
"I-itu karena anak kecil ini mencuri uangku, se-sehingga aku menyeretnya untuk menghukumnya." Pria itu berkata dengan gugup.
An Tianzuo melihat ke wajah pria itu, dia seperti merasakan bahwa apa yang dikatakannya adalah sebuah kebohongan.
"Perkataanmu seperti memiliki keraguan. Hei, apakah yang dikatakan oleh pria ini benar?" An Tianzuo bertanya kepada anak kecil yang tengah tersungkur di tanah itu.
Anak kecil itu tersungkur di tanah karena sebelumnya diseret oleh pria itu. Tubuhnya juga mengalami luka-luka, dan sehingga dia kesusahan untuk berdiri. Dia juga gemetaran sehingga ingin kabur saja sangatlah sulit.
An Tianzuo yang melihat bahwa anak kecil itu gemetaran, dia kemudian mengulurkan tangannya untuk membantunya berdiri. Namun tangan An Tianzuo ditepis oleh anak kecil itu, seolah-olah tidak ingin dibantu.
An Tianzuo memahami kenapa anak kecil itu tidak menerima bantuannya, karena pria yang menyeretnya memperlakukannya dengan sangat kasar, sehingga anak kecil itu takut kepada An Tianzuo dan mengira bahwa dia adalah teman dari pria itu.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku hanya ingin membantumu. Apakah benar kamu mencuri uang dari pria ini?" An Tianzuo bertanya kepada anak kecil itu.
Mendengar apa yang dikatakan oleh An Tianzuo, anak kecil itu tertegun untuk sementara. Dia ragu untuk menjawabnya apakah orang yang berada di depannya itu benar-benar ingin membantunya atau tidak.
Karena saat melihat wajah beserta pakaiannya, anak kecil itu tidak akan percaya bahwa orang yang di depannya akan membantunya. Jika membantu dirinya, dia tidak akan mendapatkan apapun, sehingga itu hanya akan membuang-buang waktu baginya.
Akan tetapi, anak kecil itu memilih percaya kepada An Tianzuo. Dia tidak tahu apakah keputusannya untuk memilih percaya adalah tepat atau tidak.
"I-itu ... dia yang telah mencuri uangku, bukan aku yang mencurinya. Saat aku menghitung uang yang aku temukan di hutan, dia kemudian merebutnya dariku. Karena aku tidak segera memberikannya, dia kemudian memukul dan menyeretku." Anak kecil itu menceritakan apa yang telah terjadi padanya.
Beberapa saat sebelumnya, anak kecil itu berjalan ke hutan untuk mencari herbal agar dapat menjualnya untuk mendapatkan uang. Dia mencari di pinggir hutan dan berhasil menemukan beberapa herbal.
Saat anak kecil itu ingin pergi dan kemudian menjualnya, dia tanpa sengaja menemukan kantong sehingga mengambilnya. Saat membukanya, dia terkejut bahwa di dalam kantong itu ada banyak sekali uang, yang diantaranya adalah tiga koin perak, dan sepuluh koin perunggu.
__ADS_1
Anak kecil itu kemudian pergi ke tempat sepi untuk menghitung uang yang di temukan itu. Dia pergi ke tempat sepi agar uangnya tidak diambil oleh orang lain, tetapi siapa sangka bahwa pria yang yang menyeretnya itu lewat di tempat anak kecil itu menghitung uangnya.
Pria itu melihat banyak sekali uang di kantong anak kecil itu pegang, sehingga dia menghampirinya dan kemudian meminta semua uang itu. Namun, anak kecil itu tidak memberikannya sehingga pria itu merebutnya dengan paksa sembari melakukan kekerasan terhadapnya.
An Tianzuo tidak memberikan respon apapun terhadap perkataan anak kecil itu. Dia hanya melihat anak kecil itu tanpa mengeluarkan satu kata pun.
Anak kecil itu yang melihat bahwa An Tianzuo tidak memberikan respon, dia mengira bahwa An Tianzuo tidak percaya dengan perkataannya.
'Sudah aku duga, dia tidak akan membantuku. Dari awal, bagaimana mungkin seseorang sepertinya akan membantuku.' Anak kecil itu berkata dalam benaknya dengan memasang ekspresi murung, meskipun tidak terlihat karena wajahnya tertutup oleh rambutnya.
