
Di suatu hari, di saat turun hujan.
Karin mondar - mandir di lapangan sekolah. Kepalanya celingak - celinguk, mencari sesuatu. Tidak peduli dengan badannya yang basah karena hujan.
Kenapa dia bisa menghilangkan kunci rumahnya ?! Sedang hari ini keluarganya semua pergi, hanya meninggalkan dia di rumah. Lalu bagaimana caranya dia bisa masuk rumah sekarang ?!
Merasa putus asa, Karin meringkuk dan menangis. Baru menyadari satu kebodohannya yang lain : kenapa tadi dia tidak menelepon salah satu temannya saja ?! Alisha, Martha dan Fellin pasti dapat membantunya. Bukannya langsung kembali ke sekolah yang sudah kosong demi mencari kunci rumah yang bisa jadi malah jatuh di tempat lain.
"Hiks. Hiks. Hiks. Bodoh kamu, Karin," tangisnya. Meratapi kebodohannya sendiri.
Kenapa dia selalu terburu - buru ?! Kenapa dia selalu bertindak tanpa dipikir panjang ?!
Tidak seperti Martha yang selalu teratur dan rapi. Tidak seperti Fellin yang selalu berhati - hati. Walau sering kali dianggap lambat, tapi itu lebih baik dibanding sikapnya yang sembrono seperti sekarang.
Lalu Alisha ?!
Sejenak tangis Karin berhenti sewaktu memikirkan Alisha. Ah, temannya itu juga seringkali berbuat kesalahan dan hal konyol lainnya. Tapi Karin menyadari satu hal, dia tidak setegar Alisha. Kalau Alisha yang ada di posisinya sekarang, sangat mungkin Alisha juga akan langsung kembali ke sekolah tanpa berpikir panjang. Sama seperti dirinya. Hanya saja, Alisha tidak akan berakhir meringkuk dan menangis seperti dirinya saat ini.
Dan Karin kembali dikuasai perasaan nelangsanya. Membuatnya kembali menangis.
"Kamu kenapa ?!" sebuah suara bass terdengar. Karin mendongak, menyadari seseorang sudah berdiri di sebelahnya.
"Sampai basah kuyup begini," ujarnya lagi, bergegas melepas jaket kulitnya dan memayungi Karin. "Ayo berdiri. Ngapain kamu di tengah hujan begini ?"
Karin gemetaran. Sebagian besar karena kedinginan, sebagian lagi karena merasa grogi berdua saja dengan seorang cowok.
"Nggak bisa ngomong ya ?!" decak cowok itu dengan nada sedikit tidak sabar.
"Ku... kunci," jawab Karin dengan suara gemeletuk.
"Apa ?!"
"Ku.. kunciku ja... tuh. Kunci rumah," jawab Karin, menahan dingin.
"Ck. Bilang dari tadi," jawab si cowok, segera meraih handphonenya menghubungi seseorang.
"Fer, cepat ke parkiran motor. Bawa kunci yang tadi aku temukan. Ini kayaknya yang punya lagi nyari," ujarnya langsung dan ringkas. "Sekalian deh anterin dia pulang. Udah kayak kucing kecelup bak ini."
Usai menelepon, si cowok menyeret Karin ke arah pinggiran parkiran motor. Berteduh di sana.
"Dengar. Tunggu di sini. Jangan mondar - mandir di tengah hujan seperti tadi. Lagipula apa kamu nggak takut apa sendirian di sekolah yang udah kosong, cuma ada satpam doang ?!!"
Karin hanya terdiam. Tapi dalam hati bertanya, tuh cowok juga ngapain di sekolah sekarang ?!!
__ADS_1
"Tunggu saja orang yang aku telepon tadi. Mungkin dia bawa kunci yang kamu maksud. Kalau toh bukan itu kuncimu, dia bisa membantumu. Sekalian nanti biar dia mengantarmu pulang. Jangan nekat pulang sendiri. Paham ?!"
Masih tetap terdiam, Karin mengangguk.
Menghela nafas, si cowok memakai lagi jaket kulitnya yang berwarna hitam. Dan tanpa berkata apapun lagi, melenggang pergi meninggalkan Karin. Motor sport hitamnya baru saja keluar dari gerbang saat seseorang tergopoh ke arah Karin dengan memakai payung. Kepala Sekolahnya.
"Ya ampun, Nak. Sampai basah kuyup begini," serunya pada Karin. "Ah, benar ini kuncimu ?"
"I, iya, Pak Ferry. I, itu kunci saya," jawab Karin menerima kunci yang diulurkan Kepseknya. Giginya mulai bergemeletuk.
"Ayo, Bapak antar pulang. Ini, pakai dulu jas Bapak biar tidak kedinginan," sambung Kepseknya dengan nada kebapakaan.
"Ah, anu, Pak Fer. Cowok yang barusan tadi siapa ?" tanya Karin akhirnya, memberanikan diri.
"Kenapa ? Apa dia tadi bersikap kasar padamu ?"
Karin menggeleng kuat. "Sa, saya hanya ingin tahu namanya."
Sesaat Kepseknya memandangi Karin, menghela nafas, berkata,"Nak, lebih baik kamu tidak berurusan dengannya. Sebisa mungkin jauhi dia."
Karin hanya terdiam, mencoba mencerna perkataan Kepseknya.
"Nak, kamu baru saja bertemu dengan Althair. Althair Kyro Zackqueen."
