SO HURT TO LOVE U

SO HURT TO LOVE U
Menikahlah Denganku!


__ADS_3

Akhirnya, mobil van tersebut sampai di tempat tujuan. Lalu, keluarlah beberapa orang dari mobil van tersebut dengan menggendong seorang wanita. Wanita tersebut, masih dalam keadaan pingsan. Mereka langsung masuk ke dalam rumah tersebut. Dimana, Aksa sudah menunggu mereka.


"Sudah datang?"


"Tuan?"


"Mana dia?"


"Ini, tuan?" ucap anak buahnya menunjukkan seorang wanita dalam gendongan yg masih dalam keadaan pingsan. Ia tersenyum saat ia melihatnya.


"Letakkan dia disana di tempat tidur!"


"Baik, tuan?"


"Sekarang, kalian boleh keluar!" perintahnya.


Begitu, mendengar ucapan Aksa maka semua anak buah Aksa pun keluar. Aksa pun berjalan menuju tempat tidur dimana tubuh Jameela di letakkan. Ia memperhatikan wajah wanita cantik itu. Perlahan ia mengelus wajah Jameela sambil menggumam.


"Benar-benar mirip dengannya. Hanya saja bentuk hidungnya yg berbeda." ucapnya menggumam. Saat, ia mengelus wajah cantik itu penuh kagum sejenak bayangan masa lalu hadir. Bayangan dimana cinta pertamanya dulu menyakitinya. Seketika, ia sadar lalu menarik kembali tangannya.


"Akh, apa yg kulakukan? Tidak semestinya aku berlaku lembut padanya. Ia sudah menyakitiku!" ucap hatinya.


Tak lama kemudian Jameela pun sadar. Kepalanya pusing. Ia menatap sekelilingnya. Ia merasa aneh, ia merasa seperti berada di tempat yg sangat asing baginya. Ia menyadari ia berada di tempat lain. Sejenak, ia mengingat kejadian yg terjadi padanya. Beberapa orang menculiknya dan membawanya pergi entah kemana. Ke tempat inikah para penculik itu membawanya?


"Sudah sadar?" ucap satu suara seorang lelaki mengejutkannya.


"Si......siapa kau?" tanyanya takut.


"Aku? Apa, kau sudah lupa?" jawab Aksa.


"Siapa? Aku tak mengenalmu? Kau, siapa?"


"Aku Aksa Franklin. Cinta pertamamu, Laila?"


"Laila??? Aku?"


"Ya"


"Kau, salah orang tuan? Aku, bukan Laila. Namaku, Jameela Hamish. Aku seorang fotomodel." ucap Jameela.


"Hahaha" Aksa tertawa dengan keras.


"Siapa pun, namamu aku tidak peduli. Yang penting wajahmu mirip dengannya. Lailaku!" ucapnya sambil tersenyum dingin.


"Oh, jadi begitukah? Berarti, kau yg menculikku dan membawaku kemari?


"Ya, kau benar sekali?"


"Apa, maumu tuan?" tanya Jameela dengan nada takut.


"Menikahlah denganku!"

__ADS_1


"Apa!!! Aku tidak mau!!!" ucap Jameela menolak.


"APA!!! Kau menolakku?"


"Ya, aku menolakmu!!! ucap Jameela sambil kemudian bangkit dari tempat tidur dan kemudian segera melangkah pergi dari sana.


Melihat, itu Aksa pun tak putus asa. Ia meraih ponselnya lalu menelepon dokter yg merawat ibunya Jameela di rumah sakit.


"Halo, dokter?"


"Halo, tuan Aksa!"


"Ada apa ya tuan menelepon saya?"


"Segera cabut alat bantu....."


Sebelum Aksa menyelesaikan ucapannya tiba-tiba saja Jameela menyela sambil berteriak.


"Jangaaaaaannnn!!!"


"Jangan, lakukan itu!!! Aku mohon???" ucap Jameela sambil berlari dan menangis sembari berlutut di bawah kaki Aksa. Melihat, itu Aksa tersenyum.


"Baiklah, dokter! Teruskan, pengobatan ibu Arumi Hamish!"


"Baiklah, tuan?" ucap dokter tersebut sambil menutup teleponnya.


"Jadi, bagaimana?"


"Baiklah, kalau begitu! Kau, tinggal di sini malam ini! Dan, jangan coba-coba kabur! Kau mengerti?"


"Aku mengerti!" ucapnya dengan deraian airmata.


"Besok, kita akan menikah di kantor penghulu. Segera, siapkan dirimu! Jangan, membuatku malu! Kau, paham!"


"Baiklah, aku paham!" ucap Jameela terisak.


"Bagus! Aku pergi dulu, aku akan mengurus surat-surat pernikahan kita." ucapnya sambil tersenyum bahagia dan keluar dari ruangan itu.


