Skylar Dan Sang Dosen

Skylar Dan Sang Dosen
51


__ADS_3

Usai menyelesaikan urusan administrasi rumah sakit siang itu, Teon dan Skylar bergerak pulang menuju rumah keluarga Wong yang letaknya lebih dekat menggunakan taksi online.


"Bagaimana soal mobil kamu, Mas?" tanya Skylar setelah keduanya masuk ke dalam mobil.


"Itu urusan mudah. saya dengar dari montir yang menanganinya mobilku mengalami kerusakan parah jadi saya rasa akan lebih baik kalau saya membeli yang baru saja nanti setelah kita menikah."


Skylar mengangguk paham. "ya sudah kalau begitu. itu lebih baik dari pada kita jadi trauma."


"Bagaimana kondisi kaki kamu?" Teon melirik kaki Skylar yang masih terbalut perban.


"Sudah membaik, hanya tinggal memar sedikit tapi akan segera hilang dalam beberapa hari."


"Maafkan saya karena kecerobohan saya kamu jadi terluka begitu," cicit Teon dengan air muka penuh sesal memandang sang gadis.


Skylar membetulkan rambut Teon yang turun mengenai perban di kepalanya.


"minta maaflah pada dirimu sendiri. ingat, kamu terluka jauh lebih parah dari pada aku."


Jalanan kota yang sedikit lebih lengang membuat mobil yang mereka tumpangi menjadi lebih leluasa bergerak dengan kecepatan sedang.


Setelah kurang lebih sepuluh menit akhirnya taksi online itu berhasil tiba di pekarangan kediaman keluarga Wong.


"Disini ya alamatnya?" tanya si bapak sopir.


"Betul, Pak. terima kasih," Teon menyahut kemudian membantu Skylar untuk turun dari mobil.


Teon memapah Skylar seraya memanggil Mang Ujang, petugas keamanan yang sedang bertugas untuk membukakan pintu gerbang.


"Non Skylar kenapa nggak bilang kalau mau pulang? 'kan mamang bisa suruh si Udin buat jemput," ucap Mang Ujang sambil menunjuk rekannya si Udin yang lebih muda setelah membuka pintu gerbang.


"Tidak masalah, Mang. Skylar akan aman jika bersama saya," balas Teon dengan seulas senyum.

__ADS_1


"Iya, Mang. lagian itu si Udin sepertinya kelelahan habis dinas malam kata Papa," timpal Skylar setelah mendapati mata Udin yang kelopak bawahnya sedikit menghitam.


"Terima kasih atas pengertiannya, Non Skylar dan Den Teon," kata Udin dengan seulas senyum.


Skylar tersenyum. "iya sama-sama. kamu istirahat dulu sana."


Semua orang yang bekerja di rumah keluarga Wong jelas merasa betah, baik Papa Lucas mau pun Skylar selalu tahu bagaimana caranya memperlakukan semua karyawan mereka tanpa harus membuat mereka merasa tertekan atau direndahkan. Belum lagi gaji yang cukup tinggi membuat semua karyawan disana merasa sangat beruntung bisa bekerja pada keluarga Wong yang baik hati serta dermawan.


"Assalamualaikum!" panggil Skylar sambil memencet bel pintu rumahnya tak lupa melambaikan tangannya di depan kamera pengawas.


Rumah Keluarga Wong sangat canggih memang, terlebih Papa Lucas sering melakukan update pada sistem keamanan menggunakan sistem terbaru untuk memastikan keamanan rumah mereka selalu terjaga dengan baik.


Beberapa menit berselang, Papa Lucas datang tergopoh-gopoh membuka pintu untuk putri serta calon menantunya dengan setelan pakaian rumahan santai bernuansa hitam.


"Waalaikumsalam, kenapa nggak bilang kalau mau pulang? 'kan bisa Papa jemput," cerocos Papa Lucas sambil menyambut dua sejoli untuk masuk ke dalam rumah.


"Kita sengaja mau buat kejutan untuk Papa," balas Teon sambil terkekeh. "Skylar bilang sudah kangen berat sama Papa makanya saya ajak pulang hari ini."


"Ya memang, tapi hati kamu yang bilang begitu bukan? saya yakin kamu sudah rindu berat pada masakan Papa apalagi masakan di rumah sakit rasanya sangat hambar," ledek Teon dengan senyuman jahil khasnya.