🦀🦀🦀
"Tenang, Karin," bujuknya dalam hati. Namun kembali dirasakannya gugup saat melihat wajah Alisha.
"Nah, Karin. Langsung saja. Apa sampai sekarang kamu masih berpikiran aku merayu cowok yang kamu anggap pacarmu itu ?" tanya Alisha, memberi penekanan pada kalimat terakhirnya.
"Apa ada alasan ? Apa ada bukti ? Saksi ? Atau hal itu hanya karena hasil khayalanmu saja ?" imbuh Alisha.
Karin hanya diam. Merasakan betul emosi Alisha di tiap ucapannya.
"Jawab, Karin. Kita disini untuk menyelesaikan masalah ini. Agar semua clear," ujar Martha. Kentara sekali berusaha menahan emosinya. Tahu kalau Alisha sedang emosi, maka gilirannyalah untuk menjadi pendingin.
Karin sempat memandang pada Fellin, meminta dukungan. Sampai akhirnya berkata," Kalau memang Alisha nggak merayu Althair, lalu kenapa Althair sampai melakukan itu ?"
"Mana aku tahu, Karin !" sergah Alisha. "Tanya saja sama orangnya sendiri. Masih hidup kan dia ?!! And for your information, aku juga nggak kesenengan dicium seperti itu di depan umum. Demi Tuhan, Karin. Itu memalukan !"
"Lalu kenapa kamu diam saja ?! Kenapa kamu nggak berontak atau menolak ?!!"
"Coz I get shocked till die !!! Kamu pikir kalau kamu di posisiku, kamu bisa berpikir wajar. Hah ?!!"
__ADS_1
"Sha, sabar. Sabar dulu," Martha segera maju meredam emosi Alisha yang makin naik. Sedang Fellin mencoba menenangkan Karin yang tampak labil.
"Lalu bagaimana soal nomor handphone itu ?" tanya Karin setelah menarik nafas beberapa kali. "Bagaimana kamu bisa tahu nomor handphone Althair sementara bahkan aku yang pacarnya saja nggak tahu ?! Bagaimana ?!!"
"Aneh, ya ?" dengus Alisha, tersenyum sinis. "Soal itu, kamu juga tanya saja sama PACAR kamu itu : Bagaimana sampai nomor handphone dia ada di handphoneku ?!"
"Jadi kamu masih nggak ngaku ?"
"Apa yang harus aku akui, Karin ?! Apa ?! Kalau aku diam - diam merayu pacarmu di belakangmu ? Gitu ?!"
"Lalu kamu ingin aku percaya kalau Althair menyukaimu ? Apa kamu bodoh, Alisha ??!!" teriak Karin hampir menangis.
Alisha memejamkan kedua matanya. Tubuhnya sedikit bergetar menahan emosi. Ya Tuhan. Setelah semuanya. Setelah selama ini mereka berteman, bersahabat, dan Karin masih bisa berpikir seperti itu ?!
"Bodoh ?! Bodoh ya ?! Aku bodoh, Karin ?!"
Alisha maju selangkah ke arah Karin, mengabaikan Martha yang berusaha menahannya.
"Siapa yang lebih bodoh dibanding cewek yang seperti orang gila rela melempar dirinya ke pelukan cowok yang tiap harinya dikelilingi para mahkluk menye ?!"
Alisha maju selangkah lagi.
"Siapa yang lebih bodoh dibanding cewek yang menganggap sahabatnya tidak lebih dari sekedar tembok bisu sewaktu berulang kali diingatkan mengenai siapa cowok itu ?!"
Alisha maju selangkah lagi.
"SIAPA yang lebih bodoh dibanding cewek yang dengan gampang ikut dengan COWOK YANG PERTAMA KALI DITEMUINYA hanya demi COWOK YANG MENURUTNYA ADALAH PACARNYA dan SEKALI LAGI tidak menganggap omongan teman - temannya dan BAHKAN sampai menyeret teman - temannya ke tengah pertarungan antar geng motor ?? SIAPA ??!!!"
Alisha sudah berdiri berhadapan dengan Karin. Sementara baik Martha maupun Fellin tidak dapat menyembunyikan rasa cemas mereka. Ini pertama kalinya mereka melihat Alisha se-emosi ini.
"Think, Karin ! Think !," desis Alisha. "You have a brain. So use it or waste it !!!"
"Sha, Alisha !" panggil Martha, mencoba menahan Alisha yang sudah berjalan menuju pintu. "Beiby, wait ! Please !"
"Nggak, Martha. Aku nggak akan merengek - rengek agar orang lain menyukaiku. Dan aku juga nggak akan memaksakan diri hanya demi disukai orang lain," ujar Alisha dengan suara gemetar. "Karena aku nggak perlu menjelaskan siapa diriku pada orang yang memang menyukaiku. Dan aku lebih nggak perlu menjelaskan siapa diriku pada orang yang jelas membenciku. Percuma !!!"
Dan dengan hati teriris, Alisha mempercepat langkahnya. Tidak dihiraukannya panggilan Martha atau suara Fellin atau tangisan Karin yang tergugu.
Tidak. Tidak ada yang perlu melihatnya menangis.
Walau sesakit apapun luka di dalam dadanya, Alisha tidak boleh menangis. Tidak ada yang boleh tahu Alisha menangis.
Kecuali orang itu. Hanya dia seorang.
__ADS_1
🦀🦀🦀