Skylar Dan Sang Dosen

Skylar Dan Sang Dosen
45


__ADS_3

Jalanan area kompleks perumahan elit tempat Skylar tinggal masih nampak lengang, membuat gadis itu semakin leluasa menikmati waktu olahraga pagi yang akan dilakukannya seorang diri kali ini. Setelah melakukan peregangan otot, Skylar memakai helm lantas menaiki sepedanya --setelah sekian lama tidak punya waktu luang hanya untuk sekedar menikmati momen seperti ini.


Dengan santai Skylar mengayuh pedal sepedanya diiringi dengan tiupan angin sepoi-sepoi yang begitu lembut menyapa helaian rambut dan kulit bening milik Skylar yang dibalutnya dengan setelah olahraga panjang berwarna hitam dengan aksen pink, sangat kontras dengan warna kulitnya.


"Pagi, Kak Skylar," sapa seorang pemuda dengan seulas senyum ramah.


Ya, di kompleks perumahan ini memang tak banyak anak yang seusia dengan Skylar rata-rata mereka masih sekolah jarang ada yang sudah kuliah seperti Skylar. Ada pun yang sudah kuliah semuanya menempuh pendidikan di luar negeri tak heran, Skylar tak memiliki teman sebaya di lingkungan tempat tinggalnya itu.


"Pagi juga, Dito. lama nggak ketemu," balas Skylar sambil turun dari sepedanya.


"Iya nih, Kak. aku sibuk apply sana sini biar bisa diterima di universitas negeri," sahut pemuda berseragam sekolah menengah atas itu.


Skylar tersenyum. "semangat ya, Dito. aku yakin kamu bisa masuk ke universitas negeri impian kamu kok yang penting jangan cepat menyerah ya."


"Terima kasih, Kak Skylar."


Dibalik sifatnya yang dingin bahkan tak ragu untuk bersikap ketus itu Skylar tetaplah seorang gadis yang ingin mempunyai saudara.


Tentunya hidup selama puluhan tahun sebagai seorang anak tunggal kaya raya cukup membuat Skylar merasa kesepian, dia ingin merasakan bagaimana sensasi bertengkar dengan saudara seperti apa yang sering diceritakan oleh teman-temannya. Tapi ya sudahlah, Skylar selalu berusaha menerima semua takdir yang datang padanya dengan lapang dada sejak dulu.


Gadis itu kembali menaiki sepedanya, mengayuhnya dengan santai sambil bersenandung kecil menikmati cerahnya cuaca hari ini. Suhu udara sejuk serta sinar matahari yang bersinar tidak terlalu terang membuat Skylar merasa cuaca hari ini sangat ideal dan beruntungnya lagi ia tak harus pergi ke kampus hari ini karena para dosen memiliki agenda khusus --menurut informasi yang Skylar peroleh dari Teon, para dosen menyelenggarakan agenda khusus yaitu tour bersama.


Agenda yang memang rutin dilakukan oleh para dosen tak terkecuali Teon juga turut serta meski pria itu merengek pada Skylar kalau sebenarnya ia tidak ingin mengikuti tour itu.


Jengkal demi jengkal jalanan beraspal itu dilewati oleh Skylar bersama sepedanya, hingga akhirnya gadis itu hampir tiba di pusat kota tanpa ia sadari.


"Oh, sepertinya aku pergi terlalu jauh," gumam Skylar menyadari kebodohannya.


Skylar memutarbalikkan sepedanya, bermaksud kembali pulang mengingat hari juga mulai beranjak siang, Papa Lucas pasti khawatir karena Skylar memang tidak membawa ponselnya.

__ADS_1


"Skylar!"


Merasa terpanggil, sang gadis kontan menoleh mencari sumber suara tersebut.


"Sebelah sini, Sky!"


Oh, ternyata di seberang jalan ada Jeffrey yang sejak tadi berusaha memanggil Skylar.


Pria itu lantas menyebrang, menghampiri Skylar yang sudah memandangi dirinya dengan sorot super galak.


"Ngapain lagi lo manggil gue?" tanya Skylar ketus tatkala Jeffrey sudah ada di depannya.


