Skylar Dan Sang Dosen

Skylar Dan Sang Dosen
24


__ADS_3

Langit kelam malam ini menaungi Skylar yang tengah sibuk dengan ponselnya berusaha untuk mendapatkan taksi online agar bisa segera pulang.


Gadis itu mendecak sebal setelah menghabiskan sepuluh menit waktunya namun tak juga kunjung mendapatkan taksi online yang bisa mengantarkan ia pulang.


Hari ini jadwal kuliahnya padat namun mobilnya sedang dibawa ke bengkel karena sedang mengalami masalah mesin membuatnya terpaksa harus naik taksi online.


"Kenapa kamu belum pulang?"


Sejurus kemudian keheningan yang menemani Skylar di depan gerbang utama kampus terpecah oleh sebuah suara laki-laki yang selama ini ia coba untuk hindari.


Gadis itu tak bergeming meski ia mendengar dengan jelas bahwa pria itu melangkah mendekat kepadanya.


"Tolong berikan satu alasan kenapa kamu menghindar dari saya, Wendelline Skylar?" suara berat itu kembali menguar menuntut jawaban dari Skylar.


Sang gadis mendudukkan dirinya di atas batu, menengadahkan kepalanya memandang sang pria.


"saya tidak menghindari anda sama sekali."


Sejujurnya Skylar juga bingung apa yang ia lakukan sampai-sampai ia menjaga jarak dengan Teon tanpa sadar meskipun tidak ada hal buruk yang terjadi di antara mereka selama ini.


Teon mendengus malas. "jangan berbohong, saya tahu kamu berusaha menjaga jarak dengan saya. tolong hentikan itu Skylar jangan buat saya tersiksa."


Skylar memandang kedua sepatu kanvas yang membalut kakinya, tak berani lagi memandang Teon yang kini menghujani dirinya dengan tatapan tak dapat terbaca --sukses membuat jantungnya berpacu dua kali lebih cepat dan entah mengapa Skylar merasa mulas saat Teon mulai memangkas jarak di antara mereka.


Jemari kokoh milik Teon lantas meraih rahang mungil milik Skylar, membawa wajah ayu itu untuk menyelam ke dalam manik kelam nan tenang miliknya walau ia juga harus bersusah payah mengendalikan debaran jantungnya yang menggila.


"Jatuh cintalah kepadaku, Wendelline Skylar," Teon berbisik dengan suara rendahnya, menggerakkan kepalanya perlahan memangkas jarak di antara keduanya.


"Kenapa harus?"


"Karena saya menawarkan kesetiaan dan keseriusan ini hanya untukmu."


...***...


Skylar terbangun pagi-pagi sekali dengan kedua pipinya yang terasa memanas tatkala ia teringat pada kejadian semalam --dimana ia dan Teon nyaris berciuman.

__ADS_1


Baiklah, setelah ini mungkin Skylar akan kehilangan akal sehatnya jika harus berduaan dengan pria itu seperti semalam.


"Bisa mati muda gue kalau gini terus," gumam Skylar sambil mengacak rambutnya frustasi.


Ia tak menyangka kalau Teon akan membahas kembali topik yang mati-matian ia hindari itu yang kini membuat Skylar berada di ambang kebingungan.


Jika ditanya apakah Skylar menyukai Teon, dia tak dapat menyangkal kalau ia juga mulai menaruh hatinya kepada dosen muda itu namun Skylar belum siap untuk memulai hubungan baru.


Pesona Teon semakin membuat gadis itu mabuk kepayang, nyaris tak mampu mengendalikan akal sehatnya sendiri --lelaki itu sungguh tak baik untuk kesehatan membuat Skylar jadi pusing sendiri.


"Kemana gue harus berbagi kegalauan ini?" gadis itu menanyai pantulan dirinya di cermin, berusaha membenarkan rambutnya yang terlihat sedikit megar sehabis bangun tidur.


"Tapi Teon sudah dua kali bilang dia hanya menawarkan kesetiaan dan keseriusan untukku, maksudnya apa ya?" Skylar terus menyisir rambutnya meskipun sekarang yang kusut malah otaknya bukan lagi rambutnya.