Karena tidak ada respon dari An Tianzuo, dia mengira bahwa tidak akan dibantu olehnya, sehingga perkataan sebelumnya itu sia-sia.
Berbeda dengan pria yang mengambil uangnya, dia menyeringai karena An Tianzuo tidak merespon. Bahkan wajahnya menunjukkan kesombongan dan keangkuhan.
"Tidak mungkin seorang anak kecil memiliki banyak uang, kan? Apa yang dikatakan olehnya itu semuanya adalah kebohongan. Dia yang telah mencuri uangku, bukan aku yang mencurinya!" Pria itu berkata sembari mulutnya menyeringai saat melihat ke arah anak kecil yang diseretnya.
Mereka berdua saling membantah satu sama lain, sehingga terjadi perdebatan di antara mereka berdua. Pria itu tidak mengakui bahwa dirinya berbohong, sedangkan anak kecil itu juga tidak mengakuinya karena dia berkata dengan jujur.
"Bisakah kamu menutup mata? Aku tidak ingin memperlihatkan hal mengerikan kepadamu," kata An Tianzuo.
An Tianzuo mulai berbicara yang sebelumnya tidak menunjukkan respon apapun, seolah tidak percaya terhadap perkataan anak kecil itu.
Anak kecil itu tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh An Tianzuo, tetapi dia sontak menutup matanya karena sebelumnya An Tianzuo tidak menunjukkan respon apapun.
'A-apa yang akan dilakukan oleh kultivator itu?' Anak kecil itu berkata di dalam benaknya.
__ADS_1
Pria yang menyeret anak kecil itu wajahnya berkeringat dingin karena dia tahu bahwa sepertinya akan terjadi sesuatu kepadanya, bahkan sampai mundur beberapa langkah.
"A-apa yang akan kamu lakukan? A-aku tidak berbohong, justru bocah ini yang berbohong." Pria itu berkata dengan gugup sembari berjalan mundur.
An Tianzuo menatap pria itu dengan tajam seperti seekor harimau yang ingin menerkam mangsanya. Tatapan An Tianzuo membuat pria itu gemetar ketakutan, sehingga dia sampai terjatuh.
Tubuh pria itu gemetaran, dan matanya menunjukkan ketakutan. Bahkan dia sampai kencing di celana karena seperti melihat seekor harimau.
"Ja-jangan mendekat! Per-pergilah!" Pria itu berkata dengan ketakutan.
An Tianzuo berjalan dengan santai menuju pria itu. Meskipun berjalan santai, An Tianzuo mengeluarkan Auranya sehingga itu membuatnya menjadi semakin ketakutan.
Anak kecil itu juga merasakan Aura dari An Tianzuo, sehingga dia juga gemetar ketakutan. Dia tidak berani untuk membuka matanya karena takut melihat sesuatu yang sangat mengerikan.
"Tidak, tidak, tidak!" Pria itu berteriak dengan sangat keras.
An Tianzuo mengambil pedangnya dari penyimpanan dan dengan cepat melesat ke arah pria itu untuk memotong lehernya. Ia memotong leher tersebut dengan sangat cepat, bahkan lebih cepat dari kedipan mata.
Anak kecil yang mendengar teriakannya semakin menutup matanya karena tidak ingin melihat apa yang telah terjadi pada pria yang menyeretnya. 'Apakah kultivator itu melakukan hal yang kejam terhadapnya? Teriakannya sangat keras, pasti dia membunuhnya,' pikirnya.
Kepala si pria berguling di atas tanah, dan lehernya mengeluarkan darah yang sangat banyak. Darah tersebut juga berjatuhan dari pedang yang An Tianzuo gunakan untuk memenggal kepalanya.
An Tianzuo tidak menunjukkan kasihan sedikit pun. Ia bahkan membunuhnya tanpa berkedip seperti orang yang tidak bersalah.
'Kenapa tidak ada suara apa pun? Apakah kultivator tersebut sudah pergi setelah melakukan sesuatu kepada pria itu?' Anak kecil tersebut berasumsi bahwa An Tianzuo telah pergi karena tidak mendengar ada suara apa pun.
__ADS_1
Anak kecil tersebut kemudian membuka matanya secara perlahan karena tidak mendengar suara apa pun. Namun, saat matanya terbuka, dia terkejut seperti melihat hantu.