Skylar Dan Sang Dosen

Skylar Dan Sang Dosen
59


__ADS_3

"Jika aku tidak bisa bahagia, maka kalian tidak boleh bahagia!" ucap sosok itu seraya memandang Skylar dan Teon penuh dendam.


Sosok itu berjalan masuk, melewati orang-orang yang sibuk menikmati pesta serta hidangan yang tersedia sambil bercakap-cakap.


Langkahnya terlihat begitu cepat serta penuh keyakinan menarik atensi Teon yang sedang berada di atas panggung bersama Skylar.


"Sayang?" Teon berbisik memanggil istrinya.


"Ya?"


"Waspadalah selalu, jangan lepaskan tanganku."


Skylar jelas bingung dengan titah sang suami, namun tidak mau ambil pusing. Wanita muda itu lebih memilih untuk langsung menggandeng erat tangan Teon di atas pelaminan sambil duduk bersanding.


"Selamat atas pernikahan kalian."


Oh, mata Skylar sontak membulat kaget.


Bagaimana bisa wanita itu ada di acara resepsi pernikahan mereka? padahal Skylar yakin betul mereka sepakat untuk tidak mengundang wanita itu dengan banyaknya pertimbangan.


"Bagaimana bisa kau ada disini?" Teon bertanya penuh penekanan, semakin memegang erat tangan Skylar.


"Menemani salah seorang kolega yang tidak memiliki pasangan," jawabnya santai.


"Kumohon jangan berbuat kekacauan!" tekan Teon sambil memandang tak suka.


Wanita itu tergeletak. "yang benar saja? aku hanya ingin memberikan kalian kado pernikahan yang menarik."


Wanita itu melangkah lebih dekat kepada Skylar dan Teon dengan seulas senyuman yang diyakini Skylar menyiratkan sesuatu membuatnya semakin waspada. Makin erat Teon memegang tangan istrinya berusaha meyakinkan Skylar bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Wanita itu tersenyum semakin lebar, merogoh tasnya setelah berada di atas panggung bersama Skylar dan Teon.


"Jika aku tidak bisa berada disini sebagai wanita yang Teon nikahi maka kau pantas untuk mati!" teriaknya sekonyong-konyong mengayunkan pisau dari dalam tasnya kepada Skylar.

__ADS_1


Skylar berteriak, Teon mendorongnya ke belakang tubuhnya hingga dirinya jatuh terduduk di kursi pelaminan. Skylar melotot kaget melihat pakaiannya terciprat oleh darah segar yang mengalir deras dari punggung Teon.


Tikaman Ririn meleset dan malah mengenai punggung kiri Teon yang berusaha melindungi Skylar yang menjadi targetnya.


Para tamu undangan yang menyadari keributan itu buru-buru mendekat ke sumber keributan, mengepung Ririn dengan cepat agar wanita itu tidak bisa melarikan diri. Menyadari pisau yang ia ayunkan malah meleset mengenai Teon, dia merasa sangat syok hingga kedua lututnya lemas bahkan sekujur tubuhnya bergetar hebat.


"Syukurlah kamu tidak terluka, sayang..." ucap Teon lemah sambil terus menopang tubuhnya agar tidak jauh menimpa Skylar yang hanya bisa terduduk di kursi pelaminan dengan air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya.


Dengan sigap para tamu undangan mengamankan Ririn menjauh dari kedua mempelai. Air mata Skylar mengalir deras tatkala suaminya jatuh pingsan dalam pelukannya dengan pisau yang masih menancap di punggungnya.


Papa Lucas yang panik langsung menghubungi ambulance sementara Jeno menelpon polisi agar segera bisa mengamankan Ririn yang sedang dikepung oleh teman-teman Skylar dan Teon di sudut ruangan.


"Mas, bangun! Mas Teon, bangun sayang..." rintih Skylar pilu sambil terus mengguncang bahu lebar milik suaminya tetapi sang pria tetap tak bergeming, hanya darahnya saja yang terus mengalir deras dari lukanya.


Skylar tanpa pikir panjang buru-buru mencabut pisau itu dari tubuh Teon, melilit luka suaminya dengan selendang miliknya berharap pertolongan pertamanya bisa mengurangi pendarahan.


Dibantu oleh Jeffrey dan Liam, Skylar berhasil membuat pendarahan pada luka Teon berkurang.


Kedua pria itu mengangguk mengerti, membaringkan Teon dalam posisi telungkup seperti kemauan Skylar.


