Skylar Dan Sang Dosen

Skylar Dan Sang Dosen
48


__ADS_3

Suara gemuruh guntur disertai dengan kilat terdengar menggema di segala penjuru lengkap dengan awan kelabu yang menutup rapat langit, membuat Skylar mengeratkan jalinan cardigan yang dikenakannya.


Angin bertiup kencang cukup untuk membuat pohon-pohon di dalam area kampus melambai-lambai kuat meningkatkan rasa waspada Skylar takut kalau sewaktu-waktu dahan besar pohon itu patah.


Langkah Skylar terburu, bergegas keluar dari lingkungan kampusnya karena semua jadwal kuliahnya sudah rampung dan hari pun telah beranjak sore.


Nampaknya hujan kali ini akan turun dengan sangat deras disertai angin kencang seperti yang sudah melanda kota lain --diwartakan di dalam berita selama seminggu ini.


"Sepertinya hujan akan sangat deras, ayo pulang," ucap Teon yang sudah menyalakan mesin mobilnya.


Setelah beberapa hari akhirnya Teon pulang dari tour bersama para dosen, namun ia belum masuk mengajar hari ini. Walau begitu pria itu tetap menyempatkan diri untuk menjemput calon istrinya, khawatir kalau-kalau Skylar terjebak hujan sebelum bisa tiba di rumah.


"Kurasa begitu, Mas. hujan deras beserta badai selama sepekan ini sudah sering terjadi di beberapa kota aku jadi khawatir kota kita juga akan mengalami nasib yang sama," timpal Skylar yang lantas melangkah masuk ke dalam mobil tak lupa menutup pintunya.


Teon setuju dengan kekhawatiran Skylar, mengingat berita-berita seputar badai yang melanda kota menjadi topik panas di tanah air selama sepekan terakhir.


"Kamu harus pakai pakaian yang hangat untuk berjaga-jaga, bila perlu bawalah juga payung setiap pergi keluar rumah," imbau Teon, mengenakan sabuk pengamannya mengedikan kepalanya kepada Skylar agar melakukan hal serupa.


"Iya, aku tahu. baik Papa mau pun kamu selalu meributkan hal yang sama," Skylar menyahut dengan kalem, memasang sabuk pengamannya hingga terkunci dengan benar.


Mobil Teon lantas melaju kemudian, melintasi jalan raya yang perlahan namun pasti mulai basah diguyur oleh air hujan. Keheningan menghampiri pasangan itu bagaikan kabut tebal, masing-masing sibuk dengan pikiran mereka yang nampaknya menerawang jauh seiring dengan jarak pandang yang semakin pendek karena derasnya air hujan.


Teon memelankan laju mobilnya, menyadari jalanan semakin licin akan berbahaya kalau ia tetap mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi.


Pria tampan itu menyalakan lampu sein kirinya, memutar setirnya bergerak ke kiri bermaksud mengambil belokan dengan perlahan guna menghindari ban selip.

__ADS_1


Namun tiba-tiba muncul seorang pemotor dari arah berlawanan dengan kecepatan tinggi nyaris menghantam mobil Teon membuatnya terkejut bukan main.


Skylar berteriak kaget, memegang erat sabuk pengamannya hingga mobil yang mereka tumpangi akhirnya oleng kemudian menabrak pohon dengan amat keras.


"***CKIITTT!!!"


"BRAAAAKK***!!!"


Kepala Teon terbentur sangat keras di kaca mobil yang pecah hingga dahi Teon terluka dengan darah yang mengocor deras dari jaringan kulitnya yang terbuka lebar. Sementara Skylar tidak mengalami luka berarti karena air bag di hadapannya mengembang dengan sempurna. Hanya saja akibat kerasnya hantaman, kaki gadis itu terjepit kuat hingga mati rasa. Ia kesulitan untuk bergerak.


"Mas Teon! bangun, Mas! aku mohon bangun!" teriak Skylar frustasi saat melihat kondisi calon suaminya yang sudah tak sadarkan diri itu.


Dengan bersusah payah, Skylar membuka isi tasnya guna mencari alat-alat pertolongan pertama yang memang hari ini dia bawa untuk alat praktikum di kursi tengah penumpang.


