
"Hah, ya sudahlah," sang gadis menghela pendek.
"aku akan memaafkanmu jika kamu segera pulang dan istirahat."
Kedua sudut bibir Teon tertarik berlainan arah, membentuk seulas senyum lega. Ia senang Skylar masih mau memberinya maaf walau air muka sang gadis masih nampak masam.
Teon mengangguk. "baiklah kalau begitu, kesalahan ini akan saya jadikan pelajaran. terima kasih, sayang."
"Kamu mau langsung pulang, Teon?" tanya Papa Lucas memastikan.
"Tentu, Papa. sepertinya Skylar mengerti kalau saya butuh lebih banyak waktu istirahat," sahut Teon dengan senyum tipis. "kalau begitu saya permisi dulu, assalamualaikum."
"Waalaikumsalam," balas Papa Lucas dan Skylar berbarengan.
Skylar yang merasa hatinya masih dongkol lantas beringsut masuk ke dalam kamarnya, berbeda dengan Papa Lucas yang bangkit dari duduknya guna mengantarkan sang calon menantu ke depan pintu. Pria paruh baya itu hanya bisa tersenyum geli, menanggapi sikap Skylar yang menurutnya sangat menggemaskan itu.
"Sepertinya dia masih kesal," ucap Teon sambil melangkah menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari pintu utama rumah keluarga Wong.
Papa Lucas tergelak halus. "kamu tahu cara membujuknya, bukan? lakukan saja dengan perlahan dia pasti akan kembali bersikap seperti biasa."
"Terima kasih untuk teh dan nasihatnya, Papa. saya pulang dulu."
"Hati-hati di jalan, belakangan banyak perbaikan jalan kamu harus mengemudi perlahan."
"Tentu, Papa. assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Teon melangkah terburu masuk ke dalam mobilnya untuk segera tancap gas menuju rumahnya.
...****...
"Apa pengajuan cuti kamu sudah disetujui?" tanya Bunda pagi-pagi sekali saat Teon baru selesai meneguk segelas air putih di dapur.
Teon menghela panjang. "aku belum mendapatkannya, Bunda. atasanku malah menawariku untuk menjadi dekan dan mereka tidak memberiku celah untuk membahas soal rencana pernikahanku."
"Posisi baru itu tentu akan menguntungkan, tapi kamu harus tetap memikirkannya lagi apalagi nanti kamu akan segera memiliki istri," balas Bunda sambil memasukkan nasi goreng buatannya ke dalam mangkuk kaca berbentuk persegi.
"Pikirkan dengan matang, nak. jika kamu merasa siap tentu tidak ada salahnya mencoba," tambah Bunda.
__ADS_1
Aroma nasi goreng yang begitu menggugah selera lantas membuat Teon mengambil posisi duduk di kursi bersebelahan dengan sang Bunda seraya mengambil piring untuknya.
"kurasa aku harus mendiskusikannya dulu dengan Skylar toh dia adalah calon istriku yang berhak mengetahui segalanya."
Bunda tersenyum lembut. "langkah yang bijak, sayang. minggu depan kalian akan bertunangan tentu saja dia berhak untuk tahu."
Oh, Teon harus mengajak Skylar untuk membeli cincin segera! pertunangan mereka akan dilangsungkan beberapa hari dan sialnya mereka belum membeli cincin bagaimana bisa Teon melupakan hal yang paling penting itu?
"Kapan Abang ajak Kak Skylar kemari? aku harus berkenalan dengan calon kakak iparku tentu saja," imbuh Jeno yang baru keluar dari kamarnya.
Rambut pemuda itu nampak sangat acak-acakan mirip sarang burung membuat Teon kontan terkekeh geli.
"Ya ya ya, aku harus mengajak Skylar makan malam di rumah kita nanti setelah kami selesai membeli cincin untuk acara lamaran dan juga cincin kawin," putus Teon kemudian mulai mengambil nasi goreng dari wadahnya, memindahkan masakan super lezat buatan Bunda itu ke dalam piringnya.
"Kukira kalian sudah membelinya sejak jauh hari," timpal Jeno seraya meraih piring untuknya.
"Belum sempat, belakangan Abang sangat sibuk bahkan kami sampai sempat sedikit cekcok."
