
Kicauan merdu segerombolan burung di dahan pohon sekitaran rumah sakit terdengar menentramkan hati membuat Skylar menyerjapkan matanya perlahan guna membiasakan cahaya yang masuk ke dalam retinanya.
"Eumh... ternyata sudah pagi lagi," gumam Skylar yang terbangun dari tidurnya.
Punggungnya terasa pegal karena semalaman tidur dalam posisi duduk demi menjaga suaminya yang belum juga siuman. Napas panjang dihela oleh Skylar, merasa khawatir akan kondisi Teon yang masih juga belum sadarkan diri.
"Apa aku harus mencium kamu, Mas?" Skylar berujar seraya mengusap lembut kening Teon.
Pandangan Skylar terlihat sayu, kantung matanya bahkan terlihat menghitam dengan wajahnya yang juga nampak pucat.
Air mata Skylar menggenangi pelupuk matanya, hingga tetes demi tetes mulai jatuh membasahi pipi serta kening Teon.
"sampai kapan kamu tertidur begini, Mas? aku tidak mau menjadi janda..."
Demi apa pun ketakutan akan ditinggal mati oleh Teon terus saja menghantui Skylar membuat wanita muda itu merasa sangat tidak aman sekaligus amat cemas. Skylar tak bisa membayangkan bagaimana jika dia benar-benar menjadi janda yang bahkan belum sempat merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang istri yang seutuhnya, itu sungguh akan menjadi sangat mengerikan membuat Skylar bergidik.
"Lagi pula siapa yang bilang kamu akan menjadi janda?" suara berat nan lirih itu terdengar menguar, menyapa indera pendengaran Skylar yang sudah lama merindukan Teon suaminya.
Skylar tanpa pikir panjang langsung merengkuh erat tubuh lemah suaminya penuh syukur, air matanya terus mengalir deras amat bersyukur akhirnya Teon bisa siuman setelah berhari-hari mengalami masa kritis yang panjang.
"Sekarang kamu jangan banyak bicara dulu, aku harus memanggil dokter sekarang juga untuk memeriksa kondisimu lebih lanjut," ucap Skylar sambil menghapus jejak air matanya dengan punggung tangan.
Teon yang masih dalam kondisi lemah hanya bisa mengangguk mengiyakan, membuat Skylar bergegas mencari dokter untuk segera memberikan penanganan kepada Teon.
...****...
Pintu ruang rawat VVIP tempat Teon menjalani perawatan terbuka, menarik atensi Papa Lucas tatkala seorang pria berkacamata dengan jas putih di tubuh proporsionalnya keluar dari sana.
"Apakah menantu saya akan baik-baik saja, Dok?" Papa Lucas bertanya setelah dokter Roger yang baru saja selesai melakukan rangkaian pemeriksaan rinci kepada Teon keluar dari ruang rawat Teon.
Dokter Roger tersenyum tipis. "tentu. lukanya sudah membaik dan kondisi Teon juga stabil, saya yakin dia bisa segera pulang ke rumah dalam waktu dekat."
__ADS_1
Perasaan lega menyelimuti Skylar, Papa Lucas serta Bunda. Sungguh mereka bahagia akhirnya Teon bisa baik-baik saja setelah kejadian mengerikan itu.
"Syukurlah kalau begitu," timpal Bunda dengan seulas senyum lega.
Dokter Roger mengangguk. "tetap perhatikan Teon agar beristirahat dengan baik ya, lalu beri dia asupan nutrisi yang lebih banyak. kalau begitu saya permisi dulu."
Koridor utama rumah sakit siang ini nampak lebih lengang dari sebelumnya, tak banyak orang berlalu lalang membuat suasana terasa lebih sunyi.
Skylar mendorong perlahan pintu ruang rawat Teon, menghasilkan suara derik yang tak begitu kentara namun tetap membuat Teon tahu bahwa ada seseorang yang datang.
Senyum Teon tetap nampak merekah menyambut kedatangan sang istri walau wajahnya kini terlihat sedikit lebih pucat.
"Apa yang kamu bawa?" tanya Teon lembut seraya berusaha untuk bangun dari posisi tidurannya.
Skylar dengan sigap membantu suaminya.
