
Decakan sebal entah sudah berapa kali keluar dari bibir tipis Skylar yang kini tengah duduk di atas kap mobil Teon, menunggu sang empunya yang dari tadi bilang kalau ia akan keluar sebentar lagi --walau pada kenyataannya gadis itu telah menunggu nyaris satu jam lamanya.
"Apa dia tidur di ruangan dekan?" rutuk Skylar dengan sorot mata menajam, mengarah kepada gedung utama universitas.
"Hai gadis kecil, apa yang kau lakukan di depan mobil calon suamiku?" tanya Ririn dengan nada mengejek yang entah dari mana wanita itu datang.
Skylar bersedekap dengan seulas senyum merendahkan, oh, betul sekali saat ini dia butuh seseorang untuk melampiaskan emosinya kali ini.
"Ada perlu apa seorang ****** datang ke tempat terhormat seperti ini? untuk merebut calon suamiku? hahaha ayolah mohon bercermin terlebih dahulu!" balas Skylar satir.
"Sebenarnya itu tujuan utamaku, tapi sebelum itu aku harus menyampaikan berita menarik untukmu," kata Ririn sambil menunjukkan ponselnya.
Alis kiri Skylar naik ke atas namun ia dapat langsung mengerti maksud dari perkataan Ririn.
"Kau mengencani sahabatku dengan cara yang sangat kotor, wanita tua."
Walau Skylar merasa hatinya cukup perih tatkala melihat foto yang Ririn tunjukkan barusan namun gadis itu masih bisa mengulum bibirnya membentuk senyuman dingin berusaha menjatuhkan mental Ririn.
"Jika kau pikir dengan cara menjauhkan Jeffrey dariku maka kau bisa dengan leluasa masuk ke dalam kehidupanku itu bukanlah langkah yang bijak. kau sudah tua, ayolah gunakan akalmu sedikit jangan tunjukkan padaku kalau kau itu bodoh," komentar Skylar dengan begitu pedas, membuat Ririn tak menyangka kalau ia akan mendengar perkataan penuh sarkasme dari gadis yang nampak begitu anggun dari Skylar.
"Tak kusangka ternyata Teon hanya memilihmu karena penampilan fisikmu," komentar Ririn dengan tatapan mengejek.
Mendengar hal itu darah Skylar mendidih --baru kali ini ada orang yang berani menjelekkan harga dirinya seperti itu membuat Skylar tidak terima.
Skylar tertawa sarkas. "lalu, apa kau punya kelebihan yang bisa melampaui diriku?"
Bingo! Ririn langsung terdiam dengan wajah merah padam membuat senyuman puas terukir di wajah cantik milik Skylar.
__ADS_1
"Kalau secara fisik kau tidak lebih cantik dariku maka cobalah perbaiki sikapmu. Jeffrey mau berkencan denganmu itu hanya karena dia tak mampu mendapatkan hatiku itu saja. jadi jangan merasa di atas angin dulu ya, kau hanya tinggal menunggu waktu kapan Jeffrey akan bosan lalu mencampakkan dirimu," tutur Skylar santai tanpa ekspresi. Dia yakin betul, Jeffrey tidak akan berkencan lebih lama dengan Ririn setelah tahu belang dari wanita itu.
Suasana lapangan parkir siang itu terasa sangat panas karena emosi Skylar yang sudah memuncak, namun ia berusaha meluapkannya secara elegan tak mau jika emosi sesaat merusak citra baik yang selama ini ia bentuk dengan susah payah.
Seluruh mahasiswa universitas ini mengenal Skylar sebagai gadis yang cantik dengan citra dingin dan elegan, ia mana mau image itu rusak hanya karena seorang perempuan murahan seperti Ririn.
"Oh, kenapa kau sangat sombong?" tantang Ririn sambil menatap Skylar tajam.
"Aku adalah Wendelline Skylar Wong, putri tunggal dari Lucas Wong yang merupakan investor utama perusahaan ayahmu kalau kau mau tahu. jadi jika kau masih mau makan besok, tolong jangan berani mengusik hidupku," Skylar balas menantang dengan sengit, sebuah bocoran dari Papa Lucas yang ternyata sangat berguna.
Manik tajam Skylar memandang Ririn lurus, seolah siap mencabik-cabik wanita itu kapan saja.
"jika kau berani mengganggu aku satu kali lagi, aku akan pastikan ayahmu akan kehilangan semua asetnya termasuk rumah yang kalian tempati. kau paham bukan? ah, kurasa orang yang tak berpendidikan juga paham apa yang aku katakan."
