
Langit yang telah kelam tidak membuat kediaman keluarga Wong yang sejak siang ramai oleh karyawan vendor dekorasi sepi.
Mereka masih bekerja menghiasi rumah keluarga Wong yang megah dengan begitu detail untuk mempersiapkan acara lamaran Teon dan Skylar yang akan digelar besok.
Semua orang nampak sibuk, tak terkecuali Papa Lucas yang terlihat repot kesana-kemari memberikan arahan agar dekorasi dapat dipasang dengan lebih maksimal.
Dekorasi elegan yang bernuansa biru muda itu sudah mulai memenuhi hampir setiap sudut kediaman keluarga Wong, membuat rumah mewah itu nampak semakin indah.
Bunga-bunga segar yang telah dirangkai sedemikian rupa juga mulai dipasang di beberapa titik rumah, membuat dekorasi yang telah terpasang nampak semakin cantik.
Dekorasi dengan bunga segar memang menjadi pilihan Skylar mengingat ia memang sangat menyukai bunga dan untungnya pihak vendor dengan senang hati menuruti keinginan Skylar yang cukup berbeda dari client kebanyakan itu.
"Bingkai fotonya tolong taruh di sebelah pintu masuk juga," perintah Papa Lucas kepada karyawan yang membawa bingkai foto besar berisi foto Teon dan Skylar.
Kedua pria itu mengangguk cepat, lantas membawa bingkai foto berwarna putih itu ke luar rumah sesuai arahan dari Papa Lucas.
Taman belakang rumah keluarga Wong akan menjadi tempat diselenggarakannya acara utama, yang secara otomatis jadi titik utama dalam kegiatan pemasangan dekorasi ini.
Beberapa pohon berukuran kecil juga tak luput dari perhatian para karyawan vendor dekorasi, mereka memasangkan lampu tumbler berwarna warm mengelilingi pohon untuk menambah kesan elegan. Kolam renang di sisi kanan taman juga diberikan balon berwarna putih dan biru muda, mengikuti warna utama dekorasi.
Semua orang nampak semakin sibuk, mempercepat proses pemasangan dekorasi agar bisa selesai sebelum tenggat waktu.
Skylar memantau orang-orang yang sibuk memasang dekorasi di taman belakang rumahnya dari jendela kamar ditemani oleh banyak makanan manis pemberian Teon yang sempat mampir beberapa jam yang lalu. Gadis itu hanya diam, berusaha mengendalikan rasa gugupnya dengan cara menikmati makanan yang berjajar di atas meja di depannya. Skylar bersyukur Teon begitu peka hingga akhirnya rasa gugup yang memenuhi benaknya sedikit demi sedikit bisa berkurang.
Sang gadis menarik napasnya dalam-dalam berusaha untuk segera tidur dengan harapan wajahnya bisa terlihat lebih segar dan maksimal menggunakan makeup besok.
Skylar mengalihkan atensinya kepada kebaya modern berwarna biru muda yang cerah namun elegan mirip dengan warna langit, busana indah yang akan dia kenakan besok.
__ADS_1
"Semoga perutku tidak tiba-tiba menjadi buncit besok gara-gara semua makanan manis ini," cicit Skylar seraya menarik selimutnya dan berusaha memejamkan mata untuk segera tidur.
...****...
"Kamu sudah siap, Teon?" tanya Bunda kepada sang sulung yang sudah nampak begitu tampan dan gagah dengan balutan kemeja batik berlengan panjang.
"Aku siap, Bunda. ayo kita berangkat," balas Teon sambil berusaha meminimalisir rasa gugupnya.
Jeno terkekeh. "Abang sepertinya gugup sekali, kali ini biar aku saja yang menyetir."
Teon tersenyum kalem, mengangguk kemudian.
"baiklah kalau begitu terima kasih, kamu sangat pengertian."
Ketiganya lalu berjalan beriringan keluar rumah menuju mobil SUV milik Teon yang sudah siap sedia menjadi kendaraan mereka untuk bertolak menuju rumah Skylar, tempat acara lamaran akan diselenggarakan.