Tangan kurus Skylar meraih leher Teon, berusaha mendekatkan kepalanya yang terluka agar bisa ia berikan pertolongan pertama guna mencegah meningkatnya pendarahan.


Darah terlihat membasahi tangan Skylar hingga cardigan putih yang dikenakan oleh sang gadis namun darah Teon tak juga berhenti merembes membuat perban yang dililitkan oleh Skylar terus saja basah. Sial, Skylar lupa kalau alkohol yang seharusnya menjadi elemen paling penting dalam mengatasi pendarahan malah tertinggal di kelasnya tadi siang. Tangis gadis itu semakin pecah, ditengah kepanikan serta takutnya sepasang manik Skylar mendapati ponselnya terkapar di atas dashboard mobil. Buru-buru dia mengaktifkan ponselnya untuk menghubungi siapa pun yang dapat membantunya dalam keadaan darurat ini.


"Halo? tolong jemput gue di jalan Jagakarsa sekarang ya... gue sama Teon kecelakaan tapi disini nggak ada orang, please sekarang banget ya..."


...****...


Tangis Skylar tak kunjung reda meski Teon sudah berada dalam penanganan khusus dari dokter di ruang ICU sejak satu jam lalu.


Alis dan hidung gadis malang itu memerah bak terbakar membuat siapa pun yang memandangnya merasa iba, sungguh tak ada yang ia khawatirkan selain keselamatan Teon.

__ADS_1


Walau kakinya juga mengalami cedera yang cukup serius dan harus disangga menggunakan alat bantu ortopedi.


"Seharusnya tadi aku menangani Mas Teon dengan benar, Papa, bukannya malah menangis seperti orang tidak berguna..." Skylar meraung, membuat sang Papa langsung merengkuh putri semata wayangnya itu berusaha menenangkan.


Skylar yang duduk di kursi roda hanya menangis penuh sesal, terlihat begitu terluka.


"Kamu sudah melakukan yang terbaik sayang, jangan terus menyalahkan dirimu sendiri seperti itu ingat kita harus berdoa untuk keselamatan Teon, ya?" ucap Papa Lucas berusaha menenangkan Skylar.


Bunda dan Jeno hanya terduduk lesu di ruang tunggu, sementara Jeffrey sebagai sosok pertama yang dihubungi oleh Skylar hanya bisa memandang sedih gadis yang sangat dia cintai itu.


Sebagai sesama calon dokter, Jeffrey tahu bahwa pertolongan pertama yang dilakukan oleh Skylar memang kurang maksimal karena posisi dan kondisi gadis itu yang sangat tidak mendukung.


Andai saja Skylar memiliki alkohol medis dalam tasnya, sudah pasti Teon tidak akan kehilangan banyak darah seperti yang ia lihat tadi.


Teon kehilangan banyak darah dan beruntung masih dapat selamat walau denyut nadinya tadi sempat melemah.


Suara derik pintu terbuka yang tak begitu kentara akhirnya mengalihkan atensi semua orang, terutama Skylar yang langsung menatap sang dokter menunggu penjelasan pria berumur itu terkait kondisi Teon.


"Bagaimana keadaan kakak saya, dokter?" tanya Jeno dengan suara beratnya yang lemah.


"Pasien berhasil selamat, tetapi karena kehilangan banyak darah denyut nadinya jadi melemah dan sekarang dia dalam keadaan kritis. kita harus melakukan tindak transfusi darah segera untuk menyelamatkan pasien," terang sang dokter setelah menurunkan masker medisnya.


"Beruntung pertolongan pertama yang didapatkan oleh pasien cukup membantu jadi kemungkinan besar pasien akan segera pulih dalam waktu dekat jika sudah mendapatkan donor darah."


"Masalahnya, stok darah dengan golongan B- seperti milik pasien sedang kosong. apa ada pihak keluarga yang memiliki golongan darah yang sama?"

__ADS_1


Gelengan lesu dari Jeno dan Bunda membuat Skylar menghela frustasi dengan air mata yang juga tak jua mengering.


Apa jadinya kalau Teon tak mendapatkan donor darah segera?!


__ADS_2