"Sekarang minggir, kau adalah sampah masyarakat yang merusak pandanganku," cerca Skylar sembari menabrak bahu Ririn, melenggang pergi menuju gedung utama universitas.
"Dasar ******!" umpat Ririn dengan berteriak kepada Skylar.
Ririn sungguh tidak menyangka kalau gadis yang dia anggap sebagai anak kecil polos itu ternyata adalah anak yang paling dia dan keluarganya segani sejak kecil. Kali ini dia benar-benar salah memilih lawan membuat Ririn jadi bimbang sendiri harus menuntaskan rencananya tersebut atau tidak.
...****...
"Jeffrey!" panggil Skylar saat mendapati sebuah punggung lebar yang begitu familiar berjalan beberapa puluh meter darinya.
Sang pemilik nama kontan menoleh, menghentikan langkahnya menunggu Skylar yang tengah berlari kecil ke arahnya itu tiba di sisinya.
"Gue mau ngucapin selamat," ucap Skylar, menatap Jeffrey serius.
__ADS_1
"Selamat buat apa nih?" tanya Jeffrey.
"Gue tahu kalau belakangan ini lo sering pergi ke club," kata Skylar tanpa merubah arah pandangannya, "gue juga tahu kalau sekarang lo lagi pacaran sama salah satu cewek yang lo kenal dari sana."
Skylar menghela, mengusap lembut rahang tegas milik Jeffrey. "gue nggak melarang lo buat melakukan apa pun yang lo suka. tapi gue cuma mau kasih tahu kalau perempuan yang sekarang lo pacarin itu bukan perempuan baik, Jeff."
Koridor fakultas kedokteran yang sudah sepi sore itu membuat Jeffrey lantas merengkuh tubuh mungil milik Skylar erat-erat.
Suara isakan terdengar, menyapa indera pendengaran Skylar yang kini dilanda kebingungan mencari sebab mengapa Jeffrey malah menangis.
"Gue tahu wanita terbaik yang gue kenal itu lo, Wendelline Skylar. gue sayang banget sama lo dari dulu dan sampai detik ini pun perasaan itu nggak pernah berubah. maafin gue yang selama ini egois mempertahankan perasaan itu tanpa sadar siapa diri gue ini," tutur Jeffrey yang sekali lagi membuat Skylar bingung.
"Bukannya selama ini kita sahabat dan lo nggak pernah kasih tahu gue soal perasaan itu ke gue?!"
Skylar yang berada dalam rengkuhan Jeffrey kini tak bisa berbuat banyak. Hanya kebingungan yang memenuhi benaknya, tak tahu harus bersikap bagaimana kali ini. Skylar sungguh tak menyangka kalau segala hal yang selama ini dia anggap sebagai candaan itu malah merupakan perasaan Jeffrey yang sebenarnya terhadap dirinya.
"Iya, dan gue nggak mau merusak itu. gue bahagia dulu lo bahagia sama Darrel meski pun di sisi lain hati gue rasanya sakit banget tapi gue berusaha buat berdamai sama keadaan itu sampai akhirnya gue malah terbiasa. gue pikir perasaan itu bakalan hilang tapi itu salah, Sky, gue tetap aja sayang banget sama lo melebihi diri gue sendiri."
Skylar tercenung mendengar semua hal mengejutkan yang dibeberkan oleh Jeffrey itu. sang gadis hanya mematung meski Jeffrey sudah melepaskan pelukannya.
"Sekarang atau sampai kapan pun itu gue bakalan tetap jadi sahabat lo, Sky. tolong bahagia ya, gue udah nggak mau lihat lo nangis begini."
"Gue harus gimana, Jeff?!"
"Lo harus bahagia, Wendelline Skylar, udah titik."
Lembayung jingga sore ini menjadi saksi bisu betapa berat dan perihnya cinta bertepuk sebelah tangan yang selama ini Jeffrey pendam rapat-rapat seorang diri.
__ADS_1
Seorang Jeffrey yang telah bertahun-tahun menjadi sahabat Skylar kini adalah pria yang tengah menyatakan perasaannya dengan sungguh-sungguh penuh kejujuran.
"Gue nggak punya kesempatan yang banyak buat bahagiain lo, tapi gue yakin Pak Teon yang udah menjadi pilihan terakhir lo bakalan mampu melakukannya."