"ah pelan-pelan, Mas, lukamu belum sepenuhnya mengering. aku membawakan kamu sup jagung, lagi pula kamu belum makan bukan?"
Skylar tergelak. "kamu tidak memiliki pilihan lain, suamiku tersayang. aku harus memastikan semua makanan yang kamu makan memiliki banyak nutrisi."
Teon hanya bisa menghela napasnya pasrah, ya, mau tidak mau ia harus tetap makan makanan apa saja yang dipilihkan oleh Skylar istrinya demi mempercepat kesembuhannya.
Skylar mulai menyendok sup jagung buatannya untuk menyuapi Teon guna memastikan suaminya itu benar-benar menghabiskan makanan yang sudah ia buatkan dengan sepenuh hati.
"Kamu tidak terluka?" Teon bertanya setelah menelan makanannya yang ternyata cukup enak.
"Tidak, tapi aku khawatir kalau sampai harus menjadi janda jika kamu tidak selamat."
Teon mengusak lembut puncak kepala Skylar.
"saya akan selalu di sisimu sampai kapan pun karena saya adalah suamimu, dan itu tidak akan pernah berubah."
__ADS_1
"Kamu tahu betapa khawatirnya aku?"
Dengan sorot mata penuh cinta Teon memandang sang istri. "tentu saya tahu dan mengerti betul, sayang. ini bukan kali pertama saya terluka parah."
Skylar menyeka air matanya yang mulai merembes.
"aku merasa bersalah karena kamu dua kali mengalami celaka saat bersamaku, Mas."
Kedua sudut bibir Teon tertarik, membentuk cekungan indah yang menjadi favorit Skylar.
"berhentilah menyalahkan dirimu sendiri, sayang. ini semua bukan salahmu atau pun salahku tetapi semuanya adalah garis takdir dari Tuhan."
Teon menyelipkan anak rambut Skylar ke belakang telinga. "yang perlu kita lakukan adalah menghadapi semuanya bersama apa pun yang terjadi. ingat, kamu adalah milik saya dan saya adalah milik kamu."
Demi apa pun Teon merasa hatinya sakit tatkala tetes demi tetes air mata Skylar jatuh, sungguh dia tidak ingin membiarkan wanita yang dicintainya lebih dari apa pun itu meneteskan air matanya lagi seperti ini. Tangan kokoh milik Teon terulur, mengusap jejak air mata Skylar dengan begitu lembut hingga tidak tersisa.
"Karena kamu adalah istri saya, maka apa pun yang terjadi padamu adalah tanggung jawab saya. apa pun akan saya lakukan demi kebahagiaan kamu, Wendelline Skylar," ucap Teon sambil menggenggam erat tangan Skylar.
Sorot mata sang adam penuh dengan kesungguhan, membuat Skylar tak mampu mengalihkan pandangannya --ia jatuh cinta lagi untuk kesekian kalinya dengan Teon.
"Tolong jangan terluka lagi," pinta Skylar lirih.
"Terluka? mati pun saya rela jika itu demi melindungi kamu. jadi berhentilah mencemaskan hal-hal yang tidak perlu kamu cemaskan karena saya akan selalu di sisimu apa pun yang terjadi."
Sepasang benang merah kini saling tertaut satu sama lain, saling mencintai dengan segenap hati tanpa pamrih. Wendelline Skylar dan Teon Tirdianata, dua anak manusia yang ditakdirkan oleh Tuhan untuk saling melengkapi karena permintaan masing-masing orang tua mereka di surga.
"Tuan Tirdianata, tak kusangka kita berhasil membujuk Tuhan agar anak kita diberikan kebahagiaan yang tiada tara," seorang wanita berparas ayu dengan rambut hitam legam yang bersinar tersenyum memandang sepasang pengantin baru itu dari kejauhan.
"Aku sangat bahagia Tuhan berkenan mempersatukan mereka seperti yang kita inginkan, Nyonya Wong," balas pria dengan wajah yang serupa dengan Teon lengkap dengan senyuman yang menawan.
Sang wanita tersenyum, bahagia melihat bagaimana Skylar merawat suaminya dengan sangat baik. "semoga mereka tidak akan terpisahkan hingga surga menjemput mereka kelak."
__ADS_1