Tinggallah, Jameela sendiri disana. Sedang, menangis sedih. Ia tak tahu mengapa nasibnya begini. Mengapa, ia bisa bertemu dengan orang yg demikian jahat seperti Aksa Franklin. Menggunakan ibunya untuk mengancam dirinya. Kini, pupuslah harapannya untuk menjadi seorang model yg lebih profesional lagi. Ia jadi gagal untuk pergi ke luar negeri. Semua, karena ulah Aksa Franklin yg memaksa dirinya untuk menikah dengannya. Hatinya menjadi sakit dan terluka demikian parah. Ia menangis sampai pagi datang menyapa.



Keesokan paginya.


Sinar matahari bersinar dengan sinarnya yg hangat. Wajah cantik, itu perlahan membuka matanya. Pada saat ia membuka matanya ia sudah melihat sebuah pakaian indah tergantung di hadapannya. Ia juga melihat lelaki kemarin yg memaksnya untuk menikah dengannya ada di hadapannya.


"Bangun dan mandilah. Sebentar, lagi kita akan berangkat ke kantor penghulu. Dan, pakailah pakaian yg sudah kupersiapkan untukmu!" perintahnya.


Jameela mengerti dan ia pun segera bangun dari tempat tidurnya. Ia lalu berjalan menuju kamar mandi. Ia membasuh tubuhnya dengan air yg dingin itu, terasa segar sekali. Kemudian, ia pun memakai pakaian yg sudah disiapkan oleh Aksa untuknya. Pada saat ia hendak memakainya ia melihat Aksa masih berada disana.


"Kenapa???"

__ADS_1


Aksa bertanya padanya.


"Aku tidak bisa pakai baju kalau kau masih disini!" ucap Jameela.


Aksa tersenyum waktu Jameela berkata begitu. Lalu, ia pun berjalan ke arah wanita cantik itu yg masih saja berdiri di membelakanginya. Saat, ia sudah berada di belakang tubuh wanita cantik itu. Aksa menyentuh rambut yg masih basah dan titik-titik air yg memasahi rambut Jameela sambil berkata.......


"Sebentar, lagi kau akan jadi istriku. Kenapa, harus malu?"


"Masih, akan. Berarti belum, kan?" ucap Jameela tegas.


Aksa terkekeh.


"Kau benar juga. Kalau, begitu persiapkan dirimu untuk malam pertama!!!" ucap Aksa sambil berbisik di telinga Jameela. Membuat Jameela terkejut dan sekaligus darahnya berdesir.


"Deg!"


Ia tampak shock dengan ucapan Aksa barusan di telinganya. Sementara, Aksa sudah keluar dari kamar itu. Ia menunggu di luar pintu kamar sambil mengutak-atik ponselnya. Tiba-tiba saja ponselnya bergetar dan berbunyi nyaring. Ternyata ada yg meneleponnya. Yang tidak lain dan tidak bukan adalah kekasih sejenisnya sendiri. Yaitu Miki.


"Halo" sapanya.


"Halo, juga Aksa." balas suara seorang pria di ujung sana.


"Baby? Ada apa kau meneleponku???"


"Tidak, bolehkah aku meneleponmu?"


"Boleh saja?" Kenapa, tidak? Ayo, katakan ada apa?"


"Kudengar, kau akan menikah dengan wanita itu! Apa itu benar?"


"Ya, itu benar! Lalu, kenapa baby?"


"Kau, akan menikahinya lalu aku? Bagaimana?"


"Oh, baby! Dengar, jangan bersedih. Aku menikah dengannya untuk balas dendam saja. Sedangkan, kau adalah prioritas utamaku." ucap Aksa mencoba meyakinkan Miki.


"Benarkah?" tanya Miki.


"Benar, baby? Aku tidak mungkin menikah denganmu. Karena, di negara ini tidak ada hukum yg mengatur tentang pernikahan sejenis. Oleh, karena itu biarkan dia jadi istriku. Sementara, kau akan selalu jadi yg utama. Kau segalanya bagiku, baby?" ucap Aksa lembut sekali hingga membuat Miki yg tadinya sedikit terluka jadi terobati dengan kata-kata dan penjelasan Aksa barusan.


"Baiklah, kalau begitu! Aku mengerti." ucap Miki di seberang sana lalu memutuskan pembicaraannya dengan Aksa. Terdengar, nada kecewa di sana. Namun, mau bagaimana lagi. Tidak mungkin ia menikahi pasangan sejenisnya sementara di negara ini memang tidak ada hukum yg mengatur tentang pernikahan sejenis. Bahkan, pernikahan sejenis di belahan berbagai negara yg masyarakatnya yg muslim memang sangat menentang hal itu. Karena hal tersebut sudah melanggar norma yg berlaku. Juga melawan kodrat dan ketentuan yg berlaku di masyarakat.






__ADS_1



__ADS_2