
"Apakah saya bisa menjadi seorang kultivator? Jika memang bisa, saya ingin menjadi kultivator, karena dengan begitu saya dapat membantu Tuan." Xing Jianying berkata dengan sangat serius.
"Apakah kamu benar-benar yakin ingin menjadi seorang kultivator? Menjadi seorang kultivator memiliki resiko tersendiri, apakah kamu yakin?" An Tianzuo bertanya dengan serius kepada Xing Jianying.
Meskipun An Tianzuo ingin menjadikan Xing Jianying seorang kultivator, tetapi dia juga tidak ingin anak kecil yang masih belum beranjak dewasa akan melihat kekejaman dari menjadi seorang kultivator.
An Tianzuo berharap jika Xing Jianying ingin menjadi seorang kultivator, maka dia harus dewasa terlebih dahulu. Sehingga dia bisa lebih memahami menjadi seorang kultivator.
Menjadi seorang kultivator bukan hanya belajar teknik dan berkultivasi. Namun menjadi seorang kultivator harus paham akan resikonya, dari membunuh, akan dibunuh, bertarung dan lainnya.
Saat menjadi kultivator akan ada banyak suatu kejadian yang berbanding terbalik dari kehidupan sebelum menjadi kultivator. Sehingga kamu harus memiliki pikiran yang matang, dan semangat yang membara untuk melangkah ke jalan kultivator.
"Tuan, saya benar-benar ingin menjadi seorang kultivator. Saya tidak ingin menjadi beban bagi Anda, jadi saya mohon ajari saya untuk menjadi seorang kultivator!" Xing Jianying berkata dengan sangat tegas.
Xing Jianying telah memiliki tekat yang kuat untuk menjadi seorang kultivator. Sehingga itu membuat An Tianzuo mau tidak mau harus menjadikan Xing Jianying kultivator.
"Baiklah jika itu benar-benar keinginanmu. Namun, masih belum waktunya untuk kamu menjadi kultivator. Jadi tetaplah seperti ini untuk sekarang," kata An Tianzuo.
"Baik, Tuan. Saya pasti akan berlatih dengan giat saat menjadi kultivator, dengan begitu saya bisa meringankan beban Tuan," kata Xing Jianying.
'Tidak habis pikir bahwa aku akan menjadikan seorang anak kecil sebagai pelayan dan kultivator. Apalagi dia adalah seorang perempuan.' An Tianzuo berkata dalam batinnya sembari menghela nafas.
__ADS_1
"Ayo pergi," kata An Tianzuo.
An Tianzuo mengeluarkan sebuah Aura yang berwarna biru. Itu menyelimuti Xing Jianying sehingga membuatnya terkejut karena tidak tahu apa Aura berwarna biru tersebut.
Aura berwarna biru tersebut mengelilingi Xing Jianying. Setelah beberapa saat, tubuh Xing Jianying mulai secara perlahan terbang ke atas. Hal tersebut membuat Xing Jianying panik karena dirinya tiba-tiba terbang.
An Tianzuo mengikuti Xing Jianying yang terbang ke atas. Dia juga mencoba untuk menenangkan Xing Jianying yang tampak panik.
Meskipun Xing Jianying tahu bahwa Aura berwarna biru yang membawanya terbang adalah dari An Tianzuo. Namun, Xing Jianying masih tidak terbiasa karena ini adalah hal pertama kalinya dia berkontak langsung dengan seorang kultivator. Apalagi ini adalah pertama kalinya dia bisa terbang meskipun di bantu Aura berwarna biru tersebut. Sehingga dia menjadi terkejut dan panik karena tiba-tiba bisa terbang.
An Tianzuo dan Xing Jianying kemudian pergi menuju tempat yang di katakan oleh sistem. Xing Jianying melihat banyak pemandangan yang belum pernah dia lihat, sehingga itu membuatnya menjadi gembira dan senang.
"Wah~ ini benar-benar sangat indah. Aku tidak percaya bahwa pemandangan indah seperti ini ada!" Mata Xing Jianying berkilau karena kagum dengan apa yang dilihatnya.
Setelah beberapa jam, mereka berdua telah sampai pada tempat yang dikatakan oleh sistem. Itu memakan waktu dua jam karena tempatnya lumayan jauh, sehingga itu membuat Xing Jianying mual dan pusing karena terbang tanpa beristirahat.
