Silahkan Bully Aku

Silahkan Bully Aku
Bab 8


__ADS_3

Jonatan sampai di restoran tepat waktu dia segera masuk dan mencari keberadaan Vanessa. Tetapi sejenak Jonatan melihat dia tidak menemukan satu orang pun yang dia kenal. Sampai akhirnya seorang pegawai restoran menghampirinya.


"Ada yang bisa dibantu Pak?" tanyanya.


"Saya ada janji sama orang, mungkin belum datang." jawab Jonatan kemudian segera mencari kursi di pojok restoran tersebut.


"Mau pesan dulu Pak?" tanya pegawai pelayan yang mengikutinya.


"Jus alpukat aja." jawab Jonatan.


"Baik Pak, ditunggu sebentar." ucap pegawai pelayan tersebut kemudian segera meninggalkan Jonatan untuk menyiapkan pesanan Jonatan.


Untuk menghilangkan rasa jenuh, Jonatan memainkan ponselnya. Dia kembali membuka media sosialnya. Tetapi beberapa saat kemudian ada suara seorang perempuan yang menyapanya.


"Jonatan?" tanya perempuan tersebut.


Jonatan pun memalingkan wajahnya dari ponsel dan menatap wanita yang berdiri di depannya. Jujur saja pandangan pertama bertemu Jonatan merasakan ada sesuatu yang berbeda dan Jonatan hanya diam saja seakan terpaku dengan kecantikannya. Karena memang benar apa yang dia lihat di media sosial siang tadi, bagaimana perubahan fisik dari Vanessa yang dulu dengan Vanessa yang sekarang.


"Kamu Jonatan kan?" tanya nya lagi.


Jonatan pun tersadar dari lamunannya dan dengan reflek menganggukkan kepala.


"Aku Vanessa." ucap Vanessa sambil mengulurkan tangannya dan segera disambut oleh Jonatan.


"Maaf ya aku terlambat soalnya ada meeting bentar tadi." lanjutnya sambil duduk di kursi kosong di depan Jonatan.


"Santai aja." jawab Jonatan dengan canggung.


Seorang pegawai restoran pun datang dan memberikan pesanan Jonatan.


"Kamu uda pesen ya?" tanya Vanessa melihat minuman Jonatan.


"Aku juga mau pesen mbak." lanjutnya dan meminta buku menu untuk dipilih oleh Vanessa.


Vanessa pun memilih beberapa menu makanan dan minuman yang menjadi favoritnya. Mendengar apa yang Vanessa pesan cukup membuat Jonatan heran karena banyak juga makanan yang dipesan oleh Vanessa.


"Uda itu aja Mbak, nanti kalau kurang pesan lagi." ucap Vanessa sambil menyerahkan kembali buku menu.


"Kamu gak pesan?" tanya Vanessa kepada Jonatan sebelum pelayan restoran tersebut pergi.


"Emang itu semua kamu bakal habisin sendiri?" tanya Jonatan tidak percaya.


"Iyalah, kan aku yang pesan." jawab Vanessa cuek.

__ADS_1


Karena memang dia tidak pernah terlalu menjaga image nya di depan siapapun.


"Gak lah Mbak, itu aja uda cukup." ucap Jonatan kepada pegawai pelayan sehingga dia segera berpamitan untuk menyiapkan pesanan Vanessa.


"Ternyata dari dulu gak berubah juga kamu ya?" tanya Jonatan.


"Kamu juga mau bilang aku doyan makan makanya aku gendut kan? Uda basi kalimat seperti itu." jawab Vanessa.


"Tapi emang kenyataan kan." ucap Jonatan tidak mau kalah.


Karena memang sejak kecil mereka selalu saling mengejek satu sama lain, tetapi tidak pernah sekalipun mereka ambil hati ejekan masing-masing.


"Lihat donk bedanya dulu sama sekarang. Sekarang lebih cantik dan seksi kan." ucap Vanessa percaya diri bahkan dia sampai berdiri dari duduknya dan memperagakan diri seperti model.


Secara reflek Jonatan memang memuji kecantikan Vanessa. Dan memang tubuh Vanessa yang sekarang sudah tidak terlalu gemuk.


Orang-orang yang duduk di sekitar mereka pun secara otomatis memperhatikan keduanya. Sadar bahwa mereka menjadi pusat perhatian, Jonatan segera menarik Vanessa untuk duduk kembali.


"Kamu gak malu dilihatin kayak gitu?" bisik Jonatan.


"Ngapain harus malu, yang penting kita gak melakukan kejahatan itu gak perlu malu." jawab Vanessa.


Jonatan hanya memutar bola matanya dengan malas. Untung saja perdebatan itu tidak berlangsung lama, pesanan Vanessa segera datang. Vanessa segera menikmatinya tanpa merasa malu-malu kepada Jonatan.


