
"Gue nggak punya kesempatan yang banyak buat bahagiain lo, tapi gue yakin Pak Teon yang udah menjadi pilihan terakhir lo bakalan mampu melakukannya."
Skylar terhenyak mendengar suara lirih Jeffrey yang menguar, entah mengapa terdengar begitu menyakitkan kali ini hingga sang gadis tak mampu membendung air matanya lagi.
Tetes demi tetes air mata Skylar terjatuh membuat bahu sempitnya bergetar samar, terhujam oleh perasaan terluka yang sekarang bergema dengan begitu kejam dalam benaknya.
"Maafin gue," cicit Skylar, tak berani beradu pandang dengan Jeffrey.
"Sepenuhnya ini salah gue karena nggak bilang yang sejujurnya sama lo. sekarang lo nggak usah pikirin perasaan gue, mending fokus sama rencana pernikahan lo sama Pak Teon," ujar Jeffrey mantap, menghapus jejak air matanya dengan punggung tangan. "ingat, yang paling utama itu kebahagiaan lo, Wendelline Skylar."
Menggeleng sang gadis kemudian.
"tapi kan gue juga salah karena selalu menganggap apa yang lo bilang cuma bercanda."
Jeffrey mengusak lembut puncak kepala Skylar, tersenyum teduh kepada sang hawa.
"udah, lupakan semua itu. lo punya tujuan besar yang harus lo lakukan dalam waktu dekat, gue yakin Pak Teon adalah pilihan yang jauh lebih baik dari pada gue."
"Lo berhak untuk bahagia, Skylar. apa pun atau siapa pun yang mau merusak kebahagiaan lo bakalan berurusan sama gue tenang saja."
"Terima kasih banyak, Jeffrey."
"Gue cuma melakukan apa yang seharusnya gue lakukan kok. ya sudah ayo gue antar pulang."
Skylar menyeka jejak air matanya menggunakannya sapu tangan, tersenyum tipis menyambut uluran tangan Jeffrey --sahabat yang begitu ia sayangi sejak beberapa tahun terakhir.
Keduanya melangkah sejajar melewati koridor fakultas kedokteran yang sudah lengang, melintas berlawanan arah dengan sang mentari yang sudah bertukar warna menjadi jingga.
"Kalau nanti Teon berani kurang ajar menyakiti hati atau pun fisik lo, dia bakalan langsung berhadapan sama gue di garda terdepan. lo jangan pernah sungkan cerita ke gue apa pun yang menjadi kesulitan untuk lo kedepannya."
"Sebenarnya gue pernah sempat mikir kalau kita bisa nikah loh, Jeff."
"Tapi kenapa nggak jadi?"
"Lo yang salah nggak ngajak gue nikah duluan!"
"Hahaha asem lo!"
Keduanya berhenti di lapangan parkir tepat di depan motor sport milik Jeffrey membuat Skylar memandang sang adam curiga.
__ADS_1
"Lo nggak ada niat buat ngajak gue ngedrift kan?" selidik Skylar curiga.
Tawa Jeffrey meledak, lantas menyodorkan helm berwarna hitam kepada Skylar.
"gue rasa kita harus ngedrift sekali lagi sebelum lo resmi jadi istri orang."
"haha nggak waras lo," cela Skylar dibarengi tawa.
Ya, sepertinya perkataan Jeffrey ada benarnya juga --ia harus menghabiskan waktu dengan sahabatnya lebih banyak sebelum resmi menikah dengan Teon dalam waktu dekat.
...****...
"Kamu dari mana kenapa baru pulang jam segini?"
Skylar mengangkat kedua bahunya acuh, berjalan melewati sosok lelaki yang melayangkan pertanyaan padanya itu seolah tak mendengar dan melihat siapa-siapa.
Merasa diabaikan, sang pria menajamkan pandangan kepada Skylar, mengulangi pertanyaannya.
"saya tanya kamu dari mana, Wendelline Skylar."
Gadis itu berbalik, memandang lawan bicaranya dengan sengit.
Tanpa menunggu respon lawannya, Skylar melangkah dengan langkah berdentum menuju kamarnya tidak peduli meski pria itu menyerukan namanya berkali-kali.
