
"Bukan soal gue nggak mau cari cewek lain, Wendelline Skylar. tapi soal perasaan tuh mana ada yang bisa ngatur, Tuhan bikin gue sayang sama lo terus gue bisa apa?"
Skylar dapat merasakan ketulusan Jeffrey dari setiap kata yang diucapkan oleh pria itu sepersekian detik lalu tersebut.
Sang gadis menghela pendek kemudian, menoleh kepada Jeffrey dengan seulas senyum iba.
"Terima kasih banyak buat segala hal baik yang udah lo lakuin buat gue."
Jeffrey menggeleng. "i'm doing nothing, sweetie. sudah sepantasnya lo diperlakukan dengan baik."
Mobil Jeffrey kemudian mulai melaju, menyusuri jalan raya dengan kecepatan sedang bertemankan hujan gerimis yang perlahan namun pasti mulai membasahi kaca serta body mobil.
Aroma khas hujan yang mulai menyeruak indera penciuman Skylar membuat gadis itu cepat-cepat menutup kaca mobil di sisi kiri tubuhnya.
"Kalau nggak ketemu lo tadi sudah pasti gue bakalan kebasahan," cicit Skylar seraya memperhatikan rintik air hujan yang mulai berubah menjadi deras, membuat kaca mobil mulai berembun.
"Gue ada buat mencegah itu. calon pengantin mana boleh sakit, tolong jaga diri lo baik-baik dong jangan ceroboh lagi," timpal Jeffrey yang sudah gemas melihat tingkah Skylar yang kadang-kadang suka ceroboh itu.
Bibir Skylar mengerucut. "ya 'kan setiap manusia punya kekurangannya masing-masing."
Skylar jelas paham bahwa perkataan Jeffrey barusan itu menyinggung soal sikap cerobohnya yang sepertinya sudah mendarah daging sejak kecil tersebut. Dia benci mengakuinya, namun kecerobohannya itu seolah tak mau hilang sekeras apa pun Skylar berusaha.
"Gue tahu kok," Jeffrey tergelak. "tapi kecerobohan lo itu nggak sesuai sama muka lo yang nggak manusiawi ini."
Skylar turut tertawa, memamerkan jajaran gigi putihnya yang putih nan rapi membuat perasaan Jeffrey menghangat. Sebuah senyuman indah yang Jeffrey yakini memiliki kekuatan magis luar biasa, sepertinya mampu untuk melelehkan menara Eiffel saking saktinya. Ya, senyuman indah yang masih nampak sama meski tahun demi tahun telah berganti sejak mereka sudah saling mengenal.
"Ngomong-ngomong Liam apa kabar ya? selesai acara gue kemarin dia nggak banyak ngobrol sama gue, kayak buru-buru banget mau cabut," ucap Skylar mengingat-ingat sikap sahabatnya sejak kecil itu yang terasa sedikit janggal.
Liam memang tidak satu jurusan dengan mereka membuat Skylar tak memiliki banyak momen untuk bertemu dengannya tidak seperti Jeffrey.
"Sebenarnya gue sudah bilang sama Liam buat cerita sama lo tapi kayaknya belum ya?"
__ADS_1
"Maksud lu apaan, Jeff?"
Jeffrey menghela. "lo serius belum dia kasih tahu?"
"Ngomong ya tinggal ngomong, Jamaluddin! nggak usah bikin gue jadi gregetan!"
Jeffrey menginjak pedal rem mobilnya, menghentikan laju kendaraan roda empat itu ketika lampu lalu lintas bertukar warna menjadi merah ditengah derasnya guyuran hujan.
Dia mengalihkan atensinya pada Skylar kemudian, memberi isyarat pada gadis itu bahwa yang ia katakan kali ini adalah hal yang sangat serius.
"Orang tuanya Liam bangkrut, kena investasi bodong sampai puluhan milyar yang bikin perusahaan mereka jatuh sejauh-jauhnya. gue pikir dia sudah cerita sama lo," terang Jeffrey.
Mata Skylar kontan terbelalak tak percaya, sangat terkejut mendengar penjelasan dari Jeffrey. Dia tidak menyangka bahwa startup besar milik Ayah Liam dapat mengalami kebangkrutan besar seperti ini.
