Skylar Dan Sang Dosen

Skylar Dan Sang Dosen
49


__ADS_3

Tangis Skylar tersedu-sedu, semakin menjadi setelah mendengar penjelasan dari dokter mengenai kondisi kesehatan Teon yang cukup darurat serta membutuhkan donor darah segera.


Semua orang tertunduk lesu mengingat golongan darah B- merupakan jenis golongan darah yang paling langka, tidak semudah itu untuk ditemukan.


Golongan darah Jeno dan Bunda adalah AB, sementara Teon memiliki golongan darah yang sama dengan mendiang ayahnya.


"Kami sudah menghubungi dinas terkait, tetapi mereka mengatakan tidak memiliki stok golongan darah tersebut," tambah sang dokter.


Hening menyelimuti mereka semua setelahnya, sibuk mencari solusi terbaik dalam diam.


"Kalau begitu ambil darah saya, Dok."


Suara baritone milik Jeffrey menarik atensi semua orang di sana, terutama Skylar yang tak pernah menduga hal itu akan terjadi. Suara itu penuh dengan keyakinan dan tanpa rasa takut sama sekali membuat Skylar kehabisan kata-kata.


"Saya memang tidak bergolongan darah B-, tapi bukankah darah O adalah pendonor universal?"


"Ah, tepat sekali. sebagai seorang calon dokter nampaknya kamu sangat memahami hal itu," puji sang dokter dengan seulas senyum. "kalau begitu mari ikut saya ke ruang pemeriksaan untuk memastikan darah kamu dapat didonorkan kepada pasien."


Jeffrey mengusap puncak kepala Skylar lembut.


"lo nggak usah khawatir, Skylar. stop nangis sekarang mending lo makan. Teon bakalan baik-baik saja kok gue janji."


Namun, bukannya semakin tenang Skylar merasa semakin sedih memandang punggung Jeffrey yang perlahan-lahan menjauh dari pandangannya.


Sungguh, dia laki-laki yang mencintai Skylar tanpa pamrih membuat sang gadis merasa berada di posisi yang sangat tidak nyaman.


Jeffrey dan Dokter akhirnya tiba di ruang pemeriksaan tempat Jeffrey akan melakukan berbagai prosedur kesehatan sebelum dapat melakukan pengambilan darah untuk di donorkan.


Hati pria itu sangat sakit melihat Skylar terus menangis penuh sesal hingga akhirnya ia memutuskan untuk mengambil langkah ini.


"Mari kita mulai pemeriksaannya, Tuan Muda."


"Tolong lakukanlah yang terbaik."


...****...


Sepasang netra jernih milik Skylar memandang kosong ke arah taman rumah sakit, memperhatikan sepasang anak kecil yang nampak asyik bercanda walau tangan mereka tertancap selang infus.


Entah sudah berapa jam berlalu, ia belum juga mendengar berita baik mengenai Teon meskipun sudah mendapatkan donor darah dari Jeffrey.

__ADS_1


Gadis itu bahkan tak sanggup mengucapkan terima kasih kepada Jeffrey karena telah mau mendonorkan darahnya untuk pria yang Skylar cintai, sungguh bukan sebuah tindakan yang mau dilakukan oleh sembarang orang.


Helaan napas berat Skylar menguar, berusaha memperbaiki siklus pernapasannya yang sejak tadi terganggu sebab terlalu banyak menangis.


"Kenapa selalu aku yang membuat orang-orang kesulitan seperti ini?" gumamnya penuh sesal.


Semilir angin yang berhembus menyapa helaian rambut dan kulit Skylar pun seolah tak ia gubris, sibuk dengan pikirannya sendiri terbawa dalam jurang penyesalan yang terasa tak berdasar itu.


Semuanya terjadi dengan begitu cepat, tanpa bisa Skylar hindari.


"Kakak cantik kenapa melamun?"


Sebuah suara cempreng khas anak perempuan memecah lamunan Skylar, membuatnya sontak menolehkan pandangannya ke sisi kiri tubuhnya dan mendapati sepasang anak kecil yang ia amati tadi sudah ada di sana.


"Kakak tidak melamun," dalih Skylar cepat.


"Sepertinya kakak memikirkan sesuatu," timpal sang bocah laki-laki. "ngomong-ngomong, kakak cantik sekali seperti boneka!"


