Skylar Dan Sang Dosen

Skylar Dan Sang Dosen
44


__ADS_3

"Dengan begini, Teon dan Skylar sudah resmi bertunangan. mari turut berbahagia untuk pasangan kita yang sangat mesra ini."


Ucapan sang pembawa acara disambut tepuk tangan meriah dari para hadirin, beberapa juga sibuk mengabadikan momen ini dengan kamera ponsel masing-masing.


Para fotografer serta videografer juga nampak sibuk dengan peralatan mereka masing-masing untuk mendapatkan hasil gambar dan rekaman terbaik di momen yang sangat berharga ini.


Alunan musik romantis juga dimainkan dengan begitu apik oleh band akustik yang sengaja dipilih oleh Teon dan Skylar untuk menghidupkan suasana.


Skylar dan Teon mengangkat tangan kiri mereka, menunjukkan cincin pertunangan yang telah tersemat di masing-masing jari manis mereka dengan senyuman merekah, terlihat begitu bahagia membuat tamu undangan juga turut merasakan kebahagiaan manis yang memenuhi hati keduanya.


Mereka bagaikan sepasang raja dan ratu muda dari negeri dongeng, sungguh menawan setiap mata yang memandang keduanya.


Confetti serta balon berwarna biru muda dan putih kemudian dilepaskan oleh pihak vendor dekorasi, membuat suasana semakin meriah.


Sambil bergandengan tangan, Teon dan Skylar akhirnya turun dari panggung dengan senyuman yang belum juga memudar.


Setelah semua rangkaian acara selesai, para tamu undangan diarahkan untuk menikmati santap siang bersama-sama. Hidangan khas Indonesia serta berbagai jenis makanan berat khas Tiongkok juga nampak tersaji dengan begitu lezat membuat Teon jadi penasaran ingin menikmatinya juga.


Mulai dari olahan seafood hingga daging, semuanya tersedia membuat nafsu makan para tamu undangan semakin tergugah.


"Halo, Jeno. ternyata kamu sangat tampan akhirnya kita bisa ketemu langsung," puji Skylar kepada Jeno usai mengambilkan Chinese food untuk Teon dari meja prasmanan.


Mendengar pujian yang begitu manis dari calon kakak iparnya, Jeno jadi tersipu.


"terima kasih, Kak. Jeno merasa sangat tersanjung bisa bertemu dengan kakak secara langsung."


Skylar tersenyum lebar, mengangguk kemudian.

__ADS_1


Dia merasa begitu kagum bahwa Teon sekeluarga memang memiliki visual yang luar biasa --bahkan Bunda yang sudah berusia lebih dari setengah abad masih nampak begitu menawan dalam balutan hijab serta pakaian senada dengan Teon dan Jeno.


"Bagaimana dengan kuliahmu?" tanya Skylar sekali lagi pada Jeno, kedua nampak sama-sama nyaman berinteraksi satu sama lain membuat Teon mendecak tak suka.


"Tentunya lancar. andai waktu itu aku menuruti saran Abang untuk masuk di universitas yang sama dengan Kakak pasti akan lebih menyenangkan," balas Jeno yang sudah menangkap basah wajah cemburu Teon.


Kapan lagi bisa membuat Teon kesal? pikir Jeno dengan senyum jahil yang terpatri jelas di wajahnya.


"Oh, begitukah? sayang sekali. kalau kita satu kampus pasti akan lebih sering ketemu."


Wajah Teon yang sudah terlihat sangat muram membuat Bunda dan Papa Lucas terkekeh geli.


"Apakah kalian tidak sadar, ditengah perbincangan hangat antara adik dan kakak yang hangat ini ada seseorang yang terbakar api cemburu?" pancing Papa Lucas sambil tergelak halus.


Bunda mengangguk penuh semangat.


Semua orang tertawa, namun Teon hanya bisa tersenyum masam.


"Ayolah, ini adalah hari pertunangan kami kenapa kalian malah mengolok-olok saya? setidaknya berikan ucapan selamat kalian," ucap Teon sebal seraya menaruh piring kosongnya di keranjang khusus piring kotor yang semakin membuat orang-orang tertawa.


