Skylar Dan Sang Dosen

Skylar Dan Sang Dosen
58


__ADS_3

Teon dan Skylar yang sudah resmi menjadi sepasang suami istri itu kini sibuk membenahi kamar hotel tempat mereka menginap agar bisa tidur dengan nyaman. Sejak tadi sepasang pengantin baru itu mendebatkan hal-hal kecil demi mencapai kenyamanan yang mereka mau karena baik Teon mau pun Skylar memiliki kebiasaan yang berbeda.


"Aku mau tidur dengan bantal yang lebih tinggi," protes sang istri saat Teon mengambil bantalnya.


"Leher kamu bisa sakit," Teon menyahut, mengambil bantal yang tadi telah ditumpuk oleh Skylar untuk tidur.


Bibir Skylar mengerucut. "aku mana bisa tidur dengan bantal pendek dan lembut seperti ini."


Teon menghela napasnya dalam-dalam, tidak mau terus berdebat dengan Skylar mengingat mereka berdua lelah dan lagi pula besok masih ada acara resepsi pernikahan yang harus mereka gelar.


"Nanti leher kamu sakit kalau bantalnya terlalu tinggi, sayang," Teon berujar lembut berusaha memberi pengertian kepada Skylar istrinya.


"Aku ingin tidur nyenyak malam ini, Mas. pagi-pagi sekali aku harus sudah bangun untuk dirias," dalih Skylar sambil merebut kembali bantalnya dari tangan Teon.


Kalau sudah begini Teon memutuskan untuk mengalah, toh kalau Skylar tidak bisa tidur dengan nyenyak dia pasti akan mengantuk di sepanjang acara besok. Bangun terlalu pagi juga bisa membuat kantung mata istrinya itu semakin menghitam yang sejujurnya membuat Teon sedikit khawatir.


"Ya sudah kalau begitu," final Teon, meraih bantal guling untuk dijadikan sebagai bantal kepala.


Ia langsung merebahkan diri di atas kasur king size tersebut, membiarkan Skylar memakai bantal miliknya untuk mendapatkan bantal tinggi seperti yang dimaui oleh sang istri.


"Mas Teon marah?" tanya Skylar hati-hati tatkala sang suami langsung memejamkan matanya.


"Sama sekali tidak."


"Lalu kenapa langsung tidur begitu?" Skylar kembali bertanya.


"Lihat ponselmu sekarang sudah jam berapa. kamu tidak mau 'kan kantung matamu semakin mirip dengan panda?" Teon membalas seraya berbalik badan menghadap Skylar.


"Omelanmu cukup sampai disini saja, Mas. aku akan segera tidur," tukas Skylar, mengambil posisi rebahan di sebelah Teon.


Keduanya saling bertatapan, bahagia akhirnya bisa sah menjadi suami istri di mata agama dan negara. Mereka lega akhirnya bisa menghabiskan waktu bersama disisa usia.


"Mas?" Skylar menyandarkan kepalanya di dada bidang milik Teon, menikmati debaran jantung Teon yang berirama lembut nan stabil.


"Ya, sayang?"


"Aku bahagia kita akhirnya benar-benar bisa menjadi suami istri," cicit Skylar, membuat Teon mendecak karena gemas mendengar perkataan wanita muda yang baru saja sah menjadi istrinya itu.

__ADS_1


"Jika kamu bahagia maka aku puluhan kali lipat lebih bahagia," balas Teon dibalik senyumnya.


Timbul semburat merah padam di kedua belah pipi pasangan pengantin baru itu, membuat keduanya terlihat sangat menggemaskan.


Jika saja Bunda dan Papa Lucas melihat interaksi menggemaskan itu jelas mereka akan senang meledek pasangan serasi bagai love bird tersebut.


"Mulai sekarang kebahagiaan kamu menjadi tanggung jawabku sebagai suamimu."


Skylar memejamkan matanya, mengangguk dalam rengkuhan hangat Teon merasa sangat bersyukur dapat menikah dengan lelaki terbaik pilihan hatinya sendiri. Bersama Teon, Skylar merasakan kenyamanan serta rasa tentram yang berbeda membuat Skylar merasa mantap untuk menikah dengan Teon.


Dalam pelukan hangat Teon, Skylar memejamkan matanya hingga akhirnya benar-benar terlelap tidur.


Dengan lembut Teon mengusap helaian surai indah milik istrinya, menghantarkan kasih sayangnya yang begitu menggebu untuknya.


...****...


