SO HURT TO LOVE U

SO HURT TO LOVE U
Penculikan


__ADS_3

Bayangan masa lalu terus menghantui hidup Aksa Franklin. Pertemuannya beberapa hari yg lalu dengan cinta pertamanya membuatnya tidak bisa berpikir dengan jernih. Karena, hal tersebut selalu mengganggunya, maka ia pun menyuruh orang kepercayaannya untuk menyelidiki wanita yg beberapa hari lalu bertemu dengannya. Dan, kini selalu mengusik hati dan perasaannya. Tidak, butuh waktu lama untuk mencari data wanita yg ia sangka Laila tersebut. Hingga, orang kepercayaannya kembali dengan membawa data tentang wanita yg ia temui di Cafe Coffee Shop.


"Tuan?"


"Bagaimana, apa kau sudah menemukan data-datanya?"


"Sudah, tuan? Ini data-data wanita itu."


"Sini, berikan padaku."


"Tapi, tuan? Namanya bukan Laila."


"Masa bodoh, dengan namanya! Yang, aku inginkan adalah orangnya!!!" ucap Aksa marah sambil merampas file berisi data-data tentang wanita yg beberapa hari yg lalu bertemu dengannya. Ia kemudian membuka file itu lalu membacanya. Ia kaget setelah ia membaca file tersebut. Ternyata benar apa yg dikatakan oleh orang kepercayaannya. Itu bukan Laila tapi Jameela Hamish. Seorang fotomodel yg lagi naik daun. Wajahnya memang mirip dengan Laila namun terdapat perbedaan pada mereka yaitu pada bagian hidungnya. Laila memiliki hidung yg pesek. Tapi, kalau Jameela Hamish ia memiliki bentuk hidung mancung. Meski, sama-sama cantik tapi tetap saja perbedaan jelas terlihat disana. Sesaat, tersungging senyuman penuh kelicikan di bibir Aksa.


"Tidak, apa-apa tidak menemukan Laila tapi menemukan orang yg mirip dengannya. Apa bedanya?" ucapnya pada dirinya sendiri.


"Hei, kamu! Bawa, beberapa anak buahmu! Culik dia! Ingat, jangan sampai ada orang yg melihatnya! Kau mengerti!" ucap Aksa lagi.


"Baik, tuan. Saya mengerti!" ucap orang itu kemudian pergi untuk melakukan tugas yg diberikan oleh Aksa.


"Laila atau Jameela Hamish! Aku tak peduli! Aku menginginkannya! Akan, kubuat dia menderita!" ucapnya penuh dendam.


Pengkhianatan cinta pertamanya terus saja membekas di relung hatinya. Ia tak bisa lagi membedakan mana yg benar dan mana yg salah. Saat, ini ia sudah di butakan oleh rasa dendam yg begitu membara. Rasa yg dulu pernah ada menjadi sirna hanya karena sebuah pengkhianatan. Namun, ia tak peduli dengan semua itu. Selama itu dapat menumpahkan semua rasa sakit di hatinya. Asal bisa membuatnya menderita itu sudah cukup baginya.


Sementara itu di tempat lain.


Jameela yg pada saat itu berada di kantor sebuah agensi yg menaunginya. Ia sedang duduk di hadapan bosnya. Ia memenuhi panggilan dari bosnya. Entah karena apa maka bosnya memanggilnya ke kantor pada saat jam ia bekerja.

__ADS_1


"Mila, kau seorang model profesional. Aku sangat senang memilikimu sebagai salah satu model terbaikku. Untuk itu kau mendapat promosi untuk menjadi model yg lebih handal di luar negeri."


"Apa? Aku mendapat promosi?"


"Iya. Kenapa? Apa, kau tidak suka? Mila ini adalah kesempatan untukmu. Kau tak akan mendapatkan kesempatan kedua kalau kau tak menerimanya sekarang! Pikirkanlah!"


"Bolehkah, aku memikirkannya dahulu bu?"


"Boleh! Aku beri kamu waktu sampai besok. Jika, besok kau tidak memberikan jawabannya. Maka, kesempatan ini akan kuberikan pada model yg lain! Kau mengerti?"


"Ah, saya mengerti bu? Saya permisi dahulu!"


"Ya, pergilah!" ucap Bu Nita bosnya.


Bu Nita memandangi punggung Jameela. Ia menghela nafas panjang.


"Semoga saja ia mau menerimanya. Ini adalah kesempatan bagus untuknya." ucapnya seperti orang yg sedang menggumam.


"Hei, ngelamun aja. Tadi, ada apa di panggil sama bu Nita." tanya Bella.


"Bu Nita memanggilku, karena dia memberitahuku dia ingin aku berkarir di luar negeri."


"Apa!!! OMG, itu kesempatan bagus Mila?"


"Aku tahu itu kesempatan bagus. Tapi....?"


"Tapi, apa?"

__ADS_1


"Gimana, sama ibu? Ibuku dirawat di rumah sakit. Siapa, yg akan menjaganya?"


"Kenapa, kamu khawatir gitu? Ibumu gak bakalan kenapa-kenapa kok! Aku kan bisa menggantikanmu untuk menjaganya."


"Apa!!! Kamu mau menjaga ibu buat aku?"


"Iya! Kenapa? Kamu itu kok kaya orang yg baru kenal aku aja."


"Bukan gitu sih? Aku kan jadi gak enak sama kamu?"


"Kamu tenang aja. Ada aku, semua pasti beres." ucap Bella meyakinkan.


"Iya, deh! Aku titip ibu aku ya?"


"Iya. Peluk???"


Jameela tersenyum melihat tingkah Bella yg seperti anak kecil. Yang meminta pelukan darinya. Namun, ia tak bisa bilang tidak pada Bella. Dengan, senang hati ia pun memeluk Bella.


"Ehh, dah sore nih! Aku pulang duluan ya?"


"Lohh, kok gak bareng aku?"


"Iya, aku mau besuk ibu di rumah sakit!"


"Oh, ya udah! Hati-hati ya di jalan?"


"Iya" ucapnya sembari melambaikan tangan kepada Bella dan menghilang dari pandangan. Jameela berjalan keluar dari gedung agensi tempatnya bekerja. Dan, sekarang ia sudah keluar dari gedung tersebut dan sedang berjalan menuju halte bis dimana biasanya ia menunggu taxi yg akan lewat disana. Namun, pada saat ia berjalan menuju halte tiba-tiba saja ada sebuah mobil van lewat dan berhenti tepat disampingnya. Ia terkejut, lalu kemudian pintu mobil van itu terbuka dan keluarlah beberapa orang berpakaian serba rapi keluar dari mobil van tersebut. Lalu, mereka pun segera membekap mulutnya dan segera menyeretnya masuk ke dalam mobil van tersebut. Di dalam ia meronta-ronta minta dilepaskan. Tapi, mereka tidak mau mendengar kata-katanya. Mereka tetap saja tidak mau melepaskannya. Karena ia terlalu ribut. Akhirnya, mereka mau tak mau membius hidungnya dengan obat bius. Akhirnya, ia pun terkulai lemas dan pingsan. Dan, mobil tersebut pun melaju kencang menuju tempat bos mereka yg sudah tidak sabar menunggu.

__ADS_1




__ADS_2