
Seminggu telah berlalu, keadaan Serra sudah kembali menjadi Serra si gadis ceria. Ia sudah tak berlarut dalam kesedihannya lagi.
Saat ini, Serra sedang beberes di kamarnya. Baju-baju nya ia bongkar semua dan menggeletakkannya begitu saja di atas kasurnya.
Serra sedang memilah baju-baju yang masih bisa digunakannya, ia memisahkan baju yang masih bisa ia gunakan dan memasukkannya lagi ke dalam lemari, kemudian baju yang sudah tak layak dipakai dimasukkannya ke dalam plastik besar untuk dijual pada tukang sampah kilo-an, sedangkan baju yang kekecilan ditubuhnya tapi masih terlihat bagus dikumpulkan pada kardus dan akan disumbangkan untuk anak-anak panti nantinya.
Yep, Serra akan pergi ke panti asuhan besok lusa untuk menyumbangkan barang-barang nya yang masih bisa dipakai kesana. Karena alasan itulah ibu Serra menyuruh Serra memilah pakaiannya.
Di sela-sela memilah pakaian, Serra tak sengaja menemukan sebuah jaket dan diambilnya jaket itu.
"Jaket ini...." lirih Serra.
"Masih baunya Vano," ucap Serra tersenyum lebar sambil mencium jaket itu.
"Nanti kukembaliin deh," ucap Serra kemudian melanjutkan kegiatan awalnya.
Setelah selesai dengan pakaiannya, kini Serra sedang berjalan menuju rumah Vano sambil menenteng paperbag berisi jaket Vano dan jangan lupakan senyum lebarnya.
Serra menekan bel berulang-ulang karena tak kunjung juga mendapatkan balasan dari dalam.
Apa mungkin memang tak ada orang didalam? Vano pernah bilang kalau ia tinggal sendiri, artinya apakah Vano tak ada dirumah sekarang? Tapi tadi Vano bilang suruh langsung anter aja ke rumahnya, apa mungkin ia pergi tiba-tiba?
"Vanooo?" panggil Serra dari luar.
Serra menatap ke sekitar, motor yang biasa digunakan Vano ada terparkir, artinya Vano ada dirumah?
"Vano gak mungkin tidur dan gak dengar ada bel kan??" kesal Serra kemudian menekan bel berulang-ulang.
Serra menghela napas pasrah karena tak kunjung mendengar jawaban.
Kemudian Serra dengan berhati-hati mencoba membuka pintunya, walaupun kurang sopan tapi setidaknya ia bisa memastikan pintu itu terkunci atau tidak.
Kalau pintunya tidak terkunci kemungkinan besar Vano ada di rumah.
"Maaff Vanoo..." batin Serra merasa takut kalau Vano sampai marah karena perilakunya.
Serra mencoba membuka pintunya dan...
clakkk...
Pintunya terbuka.
Serra kemudian membuka pintunya lebih lebar lagi dan... Serra membelalakkan matanya.
Dilihatnya Vano tergeletak di lantai dekat tangga, serangan panik langsung menerjang Serra
__ADS_1
Tak pikir lama, Serra berlari mendekati Vano dengan panik.
"Vanooo!!" Teriak Serra, kemudian menepuk-nepuk pipi Vano berharap Vano sadar, tapi saat Serra menyentuh kepala Vano, ia langsung reflek menyingkirkan tangannya.
"Panasss!" ucap Serra kemudian mengecek suhu Vano lagi.
"Gilee, panas bangettt!" panik Serra kemudian mengedarkan pandangannya mencari apa yang bisa digunakannya.
"Oh iya, telepon!" seru Serra kemudian menggunakan telepon rumah Vano untuk menelepon ambulan karena ia tak membawa ponsel bersamanya karena mengira hanya dekat ke rumah Vano sehingga tak perlu membawa ponsel
Serra dengan segera memanggil ambulan untuk membawa Vano karena tak mungkin ia menggendong Vano ke rumah sakit.
Tak lama ambulan datang dan membawa Vano ke rumah sakit, dan tentu saja dengan Serra.
