Spring Love

Spring Love
H-4


__ADS_3

"Ohh, ok," jawab Serra setelah diam sesaat. Kemudian merapikan kembali rantang.


"Vano gak mau makan ini?" Tanya Serra sambil menunjukkan makanan rumah sakit.


"Ngga," Vano menggeleng.


"Buahnya gak mau?" tanya Serra sambil membuka bungkusannya.


"Ngga,"


"Buah doang, cuci mulut... sini!" paksa Serra sambil memasukkan potongan buah semangka ke mulut Vano.


Dan mau tak mau Vano membuka mulutnya. Sebenarnya sifat Serra sama ibunya itu sama, sama-sama suka maksa orang, keras kepala.


Kemudian setelah menyuapi Vano dengan potongan buah, Serra mengembalikkan tempat makanan yang masih terisi itu kepada petugas rumah sakit.


Serra kembali ke ruang rawat Vano, dilihat Vano sedang bermain dengan ponselnya.


"Vano ngabarin orang tua Vano?" tanya Serra.


"Ngga, mereka baru di luar kota. Ngga enak kalo harus ngabarin, apa lagi cuma sakit kecil," jelas Vano.


"Ohh.." Serra hanya ber-oh dengan penjelasan Vano, Vano anak yang baik tak mau membuat orang tuanya khawatir.


Lalu Serra menemani Vano sambil berbincang


Pukul 13.00 


Pintu ruang rawat Vano diketuk dari luar.


"Itu kayaknya mama?" lirih Serra dan seketika Vano langsung bangun dari posisi tidurnya.


Kemudian Serra membuka pintu itu dan nampaklah kedua orang tua Serra membawa buah-buahan.


"Mama... papa..." sapa Serra kemudian menyalami mereka.


Selly masuk ke ruangan diikuti Henry sedangkan Serra kembali menutup pintu.


"Om tante..." sapa Vano.


"Gimana? udah baikan?" tanya Selly kemudian duduk di kursi yang tadi dipakai Serra sedangkan Henry dan Serra duduk di sofa.


"Udah baikan tante. Makasih udah mau repot-repot jenguk." 


"Repot apanya, gak repot kok."


Kemudian mereka mengobrol hingga jam menunjukan pukul 14.30. Merasa sudah lama menghabiskan waktu di rumah sakit, orang tua Serra hendak kembali.


"Serra kamu disini ya," bisik Selly pada Serra.


"Hmm? Serra tidur sini?" bingung Serra.


"Iya, ntar mama yang bilang papa kamu. Kamu temeni aja Vano, kasihan itu sendirian," bisik Selly sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Maa... tapi... rencana ke panti nya gimana?"

__ADS_1


"Udah... besok aja lain kali, kamu disini aja dulu." 


"Mama pulang dulu. Jaga baik-baik mantu mama," goda Selly.


"Maaa!!!" teriak Serra malu.


Kemudian orang tua Serra pergi dari sana setelah mendoakan Vano cepat sembuh.


Setelah orang tua Serra kembali, dokter ganti masuk ke dalam ruang untuk memeriksa Vano.


"Hmm... sudah jauh lebih baik. Besok sudah bisa pulang," ucap dokter itu dan disambut ucapan syukur dari Serra.


Kemudian dokter itu pergi setelah mengganti infus Vano yang sudah tinggal sedikit


"Syukur deh, besok udah boleh pulang," ucap Serra sambil duduk di samping Vano.


"Iya. Btw tadi kenapa teriak?"


"Ohh? hehe... gak papa," ucap Serra berbohong.


Pukul 19.00


Serra keluar dari kamar mandi sehabis mandi karena untungnya ibu Serra tak membiarkan Serra menginap begitu saja, Selly membawakan pakaian ganti untuk Serra.


Saat keluar dari kamar mandi, Serra melihat ada makanan di samping Vano. Sepertinya perawat datang saat Serra sedang mandi.


"Vano makan gih," ucap Serra.


"Kamu aja yang makan, belum makan dari tadi siang kan?"


"Tapi kan kamu yang sakit disini Vano, bukan Serra."


Serra menghela napas pasrah tak ingin berdebat dengan Vano.


"Nanti, kalo Serra mah gampang Vano!" ucap Serra mengalah.


