Spring Love

Spring Love
H-14


__ADS_3

Serra masuk ke taman belakang, ia tak melihat seorang pun disana, hanya ada pohon besar, dan rumput-rumput yang tertiup angin, sebenarnya suasana disana sangat nyaman dan sejuk.


Serra menghela napas, sekarang ia benar-benar merasa kalau dia benar-benar di prank.


Tiba-tiba pintu taman yang tadinya dibuka, ditutup dengan keras dan membuat Serra terkejut bukan main.


Bulu kuduk Serra berdiri, ia merasa merinding sekarang. Dan dengan pelan Serra berjalan ke arah pintu.


Baru 3 langkah Serra berjalan, ia mendengar suara orang membacakan puisi, puisi yang tertulis di suratnya tadi.


"Bagai angin yang berhembus dari timur dan menghilang di barat."


Orang itu keluar dari sebalik pohon besar itu, dan Serra melihat ternyata Gio lah orangnya


"Dan bagai matahari yang terbit di timur dan menghilang di barat." Gio melanjutkan puisinya


Serra menghela napas lega, kalau ternyata Gio lah yang mengirim surat dan bukan hantu yang mengirimnya. Tapi ia juga merasa kecewa bahwa bukan lah Vano yang mengirimnya


"Seperti itu juga aku selalu melihatmu dan melihatmu." Gio menyelesaikan puisinya dan berjalan mendekat ke arah Serra.


"Serra, aku mau-" ucapan Gio terpotong oleh Serra


"Bikin kaget aja deh Gio, kirain siapa yang ngirim, ternyata kamu," lega Serra.


"Aku tahu kok siapa yang kamu harapin, Vano kan?" tebak Gio.


"Gak mungkin lah ra, gunung es kayak Vano berbuat seromantis ini," ucap Gio dan tak dihiraukan oleh Serra.


"Jadi, kamu manggil aku ke sini mau bilang apa? Pake puisi juga lagi," tanya Serra.


"Itu aku mau ngomong ke kamu."


"iya, bilang aja."


"Aku sebenarnya-"


"Sebenarnya?"

__ADS_1


"Sebenarnya aku... sejak kita ketemu di kantin, aku udah suka sama kamu."


Mendengar ucapan Gio, Serra sangat terkejut ia langsung diam mematung.


"Aku suka sama kamu Serra."


"T-tapi Gio..."


"Aku tahu, aku juga tahu kalau kamu suka sama.... Vano."


Gio berhenti berbicara sejenak.


"Tapi aku mohon beri aku kesempatan sekali Serra, aku yakin bisa bikin kamu bahagia dari pada Vano," jelas Gio.


"Ngga Gio, aku..."


"Aku mohon Serra."


"Gio tapi..."


"Memang apa bagusnya Vano? kamu sudah melihatnya selama ini, dia selalu cuek padamu kan? Aku bisa memperlakukanmu lebih baik Serra," jelas Gio sedikit terkesan merendahkan Vano.


"Apa kurangnya aku dari Vano?" tanya Gio lagi.


"Ngga Gio, tapi cinta ga kayak gitu, cinta itu dari hati. Bukan tentang kamu lebih baik atau buruk," jelas Serra.


"Aku ga bisa Gio maaf, kamu dan aku tahu kalau aku itu suka dan cinta sama Vano," ucap Serra kemudian berbalik hendak pergi.


Gio tak menyerah begitu saja, ia seperti sudah terobsesi dengan Serra.


"Memang apa bagusnya Vano!? Bukankah aku lebih dari segalanya dibanding Vano. Vano cuma bisa nyuekin gadis, gak menganggap dia ada. Memangnya kamu pernah dikasih perhatian balik sama Vano??!" Teriak Gio dengan amarah.


Sebenarnya Serra bisa saja mendengarkan semua perkataan tentang dirinya, tapi ia tak bisa mendengarkan penghinaan terhadap Vano.


Serra berbalik dan berlari ke arah Gio hendak ingin memukulnya, tetapi tangan Serra lebih dulu digenggam dengan kuat oleh Gio.


Gio menggenggam tangan Serra dengan sangat kuat, hingga Serra kesakitan.

__ADS_1


"Lepas Gio!!" Teriak Serra.


"Lepas atau aku teriak?!" ancam Serra, sebenarnya Serra sangat ketakutan sekarang, tetapi ia tak mau menunjukkan sisi lemahnya saat ia merasa tak aman.


"Teriak Serra, ga akan ada yang dengerin kamu!" 


"Tolong!! tolong!!" Teriak Serra dengan sekeras mungkin sambil mencoba melepaskan tangannya.


"Gak ada yang datang Serra!"


"Serra aku mohon... aku bisa bikin kamu bahagia!" jelas Gio lagi.


"Kalau begitu lepas Gio!" 


"Serra, selama ini kamu selalu deketin Vano, kamu selalu datang ke kelas kami, aku selalu lihat kamu dari sana. Sampe aku ga sadar kalau aku jatuh cinta sama kamu Serra."


"Ini bukan cinta Gio, ini obsesi. Kamu hanya terobsesi denganku. Aku mohon lepas! Tolong!!" ucap Serra.


Geo mengeraskan rahangnya, terlihat jelas kalau ia sedang marah sekarang. Gio mendorong Serra hingga Serra menabrak dinding.


"Awww!!" teriak Serra karena menabrak dinding dengan keras.


"Serra, kalau kamu ga mau. Aku terpaksa melakukan ini Serra," ucap Gio sambil mengeluarkan botol kecil dari sakunya.


"Aku udah siapin ini dari tadi, karena kemungkinan kau menolakku adalah 75%."


"Bukan 75% tapi 100% Gio!!" 


"Hmm, terserah. Kalau aku tak bisa memilikimu, maka Vano atau siapapun tak bisa memilikimu juga!" Ucap Gio sambil membuka tutup dari botol itu tanpa melepaskan genggaman tangan Serra


Serra menduga kalau itu adalah racun sehingga ia berteriak dengan lebih kencang.


"Tolong!! Tolong!!" Teriak Serra berulang sampai air mata yang tak kuat dibendungnya mulai menetes


Tangan Gio sudah hendak membuat Serra menelan racun itu.


Mata Serra berair dengan penuh harapan akan ada seseorang yang datang menyelamatkannya.

__ADS_1


...♡♡♡...


__ADS_2