
"Apa pun untuk pasangan yang manis ini."
Skylar dan Teon saling melempar senyuman, begitu bahagia rencana baik mereka mendapatkan banyak bantuan dari orang-orang baik.
Senyuman sumringah yang menghiasi wajah rupawan dua sejoli itu nampaknya menarik perhatian para pengunjung toko lain tanpa mereka sadari.
"Bapak benar, mereka adalah pasangan yang sangat manis," puji seorang ibu-ibu pengunjung dengan senyuman merekah. "mereka sepertinya seusia anak sulungku tapi jauh lebih manis seperti sepasang malaikat yang siap menyejukkan pandangan siapa pun yang melihatnya."
Mendapatkan pujian yang begitu tulus yang kali ini membuat dirinya merasa tersentuh, Skylar mengalihkan atensinya kepada wanita paruh baya itu sambil mengangguk santun.
"terima kasih, Ibu. maaf kalau saya dan calon suami saya sedikit berisik."
Wanita sepuh itu tergelak. "tidak, sayang. kalian akan menikah jelas harus mendapatkan cincin kawin yang terbaik, bukan? Ibu juga dulu begitu, memilih dengan begitu teliti dengan harapan kalau cincinnya bisa dipakai sampai tua nanti."
Teon terkekeh kalem. "Ibu benar, kami tentu menginginkan cincin kawin yang bisa sama-sama pakai hingga menua bersama nantinya."
"Lihatlah, mereka sungguh manis. Ibu doakan pernikahan kalian langgeng hingga maut yang hanya bisa memisahkan."
"Amin... terima kasih sekali lagi," Teon dan Skylar menyahut berbarengan dengan semangat.
Setelah memutuskan untuk membeli cincin pilihan mereka tadi, Teon lantas kembali mengedarkan pandangannya pada etalase kaca berisi beragam cincin dengan gaya yang berbeda-beda tersebut.
"Kalau untuk cincin tunangan, kamu mau yang mana?" tanya Teon kepada Skylar.
"Beli saja cincin yang tidak begitu banyak pernak-pernik, toh kita tidak akan memakai cincin itu dalam waktu yang lama," jawab Skylar realistis, memperhatikan deretan cincin couple di etalase kaca yang berbeda.
Teon menunjuk salah satu cincin di tengah etalase dengan telunjuknya. "bagaimana kalau yang itu? sepertinya sangat cocok jika jari mungilmu memakainya."
"Apakah sungguh akan bagus?"
Teon mengangguk mantap. "ya, saya juga menyukai desainnya yang sangat minimalis namun tak melunturkan kesan anggun. Pak, apa boleh kami mencoba cincin yang itu?"
__ADS_1
"Tentu."
Sang owner menyerahkan cincin berbahan emas dua puluh empat karat itu kepada Skylar.
Skylar menerima cincinnya dengan hati-hati.
"ya, kurasa cincin ini memang sangat bagus. aku juga menyukainya. Apa cincin ini juga memiliki pasangan, Pak?"
"tentu saja, setiap cincin di toko ini memiliki versi pria dan wanitanya. dan yang ini adalah versi pria dari cincin yang ada di tanganmu."
Skylar lagi-lagi dibuat terkesima dengan produk ciptaan toko ini yang selalu saja lain dari pada yang lain, tak pernah gagal membuat Skylar merasa puas sejak dulu.
"Cincinnya sangat cantik sesuai dengan yang kami cari. baiklah, kami ambil dua pasang ini ya, Pak," putus Teon yang langsung mengeluarkan kartu kredit hitamnya.
"Apa benar seorang dosen bisa memiliki kartu itu?" cibir Skylar yang meragukan sumber kekayaan calon suaminya yang agak berlebihan menurutnya itu.
"Ingatlah bahwa saya sudah mendapatkan gelar magister bahkan saat kamu baru menyelesaikan setengah dari pendidikan sarjanamu," balas Teon.
Semua orang agaknya tahu kalau Teon memiliki otak kelewat encer itu mengumpulkan pundi-pundi uang itu berkat kerja keras dipadukan dengan otaknya yang brilian. Tak heran, dia sudah kaya raya bahkan di usia yang masih terbilang sangat muda disaat semua pria seusianya bahkan baru mendapatkan pekerjaan setelah bersusah payah untuk lulus kuliah. Tidak hanya mengandalkan kecerdasan dan kerja keras, Teon juga memiliki kharisma yang begitu kuat serta mengikat hingga beberapa universitas swasta bahkan ikut menawarkan gaji yang tinggi untuk merekrut Teon sebagai dosen di kampus mereka.
