
Arloji metal premium milik Teon telah menunjukkan pukul satu lewat lima menit siang membuat pria itu buru-buru merapikan barang-barangnya di atas meja kerja berbahan kayu mahoni miliknya.
Langkah sang pria tergesa, menuju kelas terakhir sang terkasih di fakultas kedokteran sembari membawa paper bag berisi coklat Belgia yang sudah ia beli beberapa jam yang lalu melalui daring.
Berhubung sekarang sedang jam makan siang, nampak mahasiswa mau pun para dosen dan staff universitas terlihat memadati kantin berniat untuk mengisi perut mereka disela-sela kegiatan kampus.
"Selamat siang, Pak Teon," sapa salah seorang mahasiswi baru yang kebetulan berpapasan dengan Teon saat bertolak menuju kantin.
Teon mengangguk singkat. "siang."
Meski tidak melakukan sesuatu yang berlebihan, para mahasiswi terlihat begitu girang tatkala mendengar suara Teon. Itu bukan hal baru, sudah menjadi bagian dari hidup Teon sejak ia memasuki dunia kerja sebagai seorang tenaga pengajar.
Tiba di tangga menuju lantai dua fakultas kedokteran, Teon tanpa menunggu langsung melangkah cepat menuju ruang 23 yang dimaksud oleh Skylar tadi pagi --gadis itu bahkan kembali mengingatkan Teon melalui pesan singkat beberapa saat yang lalu.
"Skylar, ada Pak Teon tuh!" teriak Miranda, teman sekelas Skylar yang sedang duduk di depan ruang 23 sembari menyantap makan siangnya.
Teon tersenyum tipis, berjalan melintasi Miranda untuk masuk ke dalam kelas. "terima kasih."
Mendengar kata terima kasih dari Teon, Miranda jelas salah tingkah hingga kehabisan kata-kata ia jadi kepikiran bagaimana Skylar yang selalu menghabiskan banyak waktu dengan pria super duper tampan itu sebagai calon istrinya.
"Urusan universitas sudah selesai?" tanya Skylar sambil memasukkan alat tulisnya ke dalam tas sesaat setelah Teon masuk ke dalam ruangan kelas.
Teon mengangguk cepat. "sudah. kemarikan tas kamu biar saya saja yang bawakan."
Sikap gentleman Teon tentu saja membuat seisi penghuni kelas iri, namun mereka hanya bisa memperhatikan kedua sejoli dengan penampilan fisik luar biasa itu bercengkrama satu sama lain.
Skylar tertawa renyah. "tidak perlu, saya bisa membawanya sendiri."
Mengingat sekarang masih dalam lingkungan kampus, Skylar tetap berusaha bersikap formal kepada Teon terlebih sekarang mereka sedang berada di dalam kelas lengkap dengan beberapa teman sekelas Skylar yang masih ada di dalam kelas.
"Membawa barang yang terlalu berat dalam jangka waktu yang lama bisa mengganggu struktur tulangmu, sebagai calon dokter seharusnya kamu tidak melupakan hal itu," balas Teon yang dengan santai merebut ransel berbahan kulit milik Skylar tanpa persetujuan sang gadis.
"Sebagai gantinya kamu boleh membawa ini," sambung Teon, menyodorkan paper bag ukuran sedang berisi coklat Belgia yang memang ia beli khusus untuk Skylar.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Skylar dengan begitu polos.
"Kamu bisa memakannya nanti di rumah, kalau sekarang kita harus segera pergi ke toko perhiasan sebelum mereka menutup layanan pemesanan cincin kawin custom," pungkas Teon lantas membawa tangan mungil Skylar ke dalam genggamannya.
"Teman-teman, mohon doanya untuk kelancaran pernikahan kami ya," ujar Teon dengan seulas manis kepada teman-teman Skylar yang ada di dalam kelas.
"Tentunya, Pak, kami akan mendoakan yang terbaik untuk kalian," sahut Dicky, satu-satunya pria yang bisa menahan pesona Teon yang terlalu menyilaukan itu.
...****...
"Kita mau beli cincin di toko perhiasan yang mana?" tanya Skylar saat mobil Teon telah memasuki lahan parkir sebuah mall di pusat kota.
