Skylar Dan Sang Dosen

Skylar Dan Sang Dosen
56


__ADS_3

"Menikah adalah perihal saling menerima, nak. Papa yakin Teon malah bahagia punya istri yang bisa menemaninya bermain game nanti," Papa Lucas menyahut santai sambil terus berharap dalam hati semoga pernikahan anaknya kelak bisa berjalan dalam perlindungan Tuhan selalu.


Skylar tersenyum. "iya semoga ya, Pa."


Skylar kembali melanjutkan gamenya dengan sang Papa sebagai suporternya membuat permainan mereka terlihat sangat seru. Bi Odah yang datang dari dapur untuk membawakan jus mangga pun tersenyum senang melihat kekompakan pasangan Ayah dan Anak yang begitu menyejukkan hati tersebut.


"Tuan, Non, ini jusnya. ada lagi yang mau ditambah? biar saya ambilkan," tawar Bi Odah usai mendudukkan nampan berisi pitcher jus mangga serta tiga buah gelas.


"Tolong ambilkan butter cookies dua toples ya Bibi, Teon mau datang sebentar lagi," sahut Skylar, menjeda gamenya agar bisa melihat ke arah Bi Odah.


Walau sibuk Papa Lucas dapat dikatakan sukses mendidik Skylar dengan baik terbukti dengan sikap Skylar yang selalu dapat menghargai lawan bicara dengan sangat baik siapa pun itu. Sejak kecil Skylar memang selalu ditekankan oleh Papa Lucas untuk dapat menghargai orang lain tanpa memandang status sosial mereka yang kini justru menjadi nilai tambah bagi Skylar di mata banyak orang. Selain fisiknya yang luar biasa cantik, Skylar juga dibekali dengan kepribadian yang menarik serta santun.


Bi Odah menyahut santun. "tunggu sebentar ya, Non. akan Bibi ambilkan."


Wanita paruh baya itu melenggang pergi kembali ke dapur guna mengambil pesanan Skylar.


"Assalamualaikum!"


Dari pintu utama terdengar suara Teon menguar, membuat Skylar tergopoh-gopoh menghampiri pintu.


"Waalaikumsalam," Skylar menyahut sambil membuka pintu.


Pintu rumah keluarga Wong dibuka lebar-lebar oleh Skylar, membiarkan calon suaminya itu masuk ke dalam dan betapa terkejutnya Teon saat tahu semua barang berkaitan dengan game yang baru saja dibeli oleh calon istri serta mertuanya itu ternyata sangat banyak serta mahal.


Ya ampun, Papa Lucas ternyata tidak tanggung-tanggung dalam memanjakan anaknya.


"Bagaimana kabar Papa?" Teon menyalami tangan Papa Lucas, lalu mengambil posisi duduk bersebelahan dengan beliau.


"Baik seperti kelihatannya," Papa Lucas tersenyum tipis. "Apa pengajuan cuti kamu sudah mendapat persetujuan?"


"Merupakan kabar baik, Papa. saya berhasil mendapatkan cuti menikah selama dua minggu lebih dari yang saya ajukan," balas Teon kepada Papa Lucas.

__ADS_1


"Asyik, kalau begitu kita bisa bulan madu ke luar kota ya, Mas?" timpal Skylar dengan senyum penuh.


"Tentu, sayang. dua minggu waktu yang cukup banyak untuk kita habiskan berdua."


Papa Lucas terkekeh mendengar jawaban Teon, ia jadi teringat saat masih menjadi pengantin baru dengan Mama Nina puluhan tahun yang lalu --mereka sama mesranya dulu seperti Teon dan Skylar kini.


"Apa Papa perlu menyewa kapal pesiar untuk kalian?" ledek Papa Lucas.


Sepasang calon pengantin itu tertawa renyah, sepertinya setuju dengan saran setengah meledek dari sang Papa.


"Boleh juga, berlayar selama tiga hari sepertinya akan menyenangkan," timpal Skylar masih diselingi dengan tawa.


Ketiganya terlihat begitu bahagia bertukar cerita dan tawa, dua orang yang berada jauh dari mereka merasa sangat bahagia melihatnya.


"Sepertinya skenario yang kita atur berjalan dengan sangat lancar ya, Nyonya Wong."


"Suatu kebahagiaan bisa mendapatkan anak sulung anda sebagai menantu saya, Tuan Tirdianata. Saya harap pernikahan mereka selalu berjalan dengan penuh kasih sayang seperti harapan suami saya setiap harinya."