Mendapatkan pertanyaan super ketus itu, Jeffrey hanya bisa memamerkan senyum lebar yang bodoh seraya menggaruk tengkuknya yang sebenarnya sama sekali tidak gatal itu.


"Maafin gue dong... gue sebenernya mau datang ke acara pertunangan lo tapi gue ketiduran," kata Jeffrey berusaha menjelaskan alasannya tidak menghadiri acara pertunangan Skylar dan Teon beberapa hari yang lalu.


Jeffrey menaik turunkan alisnya. "lo harus bersyukur karena gue masih bisa bangun."


Skylar mendecih. "idih buat apa gue bersyukur? lo 'kan nggak ada kontribusi di hidup gue."


Jeffrey tergelak, sungguh dia merindukan sikap ketus Skylar ini, sudah lama Skylar tidak ketus begitu padanya membuat Jeffrey tak menapik kalau ia rindu mendapatkan perlakuan jutek itu.


Dia merasa sangat beruntung masih bisa bertemu gadis itu sebagai seorang teman.


"Sekarang lo minggir, gue mau pulang!"


"Lagian lo ngapain coba ke tengah kota naik sepeda gitu?"


Skylar menghela. "gue niatnya cuma mau jalan-jalan di sekitaran perumahan gue tapi malah sampai ke sini."

__ADS_1


"Lo ngapa dah," Jeffrey tertawa, agak tidak menyangka kalau Skylar yang biasanya selalu melakukan segala sesuatu dengan terperinci malah bisa menjadi ceroboh begitu.


"Mau puter balik tapi gue capek," keluh Skylar menyeka keringatnya yang sudah merembes dari bawah helm yang ia pakai.


"Gue bawa mobil, mau gue antar pulang? sepeda lo bisa dilipat juga lagian," tawar Jeffrey menunjukkan mobilnya yang terparkir di seberang jalan, bukan mobil sedan yang biasa ia bawa ke kampus melainkan sebuah mobil yang biasa di pakai untuk olahraga offroad.


Kalau sudah begini mau tak mau Skylar setuju sebab ia juga sudah lelah kalau harus mengayuh sepedanya untuk kembali pulang ke rumah.


Cuaca juga sudah mulai panas membuat Skylar hanya bisa mengangguk pasrah.


"Yaudah, tolong antar gue pulang kalau gitu capek banget gue kalau harus balik naik sepeda," putus Skylar setelah menimbang sejenak.


Jeffrey tanpa basa-basi langsung meraih sepeda lipat milik Skylar, melipatnya agar bisa dibawa dengan lebih mudah.


"Lo harus kurangi aktivitas fisik yang bikin capek kayak gini," omel Jeffrey sambil menggotong sepeda Skylar, menyebrang jalan bersama dengan Skylar menuju mobilnya.


"Gue cuma mau olahraga sedikit, mana mungkin gue buncit pas mau pakai gaun pengantin nanti."


"Ya lo kan bisa olahraga dari rumah pakai jenis-jenis olahraga yang ringan, misalnya plank atau yoga gitu. lagian siapa juga yang bilang lo buncit?"


Jeffrey tetap saja mengoceh dengan lancar meski tangannya sibuk memasukkan sepeda Skylar ke belakang mobilnya, tidak peduli walaupun gadis itu hanya memandangnya dengan ekspresi sulit dibaca.


"Lo kenapa sih ngoceh terus mirip nenek lampir," cibir Skylar merasa pusing mendengar celotehan Jeffrey yang seolah tiada habisnya itu.


"Gue tuh begini karena murni sayang sama lo," balas Jeffrey santai, masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Lo 'kan tahu kalau gue ini sudah jadi calon istri orang, Jeff. mending lo cari cewek lain sana!"


Lagi-lagi Jeffrey tergelak, dipandangnya lurus gadis berparas ayu yang duduk di kursi penumpang depan mobilnya itu. "bukan soal gue nggak mau cari cewek lain, Wendelline Skylar. tapi soal perasaan tuh mana ada yang bisa ngatur, Tuhan bikin gue sayang sama lo terus gue bisa apa?"

__ADS_1


__ADS_2