Mereka sampai di rumah sakit terdekat, dengan segera Vano diperiksa oleh dokter yang ada disana.
Serra merasa tak tenang menunggu Vano di luar. Bagaimana kalau terjadi apa-apa pada Vano?
Pintu ruang terbuka, dan dokter keluar dari sana.
"Teman kamu terkena demam berdarah. Obatnya sudah bisa ditebus dan semoga teman kamu cepat sembuh," ucap dokter itu sambil memberikan resep obatnya pada Serra kemudian melangkah pergi
"Baik, dok," ucap Serra sambil menerima resep tersebut.
Kemudian Serra pergi untuk menebus obatnya, untung saja Serra membawa uang yang cukup hingga ia tak harus kembali ke rumahnya dulu.
Setelah menebus obat Serra kembali ke ruang Vano, ia duduk di samping kasur Vano kemudian mengecek kembali suhu Vano.
"Masih panas..." lirih Serra.
Kemudian Serra menatap ke sekeliling.
"Gak bawa hp lagi," sesal Serra merutuki kebodohannya.
Kemudian Serra tak bisa berbuat apa pun sampai Vano bangun, karena tak mungkin Serra akan meninggalkan Vano sendiri.
Hari mulai gelap dan Vano masih belum juga bangun, Serra menidurkan kepalanya disamping Vano.
Kemudian tak lama Serra benar-benar terlelap di kursi samping Vano.
Pukul 22.00.
Vano mulai sadar, ia membuka matanya dengan perlahan. Dilihatnya langit-langit rumah sakit.
Kemudian Vano mulai duduk di atas kasurnya, melihat selang infus terpasang di tangannya dan... Serra yang tertidur.
__ADS_1
Vano masih sedikit bingung dengan keadaan, kenapa ia disini dan kenapa Serra disampingnya??
Vano kemudian mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum ia tak sadarkan diri.
Flashback on
Vano sedang tidur tengkurap di atas kasurnya, ia merasa tak enak dengan badannya. Keringatnya keluar bercucuran, Vano meminum air putih untuk mencoba merasa lebih baik dengan keadaannya.
Tapi setelah meminum air pun ia tak merasa baikan.
Vano menerima pesan dari ponselnya, dari Serra
^^^Serra^^^
^^^Vano, jaket kamu masih ada di aku, mau aku kembaliin sekarang boleh?^^^
Merasa tak enak menolak Serra, Vano mengiyakan tawaran Serra.
Vano
Ok, langsung ke rumah aja
Tak lama kemudian, Vano mendengar bel rumahnya ditekan. Ia mencoba bangkit walau dengan tubuh yang tak bertenaga.
Ia dengan pelan berjalan menuruni tangga, tubuhnya semakin terasa lemah dan ditambah tubuh Vano mulai bergetar.
Tak kuat menahan, Vano terjatuh dari anak tangga yang hanya tinggal beberapa saja. Tubuhnya tergeletak lemah bergetar.
Vano berniat memanggil Serra tapi karena tak memiliki energi suaranya tak bisa keluar, dan Vano berakhir pingsan.
Flashback off
Vano melihat jam yang ada di ruangan, menunjukan pukul 22.06. Vano merasa tak enak Serra menunggunya selama ini, karena ia ingat terakhir ia pingsan sekitar pukul 2 siang, apa gadis ini mengabari keluarganya?
Tetapi untuk membangunkan Serra pun Vano merasa tak enak, gadis ini terlihat nyenyak walaupun posisinya yang terduduk.
Vano dengan perlahan berdiri dari kasurnya walaupun tubuhnya masih sedikit lemah.
Vano dengan memperhatikan selang infusnya dengan hati-hati memindahkan Serra ke sofa tanpa membangunkan gadis itu.
Setelah dipindahkan, Vano melihat kalau Serra terlihat kedinginan dengan suhu ruangan.
Vano mencari remot AC dan menaikkan suhunya agar lebih hangat. Kemudian mengambil selimut di kasurnya dan menggunakannya untuk menyelimuti Serra agar lebih hangat.
...♡♡♡...
__ADS_1