"Kak Skylar memang harus selalu sabar menghadapi dirimu yang gila kerja ini," cibir Jeno yang memang sejak dulu kurang menyukai sifat Teon yang selalu mengutamakan pekerjaan itu.
"Jeno ada benarnya," imbuh Bunda, mengusap lembut pundak Teon.
"Iya, Bunda."
"Kalau istriku nantinya secantik Kak Skylar aku pasti akan selalu berusaha menjaganya sebaik mungkin," Jeno mulai berandai-andai membuat Teon kembali menertawakan tingkah adiknya itu.
"Kamu harus lulus kuliah dengan nilai yang baik dulu baru pikirkan soal istri," ledek Teon yang dibalas dengan cengiran lebar dari Jeno.
"Abangmu benar, kuliah dulu yang fokus kalau bisa kamu harus lulus dengan nilai yang memuaskan," tambah sang Bunda ikut meledek mengingat Jeno memang masih baru memulai dunia perkuliahannya.
"Aku akan melampaui Abang!" seru Jeno sengit.
"Dengan senang hati, adikku. kalau begitu berjuanglah," sahut Teon tersenyum kalem.
Hangatnya sinar mentari nampak sudah menyebar di segala penjuru ruangan, semakin menghangatkan interaksi antara seorang ibu dan dua putranya itu.
...****...
"Aku masuk dulu ya, Pa. assalamualaikum," Skylar berpamitan, menyalami tangan sang Papa setelah mobil yang mereka tumpangi tiba di pelataran kampus Skylar.
__ADS_1
"Iya, darl, waalaikumsalam."
Skylar bergegas turun dari mobil mewah sang Papa, berjalan masuk ke dalam lingkungan universitas sambil bersenandung kecil menikmati cerahnya pagi ini --dan yang paling penting mata kuliah hari ini tidak begitu banyak serta memusingkan.
"Sayang, hari ini kamu punya rencana?"
Langkah Skylar terhenti tatkala mendengar suara berat yang sukses membuat darahnya berdesir itu.
Kaki gadis itu terpaku di atas tanah, terdiam menunggu sang pujaan hati datang mendekat.
"Sepertinya tidak," sahut sang gadis pura-pura acuh tak acuh.
"Kalau begitu, calon istriku mari kita membeli cincin setelah semua mata kuliahmu selesai," kata Teon tanpa basa basi.
"Cincin?" tanya Skylar heran.
"Kita akan bertunangan dan menikah, tentu saja kita membutuhkan cincin," sahut Teon gemas.
Skylar mengangguk. "kalau begitu jemput aku di ruang 23 lantai 2 fakultas kedokteran nanti, mas."
"Jam berapa?"
"Kelas terakhir akan berakhir pukul satu siang, mas. jangan lupa lagi untuk menjemputku."
"Baiklah kalau begitu, mari saya antar ke kelas pertamamu."
Baru ingin menyatakan penolakan, tangan Skylar langsung digenggam secara posesif oleh Teon membuat gadis itu tidak bisa berbuat banyak selain menurut walau mereka kini menjadi pusat perhatian.
"Saya bisa jalan sendiri," cicit Skylar, memperhatikan tangan mereka berdua yang kini tertaut dengan begitu mesra.
"Abaikan saja mereka yang memandangmu tajam, ingat mulai detik ini hingga nanti hanya kamu yang berhak menyentuh saya," tegas Teon yang mulai berjalan menuju gedung fakultas kedokteran.
Skylar tidak mau berkomentar banyak, hanya menanggapi ucapan Teon dengan gumaman. Keduanya melangkah masuk ke dalam gedung fakultas kedokteran dengan langkah berbarengan membuat mereka semakin menjadi pusat perhatian. Bagaimana tidak? mereka berdua adalah pujaan para mahasiswa serta mahasiswi di universitas ini yang tentunya kabar bahwa mereka akan segera menikah menjadi topik panas yang selalu diperbincangkan.
"Apa mata kuliah hari ini berat?" tanya Teon lembut, membuat dada Skylar makin berdebar kencang. Sungguh, dia adalah seorang pria yang selalu tahu bagaimana ia harus bersikap membuat Skylar semakin jatuh hati.
Skylar tersenyum begitu lembut.
"tidak. aku menikmati semua waktu belajarku, terutama saat aku harus belajar menjadi istri terbaik untukmu."
__ADS_1