
Saat ini mereka sedang berjalan menuju basement dimana mobil yang mereka pakai terparkir disana.
"Mau makan dulu?" tanya Jonatan ketika mereka sudah berada di dalam mobil tetapi belum menjalankan mobilnya.
"Ciee mulai perhatian nih." goda Vanessa dengan senyum mengejek kepada Jonatan.
"Siapa juga yang perhatian, aku cuma kasihan aja kalau kamu kelaparan. Kan kamu gak mungkin bisa nahan lapar." elak Jonatan dengan balik menggoda Vanessa.
Padahal sebenarnya jauh di lubuk hati Jonatan, dia memang memperhatikan Vanessa karena terlihat sangat kelelahan waktu berbelanja.
"Hmm... Karena kamu uda mencoba perhatian, iya deh kita makan dulu aja." ucap Vanessa memutuskan sendiri.
"Gak jadi, uda batal!" kesal Jonatan.
"Ehh.. Gak bisa donk! Apa yang diucapkan pertama kali itu yang paling jujur." jawab Vanessa tidak mau kalah.
"Siapa yang mengharuskan?" tanya Jonatan.
"Aku!" jawab Vanessa.
"Uda buruan jalan, nanti aku tunjukin tempatnya yang deket dari sini." lanjut Vanessa.
Jonatan memutar bola matanya dengan malas, karena percuma saja menolak Vanessa soal makanan.
__ADS_1
Beberapa saat berlalu, mereka sudah sampai di kedai yang menjadi pilihan Vanessa.
"Kamu yakin mau makan disini?" tanya Jonatan memastikan. Saat ini mereka masih berada di dalam mobil setelah memarkirkan mobil di tempat parkir yang tersedia.
Karena kedai tersebut bukan termasuk restoran yang terkenal atau mahal, kedai tersebut hanya kedai sederhana tetapi cukup laris terbukti dari banyaknya antrian di siang hari tersebut.
"Yakin lah. Memangnya kamu gak mau makan di tempat seperti itu?" tanya Vanessa balik.
Jonatan hanya diam saja, dia terus memandangi kedai yang ada di depannya. Sebenarnya Jonatan juga tidak mempermasalahkan akan makan di tempat seperti apa, tetapi Jonatan cukup merasa heran jika ternyata Vanessa tidak seperti anak orang kaya pada umumnya yang bakalan malu jika harus makan di tempat sederhana.
"Mau lah, siapa takut." jawab Jonatan dengan tegas.
Dia kemudian melepaskan sabuk pengaman dan bersiap akan turun dari mobil. Vanessa pun mengikutinya dengan berjalan di belakang, diam-diam Vanessa tersenyum di belakang Jonatan karena sebenarnya dia hanya mengetes Jonatan apakah dia mau jika diajak makan di tempat yang sederhana.
Begitu mencium aroma masakan yang begitu enak membuat air liur Jonatan seakan menetes dan bahkan rasa lapar langsung menyerang nya.
"Uda buruan pesen." ucap Jonatan ketika melirik Vanessa yang hanya diam saja menatap menu makanan yang dia bawa.
"Bentar, aku bingung mau makan apa." jawab Vanessa tanpa menoleh kepada Jonatan karena masih bingung pilih menu apa.
"Pilih semua aja satu-satu yang rekomended disini." ucap Jonatan.
Dan ucapan Jonatan sukses membuat Vanessa menatapnya dengan mengerutkan kening.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Jonatan karena Vanessa justru hanya menatapnya.
Bukannya menjawab, Vanessa malah memegang dahi Jonatan dengan punggung tangan karena mengira Jonatan sedang sakit.
"Apa-apaan sih!" kesal Jonatan sambil melepas dengan kasar tangan Vanessa.
"Kamu gak apa-apa kan?" tanya Vanessa.
"Apaan?" tanya Jonatan balik karena tidak tahu apa maksud pertanyaan Vanessa.
"Kamu yakin pilih semua menu yang rekomended?" tanya Vanessa memastikan.
"Iya buruan! Uda lapar ini." jawab Jonatan dengan yakin.
"Oke!" jawab Vanessa dengan antusias karena dia merasa ada teman yang suka makan seperti dirinya.
Dengan segera Vanessa memesan semua menu makanan yang rekomended di kedai tersebut.
...****************...
Uhh senengnya mengembang bersama 🤭🤭
Tetap semangat 💪
__ADS_1
Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