
“Ehhhmmmmppppp......” Alisha mendesah, membuka matanya.
Sinar matahari menerobos masuk sementara udara segar berhembus masuk dari jendelanya yang terbuka. Tirai jendelanya yang berwarna biru pastel, bergoyang pelan.
‘Huh ?! Memangnya semalam belum kututup ya jendelanya ?’ pikir Alisha dengan kening berkerut.
‘Jam berapa ini ?’ tangannya menggapai ke meja dekat tempat tidurnya, mencari handphone-nya dan tidak menemukan.
Keningnya berkerut sekali lagi. Kemana handphone-nya ?!
Terakhir dia gunakan handphone-nya adalah kemarin, sewaktu Martha menghubunginya dan memintanya melakukan hal yang bahkan tidak pernah dipikirkan Alisha.
Menghubungi Althair.
Mendesah, Alisha kembali menghenyakkan tubuhnya lagi, masih mengantuk. Sambil memejamkan mata, Alisha berpikir.
Kenapa ya kemarin Martha memintanya menghubungi Althair ?! Sepertinya Martha terdengar panik.
“Engghhhmmmppp...” erang Alisha, masih ingin menikmati waktu di atas kasurnya.
Saat berikutnya, Alisha menyadari hembusan nafas di belakang lehernya. Juga merasakan adanya sebuah tangan yang melingkari perutnya. Tersenyum senang, Alisha memutar tubuh menghadap sumber kehangatan pada punggungnya, mendesah manja, “Mamaa... “
Alisha menyurukkan wajahnya ke dalam pelukan, menggosok – gosokkan hidungnya dengan mesra dan mengalungkan tangannya pada punggung sosok di depannya. Balas memeluk dengan erat dan bergumam,” Mama... tumben temanin Alisha tidur.”
Sampai kemudian menyadari satu hal, “Mama... Mama ganti parfum ya ? Kok aromanya beda ?” tanya Alisha dengan mata masih terpejam.
“Kamu suka ?”
Alisha menghirup lebih dalam aroma baru itu. Mengangguk dan menjawab, “Suka. Alisha suka baunya. Tapi kan cowok banget, Ma ?” tanya Alisha sambil menengadah.
“Kan aku memang cowok, Kitty,” jawab Althair dengan senyuman miring khasnya.
Deg !
“Gyaaaa.....!!!!!” teriak Alisha, langsung melepaskan pelukannya pada Althair dan beringsut menjauh. Hampir terjatuh dari tempat tidurnya kalau saja Althair tidak sigap menangkapnya.
“Kitty, hati – hati dong. Ntar perutmu sakit lagi bagaimana ? Hm ?” kata Althair dengan santai, menarik Alisha kembali dalam pelukannya.
“Iihhh... apaan sih, Althair ! Lepasin !!! Iiihh...” Alisha meronta, berusaha lepas dari kungkungan Althair.
“Duh ! Galak amat sih ? Padahal semalam kamu manja banget...”
__ADS_1
Whaaattt ????!!!!
“Al... Althair ! Ka, kamu semalam nggak apa – apain aku kan ???!!!” tanya Alisha dengan gugup.
“Kenapa ?” tanya balik Althair, menahan senyum.
“Althair, serius ! Kamu nggak apa – apain aku semalam kan ?!!!!” bentak Alisha.
“Sst... Kitty, jangan ribut – ribut. Nanti mama kamu kesini loh,” jawab Althair, meletakkan telunjuk pada bibirnya.
Ya Tuhan ! Mahkluk macam apa yang ada di kamarku ini ???!!!!
“Ck ! Jangan berwajah seram seperti itu dong, Kitty. Semalam aku nggak apa – apain kamu kok. Belum,” Althair kembali berbaring dengan santai. “Lagipula, kalau habis diapa – apain, pasti masih ada bekasnya kan ?”
Alisha langsung buru – buru memeriksa tubuhnya. Bekas ?! Bekas apa ?! Memangnya kalau habis ‘ituan’ ada bekas apa ?!
Althair mendengus, akhirnya tidak dapat menahan tawanya.
“Ha.. ha.. ha... Duh, Kitty. Polos banget sih ? Jangan – jangan belum pernah ‘begituan’ ya ? Hm ?” Althair bangkit mendekat pada Alisha. “Wah, masih ori dong. Lucky me !”
