Shotgun - Sub Zero : HER

Shotgun - Sub Zero : HER
Bab 6


__ADS_3

  “OMG, Shaa ! Im so so so sorry !”


  “Its ok, Tha. Not ur fault, Babe.”


  Dengan menghela nafas panjang, Alisha kembali berbaring, sementara Martha memegang ujung kedua kakinya. Saat ini mereka sedang pairing sit up di jam olah raga di hari Senin. Dan Alisha sedang menceritakan kejadian yang dialaminya Sabtu malam lalu.


  “Lalu Mamamu bagaimana, Sha ?! Beliau pasti marah besar. Duh, aku jadi nggak enak hati sekarang,” lanjut Martha dengan wajah muram.


  “Bukan marah lagi, Tha. Murka lebih tepatnya. And you know, gara – gara itu aku dihukum. Nggak boleh keluar kemanapun selama seminggu ini,” desah Alisha, sama muramnya dengan Martha. “Can you believe it ?”


  “Terus, Sha. Soal ceritamu tentang ‘orang itu’, itu beneran ?!” Martha sedikit merendahkan suaranya sewaktu mengatakan ‘orang itu’.


  Alisha kembali mendesah, lalu dengan enggan mengangguk.


  Yang dimaksud Martha dengan ‘orang itu’ adalah Althair. Karena saking bosannya mereka mendengarkan Karin yang selalu mendongeng seolah – olah Althair adalah seorang pangeran impian, membuat Alisha, Martha dan Fellin hanya mengucap ‘orang itu’ setiap kali mereka membahas Althair.


  “Sha, kalau seperti itu berarti kita berhutang budi pada ‘orang itu’ kan ?!” ujar Martha. “Bagaimanapun aku juga bersyukur kamu selamat berkat dia.”


  Alisha meluruskan kakinya, duduk merenung. “Ada lagi yang membuatku bingung, Tha.”


  "Apa ?! Ada apa, Sha ?!"


  Wajah Alisha terlihat bertambah muram. Dia menghela nafas berat beberapa kali sambil menggigit - gigit bibirnya. Ingatannya kembali melayang pada kejadian malam itu.


...


  “Ck, pantas saja mereka sampai kalap seperti itu,” decak Althair dengan senyum smirk-nya. Mengamati Alisha dari atas ke bawah. “Nih !”


  “Ap... apa ini ?! Ish !!” seru Alisha, sedikit cemberut sewaktu Althair melepas dan melempar jaketnya ke wajah Alisha begitu saja.

__ADS_1


  “Sebagai informasi, benda itu dinamakan jaket. Apa begitu saja kamu tidak tahu ?!”


  “Tentu saja aku tahu ini jaket, Althair. Maksudku, kenapa kamu seenaknya melempar jaketmu ke wajahku ?!” balas Alisha dengan hati gemas. Bibirnya sekarang semakin cemberut saja.


  Sebelah alis Althair terangkat, pandangan matanya kembali menelusuri Alisha.


  “Apa kamu berniat mengundang geng motor lain untuk mengeroyokmu ?! Hm ?!”


  Alisha sedikit mundur karena sembari bicara Althair semakin mendekat padanya.


  “Lihat penampilanmu. Aku nggak akan menyalahkan kalau ada cowok lain yang menggodamu. Dan sekedar info, sayangnya aku nggak berniat untuk membantumu kalau semisal hal itu terjadi lagi malam ini...”


  “I, iya. Iya. Aku pakai jaketnya,” seru Alisha segera. Wajahnya memerah karena sedari tadi Althair memandangnya dengan begitu intens.


  Ada ekspresi puas di wajah Althair sewaktu Alisha sudah mengenakan jaket miliknya. Memang terlalu besar bila dibanding dengan ukuran tubuh Alisha, namun masih terlihat pantas. Tersenyum, Althair berjalan kembali ke motornya dan segera menaikinya. Helmnya sudah dipakainya lagi dan derum motornya mulai terdengar.


  “Naik !” ujarnya dengan nada memerintah.


  “Apa kamu ingin pulang dengan berjalan kaki ?!” tanya balik Althair. “Naik !”