Teon menghentikan mobilnya, tak lupa menarik rem tangan kemudian.
"kita akan beli cincin di toko perhiasan langganan kamu. Papa Lucas bilang mereka bisa melayani pembuatan perhiasan custom dalam waktu singkat."
Mendengar penuturan Teon, wajah Skylar lantas berseri-seri. "bagus! aku punya cincin cantik yang harus aku tunjukkan padamu sepertinya akan cocok untuk menjadi cincin tunangan kita."
"Kalau begitu ayo kita ke sana," ajak Teon yang segera membukakan pintu mobil untuk Skylar.
Teon dengan sigap mengulurkan tangannya, membantu sang terkasih turun dari mobil.
Ya, mobil SUV miliknya itu memang di setting up sedikit lebih tinggi dari seharusnya membuat Teon langsung peka akan kesulitan Skylar.
Keduanya lantas melangkah sejajar dengan tangan saling tertaut, masuk ke dalam mall mewah tersebut hendak menuju toko perhiasan langganan Skylar sejak kecil itu.
"Apa tokonya jauh?" Teon bertanya, mengedarkan pandangannya ke segala penjuru mall.
"Lumayan, karena sentra perhiasan di mall ini terletak di lantai tiga," jawab Skylar sembari menuntun Teon untuk naik eskalator menuju lantai tiga.
Teon menurut, mengikuti langkah Skylar menaiki eskalator sambil bergurau kecil sibuk membahas hal-hal tak penting yang mereka temui selama perjalanan menuju mall tadi.
Tawa kecil menghiasi dua sejoli itu terlihat begitu serasi dan bahagia sehingga menarik banyak perhatian dari pengunjung mall lainnya.
__ADS_1
"Selamat datang Kak Skylar," sapa pemilik toko perhiasan langganan Skylar setibanya mereka di depan toko perhiasan itu
"Hai, Pak. bisa tolong tunjukkan pada calon suamiku ini cincin yang kemarin sempat ingin saya beli?" kata Skylar langsung pada intinya.
"Ah, calon suami Kak Skylar? sangat tampan seperti seorang idol," puji sang owner, meraih kotak perhiasan beludru berwarna hijau dari etalase toko.
"Terima kasih," ucap Teon dengan seulas senyum.
"Wah, kalian memang benar-benar pasangan yang sangat serasi. kalau begitu cincin ini akan sangat cocok untuk kalian."
Sang owner membuka kotak perhiasan berukuran sedang itu di hadapan Teon dan Skylar, membuat pasangan itu memusatkan perhatian mereka kepada kotak perhiasan itu.
"Mas, ini bahkan jauh lebih cantik dari pada cincin yang ingin aku beli kemarin," aku Skylar dengan nada bisikan yang sudah jatuh hati kepada sepasang cincin cantik yang ditunjukkan oleh sang owner.
Cincin dengan ornamen mawar berhiaskan berlian biru safir itu sungguh berhasil membuat Skylar jatuh hati.
"Kalau begitu, cincin itu lebih cocok untuk kita jadikan cincin kawin," Teon balas berbisik, rupanya ia juga menyukai cincin itu.
"Ini adalah salah satu contoh cincin custom asli dari toko kami, hanya ada tiga pasang dan ini adalah satu pasang terakhir dengan bahan paling premium dan berbeda dari dua pasang lainnya," jelas sang owner memberikan informasi terkait cincin cantik khas produksi tokonya tersebut.
"Sepertinya Skylar juga menyukai cincin itu, kebetulan dia juga menyukai warna biru," sahut Teon sembari melirik Skylar yang masih begitu terkesima dengan keindahan sepasang cincin itu.
"Bagaimana, Kak Skylar?" tanya sang owner memastikan.
"Mas Teon benar, saya sangat menyukai cincin itu. apa saya mendapatkan diskon khusus jika membelinya?" ucap Skylar malu-malu.
Sang owner tersenyum manis kepada pasangan indah bak malaikat itu. "tentu, untuk pelanggan setia kami akan berikan diskon dua puluh persen."
Senyuman lebar tersungging menghiasi wajah rupawan Teon dan Skylar.
"terima kasih banyak ya, Pak."
__ADS_1
"Apa pun untuk pasangan yang manis ini."