"Kalo gitu kita makan bareng," ucap Vano memberi solusi.


"Kalo gitu ntar gak kenyang Vano!"


"Ya udah kamu yang makan aja," ucap Vano berdebat.


Serra menghela napas kesal, kenapa Vano berdebat dengannya? jarang Vano berbuat seperti ini.


"Vano... KALO DIBILANG MAKAN YA MAKAN!! YANG SAKIT ITU KAMU BUKAN AKU!!" teriak Serra emosi tak bisa menahan emosinya lagi.


Sedangkan Vano terkejut dengan Serra yang akhirnya meluapkan emosinya, tapi bukannya makan, Vano malah menghadapkan tubuhnya ke arah lain seperti anak kecil sehabis dimarahi ibunya.


Bagaimana Serra bisa marah jika melihat sikap Vano selucu ini? Ingin rasanya Serra mencubit gemas Vano sekarang.


Dan dengan sabar Serra duduk di samping Vano kemudian membuka bungkusan makanan itu.


"Vano makan gak?" tanya Serra dan tak ada jawaban dari Vano.


"Vanoo??" ucap Serra mencoba sabar.

__ADS_1


"Marah kah dia?" pikir Serra.


"Ya udah Serra minta maaf!" ucap Serra akhirnya.


"Maaf doang?"


"Terus?? Ya udah, Serra dengan hati yang paling dalam dan paling tulus minta maaf karena udah bentak Vano tadi," ucap Serra lengkap tapi Vano belum membalikkan tubuhnya.


"Vano gak mau makan bareng Serra? Kalo Vano gak mau makan bareng Serra, Serra juga gak mau makan," ucap Serra dan berhasil membuat tubuh Vano berbalik.


"Sini..aaaa!" ucap Serra seperti menyuapi anak kecil.


"Aku bukan bayi, bisa makan sendiri!" kekuh Vano.


"Ya udah makan nih, tapi aku disuapin!" goda Serra sambil mengulurkan makanannya.


Vano menatap Serra agak kesal, kenapa gadis ini terus saja bermain-main dengannya.


Dan dengan tatapan mengejek, Serra mengejek Vano.


"Makannya kalo dibilangin makan ya makan!" ucap Serra sambil mengulurkan sesendok makanan ke depan Vano.


Dengan ragu Vano membuka mulutnya.


Setelah makanan masuk ke mulut Vano, Serra tersenyum senang. Siapa sangka ia bisa seperti ini dengan seorang Vano yang seperti kulkas berjalan.


Esok harinya


Serra sedang berkemas, memasukkan semua barang-barang miliknya dan Vano kedalam sebuah tas.


"Vano ada yang ketinggalan gak?" tanya Serra memastikan setelah mengecek kembali ke dalam kamar mandi.


"Udah kayaknya," jawab Vano setelah. memperhatikan sesaat  untuk memastikan semua barang sudah masuk ke dalam tas.


"Ya udah, yukk!" ajak Serra.


"Mau kubawain tasnya?" tawar Vano.


"Oh? ngga... ngga usah ga apa," jawab Serra tapi Vano tak mendengarkan Serra dan mengambilnya begitu saja dari tangan Serra. Serra tersenyum tipis dengan perbuatan Vano.


Kemudian mereka kembali pulang dengan taxi karena tak ada yang membawa kendaraan ke sana. Toh, mereka kesini dengan ambulance.


Taxi berhenti di depan gang rumah, tak bisa melanjutkan sampai kedalam karena gang yang sempit.


Serra dan Vano berjalan dari gang menuju rumah sambil menenteng tas. Sebelum melewati rumah Serra, mereka melewati taman yang dulu pernah mereka kunjungi. Serra mengajak Vano untuk berhenti sejenak di taman itu.


"Haha... dulu kamu dorong aku di ayunan itu, kan?" ucap Serra mengenang.


Vano ikut terseyum melihat ayunan dulu ia mendorong Serra dengan kencang, kemudian mulai melihat Serra dalam.


"Sekarang ku bales nihh!" ucap Serra sambil hendak menarik Vano.


"Serraa..." panggil Vano.


"Hm?" Serra berbalik mendengar panggilan Vano.

__ADS_1


"Aku mau ngomong sama kamu," ucap Vano dengan tatapan hangat.


...♡♡♡...


__ADS_2