
Pilih mana :
Bersama tapi tak pernah memiliki atau melepaskannya saja ?
🦀🦀🦀
Ferryadi turun dari mobilnya dengan senyuman lebar. Menghirup dalam - dalam udara pagi.
Ah. Hari ini hari yang indah.
"Selamat pagi, Pak Ferry," sapa seorang muridnya.
"Selamat pagi," jawab Ferryadi dengan tersenyum.
Senyumannya masih belum lepas dari bibirnya sewaktu telinganya mendengar suara derum motor yang dikenalinya. Berharap dengan percuma dalam hati, semoga bukan 'orang itu' yang datang, sewaktu dilihatnya sebuah motor sport berwarna hitam masuk melintasi pagar sekolah.
Ferryadi tidak menyadari mulutnya yang terbuka. Dengan terburu segera melihat jam di pergelangan tangannya.
Jam berapa ini ?! Apa jamnya rusak ?!
Para murid yang baru saja datang dan masih ramai di lapangan, sebagian besar juga melongo. Beberapa mengucek mata berkali - kali, tidak percaya dengan apa yang dilihat matanya.
Ini mereka salah lihat atau apa sih ?!!
Semuanya nampak melongo dengan wajah tak percaya. Ini pertama kalinya Althair datang sekolah tanpa terlambat.
Yep, sudah menjadi kebiasaan Althair untuk datang ke sekolah lama setelah bel masuk berbunyi. Terkadang dia baru datang di jam pelajaran ketiga atau pas jam istirahat dan bahkan beberapa kali di jam terakhir pelajaran. Seolah dia bersekolah di sela - sela waktunya yang sibuk, entah sibuk karena apa.
Dan anehnya, berkat perintah langsung dari Kepala Sekolah mereka yang tercinta, tidak pernah ada satu hukumanpun yang dijatuhkan pada Althair.
Seolah Althair-lah pemilik sekolah ini.
Ferryadi buru - buru berpegangan pada pintu mobilnya. Jantungnya belum siap dengan kejutan ini. Rasanya seperti salju turun di Indonesia melihat Althair datang ke sekolah di pagi hari seperti ini. Melihatnya duduk di atas motornya dengan wajah angkuhnya.
Tapi siapa itu yang sekarang diboncengnya ?!!
Sebuah senyuman bermain di bibir Althair. Wajahnya nampak puas. Dia masih duduk di atas motornya. Helmnya sudah dilepas dan bertengger di salah satu spionnya. Namun dia tidak berminat untuk segera turun dari motornya. Demi sepasang tangan yang masih erat memeluk pinggangnya sampai saat ini.
Althair tidak dapat menahan senyumannya sewaktu teringat bagaimana tadi dia melaju diantara dua truk kontainer. Berkendara tepat disamping ban - ban berukuran besar yang berputar cepat. Sengaja memang. Semuanya karena gadis yang terus memeluknya erat sekarang, seolah nyawanya bergantung pada Althair.
"Kitty, nggak mau turun ? Sudah sampai lho ?" tanya Althair akhirnya. Tangannya menyentuh kedua tangan Alisha yang menyatu, berpegangan erat di daerah perutnya.
Alisha menarik nafas tajam. Dengan takut membuka matanya perlahan. Dan dengan kecut menyadari kalau mereka sudah menjadi pusat perhatian.
"A, Altha ! Kita sudah sampai sejak kapan ?!!" seru Alisha panik, segera melepas pelukannya pada pinggang Althair.
Duh ! Mana tadi dia nemplok macam cicak di punggung Althair lagi.
"Baru sepuluh menit," jawab Althair menahan geli, melirik spionnya, melihat pipi Alisha yang mulai memerah.
"Sepuluh..." Alisha berkata hampa. "Dan kamu baru bilang sekarang ??!!"
"Iya. Aku masih suka kamu peluk begitu, Kitty," jawab Althair enteng. "Rapet banget lagi peluknya."
Wajah Alisha semakin memerah.
"Sini, pegangan," Althair menyodorkan sebelah tangannya. "Aku bantu turun. Kakimu pasti masih lemas."
"Iiihhh... nggak mau ! Aku bisa turun sendiri !" bantah Alisha. Langsung angkat kaki, turun dari kendaraan maut si Iblis.
Belum lagi kedua kakinya menapak, kakinya sedikit gemetar dan lemas. Membuatnya limbung dan reflek mencari pegangan. Pundak Althair.
"Kitty, sengaja ya ?" suara Althair lirih. Wajah mereka begitu dekat. "Atau mau ngasih aku morning kiss sambil pura - pura jatuh gitu ? Hm ?"
__ADS_1
Dengan sebal Alisha langsung melepas pegangannya dan bergerak menjauh.
Sebel sih tapi kok pipi ini rasanya memanas ya ?!!
"Sha !" seru Martha karena Alisha tidak sengaja menabraknya sewaktu bergerak mundur tadi. "Kamu nggak apa - apa ?!!"
