
"Selamat pagi para gadis manis, apa kalian ada keperluan dengan adik saya yang tampan ini?" tanya Teon santun membuat para gadis menganga tak percaya sekaligus bingung.
"Apa anda bilang?!"
Para gadis itu saling bertukar pandang, tak langsung percaya mentah-mentah dengan perkataan Teon mengingat Jeno dan Teon secara fisik tak nampak memiliki kemiripan sama sekali.
"Apa perlu gue kasih tunjuk kartu keluarga sekalian?" tukas Jeno sebal, "gue sama cowok ini memang kakak adik kandung kok walaupun sama sekali tidak mirip."
"Iya sih kalian tidak mirip, tapi secara kualitas visual sama-sama luar biasa..." puji salah satu gadis yang mengamati penuh kagum wajah Teon dengan seksama.
"Berhubung acara seminarnya sebentar lagi akan dimulai, kalau begitu saya dan Jeno pamit masuk duluan ya sampai jumpa lagi," ucap Teon sopan kemudian menarik tangan adiknya agar cepat berlalu dari kerumunan para gadis.
"Abang baru tahu kalau kamu ternyata cukup galak, mirip seperti preman pasar haha!" ejek Teon dengan tangan kanannya yang merangkul bahu tegap nan lebar milik Jeno.
"Apa Jeno salah bersikap begitu? kalau diperlakukan lembut seperti Abang memperlakukan mereka bisa jadi bencana tahu!" balas Jeno sengit.
Ia pun kadang bingung kenapa kakaknya itu bersikap sangat lembut dan santun tak peduli siapa pun lawan bicaranya membuat banyak orang lain dengan mudah menjadi jatuh hati.
"Semua orang layak diperlukan dengan baik kurasa, maka dari itu Abang suka memperlakukan semua orang dengan baik tak peduli siapa pun orang itu."
Jawaban yang dilontarkan oleh Teon dengan seulas senyum itu kini membuat Jeno sadar bahwa kualitas kakaknya yang satu inilah yang tak ada pada dirinya. Ya, Teon memang selalu unggul di atas dirinya membuat Jeno terkadang merasa tersisihkan.
Teon menepuk samar bahu Jeno, tersenyum tipis kemudian. "tapi kamu tetaplah kamu, Jeno. jangan berusaha menjadi orang lain hanya untuk di pandang lebih baik. jadilah versi terbaik dari dirimu sendiri."
"Abang masuk ke back stage dulu, jangan lupa duduk di kursi paling depan ya!" ucap Teon sambil beringsut masuk ke belakang panggung dipandu oleh panitia acara. Melihat punggung kakaknya yang perlahan menjauh, Jeno lantas mengulum bibirnya bangga.
"Iya, seharusnya aku bangga serta bersyukur memiliki kakak yang luar biasa sepertinya bukannya malah merasa tersaingi."
...****...
Suasana riuh menghiasi acara seminar kampus Jeno pagi ini setelah para peserta acara tahu bahwa pengisi acara kali ini merupakan Teon Tirdianata, seorang dosen muda sukses yang kini menjadi salah satu pemuda terkaya di kota ini.
__ADS_1
Terlebih para siswi, mereka terlihat sangat mengagumi keindahan fisik Teon yang luar biasa seperti seorang malaikat.
Sesi penyampaian materi yang telah usai nampaknya tak membuat para mahasiswa peserta acara merasa puas yang akhirnya membuat panitia membuka sesi pertanyaan yang ditujukan kepada Teon --dan untungnya Teon sama sekali tidak merasa keberatan.
"Apa Pak Teon sudah menikah?"
Teon menggeleng sambil tersenyum menjawabnya.
"Kalau begitu apa Bapak sudah punya calon?"
"Bagaimana tipe wanita idaman Bapak?"
"Apakah Bapak suka gadis berambut panjang?"
"Oh, apa Bapak punya saudara?"
Teon terkekeh pelan, merasa tergelitik mendengar pertanyaan para mahasiswi yang penuh akan rasa ingin tahu. Pria itu berdeham kemudian, meminta para hadirin untuk tenang.
