Skylar Dan Sang Dosen

Skylar Dan Sang Dosen
36


__ADS_3

"Bagaimana urusan dekorasi yang saya pinta kamu urus kemarin, Albert?" tanya Papa Lucas kepada Albert sang asisten via telepon.


"Sudah saya urus sesuai perintah anda, Pak. pembayarannya sudah saya lunasi dan memastikan bahwa pihak dekor akan mengerjakannya dengan maksimal," balas Albert mantap dari seberang sana.


"Bagus. kalau begitu terima kasih maaf menganggu waktu libur kamu."


"Sudah kewajiban saya, Pak. selamat menikmati hari libur anda."


Papa Lucas memutuskan sambungan telepon, tersenyum puas akan kinerja asistennya yang sangat patuh dan jujur itu. Kini sangat sulit menemukan karyawan yang benar-benar patuh seperti Albert ini membuat Papa Lucas merasa beruntung memiliki banyak karyawan yang baik dan loyal kepadanya.


"Papa telepon siapa?" tanya Skylar yang baru masuk lewat taman belakang, sehabis menyiram tanaman dan menanam bibit baru di sana.


"Habis telepon Albert," sahut Papa Lucas santai seraya mengambil alat-alat berkebun dari tangan Skylar untuk memindahkannya ke tempat biasa.


Sang gadis mengangguk paham. "dia memang tangan kanan Papa yang paling terpercaya sepertinya."


"Seperti yang kamu tahu, sayang, dia sudah lama bekerja di perusahaan kita."


Skylar beringsut menuju westafel, mengambil beberapa pump sabun lantas membasuh tangannya setelah menyalakan keran air.


"Ya, dia karyawan yang sangat loyal. sesekali Papa perlu memberikannya bonus," canda Skylar.


"Papa sudah melakukannya tanpa perlu kamu beri tahu," balas Papa Lucas dengan senyuman lebar khasnya.


"Papaku memanglah atasan yang baik," puji Skylar sambil mengelap tangannya pada handuk tangan di atas westafel.


"Jangan berlebihan," Papa Lucas tergelak, "kalau begitu pagi ini kamu mau sarapan apa?"


Skylar mengusap dagunya dengan jari telunjuk.


"mau pancake dong, Pa! toppingnya pakai madu dan buah-buahan pasti enak."


"Ide yang bagus!" Papa Lucas mencubit gemas kedua belah pipi anaknya.

__ADS_1


"Kalau begitu mari kita mulai memasak, Papa. bahannya masih lengkap 'kan? atau aku perlu pergi untuk membeli bahannya dulu?"


"Bahan makanan kita masih lengkap kok, nak. ayo kita masak!"


Tawa menghiasi interaksi hangat antara sepasang ayah dan anak itu. Keduanya menikmati waktu berkualitas bersama --ya setidaknya Papa Lucas ingin menghabiskan banyak waktu berkualitas dengan sang putri sebelum Skylar menikah.


...****...


"Teon, kamu tidak pergi ke kampus hari ini?" tanya Bunda saat menyadari putra sulungnya itu masih sibuk berkutat dengan setrika dan pakaian di atas meja setrika.


"Tidak, Bun. hari ini libur tidak ada kelas tapi aku akan pergi ke kampusnya Jeno untuk mengisi acara seminar di sana," sahut Teon kalem, menoleh sejenak kepada sang Bunda yang berdiri di belakangnya.


"Jeno pasti bangga Abangnya jadi motivator di seminar kampusnya," canda Bunda sambil tergelak halus tatkala Jeno juga sudah datang mendekat dengan wajah cemberutnya yang lucu.


"Kenapa harus Abang sih yang mengisi acara seminar itu?" rutuk Jeno sambil mengenakan almamater kampusnya yang berwarna biru langit dengan tergesa lantas menata rambutnya dengan sisir kecil di depan cermin.


"Kamu harusnya bangga dong, sayang, Abangmu mendapatkan bagian besar dalam acara penting di kampusmu," ucap Bunda beropini.


Jeno menggeleng cepat. "orang-orang pasti akan membanding-bandingkan Jeno dengan Abang apalagi secara fisik Abang lebih tampan dengan otak yang sangat brilian."


