
"Ihh, panas !!!"
Alisha mengeluh sembari mengusap peluh di dahinya. Saat ini dia sedang menunggu Martha untuk pulang sekolah bersama. Tapi ternyata temannya itu masih harus menyelesaikan piket kelasnya dulu. Membuat Alisha tidak ada pilihan lain selain menunggunya.
"Ihh, gerah banget !!!" keluh Alisha kembali. Dirinya sudah berdiri berteduh di bawah pohon di dekat gerbang sekolah. Tapi bahkan rimbunnya pohon sekalipun tidak mampu menghalau panas matahari jam tiga sore.
Terdengar keributan dari kerumunan di area parkir motor. Berhasil menarik perhatian Alisha dan membuat matanya menyipit memandang kerumunan itu. Saat berikutnya, Alisha mendengus sebal demi melihat siapa yang menjadi penyebab keributan.
Saat ini Althair sedang duduk di atas motor sportnya. Itu bukan sekedar motor sport biasa seperti yang banyak terdapat di pasaran. Motor sport miliknya sekelas dengan motor sport yang digunakan dalam lomba balap internasional. Warna hitamnya berkilat, menandakan kalau motor itu dirawat dengan sangat baik. Merk yang terpasang pada body motornya mencantumkan nama terkenal produsen luar negeri, semakin membuat mata kaum hawa membulat dan terpesona.
Alisha mendengus keras, merasa sebal karena teringat kejadian seusai jam istirahat tadi.
...
Alisha dan ketiga temannya sedang berjalan keluar dari kantin, hendak kembali ke kelas masing - masing. Dan tanpa sengaja, mereka berpapasan dengan Althair yang berjalan dengan dikelilingi para penggemarnya.
Alisha ingat bagaimana dia merasa begitu sebal melihat gaya berjalan Althair yang terlihat pongah. Nampak begitu arogan dengan wajah gantengnya yang sok cuek.
Lebih sebal lagi sewaktu Karin dengan bodohnya malah berhenti mendadak dan menatap Althair penuh kekaguman. Menghalangi jalan Althair dan para pengikut fanatiknya, sehingga tanpa sengaja kedua rombongan itu malah berhenti dan saling berhadapan.
"Karin, ayo !" tarik Martha, memaksa Karin menyingkir. Sementara pandangan Althair tetap lurus, seakan menolak untuk melihat rombongan gadis tidak penting seperti mereka.
"Ayo, Karin !" kali ini Fellin yang berkata lirih, berusaha mendorong punggung Karin sambil menunduk. Merasa jerih melihat pandangan mencemooh dari para rombongan siswi penggemar Althair.
__ADS_1
Alisha yang sejak tadi sudah merasa sebal dengan pengakuan cinta Karin pada mereka, semakin merasa sebal melihat sikap Althair yang berlaku seolah mereka hanya seonggok kain pel yang bahkan tidak pantas untuk sekedar diliriknya.
"Hehhh !!! Minggir kalian !!! Jangan menghalangi jalan kami !!!" salah satu siswi penggemar Althair berseru lantang, segera disambung dengan seruan dari para siswi lainnya yang sekarang seakan berlomba memperolok mereka berempat.
Oh, oke. Sekarang kesabaran Alisha benar - benar sudah habis.
"Kenapa kami yang harus minggir ?!!" sergah Alisha, masih berupaya keras menjaga agar emosinya tidak meledak. "Memangnya siapa yang dengan bodohnya berjalan bergerombol di koridor di akhir jam istirahat ?!!"
"Bodoh ?! Siapa yang kamu maksud dengan bodoh, hahh ?!!"
"Oh - my - God !!!" seru Alisha sambil berakting menepuk dahinya. "Sudah bodoh ternyata pendengarannya kurang juga ya ?!!"
Dengan dramatis Alisha menghela nafas dan menggeleng putus asa. "Guys, kita minggir saja ya ?! Percuma bicara dengan sekumpulan gadis berotak kosong dan punya masalah pendengaran."
"Baik. Terima kasih atas sarannya," Alisha mengangguk cepat menanggapinya, menggenggam kedua tangan salah satu siswi yang sudah emosi itu, berlagak memasang tampang serius seolah tidak ada hal lain lagi yang lebih penting.
Dan tanpa berkata apapun lagi, dengan tanpa dosa Alisha langsung saja ngeloyor pergi. Berjalan tenang menerobos dan membelah kerumunan para gadis penggemar yang melongo, masih juga tidak mengerti dengan sikap Alisha yang tergolong ajaib itu. Dengan sigap Martha segera menarik Karin pergi, diikuti Fellin yang membuntut berjalan tergesa.
Dengan sengaja, Alisha menabrak bahu Althair sebagai ungkapan kekesalannya. Dan tidak ketinggalan pula, tatapan penuh kesebalan yang dilontarkannya pada mahkluk Tuhan yang merasa paling sempurna itu.
Sesaat, masih sempat dilihatnya Althair balas meliriknya.
...
__ADS_1
"Hahhh..." Alisha menghela nafas. Sebelah tangannya mengipas - ngipasi wajahnya, berusaha mengurangi rasa gerah. Dalam hati sedikit menggerutu kenapa Martha belum datang juga.
Alisha baru saja mengibaskan rambutnya yang mulai terasa lengket di tengkuknya, waktu dia melihat Martha berlari begitu saja menyeberangi lapangan.
"Shaaa !!! Tolong bantuin !!!" Martha berseru panik memanggilnya. Dibelakangnya, nampak Fellin yang juga ikut berlari - lari mengejar.
Alisha masih berdiri bengong, merasa bingung sendiri.
Hei, bukankah Martha seharusnya sedang piket ?! Lalu kenapa juga Fellin ada bersamanya ?!
Lagipula, kenapa mereka sampai berlarian dengan heboh seperti itu sih ?!! Memangnya ada apa ?!!
"Alishaaa !!! Tolong !!! Karin sudah gila !!!"
Didengarnya kembali suara Martha yang berteriak putus asa. Membuat Alisha akhirnya menyadari, siapa yang sedang berusaha dikejar Martha dan Fellin.
Demi semvak Firaun !!!
Alisha semakin melongo sewaktu melihat Karin yang berjalan cepat setengah berlari. Wajahnya terlihat begitu penuh tekad menuju arah di mana Althair berada.
Tidak menunggu lama, Alisha segera berlari ikut mengejar temannya itu. Dalam benaknya langsung saja terbayang hal gila apa yang akan dilakukan Karin. Dalam hati, Alisha mengucap berbagai rutukan pada temannya yang sepertinya sedang lupa daratan itu.
🦀🦀🦀
__ADS_1