
"Saya tahu bagaimana perasaan Skylar waktu itu, Papa. maka dari itu sejak pertama kali bertemu dengan Skylar saya sudah berniat untuk membahagiakan Skylar walau harus merelakan segalanya yang saya miliki," balas Teon serius.
Papa Lucas memandang Teon dengan seulas senyum tipis. "sebuah jawaban yang Papa harapkan tapi tolong pertanggung jawabkan apa yang sudah kamu katakan itu."
Teon mengangguk penuh peneguhan. "tentu. Papa akan mendapatkan tanggung jawab sesuai yang Papa inginkan atas Skylar."
Papa Lucas merasa lega, berapa kali pun ia melakukan tes kepada Teon pria itu selalu dapat memberikan jawaban yang memuaskan.
"Teon Tirdianata, selamat kamu lolos menjadi calon menantu idaman."
"Terima kasih," Teon menyahut dengan senyuman penuh. "kalau begitu saya akan membawakan susu coklat untuk Skylar."
Teon berlalu menuju ruang tamu dengan segelas susu coklat hangat di tangannya. Skylar jelas heran, bagaimana bisa Teon membawa gelas berisi minuman panas itu tanpa alas seperti itu?
"Ini untuk kamu," kata kepada Skylar Teon sambil menaruh gelas itu di atas meja.
"Apa tidak panas langsung memegang gelasnya seperti itu?" Skylar langsung menyuarakan rasa ingin tahunya.
Teon terkekeh, menggeleng kemudian. "tidak sayang, dulu ayah mengajarkan teknik khusus untuk membawa gelas panas padaku."
Skylar menggeleng tak percaya. "ada-ada saja. aku yakin ayah adalah sosok ayah yang hangat dan humoris bagi keluarganya."
Papa Lucas keluar dari dapur dengan nampan berisi dua gelas minuman hangat di tangannya.
"Papa yakin Teon mewarisi delapan puluh persen karakteristik dari ayahnya."
Teon mengangguk setuju. "banyak orang yang berkata begitu."
Papa Lucas menurunkan nampan berisi gelasnya di atas meja. "kalau begitu cobalah susu coklat hangat buatan Papa. ini akan membuatmu kembali mengingat masa kecil."
Teon mengambil gelas berisi susu coklat hangat di atas meja setelah mendapat persetujuan dari Skylar. Minuman penuh nutrisi itu terlihat masih menguarkan asap tipis transparan pertanda masih panas, membuat Teon meniupnya dengan hati-hati.
Setelah dirasa cukup dingin, Teon mulai meneguk susu coklat hangat itu sedikit-sedikit menikmati setiap tetes rasa nikmat dari minuman itu.
__ADS_1
"Bagaimana rasanya?" kulik Skylar setelah melihat perubahan air muka dari Teon.
"Sekarang saya paham kenapa Skylar ingin cepat-cepat pulang hanya demi segelas susu coklat buatan Papa," sahut Teon. "ada banyak kasih sayang yang begitu tulus dalam setiap tetesnya."
Pipi putih Skylar bersemu. "begitulah."
"Seperti yang kamu tahu, Teon, Skylar memiliki gengsi yang terlalu tinggi bahkan lebih tinggi dari badannya sendiri," ejek Papa Lucas.
Ketiganya lantas tertawa bersama, menikmati momen menjelang repotnya persiapan pernikahan Teon dan Skylar yang akan digelar sebentar lagi.
Secepatnya, setelah Teon dan Skylar pulih mereka akan langsung mempersiapkan banyak hal untuk menyongsong hari bahagia yang sudah mereka tunggu-tunggu itu.
...****...
"Jadi bagaimana soal konsep pelaminan yang dipesan oleh anak saya? apa kalian bisa mewujudkannya?" tanya Papa Lucas via telepon kepada vendor pelaminan yang dipesan oleh Skylar dua minggu lalu.
Skylar dan Teon memang sudah mengatakan sejak jauh hari kalau mereka ingin menggunakan konsep internasional pada acara resepsi pernikahan mereka nanti, sisanya mereka membiarkan Papa Lucas dan Bunda membantu mewujudkan pernikahan impian mereka dengan catatan meminta persetujuan kedua calon mempelai lebih dahulu. Dengan begitu Papa Lucas jelas ingin anaknya memiliki pesta pernikahan yang megah mengingat pernikahan Teon dan Skylar harus menjadi momen yang tak terlupakan.