"Aku memang tidak sepintar dirimu," ketus Skylar yang merasa kalah. Jelas, dia bahkan tak mampu menyelesaikan kuliahnya dalam waktu sesingkat Teon yang membuat Skylar merasa dirinya benar-benar bodoh dan hanya bisa menghabiskan uang Papa Lucas untuk biaya kuliah kedokteran yang tidak murah itu.
Teon menerima kartu kredit hitamnya dan dua paper bag kecil berisi cincin milik mereka dari sang owner toko dengan senyuman penuh.
"Lupakanlah itu, saya akan bertanggung jawab dan membuat kamu lulus dengan nilai yang menjulang seperti gedung pencakar langit," bisik Teon dengan suara rendahnya.
Oh, tidak!
Skylar merasa jantungnya menggila seolah siap meloncat keluar kapan saja. Dia jadi berpikir ulang apakah menikahi pria itu adalah pilihan yang benar-benar tepat atau tidak --karena tentu saja pesona Teon yang sangat berlebihan ini akan tidak baik untuk kesehatan.
"Terima kasih ya, Pak," ucap Skylar dengan suara yang ia buat senormal mungkin.
__ADS_1
"Sama-sama. tolong sampaikan salam saya pada Pak Lucas, katakanlah padanya kalau saya akan membeli berlian lagi dalam waktu dekat."
...****...
"Sejak tadi aku penasaran apa isi dari paper bag ini," kata Skylar sambil membuka paper bag yang diberikan oleh Teon tadi siang.
Teon melirik Skylar sekilas lalu kembali fokus pada kemudinya. "itu akan memperbaiki mood kamu dan kamu akan sangat menyukainya."
Skylar yang makin penasaran langsung saja membuka paper bag berwarna rose gold itu dengan perlahan hingga sepersekian detik berikutnya sepasang manik indah miliknya dibuat melebar karena begitu senang telah mendapatkan kudapan manis yang selama ini ingin sekali ia santap. Ya, apa lagi kalau bukan coklat Belgia yang sangat nikmat sekaligus eksklusif itu?
"Bagaimana bisa mas mendapatkan coklat Belgia yang langka ini?" tanya Skylar dengan mata berbinar-binar, begitu bahagia mendapatkan coklat kenikmatannya itu tiada tara.
"Bukan soal penting. kamu harus memakannya, belakangan sepertinya kamu merasa stress hingga mempengaruhi mood kamu," seloroh Teon.
Skylar tersenyum bahagia, hatinya terasa begitu hangat merasa begitu dicintai dan dimengerti oleh Teon membuatnya jadi terharu.
Gadis itu membuka bungkus coklatnya perlahan dalam diam berusaha mengendalikan dirinya agar tidak menangis karena merasa sangat bahagia.
"Terima kasih..."
Suara Skylar yang mulai bergetar membuat Teon yang super peka itu lantas menepikan mobilnya untuk memastikan bahwa sang terkasih baik-baik saja.
"Hey, apa yang terjadi?" tanya Teon lembut, melukiskan begitu jelas kekhawatiran di air mukanya membuat tangis Skylar semakin menjadi.
"Setelah kehadiran kamu dalam hidupku, ada begitu banyak perubahan positif yang aku rasakan. terima kasih banyak, aku tidak peduli meski pun aku harus mengatakannya sebanyak satu juta kali. aku merasa sangat bahagia," ungkap Skylar sambil terus berusaha menyeka air matanya menggunakan punggung tangan.
Teon tersenyum tipis. "semua itu bukanlah hal yang harus kamu balas dengan kalimat terima kasih."
"Lalu aku harus bagaimana untuk membalas semuanya?"
"Hanya satu permintaanku. tetaplah di sisiku dengan sepenuh cintamu untukku selamanya, Wendelline Skylar."
__ADS_1
Skylar tanpa membalas perkataan Teon langsung menghambur ke dalam pelukan Teon.
"tolong cintai aku sepenuh hatimu, mulai detik ini hingga maut memisahkan kita nanti, Teon Tirdianata."