
Ludvik pov
1 jam sebelum pertarungan Toaru dan Ryot,
Aku yang menemukan Keith langsung memukuli tanpa henti, kami bertarung habis habisan, aku tidak menyangka Keith akan menjadi sekuat ini,
" you killed my sister " ucapku sambil melemparnya menembus kaca ruangan bertuliskan icu,
" not just kill but i eat it too " jawabnya, ia lalu memukul wajahku hingga membuatku tersungkur ketanah,
Aku memukul wajahnya berkali kali dan saat ia mau memukul pinggangku aku lamgsung menggapai tanganya dan mematahkanya,
" you bastard! " ucapku sambil melihat dia yang kesakitan karena tulangnya mencuat dari dalam tanganya, aku lalu memgunci lehernya dengan kakiku dan memutar badanku sehingga melemparnya ke dinding,
" from now on.... there will be no cannibal like you anymore " tiba tiba saja saat aku mau membunuhnya lantai yang kupijak bergetar dengan hebat, sampai merobohkan geung tempat kami berpijak,
" uhuk uhuk " batuku sambil melihat ke sekeliling puing puing,
" ayo kapten pelan pelan " ucap seorang SS yang nampak sedang membaqa Keith bersama kedua rekanya,
" oy kalian " panggilku " kalian memangnya tidak lelah mengangkut orang seperti itu? " tanyaku
aku lalu diserang oleh kedua orang tersebut menggunakan pisau, mereka hanyalah cecunguk sampah bagiku yang dengan mudah bisa ku lumpuhkan, bahkan aku sempat meludahinya,
" hahahaha Ludvik... Kau tidak berubah dari dulu ya " ucap Keith yang mencoba bersandar di puing puing, aku lalu menginjak perut Keith yang terluka dengan kuat,
" aku heran kenapa kau malah makin jadi memburuk " ucapku sambil menendang kepala Keith
" uhuk uhuk! Sudah.... Waktunya "
Aku berjalan menghampirinya
" aku sudah menunggu moment ini... Moment dimana kau dan sekumpulan lalat ini hancur "
Ketika aku sudah dekat denganya ia segera berbalik dan menembakan sebuah pistol namun untungnya aku langsung mengangkat tanganya sehingga tembakanya meleset,
" seriously? You used this **** to defeat me? " ucapku lalu mengambil pistol itu dan menembak kakedua kakinya,
suasana semakin memanas dikarenakan api mulai merembet ke dalam reruntuhan, gempa kedua pun terjadi lagi meski tidak sekuat sebelumnya,
" BUNUH AKU SEKARANG LUDVIK!!!! HAHAHAHAH" ucap Keith yang nampaknya sudah sangat kesakitan,
tiba tiba Cobalt yang entah darimana muncul dari kejauhan dan memanggilku,
" PAK!!! KITA HARUS SEGERA PERGI! TEMPAT INI AKAN SEGERA HANCUR "
" aku akan menyusul kau evakuasi yang terluka saja terlebih dahulu "
__ADS_1
" baik pak " jawab Cobalt lalu berjalan meninggalkan kami berdua, aku lalu berdiri dan meng-preteli pistol itu,
" kau akan tetap disini sampai akhir hayatmu " ucap Keith
" nah.... Sepertinya itu hanya kau deh " ucapku sambil berjalan meninggalkan Keith disana
" Tunggu! Kembali! Bunuh aku sekarang juga!!! " teriak Keith dari tempat itu
Aku meninggalkan tempat itu diiringi oleh gempa yang meratakan gedung tersebut dengan tanah,
Sesampainya di kamp darurat aku mencabut semua pisau dan beling yang menancap ditubuhku dan membiarkan tim medis menyelesaikan sisanya,
" Ludvik! " panggil Eva yang menghampirinya " oh ya ampun kau tidak apa apa "
" hanya tusukan kecil " jawabku
" kecil? " ucap tim medis kebingungan ketika mengobati badanku yang penuh luka tusuk itu,
sementara itu Alice yang melihat kesunyian disana lantas memgambil radio dari dalam mobilnya dan menaruhnya ditengah tengah dan memasukan kaset musik miliknua kedalam radio tersebut, hal itu membuat suasan seketika meriah, beberapa anak dan orang tua mulai menari mengikuti musik,
" bolehkah aku ikut? " tanya Arisa yang melohat kemeriahan kecil itu dari jauh,
" silahkan saja " jawab Toaru
Arisa yang mendengar hal itu lantas langasung berlari menghampiri keramaian itu,