Jonatan juga ikut makan apa yang dipesan oleh Vanessa karena memang kesukaan makanan mereka sama-sama. Vanessa pun membiarkannya karena jika harus menghabiskan semua dia tidak sanggup. Akhirnya apa yang dipesan oleh Vanessa dinikmati bersama oleh Jonatan juga.


"Uhh kenyaaaanngg." ucap Vanessa lega sambil menyenderkan tubuhnya di sandaran kursi.


"Kayak gak pernah makan seminggu aja." cibir Jonatan.


"Emang iya. Kan aku makan besarnya seminggu sekali. Dan sekarang jadwal makan besar jadi ya aku puas-puasin." jawab Vanessa apa adanya.


Karena memang itulah salah satu cara yang dilakukan Vanessa untuk menjaga bentuk tubuhnya hingga seperti sekarang ini.


"Ada ya kayak gitu?" tanya Jonatan seolah tidak percaya.


"Buktinya aku ada." jawab Vanessa tidak mau kalah.


"Ow iya, ngapain kamu ngajak aku ketemuan? Jangan bilang kamu suka sama aku ya? Trus setuju sama buat buat jodohin kita?" tanya Vanessa sambil mencondongkan tubuhnya mendekat kepada Jonatan tetapi jarak mereka masih terhalang oleh meja.


"Kepedean kamu!" jawab Jonatan sambil menoyor kening Vanessa yang ada didepannya hingga Vanessa kembali duduk dengan benar di kursinya.


"Habis kata Oma kamu pengen ketemu dulu sama aku sebelum menyetujui perjodohan itu." ucap Vanessa sesuai dengan apa yang dia dengar dari Oma Rahayu.

__ADS_1


"Iya memang aku ngajak kamu ketemuan dulu, tapi aku mau kita kerjasama buat menolak perjodohan ini. Kalau cuma aku aja yang nolak kan gak mungkin bisa. Tapi kalau kita sama-sama menolak pasti para orang tua mikir lagi." jawab Jonatan panjang lebar.


"Makanya kamu catat nomor ponsel ku biar kalau ada rencana apa-apa aku bisa kasih tahu kamu." lanjut Jonatan beralasan.


"Bilang aja kamu mau minta nomor ponsel ku, pakai alasan segala." jawab Vanessa.


"Enak aja siapa yang minta." kesal Jonatan karena omongannya bisa dibalik oleh Vanessa.


"Uda ini gak usah marah-marah terus." ucap Vanessa sambil memberikan kartu namanya kepada Jonatan setelah dia mengambil dari dalam tas nya.


"Aku uda nolak terus, jangan kamu kira aku diem aja dijodohin sama orang kayak kamu." lanjut Vanessa.


"Maksud kamu apa orang kayak aku?" tanya Jonatan tidak terima, tetapi dia mengambil kartu nama Vanessa dan memasukkannya di dalam kantong jas yang dia pakai.


"Ya kayak kamu pokoknya. Kan yang lebih ganteng banyak." jawab Vanessa.


"Enak aja, aku yang paling ganteng dari semua cowok yang kamu kenal ya!" seru Jonatan sambil mematut dirinya sendiri agar terlihat ganteng.


"Ganteng sih tapi kalau dilihat dari sedotan." gumam Vanessa sambil menahan tawa.


"Kamu ngomong apa? Kalau ngomong yang jelas." ucap Jonatan dengan kesal karena dia tidak mendengar gumaman dari Vanessa dan Jonatan percaya bahwa Vanessa sedang mengejeknya.


"Gak ngomong apa-apa." elak Vanessa.


"Uda pokoknya kamu juga harus nolak perjodohan ini." tegas Jonatan.


"Iya-iya aku ngerti maksud kamu." jawab Vanessa kemudian dia melihat jam di pergelangan tangannya dan bangkit berdiri.


"Ya uda aku balik dulu, jangan lupa bayar ya byee.." lanjutnya sambil berlalu dan melambaikan tangan.


"Kamu pulang naik apa?" tanya Jonatan setengah berteriak karena Vanessa sudah berjalan hampir keluar dari restoran tersebut.


"Naik mobil sendiri." jawab Vanessa sambil keluar dari restoran dan bena-benar meninggalkan Jonatan.


"Emang aku mau nganterin kamu? Peduli amat mau naik apa." gumam Jonatan, padahal sebenarnya dia memang ingin mengantarkan Vanessa pulang ke rumah jika memang ada kesempatan.


"Eh trus aku yang bayar ini semua?" tanya Jonatan pada dirinya sendiri sambil melihat piring-piring bekas makanan mereka yang cukup banyak.


"Pinter juga tu cewek." lanjutnya dengan menghela nafas pelan.


Akhirnya Jonatan pun bangkit berdiri dan berjalan menuju meja kasir untuk membayar makanan yang dipesan oleh Vanessa. Setelah itu Jonatan pun keluar dari restoran menuju parkiran karena dia juga akan pulang ke rumah.


...****************...

__ADS_1


Tetap semangat 💪


Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏


__ADS_2