
Warna kelabu langit siang itu membuat Skylar merasa semakin stress, hingga sang gadis mendecak sebal. Persiapan pernikahannya dan Teon sudah mencapai tujuh puluh persen tapi bagaimana mungkin mereka lupa memesan souvernir? Sungguh, bagaimana mungkin perusahaan souvernir mampu membuat tiga ribu lebih souvernir custom dalam waktu kurang dari satu bulan mengingat pernikahan mereka waktunya sudah mepet? Oh Tuhan, Skylar terus merutuki kebodohannya sendiri yang malah melupakan salah satu dari bagian terpenting di acara pernikahan mereka nanti.
Entah sudah berapa pengusaha souvernir yang ia datangi sore ini dengan mobilnya, pun tidak ada satupun dari mereka yang mau menyanggupi permintaan Skylar walau ia telah menawarkan bayaran tiga kali lipat dengan berbagai alasan.
Skylar masih melaju dengan mobil sport biru muda miliknya, menyusuri jalan raya berharap dapat menemukan pengusaha souvernir yang dapat menyanggupi permintaannya.
Buntu akal, Skylar akhirnya memutuskan untuk mampir sambil membeli minuman segar ditempat Liam bekerja barang kali Liam dapat membantunya menemukan jalan keluar untuk kecerobohannya yang fatal kali ini.
Skylar memarkir mobilnya di pelataran Bar mewah itu, menunjukkan kartu tanda identitas miliknya sebagai bukti bahwa ia telah berusia diatas delapan belas tahun kepada penjaga yang bertugas. Pria berkepala plontos itu langsung mengangguk sebagai tanda persetujuan agar Skylar bisa masuk ke dalam Bar.
"Apa Liam bekerja hari ini, Pak?" tanya Skylar kepada si penjaga pintu Bar.
"Ya, Nona. Liam mungkin masih bekerja di ruangannya katakan saja pada bartender disana untuk memanggilnya jika Nona memiliki keperluan dengannya."
"Baiklah, terima kasih."
Skylar melenggang masuk menuju meja bartender. Suasana Bar belum terlalu ramai mengingat hari masih sore, Bar ini tentunya baru saja buka.
"Selamat datang, Nona. Mau pesan apa?" Bartender dengan setelan khasnya yang rapi langsung menanyai Skylar yang baru saja mengambil posisi duduk di depan meja.
"Berikan aku cocktail terbaikmu, lalu boleh aku meminta sesuatu yang ekstra?"
"Tentu, apa yang Nona inginkan?"
"Bawa Liam kemari. katakan padanya bahwa Nona Wong sedang menunggunya disini," jawab Skylar sambil membaca buku menu. "ah, tolong bawa dia kemari dengan cepat."
"Tentu, Nona. harap menunggu sebentar."
__ADS_1
Skylar memang bukan termasuk pemudi gaul yang suka pergi ke Bar, bahkan ini adalah kali pertama Skylar menginjakkan kakinya di Bar hanya demi menemui temannya yang bekerja di sini.
Suasana Bar menurut Skylar tidaklah nyaman dengan dentuman musik yang begitu kencang, ia berani bertaruh bahwa ia harus berteriak pada Liam saat mengobrol nanti.
"Ini minumannya, Nona Wong. Liam akan segera datang menemui Anda. selamat menikmati."
Kini cocktail terbaik seperti yang dipesan oleh Skylar telah siap tersedia di depannya. Ya, itu minuman yang sangat aman karena tidak mengandung alkohol.
"Kenapa lo kesini? kita 'kan bisa ketemuan di luar," protes Liam yang jelas tahu bahwa Bar bukanlah tempat yang nyaman untuk Skylar.
Pria itu keluar dari sebuah ruangan di sisi kiri Bar dengan kemeja polos tipe slim fit yang melekat sempurna pada tubuhnya lengkap dengan jeans berwarna biru muda. Bukan sebuah pakaian yang terlalu mencolok, namun wajah khas pria Eropa milik Liam selalu nampak menarik.
"Gue mau tahu Bar itu suasananya seperti apa," balas Skylar santai setelah meneguk minumannya.