Ludvik,
" apa yang terjadi diluar? " tanyaku sambil menghampiri Eva
" mereka sedang merayakan kemenangan " ucap Eca lalu menutupi dadaku dengan selimut agar hangat, aku lalu memegang tanganya dan menghampiri api unggun yang menjadi tempat suara lagu itu berasal,
Aku melihat banyak orang menari dengan alunan musik dari radio disana,
" Oi Cobalt! Apa yang kau lakukan? " tanyaku ketika melihat Cobalt ikut menari disana bersama tentara lainya,
" kau mau ikut menari? " tanya Eva
" tidak aku disini saja "
" ya sudah kalau begitu " jawab Eva lalu ikut bergabung dengan tentara lain merayakan kemenangan mereka,
Aku hanya terdiam melihat mereka menari, selama aku memimpin Dome aku tidak pernah melihat ini, yang kurasakan adalah hanyalah kemenangan sunyi setelah perang, melihat Eva menari membuat hatiku tersenyum dan mataku tertuju ketika melihat Arisa berlari kesana hanya untuk ikut menari,
" Arisa kau ikut? " tanyaku
" ayolah Ludvik ini seru... Nikmati hidupmu sebelum terlambat " ucap Arisa
__ADS_1
Mendengar hal itu hatiku terketuk dan badanku secara tidak sengaja mulai menari mengikuti alunan musik,
" kau menari sayang!? " tanya Eva
" aku tidak tahu... Tubuhku bergerak sendiri " ucapku sambil menari mendekati Eva
tiba tiba saja suasana lebih ramai dari sebelumnya ketika para tentata lain melihatku ikut menari,
" ayo semuanya bersenang senang " ucap salah satu tentara
inikah sebuah kesenangan? Yang selama inj ku tahu kesenangan hanyalah ilusi yang kita buat ketika mabuk, melihat semua wajah senang disini membuat hatiku merasa aneh sekaligus senang, hidupku sangat keruh sampai aku tidak pernah melihat hal seindah ini dihidupku, hal ini membuatku meneteskan air mata, aku lalu menatap Eva dan memeluknya lalu menggenggam tanganya agar kita berdansa bersama,
Sementara itu diluar keramaian, Clay nampak memanggil Arisa namun ditahan oleh Toaru
" biarkan dia bersenang senang " ucap Toaru sambil memegang pundak Clay
" oke boss " jawab Clay sambil tersenyum melihat mereka berdansa dengan sangat senang,
selama mereka menari Toaru mengoleskan darahnya ke beberapa mobil sebagai pelindung dari monster
Ludvik
tiba tiba saja ditengah pesta aku melihat Arisa mengamasi barangnya, melihat itu aku langsung menghampirinya untuk mengucapkan selamat tinggal,
"membereskan barangmu tanpa memberitahuku hah? " tanyaku
" maaf tapi aku tidak ingin kau sedih " jawab Arisa sambil memasukan beberapa makanan kedalam tasnya,
" hei " aku berjalan mendekatinya dan menggenggam tanganya " sebelum kau pergi aku ingin kau menyimpan ini untuku " ucapku sambil memberikan kalung milik adiku kepada Arisa sebagai tanda perpisahan,
" tapi kan ini milik adikmu " jawab Arisa
" memangnya kau bukan adiku? " tanyaku, tiba tiba saja Arisa memeluku dengan erat dan membuat luka ku yang masih basah sedikit tertekan namun aku menahanya,
" terima kasih " ucap Arisa,
Aku mengelus kepalanya
" sekarang pergilah... Ikuti jalan yang kau pilih " ucapku dengan berat hati,
Akhirnya Arisa pergi dari Distrik meninggalkan kenangan disana, aku mencoba menahan tangis ketika melihat ia melambaikan tangan dari kejauhan namun air mataku tak terbendung dan terus menangis sambil melamabaikan tangan balik kepada Arisa yang pergi,
" DADAA ARISAAAA!!!!! HATI HATI CLAY!!!!" teriak Zhin yang tiba tiba ikut melambaikan tangan disampingku, disusul oleh Cobalt dan Eva yang memeluku,
" HATI HATI ARISAAA!!! " teriak Cobalt
" BYE BYE!!! " Teriak Alice
__ADS_1
" DADAAAAA!!!!!! HATI HATI DIJALAN ADIKU " teriaku melihat Arisa mulai menghilang didalam kegelapan bersama Toaru dan Clay,
Terima kasih telah membuatku tersenyum Arisa.