"Jeno, kamu tampan dengan karakteristik milikmu sendiri dan cerdas di bidangmu sendiri jadi tidak usah dengarkan kata-kata orang. lagi pula abang yakin kamu pasti punya banyak fans setia sejak pertama kali masuk kuliah, bukan?" kata Teon seraya mencabut colokan setrika dari stop kontaknya. Lucu memang saat Jeno mulai merajuk karena kerap kali dibandingkan dengan Teon yang terlalu sempurna ini.


Teon dan Jeno memang sama-sama tampan dan memiliki daya tarik masing-masing tetapi Teon lebih menonjol karena ia sangat cerdas sejak dini, berbeda dengan Jeno yang lebih tertarik pada seni sejak kecil. Namun beruntungnya, Bunda tidak pernah ikut membandingkan kedua putranya itu karena beliau tahu anak-anaknya hebat pada bidangnya masing-masing.


"Tapi..."


"Kalian harus segera berangkat, Jeno. tidak ada gunanya terus berdebat," lerai Bunda sambil mendorong pelan punggung lebar Jeno menuju ke luar rumah.


Teon tergelak geli, kemudian mengenakan kemejanya dengan gerakan cepat menyusul langkah Bunda dan Jeno yang sudah lebih dulu ke luar rumah. Akhirnya setelah sekian lama Teon dan Jeno bisa pergi bersama, cukup menyenangkan bagi Teon tetapi sepertinya menyebalkan bagi Jeno.


"Ayo berangkat, setengah jam lagi acara seminarnya akan segera di mulai," ajak Teon kepada Jeno seraya melangkah masuk ke dalam mobilnya membuat Jeno tak punya pilihan lain selain ikut masuk ke dalam mobil kakaknya itu.


"Kenapa hari yang sangat aku hindari selama belasan tahun ini bisa terjadi?" Jeno merutuk meski pun tetap masuk ke dalam mobil Teon.

__ADS_1


"Bunda, berangkat dulu ya. Assalamualaikum," pamit Teon dengan senyuman manis kepada sang Bunda.


"Waalaikumsalam, hati-hati jangan ngebut!"


Teon melajukan mobilnya keluar dari pekarangan rumah mereka mulai berjalan perlahan menuju jalan raya. Air muka cemberut Jeno kini menarik perhatian Teon yang meliriknya sekilas melalui kaca spion membuat Teon terkekeh geli.


"Apa yang membuat bibirmu jadi maju lima meter?" goda Teon berusaha mengusik Jeno.


Jeno mendengus. "aku sungguh malas kalau harus dibanding-bandingkan denganmu."


"Orang-orang tidak akan membandingkan kamu dan Abang kalau mereka tahu betapa hebatnya potensi yang kamu miliki," balas Teon kalem, mengambil belokan menuju kampus Jeno yang terletak di jantung kota.


"Andai mereka memikirkan seperti yang Abang pikirkan," sahut Jeno acuh.


Teon tergelak. "kurasa begitu. adikku sangat hebat dan semua orang harus tahu itu."


Tak lama kemudian mobil Teon akhirnya tiba di pelataran kampus tempat Jeno menuntut ilmu.


Nampak banyak mahasiswa baru dipandu oleh para senior untuk masuk ke dalam lapangan utama universitas. Jeno turun lebih dulu, melihat kondisi sekitar lantas mengambil tasnya.


"Ayo masuk, Bang. acaranya sudah mau dimulai."


Teon tersenyum tipis. "baiklah mari masuk."


"Selamat pagi, Jeno!"


"Pagi, Jeno!"


Beberapa gadis terlihat menghampiri Jeno dengan wajah cerah, membuat rasa bangga timbul dalam benak Teon. Ternyata dia dan adiknya sama-sama magnet bagi kaum hawa --membuktikan bahwa mereka berdua memang memiliki fisik yang menawan.


"Aduh, jangan mulai!" gerutu Jeno saat melihat para gadis semakin mendekat.


"Selamat pagi para gadis manis, apa kalian ada keperluan dengan adik saya yang tampan ini?" tanya Teon santun membuat para gadis menganga tak percaya sekaligus bingung.

__ADS_1


"Apa anda bilang?!"


__ADS_2