Spear Of Destiny ( Tombak Takdir )

Spear Of Destiny ( Tombak Takdir )
Distrik


__ADS_3

Toaru dan lainya yang menaiki mobil melewati sebuahgerbang pemeriksaan yang dijaga ketat oleh petugas bersenjata,


" sore pak Ludvik! "ucap petugas yang memeriksa mobil mereka,


Setelah melakukan pemeriksaan pada mobil mereka pintu gerbang didepan mereka mulai terbuka secara perlahan, semua mobil disana lantas berjalan maju menuju kedalam Distrik, disana Toaru melihat pasar yang cukup ramai dan juga rumah sakit yang sudah sedikit usang,


" kita berhenti? " tanya Toaru


" yap... Sudah saatnya kita turun " jawab Ludvik,


mereka diturunkan didepan gedung kantor polisi yang disulap menjadi markas utama Outriders, memasuki gedung itu Toaru dituntun sebuah ruangan kamar yang berisikan sofa usang dan sebuah meja disebrangnya,


" kau bisa beristirahat disini " ucap Ludvik


" terima kasih... Aku sangat terbantu " jawab Toaru


" oh ya Ryu... Nanti malam kami akan pergi ke bar.. Kau bisa ikut jika mau " Ludvik lalu berjalan meninggalkan Toaru dikamarnya sendirian


" saatnya beristirahat... Aiga masih bisa menunggu hari esok " batin Toaru, ia melepas lelahnya dengan berbaring diatas sofa hingga lambat laun matanya mulai tertutup secara perlahan


APARTEMEN


" Darling! Darling! " panggil Akane dari sebelah ranjangnya,


Toaru yang mendengar hal itu segera terbangun diatas kasur apartemenya,


" bangun dasar pemalas " Akane mencubit pipi Toaru dengan gemas,


" auw... " Toaru masih tidak percaya bahwa Akane berdiri dihadapanya sekarang,


" Ayo! Kita sarapan.. Sekarang giliranku yang memasak "


Toaru hanya pasrah ketika tubuhnya dituntun oleh Akane kearah meja makan, disana sudah terjejer semangkuk ramen, tempura dan lainya,


" coba buka mulutmu Aaaaa... " ucap Akane dengan sendok penuh nasi,


Toaru membuka mulutnya lebar lebar dan....


" AAAAAAH ****! " teriak seorang dari lantai atas yang seketika membangunkan Toaru dari mimpi indahnya,


" bajingan " Toaru mengarahkan tanganya keatas dan mengaktifkan kekuatanya namun untungnya ia berhasil menahan emosinya dan menurunkan kembali tanganya, ia lantas terduduk diam diatas sofa yang usang itu,


" apa sudah malam? " batinya, ia mengintip keluar jendela dan melihat sinar bulan yang sudah menyinari kota,


" saatnya jalan jalan malam " ia beranjak dari sofanya dan bersiap siap pergi namun saat ia mau membuka pintu didepanya, seseorang lebih dulu membukakan pintunya dan mereka bertabrakan secara tidak sengaja,


" aduh! Maaf! " ucap perempuan itu,


Toaru segera berdiri dan menepuk nepuk badanya,


" kau baik baik saja? " tanya Toaru


" aku baik baik saja "


" ada keperluan apa kau datang kemari? " tanya Toaru


" oh iya.. Sebelumnya perkenalkan namaku Arisa "


mereka berdua lalu berjabat tangan sebagai perkenalan, " aku kemari karena Ludvik menyuruhku untuk mengajakmu ke bar "


" pas sekali.. berusan aku mau pergi juga ke bar "


" kalau begitu ikuti saja aku, aku akan menunjukan tempat barnya "


Mereka berdua berjalan menuju bar yang terletak diluar markas, mereka berbincang tentang masing masing diri mereka selama perjalanan,

__ADS_1


" jadi kau bukan berasal dari Distrik? " tanya Arisa


" tidak, aku tinggal di tepi pantai "


" benarkah? Apa kau suka memancing? Kau tahu kan Abydos suka berkeliaran di daerah lembab "


" untungnya tempatku sangat jarang, aku malah sering menemukan Nicraw " jawab Toaru


Mereka memasuki sebuah pintu yang mengarah langsung kedalam bar, didalam sana suasananya cukup ramai, mereka berhenti ditempat duduk dimana Ludvik dan kawan kawanya berada,


" akhirnya kau datang juga " ucap Zhin


" selamat datang di bar... Kau pasti jarang menemukan bar disekitar tempat tinggalmu" sambung Ludvik


Toaru hanya membalasnya dengan senyuman,


" aku mau pesan minuman dulu " ucap Toaru dan berjalan meninggalkan mereka kearah meja bar,


" kau mau apa? " tanya sang bartender


" aku tidak ingin mabuk.. Jadi berikan aku yang ringan saja " jawab Toaru


Ia terduduk diam dengan diiringi musik jazz yang dilantunkan oleh band disana, sang bartender menyajikan minuman aneh berwarna merah kepada Toaru,


" hei... " panggil Arisa dari sebelah Toaru "mengapa tidak ikut bergabung dengan Ludvik?"


