
Keduanya tiba di salah satu tempat yang menyediakan jasa pernikahan. Jonatan segera memarkirkan mobilnya di tempat parkir yang tersedia. Tetapi keduanya masih berada di dalam mobil.
"Kamu yakin ini tempatnya?" tanya Jonatan menatap ke bangunan yang tertulis menyediakan jasa pernikahan tersebut.
"Kalau menurut alamatnya sih iya bener ini." jawab Vanessa yang juga mengamati sekeliling sambil mencocokkan dengan brosur yang dia pegang.
"Ya uda ayo masuk." ucap Jonatan sambil melepaskan sabuk pengaman dan bersiap keluar dari mobil dengan diikuti oleh Vanessa.
Di dalam Jonatan dan Vanessa disambut oleh salah satu pegawai di tempat tersebut. Mereka pun menyampaikan bahwa ingin bertemu dengan pimpinan WO di tempat itu.
Setelah bertemu Jonatan dan Vanessa pun mengutarakan maksud kedatangan mereka. Kemudian ketiganya membahas beberapa hal yang diperlukan.
Membutuhkan waktu yang cukup lama untuk Jonatan dan Vanessa menentukan semuanya. Hingga tengah hari mereka baru memutuskan apa yang menjadi keinginan mereka khususnya Vanessa. Jonatan dan Vanessa pun pamit pulang karena memang tidak ada lagi hal yang harus dibahas.
"Kalau begitu kami permisi dulu Mbak, kalau ada hal yang perlu ditanyakan lebih jelas lagi bisa hubungi saya." ucap Vanessa sambil menyalami orang yang bertanggung jawab atas berjalannya pernikahannya nanti.
"Baik Ibu Vanessa, pasti kami akan melakukan yang terbaik untuk Bapak dan Ibu." jawab orang tersebut sambil tersenyum dengan ramah.
Jonatan pun hanya ikut memberi salam tanpa mengucapkan apapun karena menurutnya biarkan Vanessa saja yang mewakili menyampaikan rasa terima kasih mereka.
Akhirnya Vanessa dan Jonatan pun keluar dari gedung tersebut menuju parkiran dimana mobilnya berada. Keduanya segera masuk ke dalam mobil dan Jonatan pun segera melajukan mobilnya menuju jalan raya.
"Ternyata ribet juga ya ngurusin nikah, gitu kog banyak orang yang suka kawin cerai sih. Sekali aja uda bikin pusing kayak gini." gumam Vanessa sambil merebahkan punggungnya di sandaran kursi dengan memejamkan matanya.
Jonatan yang mendengarnya hanya meliriknya saja tanpa mau menanggapi perkataan Vanessa.
"Mau makan?" tanya Jonatan setelah mereka terdiam cukup lama.
"Hem?" tanya balik Vanessa, karena dia sedang fokus dengan ponselnya dan tidak terlalu mendengar pertanyaan dari Jonatan.
"Makan." jawab Jonatan singkat.
__ADS_1
"Mau ajak aku makan siang?" tanya Vanessa memastikan.
"Hem..." jawab Jonatan dengan malas.
"Ya tentu mau donk, siapa juga yang gak mau makan lagian ini kan memang udah jam makan siang jadi...." belum selesai Vanessa menjawab Jonatan sudah memotongnya karena merasa jawaban Vanessa terlalu panjang.
"Stop! Oke gak usah banyak omong, tar aku jadi tambah pusing dengerinnya." seru Jonatan dengan tegas.
"Yeee gimana sih tadi tanya sekarang dijawab malah suruh diem. Aneh." gumam Vanessa kemudian kembali fokus dengan ponselnya.
Jonatan hanya menghela nafas panjang karena percuma saja memberi tahu Vanessa suruh diam tetapi Vanessa masih tetap saja bicara panjang lebar.
...----------------...
Waktu terus berlalu, Oma Rahayu dan kedua orang tua Vanessa menyetujui konsep pernikahan yang sudah Jonatan dan Vanessa tentukan. Mereka jelas pasti mendukung asalkan Jonatan dan Vanessa bisa segera menikah.