"Kamu yakin akan tetap menikahi putriku yang keras kepala itu?" tanya Papa Lucas sang pengamat keributan dengan tenang sembari meraih gelas porselen berisi teh oolong hangat di atas meja.
Teon menghela napas panjang. "mau bagaimana lagi, dalam kasus ini saya yang salah wajar kalau dia jadi kesal begitu."
Papa Lucas terkekeh. "kamu harus membiasakan diri dengan sifatnya yang gampang marah itu. anakku memang tak pandai mengekspresikan rasa kesalnya selain dengan cara diam."
"Selama saya mengenal Skylar saya memang tidak pernah melihatnya memaki-maki orang lain bahkan hanya sekedar mengumpat meski saya tahu dia merasa kesal," imbuh Teon mengambil posisi duduk di depan calon mertuanya.
"saya benar-benar lupa memberi kabar kepada Skylar sampai akhirnya dia malah menunggu sampai sore, bagaimana bisa saya melupakan hal sepenting itu?"
Tangan Papa Lucas terulur, memberikan satu gelas porselen berisi teh oolong hangat kepada Teon. "minumlah dulu kamu pasti lelah dan stress, kamu bisa membujuk Skylar nanti."
Teon tersenyum tipis. "terima kasih, Papa."
Dua pria berbeda usia itu lalu berbincang-bincang membahas berbagai macam hal sembari menyesap teh masing-masing.
__ADS_1
"Apa yang membuat kamu memilih anakku?" tanya Papa Lucas dengan tenang, memandang Teon mencari jawaban yang sejujur-jujurnya.
Teon menarik kedua sudut bibirnya, memandang Papa Lucas dengan sorot tenang penuh peneguhan.
"Dia sudah mencuri hati saya, cinta tidak membutuhkan alasan khusus saya rasa. jika saya mencintai Skylar karena sesuatu jelas itu bukanlah cinta yang tulus."
"Saya hanya akan membiarkan anak saya memilih laki-laki yang tulus mencintainya."
"Tentu saya mengetahuinya, Skylar adalah gadis baik yang berhak untuk mendapatkan pendamping hidup yang sepadan bahkan harus lebih baik."
Teon menyesap tehnya hingga tandas.
"lebih baik jika Papa tanyakan pada Skylar apakah dia yakin mau menikah dengan saya."
"Kenapa kamu meragukan keputusanku?"
Skylar berjalan turun dari kamarnya, memandang Teon nyalang menuntut jawaban dari sang pria.
"Saya tidak merasa ragu sedikit pun untuk menikahi kamu, tetapi saya harus tahu apakah kamu benar-benar siap menikah dengan saya atau tidak," jawab Teon kalem.
Skylar bersedekap. "tapi kenapa kamu selalu membuatku kesal?"
Papa Lucas membawa anak gadisnya untuk duduk di sebelahnya, mencoba membujuk gadis itu untuk berbicara dengan kepala dingin.
"Dengarkan calon suamimu dengan tenang, nak. pernikahan bukan hanya tentang ego siapa yang benar dan siapa yang salah. itu yang harus kalian ingat baik-baik," seloroh Papa Lucas.
Skylar menyandarkan punggung sempitnya pada sandaran sofa. "kalau begitu coba jelaskan semuanya padaku."
"Saya mendapatkan tawaran dari rektor universitas untuk menjadi dekan baru untuk periode lima tahun ke depan. itu yang membuat saya harus mengikuti rapat lebih lama. saya minta maaf sebesar-besarnya karena lupa mengabari kamu," tutur Teon menjelaskan kronologi yang terjadi tadi siang hingga sore dengan jujur kepada Skylar dan Papa Lucas --meski pun Papa Lucas sebenarnya sudah tahu dari rektor universitas soal kejadian itu.
Skylar mendecak. "pekerjaanmu lebih penting dari pada aku?"
"Sayang, tanpa bekerja aku mana mungkin bisa membiayai hidup kita nantinya jadi aku jelas harus tetap bekerja bagaimana pun itu."
Papa Lucas tersenyum bangga mendengar penuturan Teon. "kamu yakin akan melepaskan laki-laki bertanggung jawab seperti Teon, nak?"
"Hah, ya sudahlah," sang gadis menghela pendek.
"aku akan memaafkanmu jika kamu segera pulang dan istirahat."
__ADS_1