
"Sial! Dia sekarang bisa menghindari seranganku? Aku benar-benar harus membunuhnya agar dia tidak menjadi sebuah bencana bagiku!" Pria tua itu mengeluarkan sebuah pedang dari cincin penyimpanannya.
Pria tua itu memegangnya pada tangan kanannya sembari melesat ke arah An Tianzuo untuk membunuhnya menggunakan pedang itu.
Mata An Tianzuo menatap tajam ke arah datangnya pria tua itu. Dia memegang pedangnya pada kedua tangannya dan kemudian melesat ke arahnya.
Mereka berdua sama-sama melesat ke arahnya masing-masing, sehingga mereka menjadi beradu pedang satu sama lain. Meskipun An Tianzuo sedikit kalah dalam beradu pedang sehingga membuatnya sedikit mundur, tetapi dia masih bertahan dan membuatnya tampak seri.
An Tianzuo masih bertahan dan mencoba untuk melampaui kekuatan pria tua itu. Mereka terus menerus saling beradu pedang sehingga suara kikisan dari pedangnya sampai bergema di tempat masuknya Situs Makam Kuno itu.
"Sial, sial, sialan! Ranah kita berbeda jauh, tetapi kenapa kamu bisa menahan seranganku!" Pria tua itu berteriak sembari pedangnya saling beradu dengan pedang An Tianzuo.
Mereka saling menyerang satu sama lain sehingga sampai membuat bekas serangan pada sekitarnya. Entah diatas tanah atau terbang, mereka terus menerus saling menyerang.
Bahkan mereka berdua mengalami beberapa luka, meskipun luka itu tidak parah sama sekali. Lukanya tidak membuat mereka berhenti untuk bertarung karena luka itu kecil.
"Menarik, menarik, menarik sekali! Kamu membangunkan hasrat bertarungku yang telah lama tertidur! Ayo kita bertarung sampai titik darah penghabisan untuk melihat siapa yang lebih dulu akan tumbang!" Pria tua itu mengerahkan kekuatannya dengan penuh.
Pria tua itu juga terkekeh karena menurutnya sangat menyenangkannya bertarung dengan An Tianzuo. Dia sudah sepenuhnya menikmati pertarungan itu sehingga membuat para kultivator disekitarnya menjadi berkeringat dingin dengan sikap yang dia tunjukkan.
Para kultivator menjadi takut kepadanya sehingga mulai melekat satu kata dalam pikirannya, yaitu "Gila". Tidak ada satu pun orang yang akan menikmati sebuah pertarungan, apalagi jika pertarungan itu bukanlah sepenuhnya kemenangan miliknya. Sehingga para kultivator yang melihatnya menjadi menyebutnya "Gila".
"Sepertinya kamu sangat menikmati pertarungan ini. Apakah kamu seorang psikopat?" An Tianzuo mengambil posisi kuda-kuda untuk bersiap menerima atau menyerang lawannya.
__ADS_1
"Psikopat? Apa itu psikopat? Aku tidak tahu apa yang kamu katakan. Lebih baik kamu bersiap untuk menerima seranganku karena aku akan sangat serius!" Pria tua itu juga mengambil posisi kuda-kuda dan mengeluarkan Auranya yang besar dan mencekam.
Begitu juga dengan An Tianzuo, dia juga mengeluarkan Auranya untuk bersiap melawan pria tua itu. Meskipun Aura yang dikeluarkan oleh An Tianzuo tidak sekuat dan mencekam seperti milik pria tua itu, tetapi kekuatannya hampir setara dengannya sehingga itu menjadikan An Tianzuo hampir seimbang.
Mereka saling mengeluarkan Aura sehingga membuat suara gemuruh, bahkan angin disekitarnya berhembus dengan sangat kencang.
Teknik Ratusan Cincangan Udara Biru!
Pria tua itu mengeluarkan sebuah teknik kuat, yang dimana tekniknya itu mengeluarkan sebuah tebasan yang banyak menuju An Tianzuo. Bahkan saking banyaknya tidak ada celah untuk menghindari serangannya itu.
"Sepertinya aku tidak bisa menghindari serangan itu. Apalagi aku tidak memiliki teknik yang dapat menangkis serangan itu."
"Sistem, apakah kamu memiliki saran yang dapat menangkis serangan itu? Jika ada, maka cepatlah katakan, karena aku sudah tidak memiliki waktu lagi!"