Haahhh ??!!! Lucky me kepalamu peyang ??!!!
“No, Kitty. No,” Althair menjawab dengan nada bosan. “'Altha'. Panggil aku 'Altha', Kitty. Seperti semalam kamu memanggilku.”
“Apaan sih, Althair ???!!! Lagipula apaan itu panggilan 'Kitty' ??!!” kata Alisha, masih berusaha melepas tangan Althair yang masih bertahan di pinggangnya. “Aku bukan kucing, Althair. Jangan panggil 'Kitty' !!!”
“Altha...”
“A, apa ?”
“Panggil aku Altha...”
Alisha menelan ludahnya. Wajah Althair nampak begitu serius. Apa dia sebegitu inginnya dipanggil Altha ? Iiihhh... kayak anak kecil saja...
“Al, Altha...” ucap Alisha akhirnya.
“Lagi,” ujar Althair. “Say it again, Kitty,”
Tubuh Althair bergerak mendekat pada Alisha. Sementara Alisha sebisa mungkin berusaha mundur.
“Altha...”
__ADS_1
“Lagi.”
Punggung Alisha sudah membentur kepala tempat tidur. Sudah tidak ada tempat baginya untuk mundur. Dirasakannya sebelah tangan Althair menyelinap di balik punggungnya. Sementara wajah Althair semakin mendekat. Nafasnya terasa hangat menampar wajah Alisha.
“Altha... engghhmmmmpppp.”
Alisha bahkan tidak sempat menarik nafas karena Althair sudah menciumnya. Dirasakannya bibirnya kembali dilumat dan dikulum oleh Althair.
“Eeennnggggghhhhhmmmm...” gumam Alisha, berusaha mendorong Althair menjauh, tapi yang ada malah Althair semakin kuat menindihnya.
“Aaaahhh, Althaaa. Sud... daaahh,” erang Alisha tidak berdaya namun Althair kembali memenjarakan bibirnya.
Ya Tuhan ! Tolong ! Alisha salah apa sampai kamu kirim mahkluk inii...!!!
“Sha ! Kamu sudah bangun, Nak ?” suara Mama Alisha terdengar, diiringi suara ketukan pintu.
“Cih !” gerutu Althair, terpaksa melepas ciumannya.
Sementara Alisha menggunakan kesempatan itu untuk menendang Althair, berguling jatuh dari tempat tidur dan lari menghambur ke pintu kamarnya, “Mamaaaa !!!!!”
Alisha sudah berhasil meraih handel pintu dan sedikit membukanya, namun Althair lebih cepat darinya. Langsung membekap mulutnya dari belakang dan dengan sebelah tangan, mendorong pintu hingga tertutup dengan bunyi, ‘Klik !’ tanda pintu terkunci. Didengarnya suara langkah Mamanya yang sudah makin menjauh.
“Kitty. Jangan coba lari dariku,” bisik Althair di telinga Alisha. “Kan kita baru mulai. Hm ?”
Alisha berbalik, menatap takut pada sosok didepannya ini. Dadanya terasa berdegup kencang. Sementara Althair memasang wajah santai, tetap dengan senyuman miringnya yang masih tersungging.
“Mandi sana gih,” ujar Althair akhirnya, berjalan ke arah tempat tidur dan duduk di pinggirannya. Diliriknya Alisha masih berdiri mematung. “Mau mandi sendiri atau aku mandiin ?”
“MANDI SENDIRI !!!” bentak Alisha, sadar dari rasa shocknya dan bergegas lari ke kamar mandi. Langkahnya berhenti sewaktu mendapati sesuatu yang terjatuh di sebelah kaki tempat tidurnya.
“Apa ini, Althair ?” tanyanya, membungkuk hendak mengambil.
“For your info, itu pistol dan asli. Jangan dipegang, pengamannya terbuka,” jawab Althair sesantai kalau ada orang yang bertanya hari ini hari apa.
Alisha membeku. Pistol ?! Di kamarnya ?! Siap tembak lagi.
Apa semalam dia tidur dengan barang berbahaya itu ??!!!
“Iya, Kitty,” decak Althair tidak sabar. “Kan semalam aku mau bunuh kamu.”
🦀🦀🦀
__ADS_1