" sejujurnya aku lebih suka suasana sepi " Toaru lantas mengambil selembar peta dari kantongnya dan membaca detail map itu,


" pasti itu rumahmu " Arisa menunjuk tanda silang dipeta itu dengan jari telunjuknya,


" ya... Kau benar sekali "


" Ryu-kun apa kau tinggal di gereja? " tanya Arisa


" aku pernah melewati pantai itu, disana ada gereja besar sekali, namun aku hanya lewat saat itu "


" seperti apa bentuk gereja itu? "


" Gereja itu besar seperti biasanya, namun setengah bangunanya sudah setengah hancur "


Sebuah ide terbesut didalam otak Toaru, namun ia menunggu waktu untuj melakukanya,


" kau tidak minum? " tanya Toaru


" untuk sekarang tidak dulu, nanti malam aku harus berpatroli di sekitar dinding "


" yasudah kalau begitu, " Toaru mulai meneguk minumanya, " kau lahir disini? "


" aku? Tidak? Aku lahir didalam Dome Ibachiba namun setelah kekacuan dimasa lalu, aku terpisah dari rombongan dan berakhir disini " jawab Arisa


Toaru segera menyentuh pundak Arisa


" aku tahu itu berat " ucap Toaru


" lantas bagaimana dengan dirimu? " tanya Arisa


" aku lahir juga didalam Dome, namun sama seperti kau "


" Dome manakah itu? "


" aku lupa namanya... Terletak di bagian timur "


" Oi kalian! Kalau mau pacaran jangan disini! " teriak Zhin dari belakang,


Arisa yang mendengar hal itu segera merebut gelas minuman milik Toaru dan melemparnya kearah Zhin,

__ADS_1


" ADUUH! " rintih Zhin ketika gelas kayu itu mendarat dikepalanya hingga membuatnya tersungkur ke tanah,


" lemparan bagus Arisa " puji Ludvik sambil menunjukan ibu jarinya kepada Arisa,


Arisa tersenyum senang ketika lemparanya tepat sasaran, namun ketika memalingkan wajahnya kr Toaru, ia melihat Toaru yang masih terduduk diam,


" MAAFKAN AKU.... AKU AKAN MENGGANTINYA " ucap Arisa


" tidak usah.... Aku juga tidak terlalu suka minuman itu " jawab Toaru


" oh... Syukurlah " batin Arisa


" mereka menyebalkan ya? "


"kadang kadang, namun merekalah yang mengurusku saat aku terpisah "


" mereka pasti sangat peduli denganmu "


Arisa tanpa sengaja melihat jam dinding yang sudah menunjukan pukul 9 malam, melihat hal itu ia segera bergegas merapihkan meja didepanya,


" aku harus pergi! Tugas memanggil " ucap Arisa


" yup... Hati hati saat bertugas " jawab Toaru sambil menatap gadis itu yang berjalan keluar bar,


" dia pernah melewati tempat tinggalnya Aiga? Aku harus mendekatinya untuk informasi lebih " batinya,


ia lalu memencet bel dihadapanya yang seketika memanggil sang bartender,


" kau menrima peluru untuk pembayaran? " tanya Toaru


" Ya tentu... "


Toaru merogoh kantongnya dan menaruh satu magazine pistol diatas meja,


" segini cukup? " tanya Toaru


" Cukup! Terima kasih " jawab sang bartender sambil membawa magazine peluru milik Toaru kedalam ruanganya,


Setelah itu Toaru lantas menghampiri Ludvik untuk menanyakan sesuatu kepadanya,


" Oi Ryu! Kemari kau! " panggil Cobalt yang duduk disebelah Zhin,


" bagaimana rasa minumanya? " tanya Ludvik


" tanyakan saja ke orang yang kena lemparanya tadi " ucap Toaru


Semua orang tertawa dan menunjuk Zhin yang masih dalam keadaan sedikit basah akibat terkena lemparan gelas oleh Arisa


" dia itu gadis paling berani yang pernah kutemui " ucap Zhin,


" oh iya!? Ludvik bolehkah aku bertanya? "


" ya tentu... Tanyakan saja " jawab Ludvik


" apa disekitar sini ada toko senjata dan kau tahu... Uhm... Peledak? "


" ouh.... Ya tentu ada, kau bisa membelinya dikoperasi, namun karena kau bukan berasal dari sini maka bawalah ini " Ludvik memberikan sebuah kalung kepada Toaru, " mereka akan seketika tahu itu kalungku dan kau diperbolehkan untuk membeli "


" terima kasih Ludvik, aku harus segera pergi besok jadinya aku harus memiliki senjata " jawab Toaru " aku pergi dulu "


" hati hati dijalan Ryu! " ucap Zhin


Toaru berjalan keluar bar menuju koperasi yang terlihat berada dibekas stasiun bawah tanah, namun sebelum itu Toaru secara diam diam membuat sebuah taring ditangan kirinya, sementara itu seluruh Nicraw dan Alpha yang dikurung disana yang tadinya berisik sekarang menjadi sunyi, bahkan ketika Toaru berjalan melewati toko jagal seekor Alpha bertubuh besar dengan paniknya berlari mundur hingga kepojok kandangnya,


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2