Skylar memperhatikan refleksi dirinya sendiri dari cermin besar yang terpampang di dalam kamar hotel, melihat setiap inchi tubuh indahnya yang sudah terbalut dengan balutan gaun pengantin berwarna biru navy yang elegan.


Cantik dan anggun. Hanya dua kata itu terlintas dalam benak Skylar setelah melihat refleksi dirinya sendiri. Dengan riasan semi bold yang mempercantik wajahnya, Skylar terlihat semakin menarik serta menawan.


"Pengantin kita kali ini memang sangat luar biasa cantiknya," puji sang makeup artist, merasa terpana dengan kecantikan serta keanggunan Skylar yang sangat terpancar.


"Sudah kewajiban saya, Nona Wong. kalau begitu mari kita turun ke lokasi acara."


Skylar mengangguk, merapikan sedikit helaian rambutnya yang sudah ditata sedemikian rupa menyesuaikan dengan konsep. Wajahnya sangat ayu bagaikan putri dari negeri dongeng, membuat siapa pun yang melihatnya terpesona.


Dibantu oleh sang makeup artist, Skylar memasang sepatunya dengan sangat hati-hati.


"Sekali lagi terima kasih, mbak."


Wanita dewasa itu tersenyum lembut.


"sama-sama, Nona Wong. mari kita turun."


Skylar lantas beringsut perlahan menuju lift, tempatnya mengatur janji dengan sang Papa untuk pergi menuju lokasi acara bersama.


Di ujung lorong, nampak Papa Lucas berdiri dengan setelan tuxedo berwarna senada dengan gaun Skylar.

__ADS_1


"Papa?" panggil Skylar tatkala menyadari keberadaan sang Papa.


Papa Lucas menoleh ke sumber suara, terkesima dengan kecantikan Skylar putri semata wayangnya yang semakin terpancar.


"Bagaimana bisa kamu menjadi secantik ini?" Papa Lucas tersenyum bangga melihat kecantikan anaknya.


Skylar mengangguk antusias. "makeup artist pilihan Papa memang sangat luar biasa. lihat, aku jadi sangat cantik sekarang! terima kasih, Papa."


"Bukan masalah besar, sayang."


Papa Lucas menggamit pergelangan tangan Skylar, menuntun anaknya untuk masuk ke dalam lift bersama menuju ballroom lokasi acara.


Skylar menggandeng tangan sang Papa, berjalan sejajar dengan Papa Lucas meski harus sedikit lebih pelan karena sepatu pengantin yang dikenakan oleh Skylar cukup tinggi dan berat.


'TINGGG!'


Lift berhenti di ballroom, Papa Lucas lantas menatap Skylar lurus.


"apa kamu siap menerima banyak pujian dari para tamu undangan?"


Skylar terkekeh. "tentu! aku yakin semua mata akan tertuju padaku."


Mereka lantas berjalan beriringan masuk ke ballroom lokasi acara, dan benar saja semua mata benar-benar tertuju kepada sang mempelai wanita yang kecantikannya bahkan sepertinya mampu membuat bidadari merasa minder.


"Sungguh, Teon tidak salah memilih wanita yang dia persunting," puji Ratna, teman Teon saat beradu pandang dengan Skylar.


"Terima kasih sudah datang, Kakak," balas Skylar dengan wajah tersipu-sipu, membuat sekumpulan teman kuliah Teon itu merasa gemas.


Setelah berbagai macam acara formal berlalu, kedua mempelai akhirnya bisa duduk bersanding di atas pelaminan. Para tamu undangan benar-benar dibuat terpesona karena penampilan visual pasangan pengantin baru itu yang sangat luar biasa, terlebih Bunda dan Papa Lucas juga nampak amat menawan.


Teon terlihat begitu tampan dengan setelan berwarna senada dengan gaun pengantin Skylar membuat orang-orang tak berhenti berdecak kagum.


"Kamu hari ini luar biasa cantiknya," bisik Teon memuji kecantikan Skylar, istrinya.


"Mas juga terlihat sangat gagah dan tampan," balas Skylar malu-malu.


Acara berlangsung dengan sangat meriah, para tamu undangan bernyanyi bersama bahkan ada beberapa yang turut menari mengikuti irama lagu yang dinyanyikan oleh para pengisi acara.

__ADS_1


Kemeriahan itu tetap berlanjut tanpa ada satu pun dari mereka yang menyadari bahwa ada seorang tamu tak diundang yang datang dengan niat buruk kepada sepasang mempelai.


"Jika aku tidak bisa bahagia, maka kalian tidak boleh bahagia!" ucap sosok itu seraya memandang Skylar dan Teon penuh dendam.


__ADS_2