
Hari Sabtu
Sepulang kelas tambahan dari sekolah. Serra merapikan sekaligus menyiapkan ruang tengah dirumahnya untuk digunakan belajar bersama.. bukan.. untuk mengajarinya bersama Devina, Vano dan Gio.
"Tingg.." bel dirumahnya berbunyi, Serra sudah mengira kalau yang menekan bel adalah teman-temannya.
"Bentar.. bentar.." teriak Serra dari dalam.
Serra membuka pintu rumahnya dan terdapat Vano berdiri disana. Serra melihat kebelakang Vano dan tak menemukan yang lainnya.
"Baru Vano aja ya?" tanya Serra.
"Iya. Yang lain belum datang?"
"Belum," balas Serra kemudian mempersilahkan Vano masuk.
"Di rumah sendiri?" Tanya Vano sambil duduk di sofa.
"Iya. Mama sama Papa di toko, pulangnya malam," jawab Serra sambil mengambil beberapa camilan yang bisa dimakan.
"Biasanya pulang malam karena kalo minggu tutup, sabtu buka sampe malem," lanjut Serra.
"Kalo Vano gimana? orang tua Vano gimana?" tanya Serra balik sambil ikut duduk di sofa.
"Aku dari prancis," ucap Vano.
"Hahh?! dari Prancis?" ucap Serra terkejut kemudian terdiam sesaat.
"Kenapa?" tanya Vano karena Serra yang terdiam
"Eh? gak papa, cuma keinget temen dulu. Dia pindah ke prancis."
"Ohh."
"Terus?" tanya Serra merasa tertarik dengan kehidupan Vano.
"Mama sama papa pengusaha, punya perusahaan sendiri. Aku pindah karena mereka mau buka cabang disini. Sekarang aku tinggal sendiri, mereka baru ke luar kota," jelas Vano memberi kesimpulan dalam 1 kalimat.
"Woahh, berarti Vano tinggal sendiri dong?"
"Iya."
"Kapan-kapan ajak ke rumah Vano dong," ucap Serra iseng.
Kemudian terdengar suara bel ditekan dari luar, diduga kalau itu adalah Devina atau Gio. Dan benar saja saat Serra membuka pintu terlihat sosok Devina dan Gio.
"Kok bisa bareng gini?" goda Serra.
"Kita ketemu di gang depan, jangan mikir yang aneh-aneh!" ucap Devina menolak terjadi salah paham.
"Vano udah dateng?" tanya Gio.
"Udah, masuk sini," ajak Serra.
__ADS_1
Kemudian mereka masuk ke ruang tengah dimana sudah terdapat Vano disana. Tanpa menunggu lagi, mereka mulai mengajari Serra materi yang belum dipahaminya. Mulai dari yang mudah hingga sulit dan membuat otak Serra terbakar.
Tak terasa hari sudah mulai gelap, Vano, Devina dan Gio benar-benar puas membuat otak Serra terbakar habis dengan latihan soal-soal diluar nalar Serra.
Kini, Vano, Devina dan Gio pamit pulang setelah puas menyiksa Serra.
"By bye, masih kurang soal lagi ga?" ucap Gio sambil menyeringai.
"Nggakkk!!!!" teriak Serra langsung.
Kemudian mereka bertiga pergi dari rumah Serra. Serra masuk ke ruang tengah lagi kemudian menatap jam dinding.
"Jam 7..." lirih Serra kemudian mulai membereskan ruang tengah itu. Orang tua Serra belum juga pulang.
Saat Serra membersihkan bagian sofa, ia tiba-tiba menemukan handphone.
"Hp siapa nih?"
Serra kemudian mencoba membuka handphone tersebut tetapi terkunci oleh kata sandi, Serra melihat ke wallpaper-nya.
Disana terpasang sebuah gambar kedua ujung tali yang terputus.
"Tali yang putus... hubungan yang putus?" lirih Serra asal menebak.
"Bodo lah... ini hp siapa?"
"Gak mungkin hp Devina, wallpaper dia bukan ini."
Serra kemudian berpikir dengan keras, siapa yang memungkinkan memiliki hp ini.
"Tunggu... ini? Galaxy Z Flip?"
"Whatt?!" Setelah menyadari ini merupakan handphone mahal pikiran Serra langsung tertuju pada Vano.
"Kan dia orang kaya... wajar dong kalo hpnya mehong begini?" lirih Serra.
Kemudian Serra langsung menutup rumahnya dan pergi ke rumah Vano.
"Kemarin kata Vano, rumahnya jarak 5 rumah dari aku."
"1.. 2.. 3.. 4.." lirih Serra sambil menghitung rumah
"Lima... ini?"
"Coba deh dulu."
Kemudian Serra menekan bel rumah tersebut. Tak lama kemudian pintu terbuka dan menampakan sosok Vano.
Serra menghela napas lega, ternyata ia tak salah rumah.
"Kenapa?" tanya Vano.
"Oh itu... ini hp kamu?" tanya Serra sambil menunjukan hpnya.
__ADS_1
Kemudian Vano mengecek kantong celananya. Ia tak menemukan apapun.
"Iya, lupa ga kebawa. Makasih," ucap Vano sambil mengambil hpnya.
"Ohh syukur deh."
"Jadi ini rumah Vano?" lirih Serra dengan suara kecil tapi masih bisa didengar oleh Vano.
"Mau masuk?" tawar Vano.
"Eh..ngga makasih." Sebenarnya Serra ingin masuk, tetapi ia sadar hari sudah gelap dan kurang sopan apalagi ia tahu kalau Vano tinggal sendiri.
"Oh iya Vano, besok mau jam berapa?"
"Manut kamu aja."
"Hmm... kalo jam 10 bisa?" tanya Serra dan diangguki Vano.
"Dimana?" tanya Vano balik.
"Di.... kalo disekolah pasti ditutup kan ya..." gumam Serra.
"Di perpustakaan kota aja gimana Vano?" ucap Serra memutuskan.
"Tumben mau ke perpustakaan?" sindir Vano.
"Sebenarnya aku udah lama pengin kesana, tapi gara-gara males ya belum kesampaian sampe sekarang," jelas Serra.
"Ok, besok ketemuan disana."
"Keetemuan? Vano gak mau jemput Serra?"
"Aku sebelumnya ada urusan bentar."
"Serra gak papa kok nunggu Vano ngurusin urusannya."
"Urusannya agak lama."
"Gak apa.. Serra nunggu lama juga ok." paksa Serra
Vano menghela napas dan akhirnya memperbolehkan Serra ikut.
"Yeyyyy.... berarti besok jam berapa Vano?" sorak Serra.
"Jam 8," ucap Vano
"Okheyyy, sekarang Serra pamit pulang ya... udah malem," ucap Serra kemudian kembali ke rumahnya dengan perasaan gembira.
Akhirnya ia bisa merasakan berboncengan dengan Vano.
Esok...
...♡♡♡...
__ADS_1