
"Ini maksudnya apa, Teon Tirdianata?!" tanya Skylar meski ia tahu Teon sedang tidak ada di hadapannya.
Kening mulus Skylar mengernyit bingung, tak tahu apa maksud Teon yang sekonyong-konyong memberinya kartu itu terlebih tujuannya untuk dibelanjakan sungguh membuat Skylar bingung.
Teon juga tidak pernah menyinggung soal kartu ini sebelumnya, membuat pikiran Skylar gusar.
Buru-buru gadis itu meraih ponselnya, mengaktifkan benda persegi pipih berwarna rose gold yang sejak tadi terkapar di atas nakas guna menghubungi sang empunya kartu.
Nada dering terdengar cukup panjang hingga akhirnya orang yang menjadi tujuan Skylar untuk menggunakan ponselnya itu menjawab dengan suara berat nan berwibawa khasnya.
"Maksudnya apa kamu kasih aku kartu hitam ini?" Skylar langsung mencecar pertanyaan inti pada Teon setelah menjawab salam yang diucapkan oleh tunangannya tersebut.
Teon terkekeh pelan. "tidak ada maksud apa-apa, sayang. saya hanya ingin memberikan kamu sedikit kesenangan setelah saya harus meninggalkan kamu demi tour bersama para dosen ini."
Oh, sungguh pria yang sangat peka! Agaknya Teon tahu kalau Skylar memang merasa sedikit kesal karena Teon harus pergi selama beberapa hari ditengah repotnya persiapan untuk acara pernikahan mereka yang akan segera dihelat itu.
"Aku sungguh tidak butuh uangmu," Skylar menghela malas. "Papaku juga bisa memberikannya jika aku minta jadi kamu tidak perlu repot-repot seperti ini."
Lagi-lagi Teon hanya bisa mendengus geli, dia hampir lupa kalau calon istrinya merupakan putri tunggal dari salah satu pengusaha tersukses di negeri ini karena gadis itu selalu menghindari penampilan glamor dan kesan mewah.
"Saya tidak lupa soal itu, sayang. sekarang pergilah berbelanja dan kamu tidak boleh menolak karena ini adalah perintah mutlak dariku! assalamualaikum."
"Hey, aku belum selesai bicara!"
"Tut... tut... tut..."
"Waalaikumsalam," gumam Skylar setengah tak rela panggilannya diputuskan secara sepihak oleh Teon.
Baiklah, lain kali sepertinya Skylar akan balas dendam untuk perbuatan Teon ini.
Merasa semakin sebal pada Teon, Skylar mengambil kartunya lalu memasukkan benda pengganti uang itu ke dalam dompetnya lantas bergegas keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Tujuannya hanya satu, yaitu berbelanja sampai rasa kesalnya pada Teon yang sangat menyebalkan itu bisa menghilang.
...****...
"Jadi lo gimana, Jeff, sama cewek itu?" Liam menanyai Jeffrey setelah lawan bicaranya itu duduk dengan nyaman di kursi bersebrangan dengan meja kerjanya.
Sekarang sudah pukul sebelas malam namun Liam harus bekerja lembur karena Bar akan mengadakan banyak promo dalam waktu dekat yang mau tidak mau membuatnya menjadi kerepotan. Semenjak keadaan ekonomi orang tuanya turun drastis mau tak mau bekerja menjadi pilihan terakhir yang harus dia jalani.
Liam tidak bisa mengharapkan gaji yang tinggi, tetapi dia perlu membayar biaya kuliahnya tentu saja dan mana mungkin ia tega memintanya kepada orang tuanya yang jelas sudah bangkrut.
Jeffrey tertawa satir. "seperti yang pernah lo bilang kalau gue sudah kelewatan, bukannya bisa melupakan Skylar setelah gue menjalin hubungan dengan Ririn gue malah masuk ke dalam persoalan yang makin runyam."
Liam mengerutkan dahinya. "maksud lo?"
"Gue sudah putus sama dia seminggu yang lalu, kayak yang lo bilang kalau hubungan gue sama dia bakalan toksik banget dan itu benar terbukti," beber Jeffrey.
Liam tergelak, begitu renyah di dengar hingga Jeffrey merasa sedikit kesal.
Liam tahu betul bahwasanya Jeffrey adalah pria baik yang tak sepatutnya menjalin hubungan dengan wanita yang suka keluar masuk club nyaris setiap hari seperti Ririn.
