisha diam berpikir. Sebenarnya apa sih yang menarik dari cowok paling menyebalkan itu ?! Kok sampai Karin sebegitu terpesonanya.
Oke, oke. Althair memang lumayan ganteng. Eh, ganteng banget ding. Sori, revisi. Belum lagi badannya yang setinggi 187 cm. Membuatnya mencolok dibanding cowok–cowok yang lain. Data soal tinggi badan Althair ini valid karena Karin dengan diam–diam sudah stalk info Althair di dokumen sekolah ( Tuh Karin sudah nekat kali ya sampai berani mengintip dokumen di ruang guru ). Kedua telinga Althair ditindik, dihias sebuah anting one piece di masing–masing telinganya. Rambutnya berwarna coklat sewarna madu. Entah itu rambut asli atau sengaja dicat, yang jelas Alisha tidak pernah melihat warna lain pada rambutnya. Bahunya lebar dengan badan yang atletis.
Alisha meneguk minumannya perlahan. Dia masih ingat sewaktu dibonceng Althair minggu lalu dan bagaimana sepanjang jalan Alisha terus memeluk Althair.
Ya, dirinya bisa merasakan otot yang kuat di balik kaos yang dipakai Althair. Belum lagi sewaktu Althair menghajar satu geng motor sendirian. Bagaimana lincah dan kuat gerakkannya. Jelas kalau Althair juga menguasai kemampuan bela diri.
Lalu matanya...
Alisha merasakan dadanya sedikit berdebar. Dia teringat bagaimana Althair menatapnya dengan begitu intens sehinggga membuatnya gugup. Belum lagi senyuman miring khasnya yang seolah menggoda.
Alisha menarik nafas. Hell, Alisha. What’s wrong with you ?
Althair juga memakai gelang kulit di tangan kirinya.
What ?! Hell !!! Stop thinking of him, Alisha !!!
“Kamu kenapa, Sha ?” tanya Martha, heran melihat Alisha tiba–tiba menepuk kedua pipinya.
“Nggak. Nggak kenapa–kenapa kok,” jawab Alisha cepat.
“Jangan jadi aneh juga ya, Sha. Sudah cukup Karin saja,” sambung Martha memperingatkan.
“Siapa yang aneh sih, Tha ? Namanya juga cewek sedang jatuh cinta, wajar kan ?” sanggah Karin. “Tuh, Alisha dan Fellin juga. Cepetan gih cari pacar.”
Fellin menggeleng kuat sedang Alisha mendesah cuek.
“Kamu tuh, Sha... cepetan cari cowok ! Mau berapa banyak cowok lagi yang mau kamu buat patah hati ? Masih ingat kan insiden di klub basket dua bulan lalu ?”
“Sudah, Karin. Jangan bahas itu lagi !” sergah Martha segera, memberi pandangan tajam pertanda tidak suka pada Karin yang menyinggung-nyinggung 'soal itu'.
Karin mendengus dan terdiam. Ada sedikit kecanggungan yang terasa diantara empat sahabat itu. Tidak lama kemudian Karin berdiri dan berkata, “Aku mau ke toilet dulu.”
“Aku ikut,” ucap Fellin, bergegas berdiri merendengi Karin.
Tinggal Alisha dan Martha yang masih tetap saling diam. Martha tidak berkata apa–apa lagi, demi melihat lirikan Alisha padanya. Sementara Alisha memasang ekspresi datar, mengaduk–aduk minumannya dengan sedotan. Mendesah, Martha kembali meraih sisa burgernya. Memutuskan untuk kembali menikmati makanan favoritnya.
🦀🦀🦀
__ADS_1