Teon berusaha mengendalikan rasa gugupnya dengan menarik napas dalam-dalam berkali-kali namun belum juga membuahkan hasil seperti harapannya namun ia tetap berusaha untuk tenang demi kelancaran acara lamarannya kepada Skylar secara resmi yang tentunya disaksikan oleh banyak orang nantinya.
Jeno mengemudi dengan santai sambil bersenandung tetapi konsentrasinya penuh, hingga akhirnya mereka tiba di kediaman keluarga Wong tanpa hambatan seolah alam pun merestui keduanya untuk segera bersatu.
"Om, gimana perjalanannya kesini tadi?" tanya Jeno kepada Om Roby, Paman mereka yang ternyata tiba lebih dulu di kediaman keluarga Wong.
"Lancar kok, alhamdulilah," sahut Om Roby dengan seulas senyum. "ayo masuk, Pak Lucas sudah menyuruh kita masuk agar dapat segera memulai acaranya."
Mereka lantas masuk ke dalam rumah mewah yang sudah penuh dengan dekorasi elegan biru muda tersebut dengan sambutan hangat dari pihak keluarga Skylar.
"Selamat datang. bolehkah saya tahu apa maksud dan tujuan Anda sekalian datang kemari?" tanya Papa Lucas santun kepada Om Roby sesuai dengan formalitas.
__ADS_1
"Maksud dan tujuan saya bersama keponakan serta kakak saya kemari adalah guna melamar nona Wendelline Skylar Wong untuk keponakan saya, Teon Tirdianata yang tampan rupawan ini," sahut Om Roby tak kalah sopan, dibarengi dengan senyuman dari Teon sekeluarga.
Papa Lucas tersenyum penuh. "kalau begitu mari masuk, putri saya memang hanya menyukai keponakan Anda."
Om Roby dan Papa Lucas berjalan masuk ke arah taman belakang rumah keluarga Wong sambil berbincang ringan, basa-basi sedikit sebagai calon besan tentunya.
Setibanya di taman belakang rumah Skylar yang sudah dipenuhi oleh keluarga serta sahabat dari Teon mau pun Skylar, acara pun langsung di mulai dengan kata sambutan dari pihak keluarga Skylar.
Wajah-wajah oriental dari pihak keluarga Skylar membuat Jeno takjub, ternyata Skylar memang berasal dari bibit unggul seperti dugaannya.
Bahkan Jeno juga merasa begitu kagum akan ketampanan Papa Lucas yang masih nampak begitu menonjol walau sudah di usia yang tak muda lagi.
Skylar yang sudah duduk di sebelah Teon dengan kebaya modern serta balutan kain batik itu terlihat begitu cantik serta anggun, tersipu malu mendengar pujian-pujian manis dari setiap mata yang memandangnya.
"Kamu sangat cantik, ah, terlalu cantik seperti seorang malaikat," puji Teon yang tak kuasa menahan diri untuk berhenti mengagumi kecantikan Skylar yang hari ini semakin menjadi.
"Tentu saja aku harus sangat cantik jika ingin bersanding dengan calon suami yang sangat tampan pula," balas Skylar dengan senyum malu-malu.
Setelah serangkaian acara selesai, tibalah sesi tukar cincin yang menjadi momen yang paling ditunggu para hadirin membuat Teon dan Skylar semakin berdebar-debar namun berusaha menutupinya dengan senyuman.
"Kepada ananda Teon dan Skylar, harap segera naik ke atas panggung untuk sesi tukar cincin," panggil sang pembawa acara kepada Teon dan Skylar.
Keduanya lantas berdiri, berjalan perlahan sambil bergandengan menuju panggung membuat semua mata tertuju pada mereka.
"Kenapa Abang sangat tampan?" cicit Jeno sambil tersenyum bangga.
"Calon menantuku juga sangat cantik," puji Bunda dengan mata terpaku pada Skylar.
__ADS_1
Dipandu oleh sang pembawa acara, Teon dan Skylar mulai melakukan prosesi tukar cincin sebagai simbol bahwa mereka sudah saling terikat.
"Dengan begini, Teon dan Skylar sudah resmi bertunangan. mari turut berbahagia untuk pasangan kita yang sangat mesra ini."