Sejujurnya, Liam sebagai seorang sahabat merasa sangat khawatir hingga melarang Jeffrey secara halus untuk melanjutkan hubungannya dengan Ririn namun apa boleh dikata nasi sudah menjadi bubur.
Jeffrey yang seharusnya bisa berbahagia kini malah mendapatkan dua kali patah hati, membuat Liam merasa miris.
"Gue akui kali ini gue yang salah," sahut Jeffrey pasrah, menenggak minuman kaleng dingin pemberian Liam.
"Lo nggak harus langsung move on walau Skylar bakalan nikah dalam waktu dekat, kok. lo hanya perlu belajar menerima kenyataan bro bukannya malah memaksakan diri lo kayak kemarin," peringat Liam dengan mata yang masih terpaku pada monitor komputernya.
"Gue peduli sama semua sahabat gue, baik lo mau pun Skylar," tambah Liam dibubuhi seulas senyum tipis. "gue nggak mau kalian berdua yang sudah gue anggap sebagai saudara gue sendiri ada di posisi yang sulit begini."
Jeffrey tersenyum getir. "gimana bisa lo sama sekali nggak naksir sama Skylar?"
__ADS_1
Liam memandang Jeffrey lurus. "siapa bilang gue nggak naksir sama sekali? gue naksir, tapi gue berusaha menganggap kalau Skylar itu adik gue sendiri bukan sebagai cewek yang bisa gue jadikan pasangan."
Bukan hal yang mengagetkan, Wendelline Skylar memang sangat mempesona dilihat dari sisi mana pun wajar kalau dia mendapatkan berbagai julukan dari para mahasiswa di kampus mulai dari 'Aset Negara' hingga 'Dewi Fakultas Kedokteran' yang melekat padanya. Terlebih, di samping wajah rupawan miliknya Skylar juga cerdas dengan prestasi mumpuni meski berasal dari keluarga kaya raya ia sama sekali tidak pernah malas belajar yang tentunya membuat semakin banyak orang jatuh hati pada kesempurnaan gadis itu.
"Dari kecil Skylar memang sudah terbiasa jadi primadona, jadi mana dia punya waktu buat memikirkan perasaan orang lain kepadanya," jelas Liam. "lagi pula, gue bukan siapa-siapa ya mana berhak mendapatkan hati Skylar yang sangat berharga itu."
Jeffrey merasa setuju, mengangguk.
"Ya, gue rasa pilihan dia buat menikah dengan Teon adalah pilihan yang paling tepat. gue nggak bisa melakukan apa-apa selain mendoakan semuanya yang terbaik buat dia."
"Itu maksud gue. walaupun lo sayang sama dia sebagai seorang cewek tapi cinta 'kan nggak harus memiliki. jadi kita cuma bisa dukung apa yang sudah menjadi pilihannya dia," tambah Liam.
Dentuman musik keras dari area Bar yang samar-samar turut masuk ke dalam ruang kerja Liam membuat Jeffrey jadi teringat akan sesuatu yang menjadi tujuan utama dirinya datang kemari.
"Iya, terima kasih lo sudah support gue selama ini. Tapi, Li, ada sesuatu yang harus lo tahu juga."
"Soal apaan emangnya?"
"Skylar sudah curiga gara-gara lo pulang buru-buru di acaranya dia kemarin."
Alis Liam terangkat. "kok lo bisa tahu?"
"Tadi gue nggak sengaja ketemu sama Skylar di jalan terus gue antar dia pulang. Dia terus nanyain soal lo sampai akhirnya gue merasa sudah saatnya dia tahu," terang Jeffrey.
"Dia tahu gue kerja disini?"
"Untungnya belum. tapi lo harus siap-siap bakalan dimarahin sama tuh cewek karena masalah ini."
Liam tersenyum masam. "satu sisi gelap Skylar cuma marahnya yang seram kok, selebihnya dia nggak ada kurangnya."
Jeffrey tertawa terbahak-bahak melihat air muka Liam yang sudah berubah aneh.
__ADS_1
"kalau soal itu gue nggak bisa bantu, bro. maafin gue ya gue doain deh semoga lo nggak kena amuk sama Skylar nanti kalau dia sampai ketemu sama lo secara langsung."