Hari pernikahan Teon dan Skylar yang kini tinggal menghitung hari membuat semua orang yang terlibat dalam acara besar itu menjadi super sibuk tak terkecuali kedua calon mempelai yang turut sibuk kesana kemari untuk melakukan berbagai pengecekan untuk memastikan acara mereka benar-benar dapat terlaksana dengan nyaman serta khidmat di hari H.


Saat ini Teon dan Skylar sedang berada di grand ballroom mewah tempat acara resepsi pernikahan mereka akan digelar. Pihak vendor dekorasi serta pihak venue terlihat amat sibuk bekerja sama guna memenuhi konsep internasional bernuansa broken white dengan aksen gold sesuai keinginan kedua calon pengantin agar bisa memuaskan ekspektasi keduanya dengan baik.


"Hati-hati ya, Pak," peringat Skylar kepada seorang pria paruh baya yang sedang mengangkut beberapa bagian dari sound system menggunakan gerobak besi.


"Siap, Nona Wong," balas pria tua itu dengan segaris senyum hangat khas seorang ayah yang sontak membuatnya teringat pada Papa Lucas.


"Bapak kenapa angkat ini sendiri? ini berat loh, Pak. saya khawatir bapak jadi cedera," ungkap Skylar sambil berjalan mendekati pria paruh baya berpakaian cukup kumal itu.


Menyadari Skylar bergeser dari tempatnya, Teon memilih untuk tetap berada di tempat semula sambil memperhatikan interaksi sang calon istri dengan pria tua itu.


Bapak tua itu menghela. "mau bagaimana lagi, Nona Wong. ini adalah satu-satunya kesempatan bagi saya untuk mendapatkan uang lebih banyak dari pada biasanya."

__ADS_1


Skylar lantas semakin penasaran. "memangnya sehari-hari bapak kerjanya apa?"


"Pemulung, Nona Wong. sungguh saya sangat bersyukur bisa sedikit membantu bekerja di sini sebagai kuli angkut agar istri saya bisa makan enak selama beberapa hari ke depan."


Skylar tercenung, hatinya terenyuh melihat kerja keras pria itu demi membuat istrinya bisa makan dengan nikmat. Ia merasa sangat tersentuh hingga air mata menggenangi kedua pelupuk matanya.


"Sebagian tubuh istri saya lumpuh, Nona. dia sudah tidak bisa memasak seperti dulu lagi."


Cepat-cepat Skylar menghapus bulir air matanya yang mulai merembes keluar dari matanya.


"kalau bekerja sebagai kuli berapa banyak uang yang Bapak dapatkan?"


"Satu harinya tujuh puluh ribu, Nona."


Teon yang menyadari arah pembicaraan Skylar lantas tersenyum, merasa begitu bangga akan kebaikan hati gadis itu yang bahkan tak pernah ragu membantu rakyat kecil. Dia lalu menghampiri Skylar dan si Bapak tua.


"Khusus untuk hari ini Bapak mendapatkan gaji satu juta dari saya dan Skylar ya, Pak. Belikanlah semua makanan enak yang Ibu sukai," kata Teon tiba-tiba sambil menaruh amplop coklat berisi uang tunai di atas telapak tangan si Bapak.


Skylar tak kuasa menahan tangisnya tatkala Bapak tua itu melakukan sujud syukur di hadapan mereka berdua sambil tak hentinya mengucapkan syukur. Seketika Skylar merasa sangat kecil, dia yang selama ini hidup dalam gelimang harta bahkan tak pernah sempat hanya untuk bersyukur atas semua yang ada dalam genggamannya.


"Terima kasih banyak Nona Wong dan Tuan Tirdianata," ucap si Bapak sambil beberapa kali membungkuk, begitu berterima kasih.


Teon hanya mengangguk sambil tersenyum tulus, begitu bahagia bisa sedikit mengulurkan tangannya pada orang yang tepat.


"semoga bermanfaat ya, Pak."


"Kalau begitu saya akan bekerja lebih keras supaya istri saya bisa terus makan enak dan segera sembuh."


"Tetap bekerja dengan hati-hati ya, Pak."


"Baiklah Nona Wong. kalau begitu saya lanjutkan pekerjaan dulu, mari."

__ADS_1


Skylar memandang punggung ringkih pria tua itu perlahan menjauh sembari mendorong gerobak berisi beban yang tidak ringan itu dengan penuh semangat. Dalam hati dia terus bersyukur dan berterima kasih kepada Tuhan atas semua kenikmatan yang telah ia miliki.


__ADS_2