"Beibyyy..." Alisha menghambur memeluk sahabatnya, seolah menemukan penyelamat jiwanya. "Beiby, bantuin aku jalan. Kakiku lemas banget, iiihhhh..."
Mengerutkan dahi, masih tidak paham kenapa sahabatnya ini bisa bersama Althair, Martha meraih lengan kiri Alisha. "Ayo ke kelas," ujarnya ringkas.
"Beiby, bawa minum kan ? Rasanya nyawaku belum ngumpul lagi nihh..." pinta Alisha memelas, akhirnya berhasil juga mencapai kelasnya.
"Kenapa sih, Sha ?" tanya Martha, melihat Alisha yang sedikit gemetar meminum air mineralnya.
"Beiby, aku tadi hampir mati," jawab Alisha dengan pahit. "Aku hampir kegencet trailer."
"Hahh ?! Gimana ceritanya ??"
Alisha minum lagi. Badannya masih gemetar mengingat bagaimana tadi Althair begitu gila memacu motornya diantara dua truk trailer.
Hanya gara - gara Alisha tidak mau memeluk pinggangnya.
"Hahh ?!!! Sha , serius ??!!!" Martha mengebrak meja, antara tidak percaya dan marah.
Mengeluh dalam hati, Alisha hanya menelungkupkan kepalanya di atas meja.
Bertanya - tanya, kapan dia bisa mendapatkan hari - hari sekolahnya yang damai seperti dulu ?
🦀🦀🦀
Seakan tidak cukup dengan kejadian pagi tadi, kali ini para penghuni kantin yang didaulat menjadi tim cengo.
Yash !! Inilah dia sang pelaku utama penyebar virus cengo. Nampak begitu santai seakan tidak menyadari kehebohan yang ditimbulkannya. Berjalan dengan membawa sepiring mi goreng lengkap dengan sebotol teh dingin.
Mulut Alisha terbuka. Tenggorokannya mendadak terasa kering. Sedang sepotong siomay yang akan disuapkan Martha kepadanya, terhenti di tengah jalan. Mereka seolah membeku mendapati sang Trouble Maker mendatangi meja mereka.
Mengangkat bahu, merasa tidak perlu repot mendapat jawaban, Althair langsung duduk di bangku sebelah Alisha yang kebetulan kosong.
Idiihhh.... padahal bangku sebelahku juga kosong lho, Althair. Kira - kira begitu isi hati kubu cewek, yang langsung saja salah tingkah begitu tahu Yang Mulia Althair menapakkan kaki ke kantin. Pada heboh sendiri.
"Sudah ada minumannya, Kitty ? Atau mau sebotol berdua saja ? Hm ?" tanya Althair dengan senyuman miringnya. Meletakkan sebotol teh dingin di atas meja di depan Alisha.
Alisha duduk dengan kaku. Saling berpandangan dengan Karin yang duduk di seberang meja. Sama - sama merasa heran tentang satu hal. Hal yang sama yang juga ada di dalam kepala penghuni kantin lainnya.
Karena ini pertama kalinya Althair ada di kantin.
Eh, tuh orang kesambet kali ya ?!! Serba gag biasa hari ini.
Ya Lord, pertanda apakah ini ??!!!
Althair sedikit berpaling, menyembunyikan senyum kecilnya. Merasa lucu melihat reaksi Alisha dan lainnya. Baru saja dia membuka mulut hendak bicara, sewaktu terdengar suara pekikan keras.
"Aduuhhh... Althair. Pasti kamu salah tempat duduk deh," seru Stella sok ke-pede-an dengan suara melengkingnya. "Ayo duduk sini, bareng aku aja," lanjutnya. Langsung saja menghampiri dan menghambur akan memeluk Althair dari belakang.
"Apaan sih kalian ?!" protes Stella, karena Angga dan Ayik yang seolah muncul begitu saja, sudah berdiri menghalanginya. "Minggir kalian !!!" sergahnya dengan ilmu judess tingkat tinggi.
"Udah deh, Stell. Lo santai aja makan disana, di meja lo," ucap Ayik tegas. "Jangan gangguin Althair mulu. Mulai sekarang, lo dan dayang - dayang lo itu, jauh - jauh deh dari kami."
"Eh, diem lo, Yik. Rese lo !" balas Stella sengak. Nampak jelas bakal bersikeras dan ngeyel.
Setelah saling lirik sekilas dengan Angga, tanpa banyak bicara Ayik langsung menarik Stella menjauh. Tidak peduli dengan omelan dan sumpah serapah dari mulut Stella.
"Lepasin gue, Yik ! Sialan lo !! Apa hak lo ngelarang gue ngedeketin Althair !!" teriak Stella melengking. Tapi dengan kukuh Ayik terus menyeretnya keluar kantin, menghilang dari pandangan entah kemana.