"Sudah bukan rahasia kalau Wendelline Skylar itu memiliki gengsi yang dua kali lipat lebih besar dari pada tubuhnya, Teon," Papa berujar diselingi tawa kecil. "bilang saja kalau kamu memang merindukan Papa tak usah malu begitu bukankah Teon juga akan menjadi bagian dari keluarga kita?"


Skylar merengut. "Papa hanya perlu membawakan susu coklat untukku."


Teon tergelak. "susu coklat? ya ampun sayang, kamu bukan lagi anak berusia lima tahun."


Papa Lucas mendengus geli. "ya begitulah calon istrimu, Teon. kamu harus selalu membeli sekarung susu coklat bubuk setiap bulan."


Papa Lucas lantas pergi menuju dapur untuk membuatkan susu coklat pesanan Skylar.


"Papa adalah ayah yang sangat baik. andai saya memiliki waktu lebih banyak bersama ayahku dulu saya pasti akan dengan senang hati membuatnya bahagia," gumam Teon seraya memperhatikan Papa Lucas dari kejauhan.

__ADS_1


"Papa adalah ayahmu juga, Mas. walaupun ia berbeda dengan ayah kandungmu tapi percayalah Papa dengan senang hati menerima kamu sebagai putranya," balas Skylar dengan suara pelan pula.


"Saya mengerti, beliau memang sosok ayah yang sangat luar biasa."


Perjuangan Papa Lucas untuk meraih kesuksesan serta caranya mengasuh anak sungguh menjadi inspirasi bagi Teon. Buktinya, Skylar sukses menjadi anak yang sangat menarik serta pandai membuat orang-orang menyukainya terlepas dari penampilan Skylar yang menawan.


"Teon, mau minum apa?" tanya Papa Lucas setengah berteriak dari dalam dapur.


Skylar dan Teon beradu pandang lantas terkikik bersama.


"Sepertinya saya perlu mencicipi susu coklat buatan Papa juga," kata Teon.


"Katakan pada Papa untuk membuatkan satu gelas untuk kamu juga," balas Skylar. "kamu tidak akan menyesal setelah meminumnya, Mas."


Teon mengangguk, bangkit dari duduknya lantas beringsut masuk ke dalam dapur untuk menghampiri Papa Lucas. Ya, dia jadi ingin tahu bagaimana caranya Papa Lucas membuat susu coklat yang aromanya sangat menggoda itu.


Papa Lucas mendecak menyadari kehadiran Teon di dapur. "kenapa kamu kemari? katakan saja kamu mau minum apa."


"Saya ingin tahu bagaimana Papa membuatkan minuman penuh cinta untuk Skylar sejak dia kecil."


Papa Lucas tersenyum, sebuah senyuman yang sarat akan makna. "Papa sudah menjadi orang tua tunggal sejak Skylar masih sangat kecil dan sempat ada keinginan untuk menyerah."


Teon lantas memposisikan dirinya bersebelahan dengan Papa Lucas agar dapat mendengar cerita tentang masa lalu mereka dengan lebih jelas.


"Papa sangat mencintai Mamanya Skylar melebihi apa pun. namun takdir yang begitu kejam memaksa Papa untuk menjadi ayah sekaligus ibu untuk Skylar. Papa terus bekerja keras sambil memberikan pendidikan dasar kepada Skylar sebaik mungkin," memori masa lalu berputar secara otomatis dalam benak Papa Lucas, mengenang kembali beratnya masa mengasuh sambil bekerja pada masa itu. "Skylar selalu murung setelah mulai masuk ke dunia sekolah karena sering diolok-olok oleh temannya sebab tidak memiliki ibu. dan jujur itu sangat menyakiti hati Papa selaku orang tua tunggal."


Papa Lucas menghela napasnya panjang.


"maka dari itu Teon, Papa mohon jagalah Skylar hingga hembusan napas terakhirmu karena hanya dialah harta sesungguhnya yang Papa miliki."


"Saya tahu bagaimana perasaan Skylar waktu itu, Papa. maka dari itu sejak pertama kali bertemu dengan Skylar saya sudah berniat untuk membahagiakan Skylar walau harus merelakan segalanya yang saya miliki," balas Teon serius.

__ADS_1


__ADS_2