"Bunda, jaga Teon sebentar ada sesuatu yang harus aku selesaikan sebagai istrinya," ucap Skylar seraya melepaskan sepatu pengantinnya.


Bunda hanya bisa mengangguk lemah dengan berderai air mata, terus berdoa untuk keselamatan putra sulungnya.


"Beraninya kau mengacaukan resepsi pernikahanku!" teriak Skylar murka kepada Ririn yang hanya bisa duduk tak berdaya di atas lantai dalam kepungan teman-teman Skylar serta Teon.


"Kau bahkan tidak lagi pantas hidup!" Skylar berteriak murka sambil melayangkan tamparan keras ke pipi kanan Ririn hingga suaranya terdengar menggema. Semua orang yang ada di dalam ruangan itu hanya bisa menyaksikan apa yang Skylar lakukan dengan penuh emosi dalam tatapan tak percaya bahwa wanita seanggun itu bisa memiliki emosi sebesar ini.


"Jika suamiku sampai tak selamat maka aku akan mengirim kau ke neraka!" Skylar sekali lagi menampar Ririn dengan kedua tangannya yang berlumuran darah. Tamparan yang ia layangkan dengan sekuat tenaga itu membuat tangannya berdenyut sakit, pun dengan kedua belah pipi Ririn yang terasa panas.


"Sabar, nak... jangan lakukan lebih dari itu," bisik Papa Lucas seraya menarik Skylar menjauh.


Paramedis akhirnya tiba, dengan sigap langsung membawa Teon ke dalam ambulance agar bisa segera mendapatkan penanganan khusus di rumah sakit. Sementara polisi langsung mengamankan Ririn menuju kantor polisi terdekat.

__ADS_1


...****...


"Bagaimana kondisi suami saya, Dokter?" tanya Skylar dengan tatapan nanar.


"Seperti yang Nyonya Tirdianata lihat, suami anda dalam keadaan kritis karena kehilangan banyak darah. beruntung tikaman itu tidak cukup dalam untuk mengenai organ vitalnya. Nyonya tidak perlu khawatir dia akan segera siuman sebentar lagi, tetaplah berdoa," jelas sang Dokter.


Skylar merasa sedikit lega, namun ia juga tidak bisa merasa terlalu tenang. Ia tetap saja merasa khawatir kepada suaminya yang sudah dua hari ini terbaring koma di rumah sakit.


"Transfusi darah dapat dilakukan setelah Tuan Tirdianata siuman," tambah Dokter Roger seraya memandang Teon yang masih terbaring tak sadarkan diri.


"Tolong lakukanlah yang terbaik untuk kesembuhan suami saya, Dokter."


Dokter Roger mengangguk penuh peneguhan.


"Anda adalah calon dokter barang tentu sudah paham apa yang wajib saya lakukan. kalau begitu saya permisi dulu."


Skylar menghela napas panjang. Dengan lembut ia membelai helaian surai selembut sutra milik Teon sang suami tercinta. Air mata tak mampu dia bendung, merasa benar-benar sedih sekaligus bersalah atas kondisi suaminya kini.


"maafkan aku, Mas. andai hari itu kamu tidak melindungi aku dengan punggungmu sudah pasti aku mungkin terbunuh."


"Putra dan menantuku sungguh malang..." cicit Bunda yang melihat pasangan muda itu dari balik kaca dengan sorot sendu.


Papa Lucas tersenyum tipis walau matanya nampak menghitam karena kurang tidur.


"saya yakin Teon akan segera siuman, dia adalah pria yang tangguh. kita harus terus berdoa agar dia segera siuman."


Tangis Skylar terdengar begitu pilu, menyayat hati Bunda mau pun Papa Lucas yang mendengarnya.


Tidak ada yang menyangka bahwa kejadian mengerikan itu bisa terjadi di hari yang seharusnya membahagiakan untuk Teon dan Skylar, semua orang jelas tidak menyangka bahwa Ririn akan menjadi senekat itu karena tidak rela Teon akhirnya menikahi Skylar.


Terbesit rasa sesal dalam benak Bunda karena nyaris menikahkan putra sulungnya dengan wanita yang ternyata sangat mengerikan itu.


Bunda tersenyum pilu, menghapus air matanya. "semoga saja Tuhan lekas mengabulkan doa kita ya, Tuan Wong."

__ADS_1


__ADS_2