Jika memang ada, maka dia sudah melakukannya sedari tadi. Meskipun dia memiliki teknik Pukulan Penghancur Gunung, tetapi itu tidak dapat bersaing dengan serangan dari pria tua itu.
[Sistem menyarankan agar Tuan membeli sebuah teknik di Toko Sistem, tetapi karena Tuan dalam keadaan genting, sebaiknya jangan membelinya. Lebih baik Tuan menggunakan Teknik Seni Pedang Bintang Kuno Tingkat Kedua: Seribu Pedang untuk melawan serangan itu. Akan tetapi, itu akan membebani Tuan karena ranah Anda sangatlah jauh dari persyaratan yang tercantum pada teknik itu.]
"Baiklah, sebaiknya itu saja. Karena aku tidak memiliki pilihan lain selain menggunakan teknik kedua dari Teknik Seni Pedang Bintang Kuno. Meskipun aku tidak tahu apa yang akan terjadi setelah menggunakannya, tetapi itu lebih baik daripada tidak sama sekali," kata An Tianzuo.
Teknik Seni Pedang Bintang Kuno Tingkat Kedua: Seribu Pedang!
Napas An Tianzuo menjadi lebih berat daripada sebelumnya, bahkan mengangkat pedangnya saja sangatlah berat seperti mengangkat sebuah rumah sendirian.
__ADS_1
Tanah yang dipijaknya menjadi retak karena juga tidak dapat menahan tekanan dari tekniknya itu. Baju dan kulitnya mengelupas seperti terbakar oleh api.
"Hyaaa! Aku harus melakukannya!!" An Tianzuo berteriak sembari mengangkat pedangnya untuk menancapkannya ke tanah.
Aura dari tekniknya itu bahkan membuat pohon-pohon yang berada disekitarnya menjadi tidak kuat untuk menahannya sehingga menjadi tumbang.
Begitu pula dengan pria tua dan para kultivator yang melihatnya. Mereka juga tidak dapat menahan tekanan dari teknik itu sehingga kultivator yang terbang menjadi jatuh ke bawah. Namun, mereka tidak pingsan, mereka hanya jatuh sembari menahan tekanan itu.
An Tianzuo menancapkan pedangnya untuk memenuhi persyaratan dari penggunaan Teknik Seni Pedang Bintang Kuno Tingkat Kedua: Seribu Pedang, yang dimana untuk mengeluarkan serangan itu harus menancapkan pedangnya.
Dia menancapkan pedangnya pada tanah yang sebelumnya mengalami retakan. Kemudian pedangnya bersinar dan tidak lama setelah itu sebuah pedang bercahaya bermunculan di udara yang tipis.
Itu terus menerus bermunculan sampai tidak terhitung jumlahnya sehingga membuat pria tua dan para kultivator menjadi ketakutan melihat teknik itu.
"Te-teknik apa itu? Kenapa seorang yang berada di ranah Roh Bela Diri lapisan sembilan bisa menggunakan teknik sekuat itu? Apakah dia memang berada di ranah Leluhur Bela Diri seperti yang dikatakan oleh bawahanku?" Pria tua itu terkejut sembari ketakutan melihat teknik yang digunakan oleh An Tianzuo.
Seribu Pedang itu kemudian mengarah ke serangan pria tua itu. Serangannya melesat dengan sangat cepat sampai menghancurkan serangan pria tua itu.
Karena ketakutan, pria tua itu kabur dengan sangat cepat untuk menghindari serangannya. Meskipun kabur, itu akan sia-sia karena serangan An Tianzuo dapat mengikuti kemanapun targetnya pergi.
Seberapa jauh pun kabur serangannya tetap akan mengikutinya, dan meskipun bersembunyi di lubang cacing sekalipun, itu akan terus mengikutinya sampai Seribu Pedang itu mengenai targetnya.
"Sial, sial, sial! Kenapa serangan itu masih mengikuti? Bahkan meskipun aku meningkatkan kecepatan, serangan itu juga tetap mengikuti dan menjadi cepat juga!" Pria tua itu masih kabur dengan cara terbang, bahkan dia sekali-kali menyerang serangan yang mengikutinya.
__ADS_1
Akan tetapi, itu tidak mempan sama sekali, bahkan tidak ada yang hancur satu pun dari serangan An Tianzuo. Malahan itu menjadi lebih dekat, dan lebih dekat lagi.