Skylar Dan Sang Dosen

Skylar Dan Sang Dosen
50


__ADS_3

"Sepertinya nanti jika punya anak aku ingin punya sepasang seperti mereka," ucap Skylar jujur.


"Apa?!"


Teon jelas terheran-heran, bagaimana mungkin Skylar sudah berpikir untuk mempunyai dua orang anak? Mungkin kedua anak ini mengatakan sesuatu yang membuat hati Skylar tergugah.


Namun Teon tidak mau memikirkannya lebih lanjut, ia hanya tersenyum setelahnya tak ingin bertanya lebih banyak.


"Tidak usah kaget begitu, aku hanya ingin punya dua anak bukan meminta mahar pernikahan dua puluh milyar," canda Skylar yang lagi-lagi dibubuhi dengan tawa yang lepas serta tulus.


"Kalau begitu Kak Teon harus kembali ke ruang rawat, ini sudah mendekati waktu makan," ucap Rani menginterupsi.


"Kalau begitu kalian juga harus makan," Teon menyahut lembut, memandang Rani dan Daffa bergantian.


Anak-anak itu memang terlihat sangat manis dan lucu wajar kalau Skylar ingin mempunyai sepasang anak seperti mereka.


"Baiklah, baiklah. kami akan kembali ke ruang rawat sekarang Mama pasti akan khawatir kalau kami tidak segera kembali," balas Rani seraya menarik tangan Daffa berlawanan arah menuju unit perawatan anak.


"kalau begitu kami masuk duluan, kak. sampai nanti!"


Dua punggung kecil bocah yang mungkin masih berusia dibawah 12 tahun itu perlahan menjauh, berlalu seiring dengan detik waktu yang bergulir.


"Mereka anak-anak yang sangat hebat," ucap Skylar setelah yakin kedua anak itu telah menjauh.


"Kenapa kamu bisa bilang begitu?"


"Mereka berdua adalah pasien tetap, Mas. para pejuang kanker cilik yang bahkan harus rela kehilangan waktu bermain mereka yang menyenangkan di luar rumah sakit," jelas Skylar dengan pandangan tertuju pada langit.


"Semangat mereka luar biasa sekali bahkan mereka terlihat sangat ceria seperti anak-anak lainnya."


Skylar membetulkan alat bantu ortopedi yang terpasang di kakinya. "hal itu yang membuat aku jadi ingin segera menyelesaikan studiku dan meraih gelar dokter. orang-orang seperti Daffa dan Rani sangat membutuhkan penanganan khusus dari dokter terbaik agar bisa sembuh."


Teon mengusap lembut puncak kepala Skylar sambil tersenyum tulus. "dokter berhati baik seperti kamulah yang sesungguhnya paling dibutuhkan dalam dunia medis."


...****...

__ADS_1


Sang langit maha luas kali ini berwarna biru begitu cerah dengan awan-awan kecil yang bergerak lambat mengikuti arah angin terlihat sama cerahnya dengan senyuman Skylar yang terlihat sedang sibuk bersenda gurau dengan Rani dan Daffa siang itu di taman rumah sakit.


Skylar dengan sukarela menawarkan diri untuk mengajari kedua bocah itu pelajaran matematika karena permintaan Daffa kemarin.


"Aku tidak menyangka kalau matematika akan memusingkan seperti ini," celetuk Daffa dengan muka cemberut.


Rani melotot sebal. "padahal yang ngotot mau belajar matematika 'kan kamu."


Karena kondisi fisik tidak memungkinkan bagi mereka untuk melanjutkan pendidikan formal seperti anak-anak lainnya di sekolah, mereka mendapatkan bimbingan belajar secara privat di rumah sakit seminggu tiga kali.


Setidaknya begitulah menurut pengakuan keduanya.


"Kukira dengan begitu aku bisa menjadi pintar seperti Kak Teon nantinya. aku benar-benar iri melihat laki-laki super tampan dengan otak jenius seperti Kak Teon," gerutu Daffa yang malah menggelitik tawa Skylar.


Teon yang sedang mengoreksi hasil pekerjaan Daffa tergelak halus. "selain kerja keras, kamu juga perlu mengandalkan pesonamu."


Daffa mencebik. "orang tampan akan kalah dengan orang gigih."


"Tapi orang gigih bisa kalah dari orang beruntung," balas Teon santai seraya memberikan catatan poin penting pada kesalahan dalam pekerjaan Daffa.


"Kalian tahu? wanita bisa lebih unggul dari pria karena lebih ulet dan rajin," Skylar menambahkan.