__ADS_1
Sedang Angga langsung melangkah maju dengan tangan bersidekap, menghalangi teman geng Stella yang mungkin akan maju. Mengibaskan sebelah tangannya seolah mengusir para anakan bebek. Berdiri diam dengan pandangan mengancam, membuat sisa dayang yang tersakiti hatinya itu akhirnya keder dan terpaksa kembali ke mejanya masing - masing.
Angga juga sempat mengedarkan pandangan sekali ke sekeliling kantin. Seolah menantang, "Ada lagi yang mau cari ribut ??!!!" Tapi berkat empat sehat lima sempurna, para penghuni kantin dianugerahi otak yang cerdas berpikir.
Mau buat masalah dengan Angga ? Pentolan SMU Cattleya ? Nggak deh. Makasih. Makasih banget.
Dalam hati, para penghuni kantin hanya bisa terbengong dan bertanya - tanya.
Wah, bahkan para punggawa Althair ikut juga ke kantin ??!!
Bukannya trio itu seolah dari kalangan para dewa yang tidak pantas untuk menginjakkan kaki di tempat rakyat jelata sekelas kantin ??!!!
Setelah mengangguk kecil pada Althair, Angga berjalan menghampiri Ayik yang sudah tuntas menjauhkan Stella. Dengan santai duduk di salah satu meja yang ada di pojok.
"Yo, cewek. Pertunjukannya sudah selesai," ujar Althair mengetukkan jari ke atas meja, menyadarkan Alisha dan lainnya.
"Nggak dimakan itu makanannya ? Ntar keburu nggak enak lho," katanya lagi dan dengan santainya, seolah tidak berdosa, Althair mulai memakan mi gorengnya.
Alisha mengerjap - ngerjap. Dia nggak sedang bermimpi kan ?
Dengan kaku Alisha mengedarkan pandangan. Bisa dilihatnya para penghuni kantin juga nampak bengong. Bahkan Ibu kantin tercintapun masih nampak membeku dari kegiatannya, sebelum akhirnya sadar dan melanjutkan pekerjaannya.
Alisha juga sempat bertatapan dengan Wildan yang duduk di meja sebelah. Kedua matanya melebar seolah ingin menyampaikan sesuatu.
"Kitty, makan dulu," ujar Althair pelan, tetap menikmati mi gorengnya tanpa beban.
Alisha menatap pada Fellin dan Martha yang nampak sama bingungnya. Lalu menatap semangkok baksonya dan sudah tidak berselera.
"Ngomong - ngomong Karin, aku ingin bicara denganmu. Boleh ?" tanya Althair, kembali memasang senyuman ramahnya.
Sontak saja hal itu membuat Karin kelimpungan. Althair ingin bicara dengannya ?!!
"Aku belum mengucapkan terima kasih karena sudah menyelamatkan Alisha," ucapnya masih dengan senyumannya. "Terima kasih," lanjutnya sambil sedikit menunduk.
"Diihhh !!! Memang apa urusanmu sampai harus bilang terima kasih segala ?!!!"
Yep ! Beri selamat pada Martha yang telah berhasil memecahkan situasi cengo.
"Lagipula ngapain kamu duduk disini ? Tumben banget ?!!" sambung Martha lagi. Dan para penghuni kantin bersorak dalam hati. Makasih, Marthaa... sudah menyerukan isi hati kami !
Seolah tidak terpengaruh dengan sikap Martha, Althair berkata kalem, "Tentu ada urusannya denganku. Namamu Martha kan ?"
Alisha hanya mampu diam. Di sebelah kanannya ada Martha dan Althair di sebelah kirinya. Lengkap sudah.
"Lalu apa urusanmu ?! Memang belum cukup masalah yang kamu timbulkan ?!!" sergah Martha mulai emosi.
"Memangnya masalah apa yang kubuat ?!" tanya balik Althair dengan gaya kalem.
Martha semakin emosi menghadapi Althair yang masih tetap sellow. Alisha memegang tangannya, memberi pandangan memperingatkan. Nggak ada gunanya meladeni Althair dengan emosi.
"Relaks, Beiby..." gumamnya.
Tersenyum mendapati Martha yang terpaksa menahan diri, Althair kembali mengarahkan pandangan pada Karin.
"Kuulangi lagi, Karin : terima kasih sudah menyelamatkan Alisha. Coba bayangkan, gimana kalau kamu nggak ikut terjun menolongnya," kata Althair dengan tersenyum.
Alisha menarik nafas tajam dan mendadak tubuhnya menegang, teringat ucapan Althair malam itu : "Kalau nggak, aku sendiri yang akan menghabisinya."
Lalu apa sebenarnya tujuan Althair sekarang ?!!!
"Terus Karin," lanjutnya dengan nada ringan, masih tetap dengan senyuman yang belum lepas dari bibirnya. "Kapan kita putus ?!"
🦀🦀🦀
__ADS_1