Dan saat ini adalah waktu terakhir Vanessa dan Jonatan untuk fitting baju pernikahan. Keduanya sudah berada di butik yang menjadi pilihan mereka beserta Oma Rahayu dan juga kedua orang tua Vanessa.
Saat ini Vanessa dan Jonatan sedang berada di sebuah ruangan di mana gaun Vanessa terpajang di sana dan akan dipakai oleh Vanessa.
"Kamu yakin mau pakai dengan belahan dada serendah ini?" tanya Jonatan tidak suka ketika melihat gaun Vanessa yang ternyata baru kali ini dia lihat detailnya.
Memang sebelumnya Vanessa sudah berulang kali menunjukkan kepada Jonatan gaun yang akan dipakainya, tetapi berulang kali juga Jonatan hanya melihatnya sekilas dan mengembalikan keputusan kepada Vanessa asalkan Vanessa suka maka Jonatan pun suka.
"Yakin lah, kan kamu juga uda lihat gaun nya dari kemarin-kemarin." jawab Vanessa tidak mau kalah karena dia juga merasa tidak bersalah dalam hal ini.
"Kamu juga bilang kan asalkan kamu suka aku juga suka." lanjut Vanessa menirukan ucapan Jonatan waktu itu.
Jonatan terlihat berpikir sejenak, mengingat apakah benar dia mengatakan hal itu kepada Vanessa. Dan Jonatan pun sebenarnya lupa apakah dia mengatakan itu atau tidak.
"Udah lah, gak mau tahu. Mbak tolong dibagian dada dinaikkan lagi, saya gak mau serendah ini." ucap Jonatan kepada desainer baju yang ada disana.
__ADS_1
"Tapi ini kalau dipakai gak serendah yang terlihat kog Pak." jawab sang desainer.
"Tuh denger kan." ucap Vanessa seakan memberi tahu kepada Jonatan.
"Apa mau di coba sekarang aja dulu biar lebih pastinya?" tanya desainer.
Sebelum Jonatan menjawab tiba-tiba saja Oma Rahayu dan kedua orang tua Vanessa masuk ke ruangan mereka.
"Ada apa ini? Kog gak segera di coba gaun nya?" tanya Oma Rahayu karena melihat mereka yang masih terlihat mengobrol tanpa akan mencoba gaun.
Karena tidak ingin membuat Oma Rahayu dan yang lain berpikir jika Jonatan dan Vanessa tidak bahagia, Jonatan pun mengambil inisiatif untuk berakting di depan mereka.
"Ahh gak kog Oma, ini uda mau dicoba tadi cuma ada sedikit masalah aja tapi ini uda selesai." jawab Jonatan sambil dengan sengaja menarik Vanessa agar mendekat dengannya.
Vanessa yang ditarik dengan tiba-tiba pun merasa kaget awlanya tetapi akhirnya dia bisa mengerti apa yang dilakukan oleh Jonatan.
"Ya uda Sayang, ayo di coba gaun nya. Kan Oma sama yang lainnya pengen lihat." ucap Jonatan dengan tersenyum sambil memegang bahu Vanessa agar terlihat mereka sangat mesra apalagi Jonatan menambahinya dengan panggilan Sayang.
"Silahkan Mbak." lanjut Jonatan kepada desainer yang akan membantu Vanessa mencoba gaun nya pengantinnya.
Vanessa hanya menggelengkan kepala pelan karena melihat tingkah Jonatan yang tiba-tiba cukup aneh di depan Oma Rahayu dan orang tuanya.
"Baiklah kalau begitu kami tunggu di luar ya." ucap Oma Rahayu kemudian mengajak Bapak David dan Ibu Mega keluar dari ruangan dan menunggu untuk melihat Vanessa mencoba gaun pengantinnya.
"Iya Oma, Pa, Ma." jawab Jonatan mengijinkan.
Jonatan pun bisa bernafas lega setelah kepergian mereka bertiga dari ruangannya. Nanti setelah menikah dan sebelum adanya cinta yang tumbuh diantara mereka apakah mereka akan selalu berakting seperti itu, pikirnya Jonatan.
...****************...
Tetap semangat 💪
__ADS_1
Like, komen dan hadiahnya jangan lupa 🙏