"Yaudah kalau gitu. lo ada perlu apa sampai bela-belain kemari? sepertinya ada hal penting," Liam menatap Skylar curiga, terlebih gadis itu bukan tipe orang yang mau datang menemui seseorang tanpa alasan khusus.
"Gue pusing nih," keluh Skylar yang membuat Liam makin curiga.
"Ya itu dia masalahnya, Li. gue lupa pesan souvernir custom kayak yang gue mau dari jauh hari... itu sebenarnya bagian dari tugas gue yang sengaja gue dan Teon bagi biar pengerjaannya lebih cepat," jelas Skylar dengan wajah muramnya.
Liam kontan tergelak kencang mendengar penjelasan Skylar. "lo bodoh atau tolol sih, Sky? gimana bisa hal sepenting itu malah lupa?"
"Ya... lo tahu sendirilah apa kurangnya diri gue ini," ucap Skylar membela diri.
Liam mendecih. "ini bukan saatnya buat lo membela diri. sebelumnya lo sama Teon mau souvernir yang kayak gimana?"
"Teon bilang bebas sih asalkan beda dari pada pernikahan banyak orang," cicit Skylar.
__ADS_1
Liam mengusap dagu runcing miliknya dengan ibu jari dan telunjuk, memandang Skylar sambil berusaha membantu gadis ceroboh itu menemukan solusi untuk masalahnya yang kali ini sangat tidak masuk akal.
"Oh, gue tahu!" seru Liam setelah beberapa detik berpikir.
"Tahu apaan lo?"
"Lo sama Teon suka parfum, 'kan?"
"Heeh, terus kenapa?"
Liam menjentikkan jarinya dengan riang seolah mendapatkan jackpot.
"Nah, itu! Lo bisa beli parfum buat souvernir di acara resepsinya nanti. buat tamu cewek lo bisa kasih parfum aroma favorit lo terus yang cowok bisa lo kasih parfum aroma kesukaan Teon. gimana?"
"Nah itu solusi yang gue cari! gue nggak perlu custom ini itu cukup terima beres dan jelas gue bisa pesan di e-commerce tanpa harus capek bawa souvernir itu ke rumah sendirian," Skylar berujar senang.
"Saran lagi nih, lebih bagus lo beli setengah parfum cewek setengah parfum cowok biar balance. soalnya ada juga pasti tamu undangan yang cuma mau jadiin souvernir pajangan," tambah Liam.
Skylar mengangguk. "iya. gue bakalan pesan pakai pengiriman express biar parfumnya bisa sampai kurang dari seminggu. sisa waktunya bisa gue pakai buat bikin stiker sekalian pasang di botol parfumnya."
Liam tersenyum puas, senang dapat memberikan solusi terbaik untuk masalah Skylar kali ini. Dia senang dapat membantu gadis yang sudah banyak berjasa dalam hidupnya itu walau belum sebanding dengan apa yang dilakukan Skylar dan Papanya untuk keluarganya. Liam bahkan tak tahu bagaimana harus berterima kasih atas bantuan besar dari keluarga Wong untuk investasi besar-besaran mereka kepada perusahaan orang tuanya.
"Gue senang lo ngerasa bahagia, Sky," ucap Liam dengan senyuman khasnya yang memukau.
"Gue agak menyesal kenapa dulu nggak pacaran sama lo aja, Li," canda Skylar yang memang dulu sempat terpesona dengan senyuman memikat milik Liam.
Liam memajukan kursinya, memandang lurus sepasang netra karamel jernih milik Skylar.
__ADS_1
"Ya, mau bagaimana lagi? itu bagian dari takdir, Wendelline Skylar. Kita nggak bisa memutar balikkan waktu, gue sekarang cuma bisa mendukung semua pilihan lo menyangkut masa depan lo, okay? sudah saatnya buat lo bahagia."
Skylar tersenyum penuh makna, mengusap rahang tegas kepunyaan Liam. "terima kasih banyak, Liam. atas semua yang gue tahu mau pun yang nggak gue tahu."