Ya, mereka pikir kapan lagi bisa mengerjai seorang Teon Tirdianata kalau bukan sekarang?


...****...


Ponsel Jeffrey yang terus bergetar sejak tadi membuat sang pemuda terbangun dari tidurnya. Sepasang kelopak mata Jeffrey menyerjap cepat, membiasakan cahaya yang masuk ke dalam matanya agar tidak silau.


"Argh..." Jeffrey memegang bagian belakang kepalanya, merasakan pening yang luar biasa.

__ADS_1


Jemari besarnya memijat perlahan keningnya, berupaya mengusir rasa sakit yang menghinggapi kepalanya itu. Aroma khas minuman beralkohol menyapa indera penciuman Jeffrey membuat kesadarannya kembali pulih sepenuhnya.


"Mungkin ini karena gue terlalu banyak minum," gumamnya seraya berusaha bangkit dari kasur king size hotel berbintang itu dengan susah payah.


Dengan langkah sempoyongan, Jeffrey meraih gelas dan mengisinya dengan air mineral dingin dari kulkas.


Pria jangkung itu lantas mengambil posisi duduk menghadap jendela dengan segelas air putih di tangannya, memandang lurus ke luar jendela kamar hotel mewah itu berusaha memikirkan kembali hal-hal yang belakangan ini ia lakukan karena belum sepenuhnya dapat menerima kenyataan bahwa Skylar tidak mencintai dirinya dan malah memilih Teon sang dosen.


Jeffrey menarik napasnya dalam-dalam, menyadari bahwa tindakan yang ia pilih selama ini sangatlah kekanak-kanakan terlebih dia sampai masuk ke jurang kelam dunia malam.


"Seharusnya dari awal gue nggak begitu, ngapain gue harus buang-buang uang cuma buat kesenangan sesaat kayak gini."


Hubungannya dan Ririn pun sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Skylar, berjalan dengan sangat toksik dimana sang wanita selalu bersikap keras kepala serta hanya mau menang sendiri membuat Jeffrey akhirnya malah semakin frustasi alih-alih merasa bahagia.


Walau dalam keadaan setengah sadar, Jeffrey semalam mengeluarkan semua isi hatinya kepada Ririn namun wanita itu tetap tidak mau mengalah membuat Jeffrey memutuskan untuk pergi dari hubungan toksik itu. Sungguh, dia sudah benar-benar tidak tahan dan ingin kembali ke kehidupan lamanya yang begitu santai dan bahagia dengan canda tawa bersama sahabatnya yang selalu memberikan dampak positif.


Jeffrey menenggak habis air putih dalam gelasnya, meraih ponselnya untuk melihat apa yang sejak tadi membuat ponselnya itu terus bergetar.


Jemari Jeffrey dengan cepat mengakses aplikasi pesan singkat, mendapati grup obrolan yang beranggotakan dirinya dan para sahabat telah penuh dengan foto-foto cantik Skylar berdampingan dengan Teon lengkap dengan cincin pertunangan yang melingkar indah di jari manis lentik milik sang gadis.


"Cantik banget, kok gue dengan begonya malah milih minum sampai mabuk berat dari pada liat acara pertunangan Skylar ya," ratap Jeffrey dengan sorot mata sendu.


Para peserta grup juga terus menanyakan keberadaan Jeffrey sejak tadi pagi, namun Jeffrey malah belum sadarkan diri akibat terlalu banyak minum semalam. Pria itu semakin menyesal namun tak dapat melakukan banyak hal, dia hanya bisa melihat-lihat foto kiriman dari sahabat-sahabatnya yang hadir di acara pertunangan Skylar dan Teon tadi.


Lembayung senja yang telah mendominasi langit sore itu malah membuat hati Jeffrey terasa semakin kelabu, sedih untuk dua hal yang berbeda.


Namun apa mau dikata, tak ada lagi yang dapat Jeffrey lakukan selain berdamai dengan keadaan kini walau pun rasanya menyakitkan.

__ADS_1


"Andai dulu gue lebih berani buat bilang semuanya sama Skylar, tapi sekarang nggak ada hal lain yang bisa gue lakukan selain menerima kenyataan ini dengan lapang dada."


__ADS_2