
Bulan demi bulan telah berlalu, hubungan Serra dan Vano sudah mengalami kemajuan, setidaknya Vano sudah tak secuek dulu kepada Serra.
Saat ini, para siswa SMA Amore sedang dihadapkan dengan ujian akhir semester, mereka akan dites bagaimana hasil dari belajar selama 1 semester ini.
Sekarang, Serra dan Devina sedang berada di perpustakaan SMA Amore, dan suasana di sana sedikit lebih ramai dari biasanya.
Otak Serra yang pas-pas an mengakibatkan Serra benar-benar stres dengan gaya belajar Devina yang jika ingin ujian akan menjadi lebih ambisius dari biasanya.
"Arhggg!" Teriak Serra frustasi dengan soal fisika di depan matanya.
"Shtttt, ga boleh berisik!" peringat Devina.
Serra tak menanggapi Devina dan berdiri dari tempat ia duduk.
"Mau kemana?" bisik Devina.
"Kantin," jawab Serra kemudian berjalan pergi.
Sesampainya di kantin, suasana tak jauh berbeda. Para siswa yang di kantinpun membawa buku mapel yang akan diujikan pada esok hari.
"Rajin bet dah, emang ya SMA Amore," batin Serra sambil mengambil minuman dan membayarnya.
Serra tak langsung kembali ke perpustakaan, ia pergi ke taman belakang sekolah untuk menikmati udara segar disana.
Serra membuka pintu dengan hati-hati, dan dilihatnya tak ada satu orangpun disana
Serra melangkahkan kakinya dengan pelan mendekati pohon besar disana, sesampainya di dekat pohon besar itu, Serra memutar badannya untuk melihat ke sekeliling.
"Serra?" panggil seseorang dan membuat Serra terkejut hampir terjungkir.
Serra mencari sumber suara dan menemukan Gio di belakang pohon sambil memakai earphonenya.
"Gio?"
"Inget juga ternyata?" ucap Gio sambil mengisyaratkan Serra untuk duduk disampingnya
Serra berjalan mendekat dan duduk di samping Gio.
"Gio ga belajar?"
"Lah kamu sendiri?"
"Iya juga, abisnya pusing lihat soal. Prinsipku adalah kalo Tuhan menghendaki pasti bisa. Jadi kalo Tuhan menghendaki aku bisa ngerjain soalnya besok ya pasti bisa!" jelas Serra.
Gio tertawa mendengar prinsip Serra.
"Mana ada prinsip begitu?" sindir Gio.
"Buktinya aja ada!" ucap Serra sambil menjulurkan lidahnya.
Kemudian Gio kembali menyandarkan tubuhnya dan menutup matanya tak peduli dengan ejekan Serra.
"Gio baru dengerin apa?" tanya Serra membuka topik baru.
"Musik," jawab Gio apa adanya.
Serra berdecak dengan jawaban Gio, bukan jawaban yang diinginkannya.
"Hehe, aku cuma dengerin instrumen music, tenang aja gitu," jawab Gio terkekeh.
"Ohh..." ucap Serra sambil meneguk minumannya yang terakhir.
__ADS_1
"ya udah Gio, Serra balik dulu ya. Takut dicariin Devina," pamit Serra karena takut mengganggu Gio yang menikmati musiknya bersama ketenangan.
Serra kembali ke perpustakaan dan ia melihat di perpustakaan ada Vano dan Devina yang duduk bersebelahan, mereka terlihat sedang belajar bersama.
Serra duduk di samping Devina tanpa menghiraukan mereka, toh Serra percaya pada sahabatnya itu, ia tak akan merebut Vano.
"Udah balik?" ucap Devina sadar Serra duduk di sampingnya.
"Hmm..." gumam Serra.
"Devina sama Vano baru belajar bareng ya?"
"Iya, aku tadi tanya soal nomor 32 ini caranya gimana," jawab Devina apa adanya.
"Ohh, ya udah lanjut deh," ucap Serra kemudian fokus pada buku fisika di depannya lagi.
Mata Serra memang fokus pada soal di hadapannya, tetapi telinga Serra fokus mendengarkan suara Vano yang sedang menjelaskan kepada Devina.
Serra bukannya menyimak penjelasan Vano, tetapi Serra hanya terpesona dengan suara Vano.
Vano telah selesai menjelaskan kepada Devina, kemudian pamit kembali ke kelas.
"Oh iya Serra?" panggil Devina dan ia terdiam karena melihat Serra yang tersenyum sendiri. Dilihatnya tangan Serra hanya memegang bolpint tapi tak menggoreskan apapun.
Devina kebingungan dengan sifat Serra tersebut hingga ia merinding sendiri.
"Serra?" panggil Devina hati-hati.
"Serraa!" panggil Devina lebih keras, tapi tak ditanggapi juga.
"Serraa!!" panggil Devina dengan mengguncang tubuh Serra dan akhirnya Serra tersadar.
"Eh iya kenapa??" blank Serra.