Rani memandang hasil pekerjaannya yang sudah dikoreksi oleh Skylar dengan puas.


"Kalau kali ini aku mendapatkan 80 poin, maka besok aku harus dapat 100 poin."


"Semangat yang sangat keren, Rani. saya yakin nantinya kamu bisa menjadi orang yang hebat," puji Teon dengan seulas senyum.


"Bagaimana denganku, Kak?"


"Daffa juga harus lebih semangat belajar. ingat, tidak ada keberhasilan yang datang sendiri tanpa diiringi dengan kerja keras," ucap Teon, memberikan buku milik Daffa dengan 60 poin.


Skylar kembali terkenang pada masa kecilnya yang lebih banyak ia habiskan untuk belajar ketimbang bermain dengan teman-teman sebayanya.


Bukan tanpa alasan, dia melakukan semua itu untuk mengusir rasa kesepiannya ketika harus tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang ibu.

__ADS_1


Papa Lucas sibuk bekerja dari pagi sampai malam untuk menjamin masa depan Skylar agar cemerlang sehingga gadis itu berpikir bahwasanya terus belajar hingga mendapatkan nilai tertinggi akan membayar kerja keras orang itu tunggalnya itu. Ya, tidak ada yang Skylar kecil inginkan kecuali kebanggaan dari sang Papa kepadanya.


Kedua sudut bibir gadis itu tertarik, terbayang kembali betapa lebar serta konyolnya senyuman Papa Lucas saat mendengar bahwa anaknya menjadi juara umum di sekolah untuk pertama kalinya. Skylar bangga bisa membuat Papanya tersenyum dengan begitu lebar dengan jerih payahnya sendiri.


"Kakak hanya dibesarkan oleh Papa sejak kecil dan itu jelas membuat kakak merasa sangat kesepian," Skylar memulai ceritanya. "dulu, kakak terus belajar hingga sangat jarang bermain demi membuat Papa bangga."


"Apakah kakak punya saudara?" kali ini Daffa yang bertanya.


Skylar menggeleng. "Papaku tidak memiliki anak selain diriku. itu sebabnya kesepian sangat mengusik hidupku sejak kecil."


Rani memandang Skylar penasaran. "lalu, apa yang terjadi setelahnya?"


"Kakak terus menerus belajar dengan tekun hingga akhirnya menjadi juara umum tetap sejak kelas satu sekolah dasar hingga lulus. Papa sangat bangga akan hal itu, dan itu merupakan kebahagiaan bagi kakak," lanjut Skylar kembali mengenang masa kecilnya.


"Hidup dengan orang tua cukup harta tidak menjamin kalian bisa merasa betul-betul bahagia," Teon menambahkan.


Teon sendiri besar dalam kondisi ekonomi sederhana sepeninggal ayahnya saat ia dan Jeno masih sangat kecil. Bunda merelakan aset-aset peninggalan ayah mereka dijual demi membiayai pendidikan Teon dan Jeno agar mendapatkan yang terbaik dan usaha sang Bunda tidaklah mengecewakan, kini Teon terkenal sebagai salah satu dosen muda paling sukses di tanah air.


Teon juga merupakan anak yang tahu diri, ia tidak pernah membangkang orang tua dan terus belajar dengan serius hingga berhasil mendapatkan banyak tawaran beasiswa.


"Yang terpenting sebagai anak, kita tidak boleh mengecewakan kedua orang tua selagi mereka masih hidup," Skylar menambahkan dengan suara yang sudah bergetar, sungguh merindukan sang Mama yang telah lama berpulang.


Teon mengusap lembut punggung Skylar.


"Orang tua kalian masih lengkap, bukan? maka kalian harus bersyukur sebab kami, dua orang yang kalian anggap berhasil ini tidak tumbuh besar dalam hangatnya cinta orang tua yang lengkap."


Daffa dan Rani mengangguk mantap.


"Siap, Kak! kami tidak akan malas belajar agar orang tua kami bangga!"


"Anak pintar..." Skylar menyeka air matanya yang sudah meleleh. "ingat, kalian harus sukses sebesar apa pun rintangan yang menghadang."


Sesosok wanita cantik bergaun merah maroon nampak tersenyum begitu lembut menyaksikan interaksi hangat antara Skylar, Teon dengan Daffa dan Rani.


"Anakku... kamu harus selalu bahagia, kamu sangat berhak untuk berbahagia sepanjang hidupmu."

__ADS_1


__ADS_2