Jawaban Teon mengundang desah kecewa dari para hadirin membuatnya menarik kedua sudut bibir, mengalihkan sepasang obsidian kelamnya ke arah Jeno yang duduk di barisan paling depan.
"Jika kalian gagal menjadi istri saya, mungkin jadi adik iparku adalah ide yang bagus. Jeno Tirdianata, adikku yang duduk di depan kalian masih lajang kok ya walau pun dia jauh lebih manis dari pada saya."
"Jeno?! pantas saja mereka memiliki nama belakang yang sama!"
"Tidak heran, dua-duanya terlalu tampan!"
"Jeno memang lebih manis tetapi Teon jauh lebih maskulin menurutku!"
"Image mereka berbeda seratus delapan puluh derajat, diluar dugaan kalau mereka ternyata adalah saudara!"
Jeno menepuk dahinya, pusing akan kelakuan kakaknya kali ini. Dengan sorot mata sok galak dia melemparkan pandangan kepada Teon tetapi hanya dibalas dengan senyuman lebar oleh sang pria yang lebih tua.
__ADS_1
Teon memang sudah lama ingin mengerjai adiknya itu namun baru kali ini menemukan momen yang pas untuk melakukannya. Berbeda dengan Teon yang sejak masih belia sudah biasa berbicara di depan umum, Jeno terkesan lebih kaku dan cuek bahkan malah grogi saat harus bicara di muka umum membuat Teon kadang gemas sendiri.
"Jika tahun ini kampus kalian mengadakan pemilihan ketua BEM, tolong calonkan Jeno ya. adikku memiliki jiwa kepemimpinan yang cukup bagus dengan strategi-strategi uniknya yang mungkin bisa membawa kampus ini ke arah yang lebih baik lagi."
Beberapa orang mulai mengangguk setuju mendengar pernyataan Teon, ya Jeno memang sempat menjadi ketua kelompok saat masa orientasi mahasiswa baru --ia memimpin kelompoknya dengan sangat baik meski agak canggung hingga berhasil memenangkan beberapa perlombaan waktu itu.
Nyaris semua mata di aula utama kampus itu kini memfokuskan perhatian pada Jeno, sosok yang menjadi bahan perbincangan mereka.
"Ya, saya mengakuinya. seperti yang kalian tahu bahwa saya dan teman satu kelompok saya memenangkan beberapa perlombaan karena Jeno bekerja dengan sangat baik sebagai seorang ketua kelompok, bukan begitu, kawan-kawan?"
"Betul! Jeno layak diusung untuk menjadi salah satu calon ketua BEM yang baru tahun ini."
"Setuju!"
"Saya juga setuju!"
"Ketua BEM yang ganteng? itu bukanlah ide yang buruk, aku sangat setuju."
"Kurasa siapa pun akan suka dipimpin oleh seorang pemimpin brilian seperti Jeno."
"Betul. Jeno juga memiliki kharisma yang bagus!"
Sejak dulu Teon memang sudah menyadari kalau Jeno memiliki jiwa kepemimpinan yang sangat baik dan ia yakin bahwa suatu saat Jeno akan sukses menjadi seorang pemimpin dengan caranya sendiri.
Jeno melotot kepada Teon tetapi sang kakak memilih untuk pura-pura tidak tahu --sibuk menjawab pertanyaan tidak penting dari para peserta acara.
Jeno kali ini hanya bisa menghela napasnya dalam-dalam dan berharap semoga ulah kakaknya kali ini tidak akan membuatnya kesusahan, ya walau ia juga ragu mengenai usulan gila Teon yang tiba-tiba ingin mengusungkan Jeno menjadi ketua BEM bermodalkan pengalaman kepemimpinannya yang rasanya masih sangat kurang untuk memimpin organisasi sebesar itu.
Teon turun dari panggung, berjalan menghampiri Jeno yang nampak sedang melamun.
"jangan memikirkan hal-hal bodoh, Jeno Tirdianata. Abang yakin kamu bisa menjadi pemimpin yang baik dengan semua ide cemerlang yang kamu punya. semua orang harus tahu kalau adikku adalah lelaki yang hebat dan tidak hanya berada di bawah bayang-bayangku seperti tuduhan orang-orang selama ini."
__ADS_1