  “Eh, anu. Althair, aku bisa pulang naik taksi atau ojek,” gagap Alisha, berusaha menolak.


  Mata Althair sekilas berkilat. Dimatikannya mesin motor dan segera turun dari motornya. Dia kemudian berjalan lurus ke arah Alisha dengan menenteng helmnya.


  “Jangan membantah,” ujar Althair, langsung saja memakaikan helmnya pada Alisha tanpa permisi. Mengambil tas belanja Alisha yang masih teronggok dan dengan defensif menarik tangan Alisha. “Naik !” perintah Althair lagi, merasa tidak sabar karena Alisha hanya tercenung di sebelah motor sportnya.


  Alisha menatapnya bingung. Belum pernah sebelumnya dirinya dibonceng menggunakan motor sport. Tapi demi melihat tatapan Althair yang begitu menusuk, apalagi karena beberapa anggota geng motor yang semula terkapar mulai menggeliat bangun, dengan terpaksa Alisha menaiki motor sport Althair. Merasa canggung luar biasa sewaktu mencengkeram sedikit ujung baju Althair sebagai pegangan.


  Menit berikutnya, Alisha terpekik sewaktu motor Althair menderum membelah jalanan. Dirinya reflek memeluk erat tubuh Althair, merasa ngeri dengan kecepatan motornya yang sekarang melaju. Sayup terdengar suara sirene polisi yang mulai berdatangan ke lokasi pertarungan.

__ADS_1


...


  Alisha menghela nafas panjang. Bagaimanapun Alisha harus bersyukur dirinya sudah tidak berada di lokasi sewaktu polisi datang. Mamanya pasti akan membunuhnya kalau sampai Alisha berurusan dengan polisi.


  Tapi masalahnya sekarang adalah : bagaimana cara Alisha mengembalikan jaket Althair, yang sekarang masih tergantung dalam kamarnya ?!


  “Bagaimana kalau kamu kembalikan lewat Karin, Sha ? Bagaimanapun dia kan pacarnya,” usul Martha.


  “Tapi kan kesannya kurang sopan, Tha. Lagipula aku juga belum berterima kasih padanya,” jawab Alisha enggan.


  “Yah, kalau begitu kita harus cari cara untuk menemui Althair seorang diri saja. Daripada gosip soal itu semakin menyebar.”


  Alisha mendesah kembali. Ya, gara – gara keributan sewaktu Karin menyatakan cinta pada Althair dan Alisha yang menyeretnya menjauh, timbul gosip kalau mereka terlibat cinta segitiga : Alisha - Althair - Karin. Lucu sekali kan ?!


  “Tapi, Martha... Menemui Althair sendirian ?! Mungkinkah ?!” Alisha menjawab dengan nada kecut.


  Baik dia maupun Martha serentak menatap ke arah gerombolan para cewek yang seperti biasa sedang mengerubungi Althair, sebelum akhirnya saling bertukar pandang dengan suram.


  Hal yang sangat mustahil untuk bisa menemui Althair seorang diri saja.


  Menghela nafas, Alisha mengangkat rambutnya karena merasa gerah. Nampak peluh mengalir di leher jenjangnya. Kulitnya yang putih terlihat kemerahan. Kaos olah raganya yang basah berkeringat, seolah menempel, membentuk jelas tubuh bagian atasnya. Sementara celana pendek seragam olah raganya menampakkan kaki mulusnya.


  Martha berdecak dalam hati. Temannya ini sama sekali tidak menyadari mata para cowok yang mulai nyalang menatap tubuhnya. Beberapa teman cowok sekelas mereka saling menyenggol, menatap terpesona seolah Alisha seorang model terkenal yang sedang berpose seksi.


  Tapi Martha kemudian tertegun.


  Tanpa sengaja dia melihat ke arah gerombolan cewek penggemar fanatik Althair. Dan matanya menangkap pemandangan yang tidak pernah dikira akan dilihatnya.


  Karena disana, diantara kungkungan para penggemarnya, dilihatnya Althair yang sedang menatap tajam ke arah Alisha.

__ADS_1


🦀🦀🦀


__ADS_2