"Ya, terima kasih. senang berbisnis dengan anda."
Itulah citra Papa Lucas dimata para pebisnis lainnya, berbisnis dengan santai namun memberikan kesempatan yang menguntungkan kedua belah pihak. Tak heran beliau memiliki banyak kolega bisnis baik dari dalam negeri mau pun luar negeri.
Papa Lucas memandang sekeliling kantornya, menyandarkan punggungnya yang mulai pegal karena sudah nyaris seharian duduk di dalam ruangan bernuansa monochrome itu.
Albert nampak masuk ke dalam kantor dengan tumpukan map plastik di kedua tangannya, hingga nyaris menutupi pandangan sang pria.
"Pak, ini adalah list perusahaan yang mengajukan kerja sama bulan ini," ucap Albert seraya menurunkan tumpukan map plastik yang ia bawa ke atas meja kerja Papa Lucas.
"Bagaimana bisa sebanyak ini?"
Albert mendesah resah. "apa boleh buat, Pak. terlalu banyak perusahaan yang mengalami krisis karena harga bahan bakar yang melonjak naik hingga menyebabkan mahalnya biaya produksi dan turunnya permintaan pasar."
"Saya dengar juga begitu," Papa Lucas mengangguk. "lalu bagaimana dengan Hamsworth Energy?"
__ADS_1
Papa Lucas teringat pada cerita Skylar terkait perusahaan milik orang tua Liam yang berada di ambang kebangkrutan. Ya, setidaknya Papa Lucas ingin memberikan sedikit bantuan kepada sahabat anaknya sejak kecil itu.
"Hamsworth Energy? mereka bahkan jauh lebih jatuh ketimbang perusahaan-perusahaan yang mengajukan proposal ini, Pak," balas Albert seraya menyusun tumpukan map plastik itu sesuai dengan kategori perusahaan.
"Hubungi Pak Hamsworth tiga puluh menit lagi. katakan padanya untuk menemui saya di rumah saya," ucap Papa Lucas dengan jemari tertaut satu sama lain, memandang Albert lurus.
"Ya? Anda ingin bekerja sama dengan perusahaan yang bahkan tak mampu lagi membayar cleaning service mereka?" tanya Albert memastikan.
Papa Lucas bangkit dari duduknya, memandang ke luar jendela. "bagaimana saya bisa membiarkan keluarga yang membuat anakku tak merasa kesepian dan kekurangan kasih sayang terjatuh begitu saja?"
"Bagi saya, Pak Hamsworth dan keluarganya bukan hanya sekedar kolega bisnis tetapi sudah seperti keluarga," tambah Papa Lucas, mengingat-ingat kembali kebaikan pria kelahiran Inggris itu beserta anak dan istrinya kepada Skylar sejak kecil.
Albert mengangguk patuh. "biklah kalau itu yang Bapak inginkan. Saya akan segera menghubungi Pak Hamsworth sesuai permintaan anda."
"Kalau begitu makanlah terlebih dahulu, Albert. jangan sampai membuat ibumu kembali khawatir."
Albert tersenyum malu, ya dia memang memiliki ibu yang sangat cerewet terlebih mengingat soal kondisi kesehatannya yang sempat menurun beberapa waktu yang lalu.
"Terima kasih, Pak Lucas. Anda sungguh atasan yang sangat pengertian."
Papa Lucas tersenyum meski tahu Albert tak dapat melihat senyuman yang super tipis itu.
"andai saja anak saya Skylar tidak memilih untuk menikah dengan seorang dosen muda barang tentu saya akan menjodohkan dia denganmu."
Albert tergelak. "dia mana mungkin mau menikah dengan saya, Pak Lucas."
Papa Lucas berbalik menghadap Albert yang masih sibuk menyusun tumpukan map plastiknya.
"omong kosong, wajahmu yang sangat khas orang Eropa itu sungguh menarik. bahkan banyak kolega bisnis saya yang masih single meminta nomor teleponmu."
Albert tersenyum penuh arti. "andai saya bisa melakukannya, ya, membuat Nona Wong tertarik kepada saya jelas saya akan menyayanginya sepenuh hati. namun saya yakin dosen muda yang sangat kaya pilihan Nona Wong bisa membuatnya bahagia."
Papa Lucas menghela. "saya harap juga demikian, tak ada yang lebih berarti selain kebahagiaan putri semata wayang saya itu."
__ADS_1