An Tianzuo tidak beristirahat sekalipun karena takut malam akan segera tiba. Jika malam sudah tiba, maka dia mungkin harus tidur di penginapan atau harus bermalam di dalam hutan.
Tempat yang dikatakan oleh sistem bernama Tebing Naga. Itulah yang dikatakan oleh beberapa orang yang mengetahui tempat tersebut.
Nama tersebut bukan dibuat-buat oleh seseorang yang iseng menamainya begitu saja. Namun tebing tersebut disebut karena pernah ada seekor Naga yang muncul dari bawah tebing tersebut.
__ADS_1
Naga tersebut sangatlah besar terbang ke atas langit sehingga orang yang dari kejauhan bisa melihatnya. Naga tersebut meraung dengan sangat keras, dan setelahnya dia tiba-tiba menghilang seakan tidak pernah ada.
Begitu banyak kultivator yang berdatangan ke Tebing Naga untuk melihat naga yang muncul tersebut. Mereka berdatangan berbondong-bondong sehingga tebing tersebut penuh dengan banyak kultivator. Namun, kemanapun mereka mencari naga tersebut, mereka tidak menemukannya seolah tidak pernah ada.
Para kultivator itu dari berbagai tempat, entah dari kerajaan, sekte, klan, kota, desa, dan bahkan kultivator yang tidak pernah menunjukkan jati dirinya pun ikut datang ke tebing tersebut.
Karena kemunculan naga tersebut, membuat tebing yang sebelumnya biasa saja menjadi luar biasa. Pada tebing tersebut muncul Aura yang sangat padat, sehingga itu membuat kultivator yang berkerumun menjadi berkultivasi di sana.
Mereka duduk bersila menyerupai lotus untuk berkultivasi agar meningkatkan lapisan atau ranahnya. Tebing Naga tersebut semakin padat di datangi oleh para kultivator dari penjuru dunia, tetapi seiring berjalannya waktu, para kultivator yang menyerap Aura di Tebing Naga tersebut semakin perlahan semakin sedikit.
Itu karena Aura yang sebelumnya padat, secara perlahan mulai menipis karena banyak diserap oleh para kultivator. Ada juga beberapa kultivator yang turun dari Tebing Naga yang dimana disana terdapat jurang yang sangat dalam.
Akan tetapi, mereka tidak pernah kembali, seakan ditelan oleh bumi. Sehingga itu membuat kultivator takut untuk turun ke jurang tersebut, meskipun disana adalah tempat keluarnya Aura yang sangat padat.
Sehingga terdapat beberapa rumor yang mengatakan bahwa jurang pada Tebing Naga adalah tempat naga tinggal, dan ada binatang buas tingkat tertinggi yang tak terhitung jumlahnya.
"Disini banyak sekali kultivator yang berkultivasi. Sepertinya apa yang dikatakan oleh sistem benar, bahwa tempat ini padat dengan Aura Spiritual. Namun, tempat ini tidak nyaman untuk menerobos ranah untukku," kata An Tianzuo sembari merasakan Aura disekitarnya.
Meskipun Aura pada Tebing Naga secara perlahan telah kehilangan kepadatannya, tetapi itu masih saja membuat kultivator berdatangan untuk berkultivasi. Itu karena Tebing Naga bukanlah tempat yang dimiliki atau dikuasai oleh siapapun, sehingga itu membuat para kultivator bisa datang atau pergi sesuka hati.
An Tianzuo hanya merasakan Aura dari kultivator ranah Ahli Bela Diri dan Roh Bela Diri, itupun yang tertinggi hanyalah Roh Bela Diri lapisan kelima.
__ADS_1
"Kenapa tidak ada kultivator kuat yang berkultivasi di sini? Apakah mereka sudah selesai berkultivasi dan kemudian pergi? Namun itu tidak mungkin karena mereka pasti tidak akan menyia-nyiakan Aura yang masih padat ini." An Tianzuo berkata sembari mendekat ke arah Tebing Naga tersebut.
Dia tidak tahu mengapa kultivator kuat tidak ada yang berkultivasi di sini, padahal Auranya padat. Dan benar saja, setelah An Tianzuo berada di dekat Tebing Naga, dia merasakan bahwa Aura yang keluar dari jurang tersebut tidak akan membuat ranah Raja Bela Diri naik tingkat. Bahkan Aura tersebut sangatlah sulit untuk diserap bagi kultivator ranah Roh Bela Diri lapisan enam ke atas.