"Terima kasih," balas Skylar sambil tersenyum.


"lalu, boleh kakak tahu siapa nama kalian?"


"Kalian sepertinya akrab sekali ya, kakak suka melihatnya."


Daffa mengangguk. "iya, kak! kami berdua sama-sama pasien tetap rumah sakit ini jadi tentunya harus akur. bukan begitu, Rani?"


Mendengar penuturan Daffa yang sangat riang, Skylar jadi semakin terenyuh. Pasien tetap biasanya merujuk pada orang-orang yang mengalami penyakit parah yang sukar untuk disembuhkan tetapi bagaimana bisa mereka tertawa dengan begitu lepas seperti tidak memiliki sedikit pun beban?


"Aku dan Daffa mengalami penyakit yang sama, kak. kami berdua adalah pejuang kanker," jelas Rani santai seolah sedang memamerkan mainan barunya pada Skylar.


"Kalian anak-anak yang hebat. kakak yakin kalian akan segera sembuh," kata Skylar dengan suara bergetar, dia hampir menangis lagi setelah tahu bahwa tebakannya benar.


Daffa, "Amin, tetapi kami sungguh tidak apa-apa kakak jangan menangis!"


Rani menyeka air mata Skylar dengan kedua ibu jarinya. "malaikat tidak boleh menangis."


"Doakan kakak agar bisa lulus kuliah dan menjadi dokter ya, adik-adik yang manis," ucap Skylar disisipi senyum.


"Kakak calon dokter? wah, itu hebat sekali! semoga kakak bisa segera lulus dan jadi dokter di sini ya!"

__ADS_1


Melihat dua bocah itu tetap begitu bahagia walau dalam tubuh mereka bersarang penyakit yang mematikan membuat Skylar lagi-lagi merasa selama ini kurang bersyukur menjalani hidupnya yang sangat layak bahkan ia hampir tak pernah merasakan kekurangan satu apa pun.


"Kakak akan berusaha semaksimal mungkin, siapa tahu kakak bisa membantu kalian agar bisa segera sembuh," balas Skylar.


"Kemarin siang aku lihat kakak dibawa ke UGD, apa yang terjadi?" kulik Rani.


"Kakak dan calon suami kakak mengalami kecelakaan tunggal. seperti yang kalian lihat, kakak harus berjalan menggunakan tongkat selama beberapa waktu sementara calon suami kakak belum siuman," terang Skylar.


"Kakak pasti sangat mencemaskannya, lihat mata kakak sampai sembab begitu," ucap Daffa.


"Tentu saja, terlebih kami akan menikah dalam waktu dekat," Skylar menunjukkan foto pertunangannya dengan Teon. "dia calon suamiku, pria yang sangat aku cintai."


"Ah, lihat! mereka sangat cantik dan tampan!"


"Betul, serasi sekali!"


"Siapa yang kalian bicarakan?"


Skylar menggulirkan sepasang netranya, mendapati Teon yang sudah berdiri disampingnya dengan senyuman menawan meski kepalanya masih terbalut dengan perban tebal.


"Mas sudah siuman?"


"Alhamdulillah ini sudah bisa jalan-jalan cariin kamu," tukas Teon, berpegangan pada tiang infusnya. "tapi aku masih harus dirawat di sini sampai besok."


"Tidak masalah, yang penting kamu harus sembuh secara total dulu ya, mas."


Teon mengangguk dengan senyuman manis.


"terima kasih sudah memberikan pertolongan pertama dengan sangat baik, sayang."


"Hahaha sepertinya sepasang love bird lupa kalau mereka sedang ada di depan anak kecil," sindir Rani dengan kekehan lucu.


"Kurasa begitu, Rani. mereka lupa kalau sedang berada di rumah sakit," timpal Daffa.


"Oh! maafkan saya adik-adik yang manis. saya hanya terlalu bahagia setelah berhasil bertemu kembali dengan calon istri saya," balas Teon membela diri.


"Ayolah, dunia ini memang milik kalian berdua kami hanya menyewa disini," sahut Rani lantas tertawa, memamerkan jajaran gigi kelincinya yang lucu.


"Sepertinya nanti jika punya anak aku ingin punya sepasang seperti mereka," ucap Skylar jujur.

__ADS_1


"Apa?!"


__ADS_2