Apa benar Papa Lucas juga tidak tahu soal ini?
"Jadi, alasan dia buru-buru pulang itu buat lanjut kerja. Liam kerja di salah satu Bar mewah punya kenalan Papa gue, tapi lo nggak usah khawatir dia kerja di bagian staff pemasaran kok jadi nggak bakalan sentuh-sentuh hal yang gimana-gimana kok. gajinya juga lumayan buat dia bayaran kuliah, cuma itu yang bisa gue lakuin buat bantu dia," papar Jeffrey sambil melajukan mobilnya kembali.
"Kenapa dia nggak mau cerita sama gue ya," gumam Skylar merasa sedikit kecewa karena baru mengetahui hal sebesar ini sekarang.
Kedua sudut bibir Skylar melengkung ke bawah.
"nanti gue bilang sama Papa, siapa tahu bisa bantu perusahaan orang tua Liam biar nggak semakin bangkrut."
Jeffrey mengangguk. "Papa gue juga setuju buat investasi ke perusahaan keluarga Liam dalam waktu dekat."
Mobil Jeffrey kemudian berhenti di depan pagar besar rumah keluarga Wong, hujan juga sudah mereda membuat keduanya terburu-buru menurunkan sepeda Skylar dari mobil.
"Terima kasih ya, Jeff. gue bakalan nanya sama Liam langsung nanti, tolong kasih alamat tempat Liam kerja ya."
"Nanti gue kabarin lagi. kalau sekarang lo harus istirahat dulu," sahut Jeffrey sambil mengangkat sepada milik Skylar masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Iya jangan lupa!"
"Siap, princess. gue pulang dulu ya titip salam buat Papa Lucas, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, nggak usah ngebut lo!"
Sepeninggal Jeffrey, Skylar memasukkan sepedanya ke dalam garasi lantas melangkah cepat masuk ke dalam rumahnya bermaksud mencari sang Papa yang entah kemana.
"Papa! Papa!" teriak Skylar mencari sang Papa.
"Dihh, Papa kemana sih," rutuk Skylar sebal.
Skylar celingukan, mengelilingi lantai dasar rumahnya berharap bisa menemukan sang Papa namun tetap saja ia tak menjumpai Papanya.
"Pak Lucas sudah pergi ke kantor dari tadi, Non," tutur Bi Odah, sang pelayan santun.
"Ya ampun kenapa Bibi nggak bilang dari tadi?"
"Saya pikir Non Skylar sudah tahu," balas Bi Odah seraya memberikan sebuah amplop kepada Skylar.
"Ini amplop apaan, Bi?"
"Itu Mas Teon tadi yang antar, katanya Non Skylar boleh pakai isinya untuk belanja."
Merasa bingung dan ditinggalkan begitu saja oleh Bi Odah, Skylar lalu beringsut masuk ke dalam kamarnya bermaksud untuk membersihkan diri. Kulitnya sudah terasa lengket karena habis berkeringat setelah bersepeda cukup jauh tadi.
Dengan gerakan secepat kilat ia membasuh tubuhnya dengan air hingga dirasa benar-benar bersih, mengingat cuaca di luar masih terasa dingin. Skylar merasa terlalu malas untuk mandi menggunakan air hangat jadi ia memutuskan untuk mandi menggunakan teknik cepat ini.
Usai mengganti pakaiannya dengan yang lebih nyaman, Skylar melenggang menuju kasurnya lantas membuka amplop putih pemberian Teon yang dititipkan kepada Bi Odah tadi dengan dipenuhi rasa penasaran.
"Kamu boleh belanja apa pun yang kamu suka atau butuhkan dengan kartu ini tapi jangan sampai menginap di mall, " Skylar membaca tulisan dari secarik kertas bertinta yang ada di dalam amplop itu.
__ADS_1
Makin penasaran, Skylar mengeluarkan semua isi amplop itu dan malah mendapati sebuah kartu debit berwarna hitam yang artinya itu bukanlah kartu debit sembarangan.
"Ini maksudnya apa, Teon Tirdianata?!"