Spring Love

Spring Love
H-23


__ADS_3

Serra berlari ke kelasnya karena rasa gugup, tanpa mengetuk Serra langsung masuk ke kelasnya membuat beberapa orang yang ada di dalam terkejut tak terkecuali Florent yang sudah duduk di mejanya.


"Ya ampun!! SERRAA dikejar apa sehh?!" Teriak Florent karena terkejut.


"Ehh maap-maap.." ucap Serra sambil duduk di sebelah Florent.


"Kenapa sih lari-lari?" tanya Florent.


"Hehe ga papa." 


Kemudian Serra menatap keluar jendela dengan senyum lebar, akhirnya cupcake yang ia buat bisa sampai kepada Vano.


Saat jam istirahat, Serra pergi ke loker untuk mengambil sebuah buku. Ia berjalan dengan ceria menuju lokernya.


Saat membuka lokernya, ia lagi-lagi dikejutkan oleh surat tanpa nama lagi. Tapi kali ini Serra tak ragu untuk membukanya.


"Permen lagi?" lirih Serra setelah membuka surat itu.


"Siapa sih yang ngasih. Kalo kayak gini jatuhnya kayak aku diteror permen tauu!" 


"Tapi ga apa lah. Lagian ini permen kesukaan aku, Tapi... kalo lihat permen ini jadi ingat diaa, sedih dehh," ucap Serra dramatis.


Kemudian pada hari-hari berikutnya Serra selalu mendapatkan permen itu di lokernya dan setiap hari juga ia selalu memberikan Vano cupcake buatannya. Sehingga itu sudah menjadi kebiasaannya, setiap pagi pergi ke kelas 10-B memberi cupcake dan setiap istirahat pergi ke lokernya.


Saat pulang sekolah, Serra bertemu dengan Devina di cafe favorit mereka.


"Jadi... gimana cupcake nya?" tanya Devina.


"Donee!" seu Serra sambil mengangat jempolnya


"Wihh kerenn!" ucap Devina bertepuk tangan walaupun sedikit terpaksa.


"Terus tentang kencanm" 


"Kencan? Kencan siapa? Devina mau kencan?"

__ADS_1


"Bukann, kencannya si Vano!" ucap Devina mengingatkan dan seketika wajah Serra berubah datar.


Serra menghela napas sambil menatap Devina.


"Bodooo!" kesal Serra.


"Loh, kemarin aja sampe mood nya turun kek seluncuran, lah sekarang bodo amat nih?" goda Devina.


Serra mendengus kesal.


"Mungkin aja Vano batalin kencannya. Soalnya udah jatuh hati sama cupcake buatan aku!" ucap Serra mencoba berpikir positif.


"The power of cupcakee!" Teriak Serra semangat.


...♡♡♡...


Hari ini adalah Hari Minggu, Toko kue milik keluarga Serra sedang libur dan sekarang Serra sedang bersama ibunya, Selly. 


Mereka pergi ke pusat perbelanjaan untuk berbelanja bulanan, sebenarnya Serra sangat malas untuk pergi menemani ibunya, tetapi ia dipaksa untuk membawakan barang belanjaannya.


Pikiran Serra tiba-tiba melayang membayangkan bahwa sang lelaki tersebut adalah Vano sedangkan sang wanita adalah.. tunggu.. Lydia? Serra membayangkan bahwa sepasang kekasih itu adalah Vano dan Lydia yang sedang bercanda ria.


Serra meneguk ludahnya dan segera menggeleng-gelengkan kepalanya untuk mengusir pikirannya.


Tapi kalau Serra pikir-pikir, sependengaran Serra saat di taman belakang mereka akan pergi pada hari Minggu. Apa mungkin kalau itu adalah hari minggu ini?


"Kalo bener itu minggu ini, pasti mereka sekarang lagi berkencan," lirih Serra dan tiba-tiba dadanya terasa sesak.


Serra mengalihkan pandangannya dan akhirnya pandangannya membuatnya terkejut bukan main


"Perempuan itu... bukannya... Lydia?" lirih Serra.


"Apa mungkin sekebetulan ini? Mereka kencan disini? Kenapa harus disini?! Apa mereka kehabisan tempat?" batin Serra terkejut-kejut.


Tapi kalau dipikir-pikir lagi dari tadi Serra juga banyak melihat pasangan yang sedang berkencan

__ADS_1


Serra melihat Lydia sedang melihat-lihat barang di sebuah toko, Serra penasaran dengan yang dilihat Lydia, dan saat Lydia berjalan pergi, Serra semakin penasaran dan ingin mengikutinya. Tetapi barang di tangannya tak membiarkannya karena barang-barang itu sangat berat.


Tetapi melihat Lydia yang semakin jauh, Serra tak bisa menahannya. Ia pergi mengikutinya.


"Ehh ehh Serra mau kemana??" tanya Selly sebelum Serra pergi.


"Bentar ma, Serra ada urusan mendadak bentaran doang ko," ucap Serra sambil menyerahkan barang yang dibawanya kemudian pergi sedikit berlari mengejar Lydia.


"Ehh ehh." Selly karena kelimpungan membawa barang yang diserahkan Serra, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan anak semata wayangnya.


"Tadi aja bilangnya ga mau ikut, sekarang malah keluyuran sendiri," batin Selly.


Serra mengikuti Lydia dari belakang, Serra sempat kehilangan Lydia karena ramainya pusat perbelanjaan pada hari itu. Tapi akhirnya Serra dapat menemukan Lydia lagi setelah melihat sekeliling dengan teliti, dilihatnya Lydia masuk ke toko bunga.


"Toko bunga?" lirih Serra kemudian bersembunyi di balik pohon buatan untuk menyembunyikan dirinya.


"Di toko bunga biasanya ya beli bunga. Kalo dalam posisi kayak gini, Ka Lydia pasti ke toko bunga buat beli hiasan rumahnya atau...."


"Beli bunga buat Vano?" lanjut Serra.


"Tapi kalo buat Vano, biasanya kan kalo kencan yang cowo yang beli. Tapi malah dia yang beli?" lirih Serra mulai bermain-main dengan imajinasinya.


Serra terus melihat Lydia, hingga akhirnya Lydia masuk lebih dalam dan hilang dalam jarak pandang Serra.


"Ilang lagi, masuk gak ya?" bingung Serra dan tiba-tiba bahunya ditepuk seseorang membuat Serra terkejut.


Serra menoleh ke belakang dengan hati-hati dan was-was.


Saat Serra menoleh ia mendapati seorang lelaki sedang menatapnya.


"Vanooo?!" Ucap Serra sedikit keras karena terkejut


To be Continued


...♡♡♡...

__ADS_1


__ADS_2