"Emang aku kenapa?"
Devina menghela napas mencoba sabar.
"Kita mau belajar bareng selama seminggu ini buat ujian, mau ikut ga?" tawar Devina.
"Kita nya siapa aja?" tanya Serra meminta penjelasan.
"Aku, Vano, Gio, terus temen-temennya Vano, Rio sama Fandi. Terus kamu mau ga?"
"Kalo aku ga mau, kamu bakal belajar bareng mereka sendiri gitu? Cewek sendiri?" goda Serra.
"Ngga juga sih, soalnya kamu ga bakal nolak. Kan ada Vano," serang Devina balik.
Kali ini Serra kalah telak karena yang dikatakan Devina itu benar 100%.
Serra mendengus karena tak bisa membalas lagi.
"Kalo mau, besok pulang sekolah di sini, jangan langsung pulang," peringat Devina.
Serra mengangkat jempolnya setuju.
...♡♡♡...
Esok haripun tiba, para siswa mengikuti ujian dengan tenang. Mapel yang pertama diujikan adalah Bahasa Indonesia dan yang kedua Fisika.
Serra tak masalah dengan ujian bahasa Indonesia, tetapi otaknya seketika nge-bug melihat angka-angka dan simbol-simbol dalam soal fisika.
__ADS_1
Tetapi Serra tak ada pilihan lain selain mengerjakan soal tersebut dengan sebisanya saja.
Setelah ujian berakhir, Serra kehabisan semangat lagi dan tak ada energi lagi. Ia hendak pulang dan meninggalkan janjinya untuk belajar di perpustakaan. Tetapi saat Serra melewati kelas 10-B, ia bertemu dengan Devina yang sepertinya sudah menunggunya.
"Hahhh? ngapain disini??" eluh Serra karena sudah pasti jika bertemu Devina ia tak bisa langsung pulang.
"Hehe, kayak ga kenal kamu aja. Mana ada kamu mau belajar habis ujian, kebiasaan kamu aku udah hapal ya Serra!" ucap Devina sambil menarik Serra kembali menuju perpustakaan.
"Devinaaa... besok aja yaaa... aku udah gak ada energi!!" tolak Serra.
"Ngga, mau besok kapan?!"
Serra tak bisa melawan Devina, sahabatnya sudah hapal semua kebiasaan nya.
Mereka tiba di perpustakaan dan menemukan Vano, Rio, dan Fandi sudah duduk disana, kecuali Gio.
"Lah? Gio mana?" tanya Devina tak melihat Gio.
"Gio ke kantin," jawab Fandi.
"Terus dia ditinggal gitu?" tanya Devina sambil duduk di depan Fandi, kursi yang tersisa dan tentu saja Serra duduk di depan Vano dan samping Devina.
"Katanya suruh ninggal dulu aja kalo kalian berdua dah dateng," jawab Rio.
"Ohh, oke."
"Jadi mapel besok bahasa Inggris sama biologi," ucap Devina sambil mengeluarkan buku-bukunya.
"Wawww, Devina bawa buku sebanyak ini?" kagum Serra melihat buku yang dikeluarkan Devina, tak hanya buku paket tetapi juga buku latihan soal tambahan. Pantas saja Devina sepintar itu.
Kemudian Vano juga mengeluarkan buku-buku yang tak kalah banyak dari yang dibawa Devina.
"Waahh Vano juga bawa banyak. Ngga berat ya?" kagum Serra.
"Ngga," jawab Vano. Devina melihat Vano dengan bingung.
"Apa pria ini ingin bersaing?" batin Devina.
"Eyyo kalian!" sapa Gio secara tiba-tiba sambil membawa sebuah kantong plastik berisi minuman.
"Lihat nihh!" sombong Gio sambil menunjukan kantongnya.
"Tumben baik?" ejek Rio.
"Waa, Gio tau nih aku ga ada energi. Untung aja bawa minum gini, baik banget dehh!" puji Serra sambil mengulurkan tangannya.
"Iyalahh, Gioo!" sombong Gio sambil mengulurkan minumannya pada Serra.
"Di perpus ga boleh makan minum," ucap Vano tiba-tiba sebelum minuman diterima Serra.
"Oh iya, bener juga. Begooo!! kenapa ga kepikiran?!" ucap Gio merutuki kebodohannya.
"Hahh?" Serra mengeluh kemudian menaruh kepalanya di meja sambil memajukan bibirnya cemberut.
"Kasiannn sama minuman aja kena php!" ejek Fandi ke Serra.
"Huh!"
Kemudian mereka memulai untuk belajar bersama, bertukar pikiran sampai jam menunjukan pukul 14.00, dimana mereka memulai untuk belajar sepulang sekolah pukul 12.00 karena hanya ujian saja dan tak ada kelas.
Selama belajar, Serra tak sepenuhnya memerhatikan pelajaran tetapi lebih fokus pada wajah Vano.
__ADS_1
Terpesonaaa~~
...♡♡♡...