Ia ingin berbagi cerita, namun bingung mengingat semua teman dekatnya tidak bisa diajak bicara serius membuat Skylar semakin bingung dibuatnya.


"Skylar, ayo pergi sarapan di luar!" panggil Papa Lucas setengah berteriak dari luar kamar sang gadis.


"Iya tunggu sebentar, Pa!"


Dengan gerakan secepat kilat Skylar meraih hoodie berwarna peach yang tergantung di belakang pintu kamarnya lantas mengenakannya dengan tergesa. Ini hari minggu, wajar kalau Papa Lucas sibuk mengajaknya pergi makan ke luar selama seharian sebab mereka memang meliburkan para pelayan yang bekerja di rumah megah mereka setiap hari minggu agar mereka juga bisa mendapatkan waktu berkualitas dengan keluarga masing-masing.


"Kita mau makan apa, Pa?" tanya Skylar setelah mendapati sang Papa menyambutnya dengan seulas senyum hangat.


Oh lihatlah, pria paruh baya itu sama sekali tidak kelihatan tua dengan kaos oblong hitam polos yang membalut tubuh tegapnya yang begitu sempurna.


Tak jarang Papa Lucas dan Skylar sering dikira sebagai sepasang kekasih karena Papa Lucas yang begitu awet muda.


Papa Lucas mengusap dagunya dengan telunjuk dan ibu jarinya nampak sedang menimbang.


"bagaimana kalau sarapan manis di kedai coklat kesukaan kamu?"


Skylar dengan senyuman lebar langsung mengangguk penuh antusias.


"dengan senang hati, ayo jalan sekarang!"

__ADS_1


Papa Lucas tersenyum lagi, mengusap puncak kepala Skylar gemas.


Entahlah meskipun sudah dewasa Skylar tetaplah menggemaskan.


"Ayo, tapi makannya harus tetap di kontrol ya jangan sampai gula darah kamu naik," ledek Papa Lucas, menirukan nasihat yang sering Skylar berikan kepada sang Papa.


"Ihh gak gitu dong, Papa!"


Papa Lucas terkekeh geli, merangkul bahu sempit anak gadisnya untuk segera keluar dari rumah menuju kedai makanan manis kesukaan Skylar sejak kecil itu.


"Kamu kenapa sih jadi sensitif begitu?" goda Papa Lucas sambil memperhatikan wajah cemberut Skylar yang sangat lucu.


"Cepat jalan, Pa! aku sudah lapar!" rengek Skylar tak sabaran setelah perutnya mulai bergetar hebat pertanda minta segera diberi asupan.


"Ya sudah, ayo kita berangkat!"


Sepasang ayah dan anak itu lantas berjalan sejajar keluar dari rumah, tak lupa Papa Lucas mengunci pintu kemudian berderap sambil bercanda dengan Skylar menuju garasi tempat mobil milik mereka tersusun dengan begitu teratur.


"Mau naik mobil yang mana?" tanya Papa Lucas congkak mengingat ia memang baru saja membeli sebuah mobil mewah pabrikan Eropa berwarna biru muda beberapa hari yang lalu.


"Kok yang ini warnanya cantik banget sih, Pa?" mata Skylar kontan berbinar girang melihat mobil mewah dengan warna kegemarannya itu sudah ada di garasi.


"Papa memang sengaja beli yang ini untuk kita jalan-jalan saat ada waktu luang atau kamu juga boleh bawa ke kampus kalau mau," tutur Papa sembari membuka pintu mobil baru itu.


Papa Lucas tahu kalau mobil yang biasa Skylar pakai ke kampus itu sudah cukup tua dan rawan mengalami masalah mesin --itu merupakan mobil lama yang sudah ia beli saat istrinya masih ada.


Lagi-lagi Skylar dibuat terpana oleh interior mobil yang begitu elegan dengan warna biru muda dan putih yang mendominasi.


"Luar biasa! terima kasih ya, Papa!"


"Kamu suka?"


Skylar dengan kebahagian yang menggebu-gebu gadis itu memeluk Papa Lucas dengan begitu erat.


"Terima kasih sudah menjadi orang tua terbaik untukku sejak dulu, Papa."

__ADS_1


"Apa pun untuk kebahagiaanmu dengan senang hati akan Papa lakukan, sayang."


__ADS_2